NovelToon NovelToon
Bukan Istri Cadangan

Bukan Istri Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.

​Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.

​Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.

​Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?

Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

​Arlan masih berdiri di depan pintu kamar Hana, tangannya yang mulai memerah karena terlalu banyak menggedor kini bersandar lemas pada daun pintu. Ia masih mengoceh, menggumamkan janji-janji manis yang menurutnya akan meluluhkan Hana.

Baginya, Hana adalah air yang tenang, yang bisa ia bendung dan ia arahkan sesuka hati. Ia tidak pernah menyangka bahwa air yang tenang itu kini telah menjadi samudera luas yang tidak lagi tergapai oleh jemarinya.

​"Hana, Aku tahu kamu masih dengerin. Jangan dengerin Adrian itu. Kamu istriku, Hana. Kembalilah..."

​Bip ... Bip ... Bip ... Klik ...

​Suara kunci digital pintu depan yang terbuka membuat Arlan tersentak. Ia membalikkan tubuhnya dengan cepat. Pikirannya sempat mengira bahwa itu mungkin layanan keamanan gedung, namun harapannya seketika pupus.

​Tiga orang pria melangkah masuk dengan langkah yang begitu berat dan teratur. Di depan, memimpin dengan aura yang mampu membekukan udara di dalam ruangan, dia adalah Adrian Gavriel.

Jas hitamnya masih tersampir rapi, namun wajahnya yang biasanya tenang kini nampak seperti badai yang siap menghantam apa pun yang menghalanginya. Di belakangnya, dua pria berbadan tegap bersiaga dengan tangan tertaut di depan, khas penjaga keamanan profesional.

​Arlan merasakan harga dirinya diinjak-injak. Ini adalah apartemen istrinya, dan seorang pria lain masuk dengan mengetahui kode rahasia pintunya.

​"Berani sekali kau masuk ke sini, Gavriel!" Arlan berteriak, suaranya pecah karena amarah dan rasa malu. "Ini urusan rumah tanggaku! Keluar sekarang, atau aku akan melaporkanmu atas dasar pengrusakan dan pengancaman!"

​Adrian tidak segera menjawab. Ia merogoh ponsel di saku jasnya, jemarinya bergerak cepat mengirimkan pesan singkat pada Hana yang masih bersembunyi di dalam kamar.

​"Tetaplah di dalam, Hana. Jangan keluar sampai aku memintanya. Aku akan mengeluarkan pria ini dari sini."

​Setelah memastikan pesan terkirim, Adrian menyerahkan ponselnya pada salah satu pengawalnya. Ia lalu menatap Arlan dengan tatapan meremehkan, seolah Arlan hanyalah debu yang mengotori lantai apartemen yang bersih itu.

​"Istri?" Adrian mengulangi kata itu dengan nada dingin yang menusuk. "Setelah kau membawanya dalam kepalsuan selama lima tahun, kau masih punya nyali menyebutnya sebagai istri? Kau tidak sedang berada di rumah Mahendra yang kau agung-agungkan itu, Arlan. Kau sedang berada di properti milik rekan bisnisku. Dan kau masuk ke sini dengan cara memaksa."

​"Aku tidak memaksa! Hana membukakan pintu untukku!" bohong Arlan, mencoba mempertahankan sisa harga dirinya yang sudah compang-camping.

​"Hana meneleponku dengan suara ketakutan, Arlan. Jangan coba-coba memutarbalikkan fakta di depanku," sahut Adrian. Ia melangkah maju, memperpendek jarak. "Keluar dari sini sekarang. Jangan buat aku melakukan hal-hal yang akan menghancurkan reputasi Mahendra Group besok pagi."

​Arlan tertawa sinis, sebuah tawa yang dipaksakan. Rasa cemburu yang buta kini menguasai akal sehatnya. Melihat Adrian yang begitu peduli pada Hana membuatnya merasa kerdil.

"Kau mencintainya, kan? Kau menginginkan Hana! Dasar pria munafik! Kau hanya memanfaatkan kerapuhan istriku untuk membalas dendam bisnis padaku!"

