NovelToon NovelToon
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Sistem / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: VALERIE BREAKDOWN

#

Tiga hari setelah serangan ke mansion. Valerie mengunci diri di kamar. Nggak keluar. Nggak makan. Nggak minum.

Pelayan ketuk pintu berkali-kali. "Nyonya... makanan sudah siap..."

Nggak ada jawaban.

Arjuna mencoba. "Valerie. Buka pintunya. Kita harus bicara."

Tetep hening.

Raka juga coba. "Ibu... kumohon... keluar... aku takut..."

Nggak ada suara dari dalam.

***

Di dalam kamar. Valerie duduk di lantai. Bersandar di dinding. Rambut berantakan. Makeup luntur. Baju tidur kusut.

Di depannya, foto-foto lama berserakan. Foto keluarga. Foto Kenzo.

Satu foto dia pegang erat. Foto Kenzo bayi. Baru lahir. Dibedong kain putih. Wajah kecil. Mata tertutup. Tenang.

Valerie menatap foto itu lama. Air mata mengalir tanpa henti.

"Kenzo..." bisiknya gemetar. "Maafkan aku..."

Memori mengalir. Paksa. Brutal.

***

Flashback. Lima belas tahun lalu.

Valerie baru menikah dengan Arjuna. Kenzo baru berumur tiga tahun. Ibunya baru meninggal setahun sebelumnya. Kecelakaan mobil.

Kenzo masih kecil. Polos. Imut.

Valerie pertama kali lihat Kenzo... jatuh cinta.

"Dia... mirip Arjuna waktu muda," gumamnya sambil gendong Kenzo.

Kenzo tersenyum. Tangan kecilnya menyentuh pipi Valerie.

"Ibu..."

Kata pertama Kenzo ke Valerie.

Valerie nangis. Bahagia. "Iya... aku ibu barumu, sayang..."

Dia peluk Kenzo erat. "Aku akan sayang kamu. Aku janji."

Dan awalnya... dia tepat janji.

Valerie rawat Kenzo dengan baik. Mandiin. Suapin makan. Bacain dongeng sebelum tidur.

Arjuna senang. "Terima kasih... terima kasih sudah sayang sama Kenzo..."

Valerie tersenyum. "Dia anak yang manis. Aku nggak bisa nggak sayang."

Dua tahun berlalu. Kenzo tumbuh jadi anak yang ceria. Selalu ikut Valerie ke mana-mana.

"Ibu! Lihat! Aku bisa gambar!" Kenzo tunjukin gambar bunga yang dia buat.

Valerie tersenyum. "Bagus, sayang! Ibu suka!"

Tapi...

Semuanya berubah.

Saat Raka lahir.

Anak kandung Valerie dan Arjuna. Laki-laki. Sehat. Sempurna.

Valerie menatap Raka bayi di pelukannya. Lalu melirik Kenzo yang berdiri di sudut ruangan.

Kenzo tersenyum. "Ibu... itu adikku?"

Valerie nggak jawab langsung. Dia cuma... menatap.

Dan sesuatu berubah di matanya.

Kenzo... bukan anak kandungnya. Raka... anak kandungnya.

Dan perlahan... kasih sayangnya beralih.

***

Setahun kemudian. Kenzo berumur enam tahun. Raka dua tahun.

Kenzo mencoba dekati Valerie yang lagi main sama Raka.

"Ibu... aku udah selesai PR... mau lihat?"

Valerie nggak ngeliat. "Nggak usah. Taruh aja di meja."

"Tapi... Ibu bilang mau lihat..."

"IBU LAGI SIBUK!" bentak Valerie tiba-tiba.

Kenzo tersentak. Mundur. Mata berkaca-kaca.

"M...maaf..."

Dia keluar kamar. Nangis sendirian di tangga.

Dan sejak saat itu... Valerie makin jauh dari Kenzo.

Makin dingin.

