Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Hana tersenyum getir melihat kedua penghianat didepanya kini. Meskipun dadanya terasa sesak, namun ia tahan air matanya agar tak jatuh dihadapan Dzaki lagi.
"Untuk apa kamu berbasa basi lagi denganku? Setelah aku tahu betapa BUSUKNYA HATIMU, sejak saat itu juga aku tidak sudi lagi menganggapmu teman!" tandas Hana. Wajahnya datar, namun sorot matanya begitu kuat. Lalu tatapan Hana beralih kearah Dzaki.
Plak!
Wajah Dzaki terhempas ke samping. Ia terkejut setengah mati akan di permalukan Istrinya didepan umum saat ini.
"Gimana, Mas? Sakit? Tapi itu nggak ada apa-apanya sama luka yang aku hadapi atas tindak memalukan kalian berdua ini!" tekannya. Pertahanan Hana akhirnya runtuh. Air mata itu juga ikut menetes sekali kedip.
Mona memekik, ia merasa malu menjadi pusat perhatian para pengunjung. "Hana, stop! Kasian Mas Dzaki? Malu di lihatin orang!"
Plak!
Satu tamparan dari Hana berhasil membuat Mona menghentikan kalimatnya. Bahkan, Mona sampai shock, tanganya reflek memegang wajahnya.
"Lebih nggak malu siapa, daripada seroang sahabat yang tega merebut suami sahabatnya sendiri?! Diam-diam nusuk dari belakang!" tekan Hana sambil menunjuk wajah Mona.
Mona masih meringis menahan kebas pada wajahnya. Air matanya juga ikut keluar, menoleh sekilas pada Dzaki seolah meminta perlindugan dari suami sirinya itu.
"Hana... Kurang ajar!"
Tagan Dzaki sudah terangkat, namun belum sampai menyentuh wajah Istrinya, Hana malah lebih mendekatkan wajahnya seolah menantang.
"Kenapa nggak jadi, Mas? Ayo tampar!" tuntut Hana. Air matanya menetes kembali.
Dzaki tak mampu melakukan itu, semakin ia tatap mata Istrinya, kabut kepedihan disana masih sangatlah pekat. Ia tarik kembali tanganya, lalu segera mengajak Mona untuk masuk ke dalam.
Di sudut ruang, tepatnya di depan pintu lift, Danish-pria yang putrinya Hana susui tadi, sejujurnya sejak tadi ia melihat semua kejadian yang menimpa Hana. Namun, ia tak memiliki kewenangan untuk masuk dalam masalah keluarga itu.
"Jadi, seberat itu masalahnya? Buta atau bagaimana suaminya? Hana sangat cantik, tapi kenapa menggilai wanita modelan kuyang kek gitu?" kalimat itu mencekik tenggorokan Danish, merasa bingung dengan selera pria di sebrang.
Baru saja ia berniat ingin mendekat, sekedar memberikan sapu tangan, tapi....
"Ini, jangan menangis disini... Air matamu akan sia-sia untuk pria bejad seperti Dzaki," Dokter Rifki memberikan dua lembar tisu kepada Hana, lalu segera mengajak mantan pasienya keluar.
Langkah Danish kembali menggantung. Namun tak lama itu, gawainya begetar.
"Hallo, bagaimana Jimy? Oke," putusnya, setelah itu, Danish memutar sebuah rekaman video yang dikirimkan oleh Asisten Jimy.
Dalam penggalan video dengan durasi 5 menit itu, memperlihatkan Istri Danish sedang bergelayut manja memasuki Hotel berbintang dengan salah satu rekan bisnisnya sendiri.
Danish meremat kuat gawainya, "Dasar bedebah!" umpatnya dalam hati. Wajah tampan itu berubah merah dengan gigi yang saling menggeretak. lalu tak lama itu, Danish segera melenggang pergi keluar.
Sementara di teras lobi, Hana berjalan menuju parkiran motor bersama Dokter Rifki. Mendapati Hana datang membawa sepeda motor sendiri, jujur saja Dokter tampan itu merasa tak rela.
"Hana... Kamu belum selesai masa nifas, kenapa harus bawa motor sendiri?" tegur sang Dokter sampai mejulingkan alisnya.
Hana menoleh, tertawa kecil. "Nggak papa, Dok... Lagian 'kan rumah sakitnya deket. Jadi, nggak papa, pelan-pelan kok bawa motornya."
"Tau gitu saya jemput! Nggak-nggak bisa, tubuh kamu masih dalam tahap pemulihan," balas Dokter Rifki.
Hana menghentikan jalanya di ujung teras. "Dokter tenang aja, saya nggak papa kok! Oh ya, kalau gitu saya pamit dulu...."
Baru saja Hana akan melangkah,
"Hana, sebentar!" pekik Dokter Rifki.
Hana reflek menoleh, "Ada apa, Dok?"
