Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
elemen dasar
"TERRA SURGE!"
BRAKKK!!!
Tanah meledak. Sebongkah batu besar mencuat dengan kecepatan tinggi tepat di bawah rahang babi hutan itu. Dentuman keras terdengar saat kepala binatang itu terhantam telak, membuatnya melayang sesaat sebelum akhirnya ambruk ke tanah. Hening. Binatang buas itu tak lagi bergerak.
Tepat saat debu mulai turun, beberapa orang membawa busur dan anak panah dipunggung muncul di gerbang halaman dengan napas tersengal-sengal.
"Astaga!!! Kau tidak apa-apa, Pak?!" tanya salah satu dari mereka, pria bermata sipit yang tampak sangat panik. Ia tertegun melihat halaman yang berantakan dan sang monster yang sudah terkapar tak berdaya.
Hiru berdiri tegak, napasnya masih menderu. "Ini babi kalian?" tanyanya dengan nada rendah yang sarat akan amarah. "Apa-apaan maksudnya ini?!"
"Ah, kami sungguh minta maaf! Benar-benar minta maaf!" jawab pria sipit itu sembari membungkuk berkali-kali. "Anak buahku yang bodoh tak sengaja melepaskan babi ini. Aduh! Biar kuhajar dia nanti!" Ia menoleh sekilas, memberikan tatapan tajam yang membuat salah satu anak buahnya bergidik ngeri, lalu kembali menghadap Hiru dengan wajah memelas. "Untuk semua kerusakan ini, saya janji akan memberikan kompensasi penuh!"
Pria bermata sipit itu kemudian merogoh kantongnya, menyerahkan beberapa keping emas sebagai ganti rugi, sebelum bergegas pergi bersama kelompoknya sambil menyeret babi hutan tersebut.
“Hati-hati lain kali!” seru Hiru lantang. Ucapannya dibalas anggukan hormat dari pria bermata sipit itu sebelum mereka menghilang di kejauhan.
Di ambang pintu, gadis kecil itu masih sesenggukan, menyembunyikan wajahnya dalam dekapan hangat sang wanita elf. Hiru berjalan mendekat, lalu menepuk lembut puncak kepala putrinya.
“Sudah… semuanya aman sekarang,” bisiknya menenangkan.
"Takut…” gumam gadis kecil itu di sela isaknya. Si wanita elf mengelus punggung anak itu perlahan.
“Ah, tidak apa-apa. Jangan takut,” ujar sang wanita elf lembut dengan senyum tipis. “Ibu dan Ayah akan menemanimu. Kita main di halaman belakang saja, ya. Halaman depan masih kotor.”
Gadis kecil itu akhirnya mengangguk pelan. Hari pun berlalu, dan keluarga kecil itu menghabiskan sisa waktu mereka dengan bermain bersama di halaman belakang, seolah melupakan amukan monster yang baru saja terjadi.
************
"Wah... jadi ayahmu elemen magis dasarnya tanah, ya?" komentar Kenny sambil manggut-manggut menyimak cerita Ursha'el.
Ursha'el menimbang-nimbang, berpikir sejenak. "Iya, sejauh yang kutahu memang begitu. Tidak tahu lagi kalau beliau juga bisa menguasai elemen dasar lain," jawabnya tenang.
"Wah, sama sepertiku dong kalau begitu! Hahaha!" sahut Luce antusias. Ia kemudian menatap Ursha'el penasaran. "Kau sendiri bagaimana? Apa elemen dasarmu? Udara? Air? Atau api?"
"Elemen dasarku kegelapan," jawab Ursha'el datar.
Mata Kenny membelalak. "Wow... serius? Itu sangat langka dibanding lima elemen dasar lainnya! Persentase kelahiran seseorang dengan elemen kegelapan itu satu banding seratus!" celetuk Kenny dengan nada kagum yang tak disembunyikan.
"Ah, biasa saja, Ken. Tidak ada yang istimewa," jawab Ursha'el. "Elemen cahaya milik Vivi juga cukup langka, lima banding seratus," sambungnya datar.
Mendengar namanya disebut, Vivi menoleh tipis, memberikan reaksi singkat atas pernyataan Ursha'el.
"Tetap saja kau lebih keren, Ursha’el! Daripada aku... elemen dasarku air, sama sekali tidak langka. Empat banding sepuluh!" ujar Kenny sambil tertawa renyah.
"Hah... keren dari mana?" Ursha’el tersenyum tipis. "Lagipula itu cuma elemen bawaan lahir. Kalau tidak dilatih, ya, percuma saja."
