NovelToon NovelToon
ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.

Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.

Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.

Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.

Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.

Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.

Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?

Ikuti kisahnya yuk...!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Keputusan Romo Yai

Kepulangan dari Lawu tak membawa euforia.

Yang turun dari gunung bukan hanya ransel yang menggantung di pundaknya, melainkan prasangka dan beban mental.

Isu bergerak lebih cepat dari kaki para santri.

Ruang musyawarah madrasah siang itu tertutup rapat. Di dalam duduk Romo Yai sebagai pimpinan pondok, Ustadz Maulana sebagai kepala Madrasah, para pengurus yang berwenang dan Gus Hafiz sebagai topik utama.

Dalam forum itu, nama Anisa disebut berulang kali.

"Santri yang bernama Anisa" ujar pengurus dengan nada dingin. "Sering melanggar adab, kabur dari pondok, membawa pengaruh kota ke santriwati lainnya, dan kini mencoreng kegiatan resmi madrasah."

Kalimat Ustadz Zakir menggantung tajam.

"Jika dibiarkan," sambung ustadz Fais

"dia bisa menjadi contoh buruk, Buang sisi negatif. Terlepas kejadian di kegiatan tadabbur alam itu, sungguh sangat tidak pantas, seorang santriwati mendatangi tenda laki-laki, terlebih itu tenda Gus." ujarnya tajam.

"Kami mengusulkan," lanjut Ustadz Fais.

"Anisa, harus dikeluarkan dari madrasah."

Ruangan rapat hening seketika.

Gus Hafiz menunduk, menahan napas.

Bukan karena setuju, melainkan karena ia tahu, suara yang paling berhak berbicara bukan miliknya.

Romo Yai akhirnya membuka suara. Pelan, berat dan berwibawa.

"Anisa memang sering membuat kegaduhan di pondok pesantren ini. Tapi, ada hal yang tidak bisa kita hakimi, hanya karena prilakunya." Kiai Arsyad berhenti sejenak.

"Anisa butuh bimbingan dan perhatian, saya pribadi sangat tidak setuju jika Nak Anisa diberhentikan, masa depannya masih panjang, orang tuanya menitipkan di sini karena beliau percaya jika tempat ini bisa membawa perubahan." ujarnya.

Semua diam dan menunggu keputusan Romo Yai.

"Oleh karena itu, jalan tengah yang paling adil adalah memindahkan Nak Anisa ke pondok cabang di Jawa Tengah."

Keputusan itu jatuh seperti palu.

Gua Hafiz seketika mengangkat wajahnya.

"Tapi Romo..."

Romo Yai tersenyum, menepuk punggung putranya.

"Ini yang terbaik, untuk nama baikmu dan Anisa."

Gus Hafiz menghadap Kiai.

"Romo, Anisa ndak bersalah, Romo tau itu, to. Hafiz dan Anisa..."

"Hafiz...ndak semua harus kamu buka di sini, ingat... masa depan Anisa lebih penting dari status kalian saat ini..." bisik Kiai Arsyad ke telinga putranya.

Gus Hafiz akhirnya mengangguk.

Dan tak mungkin Romo Yai membuka status pernikahan Anisa dan Gus Hafiz di hadapan mereka, jika sampai tersebar Anisa bisa diberhentikan, karena sejatinya tak ada yang berstatus siswa menyandang gelar istri.

Semua sepakat, Anisa dipindahkan ke pondok cabang. Rapat selesai. Semua kembali keruangan.

***

Malam merayap cahaya matahari sudah hilang tertutup awan di sebelah barat.

Romo Yai duduk di ruang tengah setelah selesai mengimami salat Isya berjamaah di masjid pondok pesantren.

Gus Hafiz, yang baru saja pulang dari mengisi kajian melangkah dengan tenang menuju ndalem.

"Baru pulang?" tanya Kiai Arsyad.

Gus Hafiz mengangguk, "Nggih Romo."

Kiai Arsyad menutup kitab di tangannya.

"Panggil Anisa kemari. Ada yang ingin bicarakan, ujar Kiai Arsyad.

"Nggih, Romo." Gus Hafiz pun bergegas mengetuk kamar Anisa.

Anisa membuka pintu kamar, menatap punggung Gus Hafiz yang membelakangi pintu.

"Nggih Gus, ada apa?" tanya Anisa, dengan sopan. Gus Hafiz membalik badan.

"Romo memanggilmu." ujar Gus Hafiz.

Anisa menyipit, namun tetap mengangguk.

"Nggih," hanya kata itu yang keluar dari bibir Anisa. Remaja itu menutup pintu kamar pelan, berjalan menuju ruang tengah. Ia datang tanpa banyak tanya, dalam hatinya ada firasat yang tak baik.

Lampu ruang tengah menyala temaram. Umi Laila sudah duduk di samping Kiai Arsyad lebih dulu. Romo Yai tampak lebih diam dari biasanya.

Wajahnya terangkat saat Anisa datang.

"Duduk, nduk."

Anisa menundukkan kepala lalu duduk di sebelah kursi Gus Hafiz.

Kiai Arsyad berdehem pelan.

"Anisa."

Anisa tetap menunduk wajahnya lurus ke lantai.

"Nggih, Romo..." suara Anisa lebih kecil dari biasanya.