Dokter Rifki mendekat, ia usap rambut Hana, sebab terkena bekas pudaran tembok ketika Hana bersandar tadi.
Hana membeku. Usapan mantan Dokternya itu sangat hati-hati, seolah tidak ingin membiarkan debu sedikitpun menyentuh tubuhnya. "Ingat... Jangan lagi menangis! Kamu beharga dimata orang yang menyayangimu," lirih sang Dokter menghentikan usapannya.
"Makasih, Dok!" Hana mengangguk, barulah segera pergi menuju parkir.
Selepas kepergian Hana, Dokter Rifki tampak mengotak atik gawainya. Barulah, setelah itu ia melenggang masuk kembali.
"Dokter mesum! Mengambil kesempatan dalam kesempitan," gerutu Danish di dalam mobil. Lagi-lagi ia tadi melihat bagaimana Dokter Rifki begitu simpati kepada Hana. Dan entah mengapa, ia sangat menyayangkan hal itu.
*
*
Setibanya di rumah, Hana agak mengernyit kala melihat mobil sang Kakak sudah ada didepan rumahnya. Kali ini bukan Madha, tapi Sanas-kakaknya nomor 2.
Hana segera turun dari motornya. Ibunya-Bu Laksmi sudah pecah tangis menyambut putrinya pulang.
"Ya Allah, Hana... Kenapa kamu nggak cerita sama Ibu...." Bu Laksmi langsung saja memegang kedua bahu putrinya.
Hana menatap sang Kakak sekilas, "Ibu datang tadi pagi, Han... Mbak aja baru tahu. Kamu lo, kalau ada apa-apa itu cerita... Nggak kaya gini," mata Sanas sudah berkaca-kaca.
Hana tersenyum getir. "Bu, Mbak... Kita masuk aja yuk. Maaf ya, Hana nggak ingin merepotkan Ibu sama Mbak Sanas."
Begitu masuk, Hana langsung menjatuhkan tubuhnya disamping sang Ibu. "Han, bener 'kan kecurigaan Ibu selama ini? Sudah, ya... Dijadikan pelajaran aja. Lain kain, nggak usah terlalu percaya sama sahabat, jika bukan Ibu, Mbakmu, sana Masmu."
Bu Laksmi langsung menarik tubuh sang putri masuk dalam dekapannya. Sementara Sanas, ia hanya mampu mengusap pundah adiknya, ikut merasakan sesak.
"Han, pakai pengacara, ya... Nanti dicarikan Mas Anas," kata Sanas begitu pelukan itu terlerai.
Hana menolak, "Nggak usah, Mbak... Hana akan urus sendiri, lagian Hana 'kan pihak tergugat. Ya, biar cepet selesai aja proses sidangnya."
"Ya udah, nanti biar Mbak sama Mas Madha yang temenin kamu. Emangnya tanggal berapa sidangnya?" tanya Sanas kembali.
"2 hari lagi, Mbak!" Jawabnya.
Bu Laksmi ikut menimpali, "Kamu belum selesai nifas, tapi udah bawa motor, darimana tadi?"
Hana mengusap tangan Ibunya, "Hana tadi abis dari rumah sakit, Bu... Daripada Asi Hana kebuang begitu aja, lebih baik Hana donorkan sama bayi disana. Banyak banget Bayi yang dehidrasi, atau kekurangan Asi."
Sanas menyela, "Han... Telfon Mbak, biar Mbak yang anterin! Kamu itu belum boleh loh naik motor sendiri!"
"Iya Mbak, lagian deket kok ke rumah sakitnya."
Pukul 11.30 siang, Bu Laksmi dan Sanas terpaksa pamit pulang. Di desa, Bu Laksmi sudah di percaya oleh Kadesnya untuk menjaga cucunya, atau juga sudah bekerja disana sejak Hana berusia 6 tahun. Jadi, Bu Asih tidak dapat berlama-lama karena tanggung jawab pekerjaanya.
Sebagai anak pertama, Madha sudah cukup sering meminta Ibunya untuk resign, agar di rumah saja. Namun Bu Laksmi menolak, sebab pekerjaanya juga tidak terlalu berat juga.
"Ibu pulang dulu, ya! Kalau kamu ingin pulang, pulang aja sekedar merilekskan pikiranmu," Bu Laksmi memeluk kembali putrinya sekilas.
Hana mengangguk, "Nanti Hana sempatkan pulang, Bu! Mbak Sanas hati-hati bawa mobilnya...."
"Iya, kamu mainlah ke rumah. Kiki sama Putri terus saja nanyain kamu. Mbk belum sempat ajak dia kesini, karena ya... Mbak pulangnya malem terus akhir-akhir ini."
Hana cukup mengerti dengan kesibukan kerja Kakaknya. Selain menjadi Irt, Sanas juga masih bekerja di pabrik, namun mendapat bagian kantor.
Mobil yang dibawa Sanas sudah melaju meninggalkan rumah Adiknya. Kini kekosongan kembali terasa.