​Tanpa peringatan, Arlan melayangkan pukulan mentah ke arah wajah Adrian. Ia ingin membuktikan bahwa ia adalah suami yang berkuasa.

​Namun, Adrian bukanlah pria yang hanya duduk di balik meja direksi. Ia bergerak dengan refleks yang luar biasa cepat. Ia menghindar dengan memiringkan kepala, lalu dengan satu gerakan yang efisien, ia menangkap lengan Arlan dan memutarnya ke belakang.

​"Arrgh!" Arlan memekik kesakitan saat tubuhnya dipaksa membungkuk di atas meja makan.

​"Aku sudah memberimu kesempatan untuk pergi dengan sopan," desis Adrian tepat di telinga Arlan.

​Arlan yang kalap tidak menyerah. Ia menyikut perut Adrian dan berhasil melepaskan diri. Pergulatan kecil tak terelakkan. Arlan yang penuh amarah menyerang dengan membabi buta, namun Adrian menghadapinya dengan teknik yang matang.

Sebuah pukulan telak mendarat di rahang Arlan, disusul tendangan yang membuat Arlan tersungkur menabrak rak buku di ruang tengah.

​Suara dentum keras dan barang-barang yang berjatuhan menciptakan kegaduhan yang luar biasa di dalam apartemen yang tadinya sunyi itu.

​Hana, yang berada di balik pintu kamar, tidak bisa lagi hanya diam mendengarkan. Jantungnya berdegup kencang. Ia takut Adrian terluka demi membelanya. Ia takut Arlan yang sudah kehilangan akal sehat akan melakukan hal nekat.

​Dengan tangan gemetar, Hana memutar kunci pintu kamarnya.

​"CUKUP!" teriak Hana saat ia membuka lebar pintu kamarnya.

​Hana mematung di ambang pintu. Mulutnya terbuka lebar, napasnya tertahan. Pemandangan di depannya benar-benar di luar dugaannya. Ia mengira akan melihat Adrian yang kesulitan, namun kenyataannya justru sebaliknya.

​Arlan tergeletak di lantai dekat rak buku, wajahnya sudah babak belur. Sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah, sementara hidungnya nampak memerah hebat.

Kemeja putih yang tadi ia kenakan kini sudah compang-camping dan kotor terkena debu lantai. Ia terengah-engah, mencoba bangkit namun nampak sangat kepayahan.

​Di sisi lain, Adrian berdiri dengan napas yang sedikit memburu, namun penampilannya masih jauh lebih baik. Ia hanya sedikit merapikan kerah kemejanya yang sempat ditarik Arlan. Tidak ada luka berarti di wajahnya, hanya tatapan matanya yang masih menyala dengan kemarahan yang tertahan.

​"Hana..." Arlan bergumam lemah, mencoba meraih simpati dengan wajahnya yang hancur. "Lihat... lihat pria ini. Dia menghajar suamimu..."

​Hana melangkah maju, namun ia tidak menghampiri Arlan. Ia justru berjalan menuju Adrian, berdiri di samping pria itu seolah menunjukkan di mana posisinya sekarang.

​"Mas Arlan, kau benar-benar menyedihkan," ucap Hana, suaranya kini tenang namun dingin seperti es. "Kau datang ke sini untuk memohon maaf, tapi yang kau lakukan justru kekerasan. Kau tidak mencintaiku. Kau hanya tidak tahan melihatku bahagia tanpa pengaruhmu."

​Hana menatap Adrian, matanya menyiratkan rasa khawatir yang dalam. "Adrian, kau tidak apa-apa?"

​Adrian menatap Hana, dan seketika tatapan tajamnya melembut. Ia mengangguk pelan. "Aku baik-baik saja. Maaf aku harus membuat apartemenmu sedikit kacau."

​Hana beralih menatap Arlan yang masih mencoba merangkak bangun. "Pergi sekarang, Maa Arlan. Jika kau masih punya sisa harga diri, jangan pernah tunjukkan wajahmu di depanku lagi sebelum hari persidangan kita."

