NovelToon NovelToon
Gadis Pembawa Kemalangan

Gadis Pembawa Kemalangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Kerajaan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.

Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kurungan

Sementara itu di rumah kaca dalam kediaman Marquess itu dipenuhi cahaya sore yang lembut. Sinar matahari menembus panel-panel kaca bening, memantul pada dedaunan hijau dan bunga-bunga eksotis yang dirawat dengan teliti. Aroma teh hangat bercampur wangi tanah basah menciptakan kesan tenang, sangat berbanding balik dengan isi percakapan yang ada di dalamnya.

Di tengah ruangan, beberapa remaja bangsawan duduk melingkar di kursi jati. Gaun mereka berkilau, perhiasan berkilat halus di pergelangan tangan dan leher. Lilith duduk di kursi paling depan, dengan gayanya yang anggun, menyilangkan kaki dengan sikap santai, cangkir tehnya terangkat seolah ia adalah nyonya sejati tempat itu.

Beth tersenyum tipis sebelum akhirnya memecah keheningan.

“Aku sangat puas melihat reaksi gadis bodoh itu,” ujarnya sambil terkekeh kecil “Dia benar-benar tidak menyadari bahwa semua yang terjadi hanyalah bagian kecil dari rencana kita.”

Ia meletakkan cangkirnya perlahan, tatapannya berkilat puas, seakan masih mengingat wajah orang yang ia maksud.

“Matanya itu,” lanjut Beth sambil tertawa kecil. “Penuh harap, penuh kepercayaan. Menjijikkan sekali.”

Seorang gadis berambut cokelat muda menyahut sambil mengipas wajahnya dengan kipas renda.

“Sesekali dia memang harus dikerjai. Biar dia tahu diri,” katanya enteng. “Jangan sampai dia merasa berbangga diri hanya karena menjadi anak haram seorang Marquess.”

Yang lain mengangguk setuju.

“Benar sekali,” timpal seorang gadis lainnya

Lilith, yang sejak tadi diam, akhirnya tersenyum. Senyumnya manis, tetapi terlihat dingin.

“Kalian terlalu berlebihan dalam menilainya,” katanya lembut, namun nada suaranya membuat yang lain terdiam. “Selama dia masih percaya bahwa dunia ini berpihak padanya, selama itu pula kita menang.”

Beth menoleh ke arah Lilith. “Kau selalu tahu bagaimana menikmati permainan ini, Lilith.”

Lilith mengangkat cangkir tehnya, meneguk perlahan.

“Bukan permainan,” ujarnya pelan. “Ini pelajaran. Dunia bangsawan tidak pernah memberi tempat bagi mereka yang tidak tahu asal-usulnya. Dia hanya tidak beruntung saja"

Tawa itu perlahan mereda. Lilith menurunkan cangkir tehnya dan menyandarkan punggung dengan anggun, jemarinya menyentuh kain gaunnya seolah memastikan semuanya masih sempurna. Salah satu gadis meliriknya, lalu tersenyum penuh arti.

“Ngomong-ngomong,” katanya sambil memiringkan kepala, “debutante-mu tinggal menghitung hari, bukan?"

Atmosfer di rumah kaca seakan berubah. Beberapa pasang mata langsung tertuju pada Lilith, penuh minat dan rasa iri yang tak sepenuhnya tersembunyi.

Lilith tersenyum tipis. “Tinggal dua minggu lagi,” jawabnya singkat, seolah hal itu bukan sesuatu yang patut dibesar-besarkan.

“Dua minggu!” Beth berseru kecil, jelas menikmati topik itu. “Seluruh ibu bangsawan akan berlomba-lomba memamerkan putra mereka. Kau akan menjadi pusat perhatian semua orang.”

“Sudah pasti,” sahut gadis pirang itu sambil terkekeh. “Anak perempuan keluarga Marquess, cantik, anggun, dan… tanpa noda. Siapa yang tidak tergila-gila padanya?”

Lilith memalingkan wajah ke arah bunga mawar putih di dekatnya. “Aku tidak tertarik menjadi tontonan,” ucapnya ringan. “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya.”

Beth menyeringai. “Kau selalu berkata begitu, tapi kita tahu kenyataannya. Debutante itu adalah panggungmu, Lilith. Saat itulah semua orang akan mengakui bahwa kaulah yang pantas berdiri di sisi keluarga Marquess.”

Seorang gadis lain mencondongkan tubuh, menurunkan suaranya.

“Dan bagaimana dengan dia?” bisiknya, jelas merujuk pada sosok yang sejak tadi menjadi bahan ejekan. “Apa dia akan hadir?”

Lilith terdiam sesaat. Senyumnya tidak berubah, namun matanya mengeras.

“Tentu saja,” jawabnya tenang. “Bagaimanapun ia adalah bagian dari keluarga, setidaknya di mata Ayahanda.”

“Menjengkelkan,” gumam Beth. “Membayangkan dia berdiri di ruangan yang sama denganmu, mengenakan gaun layak bangsawan.”

Lilith tertawa kecil, nyaris tak terdengar.

“Biarkan saja,” katanya. “Debutante bukan hanya soal gaun atau dansa. Itu tentang kesan. Dan kesan bisa… dikontrol”

Gadis berambut cokelat itu tersenyum penuh pengertian.

