NovelToon NovelToon
Luka Sang Pengganti

Luka Sang Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Pengganti / Dosen
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Cahaya matahari pagi yang menyeruak masuk dari celah jendela kamar tamu terasa begitu menyakitkan di mata Zahra.

Zahra merasakan kepalanya yang terasa sangat berat, seolah ada bongkahan batu yang menghimpit pelipisnya. Namun, rasa sakit fisiknya seketika sirna digantikan oleh rasa terkejut yang luar biasa saat ia mendapati Akhsan sudah duduk di kursi tunggal tepat di samping tempat ia berbaring.

Akhsan menatapnya dengan pandangan jijik dan marah.

"Tuan putri sudah bangun?" suara Akhsan terdengar sangat sinis, membelah keheningan pagi.

"Cepat bangun dan buatkan aku kopi!"

Plak!

Akhsan melemparkan beberapa lembar uang kertas ke atas perut Zahra yang masih tertutup selimut tipis pemberian Bibi Renggo secara sembunyi-sembunyi tadi malam.

"Itu uang untuk naik ojek ke kampus. Jangan pernah berharap aku akan mengantarmu, apalagi terlihat satu mobil denganmu. Dan ingat satu hal, Zahra. Pernikahan ini harus kamu rahasiakan dari siapa pun di kampus. Di mata mahasiswa dan dosen lain, kita tetap kakak adik. MENGERTI!!" ucap Akhsan.

Zahra menganggukkan kepalanya dan takut mendengar suara keras suaminya.

Setelah Akhsan keluar dengan langkah angkuh, Zahra menyeret tubuhnya yang menggigil ke kamar mandi.

Di bawah kucuran air, ia menangis tanpa suara dan mencoba menyamarkan isaknya dengan suara air.

Setelah berganti pakaian dengan kemeja longgar untuk menutupi perban di lututnya, Zahra turun ke dapur.

Tangannya yang gemetar mulai meracik kopi hitam kesukaan Akhsan.

"Non Zahra Astaga, Non panas sekali!" Bibi Renggo yang baru saja masuk ke dapur memegang dahi Zahra dan terpekik.

"Bi, jangan termakan drama," potong Akhsan yang tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur sembari merapikan jam tangan mahalnya.

Ia menatap Zahra dengan tatapan yang sangat dingin, tanpa sedikit pun rasa khawatir.

"Dia itu hanya bisanya manja dan merengek seperti bayi. Benar-benar beban di keluarga Hermawan. Beda sekali dengan Gea, Bi. Gea itu mandiri, cantik, dan pintar. Dia tidak akan pernah merepotkan orang lain dengan akting sakit seperti ini hanya untuk mencari perhatian."

Setiap perkataan yang dilontarkan oleh Aksan, menghujam jantung Zahra lebih dalam daripada rasa sakit di kakinya.

Di depan asisten rumah tangga, suaminya sendiri mempermalukannya dengan membandingkannya dengan wanita yang telah tiada.

Zahra meletakkan cangkir kopi itu di atas meja dengan tangan yang masih gemetar hebat.

"Ini kopinya, Mas Akhsan," ucap Zahra lirih, hampir tidak terdengar.

Akhsan menyesap kopi itu sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan kasar hingga airnya menciprat ke meja.

"Terlalu pahit. Sama seperti kehadiranmu di rumah ini."

Tanpa menoleh lagi, Akhsan menyambar tas kerjanya dan melenggang pergi meninggalkan rumah, membiarkan Zahra nyaris tumbang jika saja Bibi Renggo tidak segera menangkap tubuhnya.

"Non, sarapan dulu sedikit ya? Ini bekalnya sudah Bibi buatkan, masukkan ke tas," bisik Bibi Renggo dengan suara serak menahan tangis.

Ia menyodorkan kotak makan kecil dan sebuah botol air mineral.

Zahra tidak kuat lagi menahan beban di pundaknya.

Ia menghambur ke pelukan Bibi Renggo, menyembunyikan wajah pucatnya.

Isak tangisnya pecah, tertahan oleh kain daster Bibi yang aromanya selalu menenangkan.

Bagi Zahra, Bibi Renggo adalah satu-satunya pelabuhan saat dunia, termasuk orang tua kandungnya memilih untuk berlayar menjauh.

"Terima kasih, Bi. Hanya Bibi yang sayang sama Zahra sekarang," bisik Zahra di sela tangisnya.

Ada kepedihan yang ironis di balik kemewahan hidup keluarga Hermawan.