​Adrian memberi isyarat pada dua pengawalnya. "Bawa dia keluar. Pastikan dia sampai di mobilnya, dan pastikan dia tidak akan kembali ke gedung ini lagi."

​Arlan diseret berdiri oleh dua pria tegap itu. Ia tidak lagi bisa melawan. Kekuatan fisiknya habis, dan egonya hancur berkeping-keping melihat bagaimana Hana memandang Adrian, sebuah pandangan penuh hormat dan perlindungan yang dulu pernah Hana berikan padanya, namun kini telah musnah.

​Saat Arlan diseret keluar, pintu apartemen kembali tertutup dan terkunci. Keheningan kembali merajai ruangan, namun kali ini adalah keheningan yang membawa rasa aman.

​Hana terduduk lemas di sofa, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Adrian perlahan mendekat, lalu duduk di sampingnya dengan jarak yang sopan.

​"Semuanya sudah berakhir, Hana. Dia tidak akan berani kembali malam ini," ucap Adrian lembut.

​Hana mendongak, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Adrian. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak datang. Dia... dia benar-benar sudah menjadi orang asing bagiku."

​Adrian meraih tangan Hana yang dingin, memberikan kehangatan yang meyakinkan. "Kau tidak perlu berterima kasih. Aku sudah berjanji akan menjagamu, dan aku tidak pernah mengingkari janjiku."

​Malam itu, di lantai 12 apartemen yang menjadi saksi bisu runtuhnya martabat seorang Arlan Mahendra, Hana akhirnya menyadari satu hal, ia tidak hanya butuh kebebasan, ia juga butuh seseorang yang benar-benar melihatnya sebagai manusia, bukan sebagai alat pendukung kehidupan. Dan orang itu, kini berada tepat di sampingnya.

...----------------...

Next Episode....

1
mama
ujian preet han..jgn goblok 2x lah jd cwe🤣..mulut suami km licin kyk minyak goreng kok dipercaya🤭
Lee Mba Young
setelah koar koar cerai ada yg bantuin akhirnya di bujuk dikit lngsung luluh sebegitu bucin pa bgitu enak goyangan suami smp gk mau cerai.
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
Lee Mba Young
🤣🤣 ngapain kemarin koar koar cerai trus sekarang batal. hrse terima saja poligami nya kebiasaan wanita indo yg lemah. setelah koar koar cerai smp sidang di rayu dikit langsung luluh. iku ae belum di keloni nnti di keloni lngsung gk jd cerai. 🤣.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.
cinta semu
buat Hana tegar Thor ...
Miss Ra: 💪🤗
siaaaappp
total 1 replies
Mundri Astuti
sakit kamu mah Arlan, ntar anak yg dikandung Maura taunya bukan anaknya ni y, nangis" dah situ saat itu terkuak
Mundri Astuti
mudah"an Adrian bisa jadi tameng buat Hana, hancurin perusahaannya Arlan aja Adrian biar tau rasa dia
Sasikarin Sasikarin
kok di buka pernikahan sandiwara dah terhapus
Miss Ra: iya kak maaf yah...

mnurutku ceritanya kurang bagus dan menarik...
takutnya nanti seperti beberapa karya gagal retensi yg sudah aku buat tpi mengecewakan..

nanti aku buatkan cerita yg lebih menarik lainnya yaa...

🙏
total 1 replies
Mundri Astuti
ayo Hana kamu harus kuat, tunjukkan ke Arlan bahwa kamu bisa berdiri diatas kakimu sendiri dan bahagia tanpa nama besar Arlan dan keluarganya
Himna Mohamad
kereeen
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuuuut 💪
Lee Mbaa Young
lanjuttt
Miss Ra: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjutt thoor kereen ceritanya
Miss Ra: siaaappp 💪

/Heart//Kiss/
total 1 replies
Yantie Narnoe
semangat up nya...💪💪
Miss Ra: siaaaappp

💪
total 1 replies
Yantie Narnoe
lanjut..💪💪💪
Soraya
mampir thor
Miss Ra: siaaaapppp 💪
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Miss Ra: siaaapppp💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!