Makin... kejam.

***

Dua tahun kemudian. Kenzo delapan tahun.

Valerie mulai masuk ke bisnis gelap. Narkoba. Judi. Pelacuran.

Uang mengalir deras. Tapi... risikonya tinggi.

Suatu malam, pesaing bisnis ancam Valerie. "Kalau lu nggak mundur... keluarga lu yang kena."

Valerie panik. Takut Raka kenapa-kenapa.

Tapi Kenzo...

"Dia bukan anak kandungku. Kalau dia kenapa-kenapa... nggak terlalu masalah."

Pikiran itu muncul. Busuk. Tapi nyata.

Dan sejak saat itu... Valerie mulai benci Kenzo.

Bukan karena Kenzo salah.

Tapi karena... Kenzo pengingat. Pengingat bahwa dia bukan ibu sempurna. Pengingat bahwa ada anak lain yang dia abaikan.

Dan kebencian itu... tumbuh.

Jadi monster.

***

Flashback selesai.

Valerie menatap foto Kenzo bayi. Air mata makin deras.

"Aku... aku jahat... aku monster..."

Suaranya gemetar.

"Aku yang rusak kau, Kenzo... aku yang buat kau jadi seperti ini..."

Dia ingat semua yang dia lakukan.

Tampar Kenzo di depan tamu.

Lempar makanan ke wajahnya.

Kunci dia di kamar tanpa makan.

Bilang dia sampah.

Usir dia dari rumah.

Kirim pembunuh buat bunuh dia.

"AKU... AKU YANG HARUSNYA MATI!"

Valerie teriak keras. Pukul kepalanya ke dinding. Keras. Berulang kali.

BRAK! BRAK! BRAK!

Darah keluar dari dahinya. Tapi dia nggak berhenti.

"AKU JAHAT! AKU MONSTER! AKU HARUSNYA MATI!"

TOK TOK TOK!

Pintu diketuk keras dari luar.

"VALERIE! BUKA PINTUNYA!" suara Arjuna panik.

Valerie berhenti. Napas ngos-ngosan. Darah mengalir di wajahnya.

Dia menatap pintu.

Lalu... sesuatu berubah di matanya.

Kegilaan.

Bukan lagi kesedihan. Tapi... kegilaan murni.

Dia berdiri pelan. Jalan ke pintu. Buka kunci.

Pintu terbuka.

Arjuna dan Raka berdiri di luar. Wajah mereka shock lihat kondisi Valerie.

Darah di wajah. Rambut berantakan. Mata merah. Tapi... senyum lebar terpasang di bibirnya.

"Ibu... kau..." Raka mundur satu langkah.

Valerie jalan keluar. Pelan. Seperti zombie.

"Aku... aku harus bunuh Kenzo..."

Suaranya datar. Tanpa emosi.

"Valerie... kau butuh istirahat... kau nggak waras..." kata Arjuna sambil coba pegang bahunya.

Tapi Valerie tepis tangannya. Keras.

"JANGAN SENTUH AKU!"

Arjuna mundur.

Valerie menatap mereka berdua. "Kenzo harus mati. Kalau dia nggak mati... aku yang mati."

"Ibu... kumohon... kita kabur aja... keluar negeri... lupakan semua ini..." Raka mencoba.

Valerie menggeleng. "Nggak. Dia akan tetep cari kita. Dia nggak akan berhenti."

Dia jalan ke ruang kerja Arjuna. Ambil handphone di meja.

Cari kontak. Nama: Sang Penuai.

Pembunuh bayaran internasional. Paling mematikan. Paling mahal.

Belum pernah gagal.

Valerie telepon.

Nada tunggu. Tiga kali.

Lalu suara dingin menjawab. Aksen asing. "Siapa?"

"Aku... aku butuh jasamu."

"Berapa target?"

"Satu. Tapi... dia berbahaya."

"Semua target ku berbahaya. Itu kenapa mereka bayar mahal."

