NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA CEO

SUAMIKU TERNYATA CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari dari Pernikahan / Percintaan Konglomerat / Cinta Beda Dunia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.

Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.

Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah yang Kembali Bernapas

Beberapa minggu setelah pertemuan terakhir itu…

Hidup terasa normal.

Tidak ada telepon misterius.

Tidak ada pria asing di depan sekolah Cantika.

Tidak ada pesan ancaman di jendela.

Tenang.

Terlalu tenang.

Dan Kevin justru belum sepenuhnya bisa santai.

Ia berdiri di ruang kerja, memandangi halaman rumah.

Cantika sedang belajar naik sepeda kecilnya.

“Pelan, sayang!” suara Siska terdengar dari taman, diikuti tawa kecilnya.

Pemandangan itu hangat.

Indah.

Tapi Kevin masih menyimpan sisa waspada.

“Masih kepikiran dia?”

Kevin menoleh. Siska sudah berdiri di belakangnya.

“Dikit,” jawabnya jujur.

Siska berdiri di sampingnya, ikut memandang keluar.

“Dia nggak akan balik.”

“Kamu yakin?”

Siska mengangguk pelan.

“Orang yang benar-benar mau menghancurkan nggak bakal kasih peringatan berkali-kali. Dia cuma pengen kita takut.”

Kevin diam.

Siska menatapnya lembut.

“Dan kita udah nggak takut lagi.”

Kevin tersenyum kecil.

“Kamu sekarang bijak banget.”

Siska terkekeh. “Pengalaman, Mas.”

Kevin langsung angkat alis.

“Mas?”

Siska pura-pura batuk. “Eh… kebiasaan lama.”

Mereka tertawa.

Dan untuk pertama kalinya—

Tawa itu ringan. Tidak dipaksa.

Malamnya, setelah Cantika tidur…

Kevin dan Siska berada di kamar yang sama.

Bukan kamar tamu.

Bukan lagi dua ruangan terpisah.

Tidak ada pengumuman resmi.

Hanya keputusan diam-diam yang terasa benar.

Kevin menatap langit-langit kamar.

“Kamu pernah nyesel nggak?” tanyanya tiba-tiba.

Siska yang sedang menyisir rambut berhenti.

“Nyesel soal apa?”

“Soal kita dulu.”

Siska duduk di tepi kasur.

“Kalau bilang nggak nyesel, itu bohong,” katanya jujur.

“Aku nyesel ninggalin kamu. Nyesel bikin Cantika tumbuh tanpa aku.”

Kevin menoleh perlahan.

“Tapi kalau ditanya nyesel pernah hidup susah bareng kamu?”

Siska tersenyum tipis.

“Enggak.”

Kevin terdiam.

“Aku capek waktu itu. Frustrasi. Takut. Tapi… ada sesuatu yang nggak bisa dibeli.”

“Apa?” suara Kevin pelan.

“Kita.”

Hening.

Kevin bangkit duduk.

“Aku juga salah, Sis.”

“Salah apanya?”

“Aku terlalu sibuk buktiin ke dunia kalau aku bisa sukses. Sampai lupa kamu juga lagi berjuang.”

Siska tersenyum lembut.

“Sekarang kita sama-sama belajar.”

Kevin menggenggam tangannya.

“Dan sekarang?”

Siska menatapnya dalam.

“Sekarang aku nggak mau ke mana-mana lagi.”

Kevin menariknya ke dalam pelukan.

Pelukan itu tidak lagi penuh api.

Tidak meledak-ledak seperti dulu.

Tapi hangat.

Stabil.

Seperti rumah yang akhirnya kokoh.

Beberapa hari kemudian, Arman memanggil Kevin.

“Ada kabar,” katanya tenang.

Kevin langsung waspada. “Tentang dia?”

Arman mengangguk.

“Dia menjual rumahnya. Pergi dari kota ini.”

Kevin terdiam.

“Ke mana?”

“Belum jelas. Tapi sepertinya benar-benar pergi.”

Kevin menghela napas panjang.

Bukan lega berlebihan.

Tapi cukup untuk membuat bahunya terasa ringan.

“Papa yakin ini bukan jebakan?”

Arman tersenyum tipis.

“Orang yang kehilangan tujuan biasanya memang pergi.”

Kevin mengangguk pelan.

Mungkin… ini benar-benar akhir.

Sore itu Kevin pulang lebih cepat.

Ia menemukan dapur berantakan.

Tepung di meja. Adonan di lantai.

Siska dan Cantika tertawa di tengah kekacauan.

“Ini dapur atau tempat perang?” Kevin menahan tawa.

Cantika menunjuk Siska.

“Mama yang mulai duluan!”

“Eh, kamu juga nyipratin adonan ke aku!” Siska membela diri.

Kevin masuk ke dapur.

“Papa bantu.”

“Kamu cuma nambah berantakan,” protes Siska.

Kevin sengaja mencolek adonan ke pipi Siska.

“Kevin!”

Cantika tertawa histeris.

Beberapa menit berikutnya penuh tepung dan tawa.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada bayangan.

Hanya keluarga kecil yang akhirnya merasa utuh.

Malamnya, Siska berdiri di balkon.

Langit cerah.

Tidak ada hujan.

Kevin berdiri di sampingnya.

“Kita udah sejauh ini ya,” kata Siska pelan.

Kevin mengangguk. “Padahal dulu kita hampir selesai.”

Siska tersenyum kecil.

“Untung belum.”

Kevin menatapnya.

“Kalau waktu bisa diulang, kamu pilih apa?”

Siska berpikir sejenak.

“Aku tetap akan jatuh cinta sama kamu,” katanya pelan.

“Tapi mungkin aku akan lebih sabar.”

Kevin tersenyum.

“Aku juga tetap pilih kamu. Tapi aku bakal lebih cepat sadar kalau keluarga itu lebih penting dari gengsi.”

Siska menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Kita nggak sempurna ya.”

Kevin menggeleng.

“Nggak. Tapi kita bertahan.”

Dan mungkin—

Itu yang paling penting.

Di kamar, Cantika tertidur dengan wajah damai.

Ia tidak tahu badai apa saja yang pernah datang.

Ia hanya tahu satu hal.

Papa dan Mama ada di rumah.

Dan rumah itu aman.

Kevin mematikan lampu.

Saat ia berbaring, Siska memanggil pelan.

“Kev…”

“Iya?”

“Terima kasih.”

“Buat apa?”

“Karena nggak nyerah sama aku.”

Kevin tersenyum dalam gelap.

“Kamu juga nggak nyerah.”

Siska menyandarkan kepala di dadanya.

Tidak ada janji besar.

Tidak ada kata dramatis.

Hanya napas yang selaras.

Masa lalu mungkin tidak pernah benar-benar hilang.

Tapi untuk pertama kalinya—

Mereka tidak lagi hidup di bawah bayangannya.

Dan jika suatu hari badai datang lagi…

Mereka tahu satu hal pasti.

Kali ini—

Mereka tidak akan berdiri sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!