Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.
Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.
Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Namun satu hal yang pasti. Kali ini, Syakil tidak akan membiarkan dirinya hanya berdiri dari jauh. Kali ini, ia akan datang untuk menyatakan perasaannya kepada wanita yang ia cintai dengan lantang. Dan jika takdir mengizinkan, ia akan melamarnya. Omar memperhatikan ekspresi puas di wajah tuannya. Jarang sekali ia melihat Syakil tampak begitu hidup dan bahagia.
“Selamat datang kembali ke Indonesia, Tuan,” ucap Omar dengan pelan.
Syakil tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus namun penuh tekad.
“Terima kasih, Omar." Jawab Syakil akhirnya.
Beberapa menit kemudian, roda pesawat pribadi itu akhirnya menyentuh landasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan hentakan halus namun tegas. Suara gesekan roda pesawat dengan aspal terdengar berat, lalu perlahan melambat. Kabin sedikit bergetar sebelum akhirnya kembali stabil. Lampu tanda sabuk pengaman menyala. Dari balik jendela oval, cahaya lampu landasan terlihat berkilau panjang seperti garis-garis emas di tengah malam.
Syakil membuka matanya yang sejak tadi terpejam singkat. Bukan karena lelah, melainkan karena ia ingin merasakan momen itu dengan utuh. Akhirnya ia pulang setelah bertahun-tahun. Udara Indonesia menyambutnya kembali, meski masih terhalang kaca dan baja pesawat. Omar berdiri lebih dulu sembari merapikan jasnya.
“Kita sudah mendarat, Tuan.”
Syakil mengangguk pelan. Tangannya meraih iPad yang tadi ia letakkan di meja kecil. Sebelum benar-benar memasukkannya ke dalam tas kerja kulit hitamnya, ia sempat menatap layar yang kini gelap itu.
"Sebentar lagi, Aku akan menemui mu, Arsy." Ucap Syakil di dalam hatinya.
Pesawat berhenti sepenuhnya. Tangga khusus sudah disiapkan di sisi landasan untuk mereka. Sebagai penerbangan privat, semuanya lebih cepat dan tanpa prosedur yang bertele-tele. Begitu pintu pesawat terbuka, hembusan udara malam Jakarta langsung menyapa wajah Syakil. Hangat dan lembap. Berbeda dengan udara kering Kairo yang selama ini ia hirup.
Syakil menarik napas dalam-dalam. Aroma tanah, udara kota, dan entah kenapa kenangan masa kecil bercampur jadi satu.
Dengan langkah tenang dan terukur, Syakil turun dari tangga pesawat. Omar berjalan setengah langkah di belakangnya sembari membawa koper milik Syakil dan tas kerja tambahan. Setelan jas hitam yang dikenakan Syakil tampak kontras dengan cahaya lampu landasan pacu. Posturnya tinggi dan tegap. Cara jalannya penuh wibawa, tapi tidak tergesa-gesa. Wajahnya yang tegas dan khas Timur Tengah seolah langsung mencuri perhatian bahkan di area yang tidak terlalu ramai itu.
Beberapa petugas bandara yang berjaga tak bisa menahan diri untuk melirik.
“Siapa pria itu?” bisik salah satu pegawai wanita pada temannya.
“Nggak tahu, kayaknya model atau pejabat gitu.”
“Gila, ganteng banget.”
Syakil tidak menyadari sepenuhnya, atau mungkin ia memang terbiasa dengan tatapan seperti itu. Sejak beberapa tahun terakhir, wajahnya memang sering muncul di artikel bisnis dan foto konferensi internasional. Aura maskulin yang dingin namun elegan membuatnya selalu menonjol di mana pun ia berdiri. Namun malam ini, ia bukan datang sebagai seorang pengusaha. Ia datang sebagai laki-laki yang sedang mengejar cintanya.
Setelah proses imigrasi dan administrasi privat selesai, Syakil dan Omar akhirnya keluar melalui pintu kedatangan khusus. Area utama bandara tetap cukup ramai meski sudah malam. Suara troli koper, pengumuman penerbangan, dan percakapan orang-orang bercampur jadi satu.
Saat Syakil melangkah keluar, beberapa pasang mata langsung tertuju padanya. Seorang ibu muda yang sedang menggandeng anaknya bahkan sempat berhenti sejenak. Dua mahasiswi yang duduk menunggu jemputan saling menyikut pelan.