"Berapa?"

"Sepuluh juta dolar. Setengah di muka. Setengah setelah selesai."

Valerie nggak ragu. "Aku transfer sekarang. Datang ke Indonesia. Aku kasih semua info."

"Nama target?"

"Kenzo Banyu Samudera."

Hening sebentar.

"Kenzo Samudera... aku pernah dengar nama itu. Dia yang serang gudang narkoba dan mansion, kan?"

"Iya."

"Menarik. Aku terima. Tunggu kedatanganku."

Telepon ditutup.

Valerie berdiri di sana. Menatap kosong ke depan.

Arjuna dan Raka menatapnya dari belakang. Takut.

"Valerie... kau... kau yakin?" tanya Arjuna pelan.

Valerie menoleh. Senyum gila masih di wajahnya.

"Aku akan bunuh Kenzo. Atau mati mencoba."

Dan malam itu...

Valerie nggak lagi ibu yang nyesel.

Dia jadi... monster yang siap bunuh anaknya sendiri.

Demi bertahan hidup.

Demi melindungi anak kandungnya.

Demi... ego yang udah rusak total.

***

Sementara itu. Rumah tua tempat Bayu dan tim bersembunyi.

Bayu duduk sendirian di luar. Menatap langit malam.

Di tangannya, foto lama. Foto Kenzo kecil dengan ibunya. Ibu kandung Kenzo. Wanita cantik. Senyum hangat.

Foto itu dia temukan di laptop Kenzo yang lama.

"Kenzo... lu pasti kangen ibu lu..."

Bisikan pelan keluar.

Memori Kenzo mengalir lagi.

Kenzo kecil. Nangis di pemakaman ibunya.

"Ibu... jangan tinggalin aku... kumohon..."

Tapi nggak ada yang jawab.

Cuma angin dingin yang bertiup.

Dan Kenzo tumbuh... tanpa ibu.

Tanpa kasih sayang.

Cuma... kebencian dan rasa sakit.

Bayu menutup matanya. Air mata keluar.

"Maaf... maaf gue nggak bisa balikin ibu lu..."

Suaranya gemetar.

"Tapi gue janji... gue akan balikin keadilan buat lu..."

Dia buka matanya. Menatap bintang di langit.

"Dan... gue akan pastiin. Valerie dan Raka... membayar semua yang mereka lakukan."

Maya keluar dari rumah. Duduk di samping Bayu.

"Lu... oke?"

Bayu ngangguk pelan. "Gue... cuma mikir. Apa yang gue lakuin ini... bener atau salah."

"Kenapa lu mikir gitu?"

"Karena... gue bunuh banyak orang. Gue jadi monster. Sama kayak mereka."

Maya megang tangan Bayu. "Lu nggak sama kayak mereka."

"Kenapa?"

"Karena lu bunuh orang yang jahat. Mereka... bunuh orang yang nggak bersalah."

Bayu menatap Maya. "Tapi... tetep bunuh."

"Iya. Tapi... kadang dunia butuh monster buat lawan monster."

Bayu tersenyum pahit. "Monster lawan monster..."

"Iya."

Mereka diam sebentar. Cuma suara jangkrik yang terdengar.

Lalu Maya bisik pelan. "Kenzo... dia akan bangga sama lu."

Bayu menatapnya. "Lu pikir?"

Maya mengangguk. "Iya. Karena lu lakuin apa yang dia nggak bisa. Lu lawan balik. Lu nggak diam aja."

Bayu menutup matanya lagi. Napas dalam.

"Terima kasih..."

Dan malam itu...

Dua monster bersiap bertemu.

Valerie dengan Sang Penuai-nya.

Dan Bayu dengan kemarahannya.

Siapa yang menang...

Nggak ada yang tau.

Yang pasti...

Banyak darah akan tumpah.

1
REY ASMODEUS
mantap
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!