Saat putrinya sedang menggigil menahan demam dan luka akibat kekejaman suaminya,

Mama justru sedang sibuk di rumah utama. Dengan senyum yang dipaksakan namun tetap terlihat elegan, Mama sibuk menerima karangan bunga dan tamu-tamu yang datang untuk mengucapkan selamat atas "pernikahan" Akhsan.

Di mata Mama, menjaga citra keluarga di depan para sosialita jauh lebih mendesak daripada melihat kondisi mental Zahra.

Sementara itu, Papa Hermawan juga tidak berbeda.

Pagi ini, ia sudah duduk di restoran hotel bintang lima, menjamu rekan bisnis internasionalnya dalam sebuah acara sarapan bersama.

Ia tertawa ringan sembari memotong steak wagyu, membicarakan ekspansi perusahaan seolah-olah semalam ia tidak baru saja menghancurkan masa depan putrinya sendiri dengan sebuah paksaan nikah.

Zahra melepaskan pelukannya, mengusap air matanya dengan kasar.

"Zahra berangkat dulu ya, Bi. Takut Mas Akhsan marah lagi kalau Zahra terlambat masuk ke kelas,'

"Hati-hati, Non. Kalau tidak kuat, telpon Bibi ya," pesan Bibi Renggo sembari mengantar Zahra sampai ke pintu depan.

Zahra berjalan pincang menuju gerbang. Di sana, ia memesan ojek motor melalui aplikasi.

Saat motor itu datang, Zahra harus berjuang keras untuk naik ke boncengan karena luka di lututnya yang terasa kaku dan perih.

Sepanjang perjalanan menuju kampus, angin pagi yang dingin menusuk hingga ke tulang, membuat kepalanya semakin berdenyut.

Ia melihat gedung-gedung tinggi Jakarta yang berlalu cepat, merasa dirinya sangat kecil dan tak berarti.

Sesampainya di gerbang kampus, Zahra turun dengan perlahan.

Ia merapikan pakaiannya, mencoba memakai masker untuk menutupi wajahnya yang pucat dan bibirnya yang kering.

Baru saja ia melangkah beberapa meter di koridor menuju kelasnya, sebuah suara akrab memanggilnya dari belakang.

"Zahra! Eh, itu kaki kamu kenapa jalan begitu?"

Christian berlari kecil menghampirinya. Matanya yang tajam langsung menangkap cara berjalan Zahra yang tidak wajar dan noda darah kecil yang merembes di balik kain kemejanya.

"Ra, kenapa pakai masker? Kamu sakit?" tanya Christian khawatir, tangannya refleks ingin menyentuh dahi Zahra untuk mengecek suhu tubuhnya.

Namun, di saat yang bersamaan, mobil sedan hitam milik Akhsan melintas pelan di jalan samping koridor.

Dari balik kaca mobil yang gelap, Zahra tahu Akhsan sedang memperhatikannya dengan tatapan menghakimi.

Mobil sedan hitam itu terus melaju tanpa sedikit pun mengurangi kecepatannya.

Dari balik kaca, Akhsan melihat Christian yang nyaris menyentuh dahi Zahra.

Alih-alih merasa khawatir sebagai suami, Akhsan justru mendengus sinis.

Baginya ia sedany melihat adegan drama lain yang diciptakan Zahra untuk menarik simpati.

Ia memarkirkan mobilnya dengan tenang, lalu melangkah menuju ruang dosen tanpa menoleh sedikit pun ke arah koridor.

Zahra menatap punggung Akhsan yang menjauh dengan pandangan yang kian mengabur.

Dunia di sekitarnya mendadak terasa berputar cepat

Suara Christian yang memanggil namanya terdengar seperti gema yang jauh di bawah air.

"Ra? Zahra! Kamu dengar aku nggak—"

Belum sempat Christian menyelesaikan kalimatnya, keseimbangan Zahra runtuh.

Tubuhnya yang panas membara limbung dan jatuh terkulai ke arah aspal halaman kampus yang kasar.

"ZAHRA!!" teriak Christian histeris.

Beruntung, Christian dengan sigap menangkap tubuh Zahra sebelum kepalanya menghantam lantai. Indri, yang baru saja sampai, memekik tertutup mulutnya melihat sahabatnya tak sadarkan diri dengan wajah sepucat kapas.

"Ya Tuhan, Christian! Badannya panas banget, kayak mau meledak!" seru Indri panik setelah memegang lengan dan melepaskan masker yang dipakai oleh Zahra.

Ia segera menyambar tas Zahra yang terjatuh di lantai.

"Bantu aku, Ndri! Kita bawa ke klinik kampus sekarang!" perintah Christian.