“Ya ampun, itu siapa sih…”
“Kayak aktor Timur Tengah…”
Aura yang dimiliki oleh Syakil memang berbeda. Bukan hanya soal wajahnya yang tampan atau pakaiannya yang mahal. Ada ketenangan dan kepercayaan diri yang terpancar alami. Bahunya tegak. Tatapannya lurus. Cara ia berjalan seolah menunjukkan bahwa ia tahu persis ke mana ia melangkah dalam hidup.
Omar mendekat sedikit.
“Mobil sewaan akan tiba lima menit lagi, Tuan.”
Syakil mengangguk. Ia berdiri di sisi pintu kedatangan dan menunggu dengan sabar. Tangannya masuk ke saku celana jas. Pandangannya menyapu sekitar, namun pikirannya jelas tidak berada di bandara. Ia membayangkan Arsy. Apakah perempuan itu masih tinggal di rumah yang sama? Apakah ia masih terlihat sama seperti di foto lama itu?
Syakil tidak tahu bahwa pada saat yang sama, Arsy sedang duduk di lantai rumah sakit dengan mata sembab dan hatinya yang remuk. Sebuah mobil hitam mewah akhirnya berhenti tepat di depan mereka. Sopir turun dengan cepat dan membuka pintu belakang dengan penuh rasa hormat untuk Syakil.
“Selamat malam, Pak,” sapa sopir itu dengan sopan.
“Selamat malam, antar saya ke hotel, sekarang.” ucap Syakil dengan singkat.
“Baik, Pak.”
Syakil masuk ke dalam mobil, diikuti Omar yang duduk di kursi depan. Mesin mobil kembali menyala, lalu perlahan meninggalkan area bandara.
Jakarta malam itu tidak sepenuhnya sepi. Lampu-lampu jalan berjejer panjang. Gedung-gedung tinggi berdiri megah dengan lampunya yang masih menyala. Beberapa ruas jalan masih terlihat padat, namun tidak separah jam sibuk. Syakil menyandarkan tubuhnya ke kursi belakang. Ia menoleh ke luar jendela.
Kota ini sudah berubah. Banyak gedung baru. Banyak papan iklan digital. Jalan layang bertambah. Namun entah kenapa, ada rasa familiar yang tak hilang. Ia melihat deretan warung pinggir jalan, pedagang kopi, motor-motor yang melintas cepat, dan lampu merah yang berkedip.
Sudut bibir Syakil terangkat tipis.
“Aku benar benar sangat merindukan tempat ini.” gumam Syakil hampir tak terdengar.
Omar yang duduk di depan sempat menangkap bayangan senyum tuannya itu melalui kaca spion. Senyum yang jarang sekali muncul saat Syakil berada di ruang rapat atau menghadapi klien besar.
“Kota Jakarta memang sudah banyak yang berubah, Tuan,” kata Omar mencoba membuka percakapan ringan dengan Syakil.
“Semua memang berubah,” jawab Syakil pelan. “Tapi tidak semuanya.”
Ia kembali menatap keluar.
Di salah satu persimpangan, Syakil melihat sepasang remaja berdiri di pinggir jalan sambil tertawa. Tiba-tiba ia teringat masa SMA nya dulu. Waktu ketika hidup terasa sederhana. Ketika satu-satunya hal yang membuatnya gugup hanyalah seorang gadis bernama Arsy yang duduk di depan kelas. Ia masih ingat bagaimana Arsy selalu membawa bekal dari rumah. Bagaimana ia lebih suka duduk di perpustakaan daripada di kantin yang ramai. Bagaimana wanita itu yang tersenyum kecil setiap kali membantu temannya mengerjakan tugas.
Syakil menghembuskan napas pelan.
“Aku datang untukmu, Arsy.” bisik Syakil dalam hati.
Mobil hitam mewah itu melaju melewati jalan tol dalam kota. Lampu-lampu kendaraan terlihat seperti aliran cahaya panjang di kejauhan. Angin malam sesekali menyentuh kaca mobil. Untuk beberapa menit, suasana di dalam mobil terasa tenang. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama ketika ponsel Omar bergetar pelan.
Omar melihat layar ponselnya sebentar. Nomor yang tertera adalah salah satu orang suruhan Syakil di Indonesia, orang yang sejak beberapa minggu lalu ditugaskan untuk mencari tahu kabar dan keberadaan Arsy secara diam-diam.
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Lihat anakmu pak😭
Kami lah nyalahin si Radit