"Oh... Bunga Hijau yang anggun..." Tiba-tiba Luce menyela, suaranya berubah mendayu-dayu saat ia masuk ke 'mode dramatisnya'. "Seluruh kisahmu membuat hatiku makin terpatri padamu. Ayo, kita menikah!" serunya dengan nada meliuk-liuk.
Kenny tertawa terbahak-bahak melihat tingkah sahabatnya itu. Ursha’el sendiri hanya bisa tersenyum jengkel.
"Wow, luar biasa! Sepertinya level kebodohanmu meningkat drastis ya!" balas Ursha’el sambil ikut tertawa.
"Mari membangun generasi dengan elemen dasar yang langka bersamaku, Ursha’el..." Luce menjulurkan tangannya dengan gaya teatrikal.
"Ogah!" Ursha’el menepis tangan Luce dengan cepat sambil terpingkal.
"Argh!" Luce memegangi dadanya seolah tertusuk belati tak kasat mata, lalu ambruk ke tanah dengan sangat dramatis.
"Astaga... kau ini sedang apa sih, Luce?" Ursha’el menggeleng-gelengkan kepala. Dengan senyum iseng, ia menyambung, "Sekali-kali coba goda Vivi sana, jangan aku terus!"
Seketika, Vivi menoleh dan melemparkan tatapan tajam yang menusuk ke arah Ursha’el.
"Nggak mau... aku takut kalau sama Vivi... hehe," ujar Luce sambil beranjak duduk. "Tadi saja dia sudah berani pegang-pegang aku! Padahal aku sedang terluka, lho... Huaaa! Aku dinodai!" lanjut Luce dengan akting yang semakin menjadi-jadi.
Sontak, Kenny dan Ursha’el tertawa terbahak-bahak mendengar tuduhan konyol itu. Di sisi lain, wajah Vivi langsung memerah padam, antara malu dan gusar.
Vivi segera bangkit berdiri dan menghampiri Luce dengan langkah gusar. "Kurang ajar kau, Luce! Sudah diobati bukannya berterima kasih, malah bicara sembarangan! Sini, biar kubikin babak belur lagi kau!"
"Ah! Ampun! Ampun! Aku cuma bercanda! Aduh! Ahhh!" Luce berteriak konyol sambil berusaha melindungi kepalanya dari hujan pukulan bertubi-tubi yang dilayangkan Vivi.
Melihat pemandangan itu, tawa Kenny dan Ursha’el makin pecah. Suasana riuh itu mendadak terhenti ketika sebuah suara berat menggelegar dari arah lapangan.
"Luce!" Suara Instruktur Dornus memanggil dengan nada tegas, membuat mereka berempat tersentak dan menoleh secara bersamaan. "Kemari!" perintahnya singkat.
Vivi segera menghentikan pukulannya. Luce bangkit berdiri sambil meringis. “Waduh… ada apa lagi nih,” gumam Luce.
“Mampus. Pasti bakal dimarahin habis-habisan gara-gara latihan tadi,” ujar Vivi sambil menjulurkan lidah mengejek.
"Ah, tenang saja. Akan kulaporkan kau ke Instruktur... 'Instruktur, Vivi mesum!'" sahut Luce jahil, diiringi senyum menjengkelkan khas miliknya.
“Kurang ajar…” Vivi hendak kembali melayangkan pukulan, namun Luce sudah lebih dulu melesat menjauh, bergegas memenuhi panggilan instruktur.
“Iya, Instruktur. Ada apa?” Luce berdiri di hadapan Instruktur Dornus, yang sedang berlutut di samping Spirora.
“Sebentar,” ujar Dornus singkat. Ia menekan tanah dengan telapak tangannya.
“Batu yang patuh, roh yang terikat,
Perintah selesai, kembali rekat.
Empat penjuru, penyimpanan ku buka,
Masuk dan tidurlah lagi, Spirora.”
Cahaya rune perlahan meredup. Cairan biru membeku, lalu retakan tanah menutup kembali. Keempat tiang batu tenggelam perlahan hingga lenyap, meninggalkan tanah sunyi tanpa jejak.
Luce terpaku menatap proses itu dengan kagum. Namun, kekagumannya buyar saat Instruktur Dornus bangkit berdiri. Aura intimidasi pria itu kembali terasa kuat, membuat Luce refleks menundukkan kepala.
"Ulurkan tanganmu," perintah Instruktur Dornus. Luce patuh, ia mengulurkan telapak tangannya.
"Ambil," ujar sang Instruktur sambil memberikan sebuah botol kecil ke tangan Luce.