Dengan napas memburu, ia membopong tubuh Zahra yang terasa sangat ringan, tanda bahwa gadis itu memang kehilangan nafsu makan dan berat badan dalam beberapa hari terakhir.

Pemandangan itu mengundang perhatian mahasiswa lain.

Di tengah keramaian itu, langkah Akhsan terhenti tepat di depan pintu kaca ruang dosen.

Ia mendengar keributan itu, ia mendengar nama Zahra diteriakkan, dan ia sempat melirik sekilas ke arah halaman.

Ia melihat istrinya digendong oleh orang lain membuat rahang Akhsan mengeras.

Ada rasa tidak suka yang mendadak muncul, namun ia segera menepisnya dengan kebencian yang lebih besar.

"Baguslah kalau ada yang mengurusnya, jadi dia tidak perlu merepotkan aku," gumam Akhsan.

Ia pun masuk ke dalam ruangan AC yang dingin, meninggalkan istrinya yang sedang bertarung dengan rasa sakit di tengah kerumunan orang.

Sesampainya di klink, Zahra dibaringkan di atas ranjang periksa yang sempit.

Petugas medis segera memasangkan termometer dan membersihkan luka di lututnya yang kembali terbuka.

"Dia kelelahan hebat dan demamnya mencapai 39.5°C," ucap petugas medis itu kepada Christian dan Indri.

"Luka di kakinya juga mengalami infeksi ringan karena tidak segera diobati dengan benar. Siapa keluarganya yang bisa dihubungi?"

Christian dan Indri saling pandang saat mendengar perkataan dari petugas medis.

"Pak Akhsan," ucap Indri ragu.

"Pak Akhsan kan kakaknya. Dia ada di ruang dosen sekarang."

"Biar aku yang panggil dia, Ndri. Aku nggak habis pikir, adiknya sakit sampai begini tapi dia kelihatan biasa aja pas lewat tadi." ucap Christian sambil mencengkram erat kedua tangannya.

1
Fatma
jangan bilang nanti aruna malah balikan sama akhsan, suaminya gmn?
Masha 235
lha terus christian kepiye aruna ...mau diapain ..
my name is pho: sabar kak 🤭
total 1 replies
Piyah
,masa begitu, arunany
Dwi Winarni Wina
balas dendam siap dimulai tunggu kehancuranmu akhsan...
Dwi Winarni Wina
siulet bulu sisil kayak cacing kepanasan🤣🤭
Dwi Winarni Wina
Akhsan merindukan zahra pret tega sekali menyiksa zahra, siap2 aruna cristian akan balas dendam🤣
Dwi Winarni Wina
Zahra akan ganti identitas dengan barunya, siap2 balas dendam...
Dwi Winarni Wina
Zahra adiknya cristian akan membalas dendam sm keluarga hermawan dan akhsan akan melakukan operasi plastik
Dwi Winarni Wina
Zahra balas dendam telah orang2 yg menyakitinya...
Dwi Winarni Wina
bagus cristian selamatkan zahra dari para iblis itu...
Dwi Winarni Wina
zahra bertahan balas org2 telah menyakitimu, jadi zara yg kuat tanggung jangan jadi zahra yg lemah yg mudah ditindas....
Dwi Winarni Wina
Zahra pergi yg jauh akhsan dan orgtua sendiri aja gak peduli sm kamu, ngapain juga bertahan yg ada dapat siksaan aja
Dwi Winarni Wina
cristian bawa zahra pergi jauh daripada disakiti sm akhsan terus...
Dwi Winarni Wina
muncul ulet bulu kegatelan ini🤣🤭
Dwi Winarni Wina
akhsan gak punya hati apa, menyiksa zahra...
Dwi Winarni Wina
sebaiknya pergi yg jauh aja zahra, daripada diperlakukan kayak tahanan...
Dwi Winarni Wina
kejam sekali akhsan sm zahra, zahra istri kamu perlakukan dengan baik..zahra juga tidak bersalah bukan penyebab kematian gea...
𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂
klo akhsan disusui mama'y zahra itu sma aja akhsan & zahra saudara sepersusuan & itu hukum'y haram jika mereka brdua menikah
my name is pho: Zahra bukan anak dari mama Hermawan
total 1 replies
Dwi Winarni Wina
Lagian bukan zahra juga penyebab kematian gea kali, seharusnya sadar akhsan menyalahkan zahra teru...
Dwi Winarni Wina
akhsan kejam bingit menuduh zahra penyebab kematian gea, kecelakaan yg menimpa gea karena takdir...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!