“Jadi, semuanya sudah kau siapkan?”

Lilith mengangguk perlahan. “Ya, semuanya. Mulai dari tamu undangan, bisikan yang akan beredar, hingga siapa yang akan berdiri di pusat sorotan… dan siapa yang akan tersisih.”

Beth mengangkat cangkir tehnya. “Untuk debutante Lilith,” katanya penuh kepuasan. “Semoga malam itu menjadi malam yang tak akan dilupakan siapa pun.”

"Baiklah, setelah ini mari kita berbelanja, menyiapkan gaun untuk pesta debutante ku" Ujar Lilith

Cangkir-cangkir saling beradu pelan, menghasilkan bunyi nyaring yang lembut. Di antara bunga-bunga yang bermekaran dan cahaya keemasan senja, rencana demi rencana tersusun rapi, menunggu malam debutante yang kelak akan mengubah banyak hal.

Tawa rendah kembali terdengar, kali ini lebih pelan, lebih puas. Suara itu berbaur dengan desir angin yang menggerakkan dedaunan di dalam rumah kaca, lalu perlahan menghilang, seolah diserap oleh waktu, meninggalkan rencana-rencana busuk yang belum selesai.

***

Beberapa jam berlalu sebelum Elenna akhirnya tersadar dari pingsannya. Kepalanya terasa berat, tubuhnya nyaris tak mampu digerakkan. Perutnya terus-menerus mengeluarkan bunyi lirih, rasa lapar yang sudah terlalu lama diabaikan. Ia belum makan selama seminggu penuh. Sungguh sebuah keajaiban bahwa ia masih bisa bertahan hidup hanya dengan bermodalkan air.

Menjadi anak haram Marquess tak serta-merta membuat hidupnya lebih baik.

Ia sering kali kelaparan, tidak memiliki tempat peristirahatan yang layak, dan hidup dalam keterasingan di mansion megah itu. Bahkan, rasanya hidup sebelum diadopsi Marquess tidak ada bedanya dibandingkan sekarang.

Yang Elenna ingat tentang masa lalunya hanyalah satu hal: ia tidak pernah memiliki orang tua. Sejak lahir, ia tak pernah tahu siapa mereka, atau alasan mengapa mereka tega membuangnya ke tempat sampah begitu ia terlahir ke dunia.

Beruntung kala itu ada seorang wanita paruh baya bernama Young yang menemukannya. Wanita itu merawatnya dengan penuh kasih, membesarkannya seperti anak kandung sendiri. Selama tujuh tahun, Young adalah dunia bagi Elenna, Ibunya, rumahnya, segalanya.

Namun, kebahagiaan itu direnggut secara kejam. Wanita yang ia anggap sebagai ibunya dibunuh oleh sekelompok bandit. Seketika, dunianya hancur pada saat itu juga.

Sejak hari itu, Elenna bertahan hidup seorang diri. Ia mengorek-ngorek sampah, membantu siapa pun yang mau memberinya pekerjaan, melakukan apa saja demi mendapatkan makanan. Hidupnya keras, tetapi setidaknya Ia masih memiliki kebebasan.

Ironisnya, semua itu hilang setelah ia berada di bawah atap kediaman Marquess, yang mengaku sebagai ayah kandungnya. Marquess tak pernah benar-benar memeriksa kondisinya. Tak pernah menanyakan apakah ia makan, tidur, atau sakit. Yang pria itu lakukan hanyalah bekerja dan bekerja, tenggelam dalam kesibukan sejak mendiang istrinya meninggal.

Marquess hanya menghampiri Elenna ketika mendengar kabar bahwa ia menyakiti anak kesayangannya. Tanpa bertanya, tanpa mendengar penjelasan, yang ia lakukan hanyalah menghukumnya atas kesalahan yang bahkan tidak pernah diperbuat olehnya.

~ Akankah kebenaran masih memiliki tempat ketika perasaan lebih dulu berbicara? Bahkan sebuah kebohongan dapat berubah menjadi kebenaran jika diucapkan oleh orang yang paling dipercaya.

1
Ran
up thorr
Ran
cie elena mulai suka 🤭
Ran
Lilith ini keknya punya gangguan jiwa atau kelainan berpikir ya/Speechless/, stress banget jadi orang
Ran
ayo berlayar kapal elena dan tuan pengawal
Anonymous
semangat thor
VanGenZ: Terima kasih atas dukungannya🙏
total 1 replies
Ran
Lilith play victim jir
Ran
up thorr
Ran
itu mah akal akalan Lilith aja
Ran
sakit banget jadi elena
Ran
Lilith sok gatel lagi sama Kael
Ran
yahh, ayang beb udah mau pergi
Ran
mampus dimarahin ga tuh
Ran
kill aja tuh count
Ran
curiga sama lilith
Ran
buat apa dikasih tau kalau sejak awal udh ditentuin perannya, dasar marquess ga punya hati
Ran
semua gada yang bisa dipercaya kecuali elenna sendiri jir
Ran
Lilith sok baik/Panic//Pooh-pooh/
Ran
lumayan sih. walaupun minim dialog, tetap berkarya thor
Ran: sama-sama thor
total 2 replies
Ran
pengen deh bejek2 Lilith manusia ular itu/Panic/
Ran
kasian banget jadi Elenna/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!