"Romo sudah dengar tentang kejadian di Lawu, sebenarnya ndak ada yang salah dengan kejadian itu, toh kalian suami istri. Harusnya ndak ada yang dipermasalahkan."

ujar Kiai Arsyad dengan suara rendah dan tenang.

"Tetapi, permasalahannya, mereka ndak tahu situasi yang terjadi pada kalian. Jadi, untuk menjaga gosip agar tak semakin liar, diantara kalian harus ada yang dikorbankan, ini demi kebaikan bersama, terutama kebaikanmu, Nduk. Terpaksa...kamu akan dipindahkan ke pondok cabang di Jawa Tengah."

Anisa tertunduk. Tak ada kata protes, tak ada teriakan. Hanya satu tarikan napas yang terlalu cepat dari dada Anisa.

"Keberangkatanmu, pekan depan, ini sudah disetujui orang tuamu," Kata-kata itu tegas tanpa ada pilihan.

Anisa mengangguk pelan.

"Nggih, Romo."

Kiai Arsyad mempertahankannya lama, lalu beliau bersandar, jemarinya terus menggulirkan tasbih.

"Kamu tahu, kenapa pihak madrasah tidak lantas memberhentikanmu, setelah pelanggaran-pelanggaran yang kamu lakukan...?"

Anisa diam, tak sepatah kata pun ia berani menjawab Kiai Arsyad. Ia tahu, dirinya akan di buang, orang akan menilai dirinya salah. Ada senyum getir di hatinya. Namun Anisa memilih diam, dan cukup mendengarkan, menjadi santri yang patuh.

Kiai Arsyad kembali meneruskan ucapannya.

Di tengah hatinya yang serasa diremas.

"Karena setiap anak punya kesempatan untuk diperbaiki. Tapi..." suara beliau sedikit mengeras, "perbaikan itu harus kamu pilih sendiri."

Anisa menggigit bibirnya. Sementara Gus Hafiz sesekali melirik kearah tangan Anisa yang sedari tadi meremas ujung jilbabnya.

“Di Jawa Tengah nanti,” lanjut Kiai Arsyad, “kamu bukan lagi sekadar santri pindahan.”

Beliau berhenti. Tatapannya tajam namun penuh kasih.

“Kamu membawa nama besar pondok ini. Dan…”

pandangan beliau bergeser sekilas pada Gus Hafiz,

“kamu membawa gelar istri seorang Gus di pundakmu.”

Kalimat itu membuat Anisa perlahan mengangkat wajahnya.

“Romo tidak pernah memaksa hatimu untuk mencintai Hafiz. Cinta itu tumbuh atau tidak, itu urusan waktu dan Tuhan. Tapi adab dan kehormatan… itu pilihan.”

Anisa merasakan sesuatu mengganjal di tenggorokannya.

“Di mana pun kamu berdiri nanti, orang tidak akan melihatmu hanya sebagai Anisa Fadillah. Mereka akan melihat, kamu sebagai istri seorang Gus.”

Hening.

“Kalau kamu bersikap sembarangan, yang tercoreng bukan hanya namamu. Tapi nama suamimu. Nama pondok. Nama Romomu juga.”

Nada itu bukan ancaman.

Itu beban yang diletakkan perlahan, agar disadari.

Anisa menunduk dalam. Jemarinya saling meremas.

“Romo tidak sedang membebanimu,” lanjut Kiai Arsyad lebih lembut,

“Romo hanya ingin kamu paham, hidup ini bukan lagi tentang kebebasan yang kamu cari.”

Beliau tersenyum tipis.

“Kamu sudah diberi tanggung jawab sebelum kamu siap. Itu takdir. Tapi cara kamu menjalaninya… itu pilihanmu.”

Sunyi kembali jatuh.

Untuk pertama kalinya sejak keputusan itu disampaikan, dada Anisa terasa sesak. Bukan karena dipindahkan. Tapi karena kalimat 'istri seorang Gus di pundakmu' itu terasa lebih berat dari menggendong ransel di gunung Lawu.

“Pergilah,” ucap Kiai Arsyad pelan,

“dan jadilah perempuan yang membuat suamimu dihormati, bukan dipertanyakan.”

Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh juga.

“Ngapunten, Romo…” suara Anisa pecah.

Umi Laila mengusap punggungnya lembut.

Anisa sendiri tak tahu, untuk siap air mata itu jatuh? atau untuk apa air mata itu mengalir sebegitu derasnya...

Yang jelas bukan karena ia akan berpisah jauh dari Gus Hafiz, atau mungkin perpindahan itu satu jalan menuju kebebasan yang Anisa nanti selama ini.

1
Elen Gunarti
huh mlai dilema
Pa Dadan
karyanya bagus
Simkuring, Prabu
mana kelanjutannya
Alim
akhirnya
Elen Gunarti
jujur lah Anisa biar semua jelas
Alim
😭😭😭
Listio Wati
mewek baca y
Elen Gunarti
huh nyesek bingot ceritay, double up Thor
Listio Wati
kasihan bener si anisa
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
Elen Gunarti
ceritanya bgus tp up-nya lama Thor
Zizi Pedi: makasi kk🥰
total 1 replies
Elen Gunarti
kuintip bolak balik blm up🤭
Elen Gunarti
double up Thor 👍👍👍👍
Elen Gunarti
lanjut
Elen Gunarti
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!