NovelToon NovelToon
DI BALIK SOROT LAMPU

DI BALIK SOROT LAMPU

Status: sedang berlangsung
Genre:Model / Karir
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Adrina, 27 tahun, adalah gadis mandiri yang hidup dalam senyap. Setelah ibunya meninggal dan ayahnya memilih membangun keluarga baru, Adrina memutuskan tinggal sendiri di sebuah kosan sempit—tempat ia belajar berdamai dengan kesendirian dan masa lalu yang tak lagi ia bagi pada siapa pun. Lulus kuliah tanpa arah pekerjaan yang jelas, ia sempat menganggur cukup lama hingga sebuah tawaran tak terduga datang: menjadi asisten seorang artis papan atas yang sedang berada di puncak popularitas.

Nama itu adalah Elvario Mahendra—aktor sekaligus penyanyi terkenal, digilai publik karena wajahnya yang nyaris sempurna dan bakatnya yang luar biasa. Namun di balik sorot lampu, Elvario dikenal arogan, temperamental, dan sulit ditangani. Dalam satu bulan terakhir, ia telah mengganti enam asisten. Tidak ada yang bertahan. Semua menyerah oleh tuntutan, amarah, dan standar tinggi yang tampak mustahil dipenuhi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUKAN LAGI AKTING

Matahari sudah benar-benar tenggelam, digantikan oleh lampu-lampu tungsten yang menyulap halaman rumah produksi menjadi medan emosi yang kental. Ini adalah adegan pamungkas untuk hari itu—sebuah konfrontasi batin yang menentukan arah karakter Elvario.

Semua orang di lokasi menahan napas. Sutradara duduk terpaku di depan monitor, sementara Rizal berdiri di sudut yang agak gelap, tak berani bergeser sedikit pun. Adrina berada di posisi andalannya: di balik garis kamera, tempat Elvario bisa menemukan matanya jika pria itu butuh jangkar.

“Camera rolling… and… action!”

Elvario mulai bicara. Suaranya tidak meledak seperti yang orang-orang harapkan dari seorang 'Elvario yang temperamental'. Sebaliknya, suaranya parau, rendah, dan sarat akan luka yang tertahan. Ia memberikan jeda pada setiap kalimat, membiarkan keheningan bekerja untuknya—persis seperti yang ia diskusikan dengan Adrina tadi pagi.

Di seberangnya, lawan mainnya tampak bergetar, benar-benar terbawa oleh intensitas yang diberikan Elvario. Adrian Ghani yang sedang beristirahat di tenda pemain, keluar dan berdiri diam menyaksikan dari jauh. Untuk pertama kalinya, Adrian tidak tersenyum. Ia menatap set dengan ekspresi serius, menyadari bahwa pria di depannya bukan lagi Elvario yang mudah dipancing emosinya.

Elvario meneteskan air mata di detik yang sangat tepat. Bukan tangisan yang dipaksakan, melainkan sebuah pertahanan yang runtuh secara perlahan.

“CUT!” teriak sutradara.

Hening sejenak. Tidak ada yang bergerak selama tiga detik, seolah semua orang masih terperangkap dalam sihir akting tadi.

“PERFECT!” lanjut sutradara sambil berdiri dan bertepuk tangan kencang. “Itu take terbaik sepanjang karier gue ngarahin lo, El! Bungkus!”

Seketika, seluruh kru bersorak dan bertepuk tangan. Suasana tegang yang menyelimuti lokasi sejak pagi pecah menjadi kegembiraan yang luar biasa.

Elvario masih berdiri di tengah set, mengatur napasnya yang masih berat. Ia mengusap sisa air mata di pipinya. Hal pertama yang ia cari bukan pujian sutradara, bukan pula tepukan bahu dari lawan mainnya. Matanya bergerak lurus mencari satu sosok di pinggir lapangan.

Adrina berdiri di sana, mengangguk kecil dengan senyum bangga yang menghiasi wajahnya. Ia tidak ikut bersorak heboh, tapi sorot matanya berkata: Aku sudah bilang, Mas bisa.

Elvario melangkah keluar dari set, melewati kerumunan kru yang menyalaminya, dan langsung menuju ke arah Adrina.

“Gimana?” tanya Elvario, suaranya masih sedikit bergetar sisa adegan tadi.

“Luar biasa, Mas,” jawab Adrina tulus. “Itu tadi bukan lagi akting. Itu adalah Mas Elvario yang sebenarnya.”

Rizal datang merangkul bahu Elvario dengan semangat. “Gila lo, El! Netizen yang tadi muji lo bakal makin gila kalau liat hasil adegan ini. Lo resmi balik ke tahta lo!”

Elvario hanya tersenyum tipis. Ia melirik jam di tangannya, lalu kembali menatap Adrina. “Hari yang panjang. Seminggu yang luar biasa ditutup dengan adegan ini.”

Adrian Ghani kemudian mendekat, memberikan tepukan di bahu Elvario. “Great job, El. Gue akui, gue merinding liat lo tadi.”

Elvario menyambut jabat tangan Adrian dengan profesional. “Thanks, Adrian. Gue cuma melakukan bagian gue.”

Saat kru mulai membereskan peralatan, Elvario berbisik pelan ke arah Adrina yang sedang membereskan botol minumnya. “Siap-siap, Drin. Setelah ini kita makan enak. Nggak ada protes, gue yang pilih tempatnya.”

Adrina tertawa kecil. “Siap, Mas. Selama bukan di tempat yang banyak wartawannya.”

“Tenang,” sahut Elvario sambil berjalan menuju ruang ganti dengan langkah yang jauh lebih ringan. “Gue punya penjaga jarak yang hebat, kan?”

Malam itu, keberhasilan besar tersebut bukan hanya milik rumah produksi atau para penggemar, tapi menjadi kemenangan pribadi bagi Elvario yang akhirnya menemukan kembali jati dirinya lewat dukungan seorang gadis yang ia sebut asisten.

Malam itu, setelah seluruh kru membubarkan diri, suasana rumah produksi menjadi lebih sunyi. Rizal tampak sibuk menelepon di sudut halaman, wajahnya serius berdiskusi dengan produser tentang jadwal tambahan.

Rizal menghampiri mereka sambil menyimpan ponsel di saku. “El, gue nggak bisa ikut rayain malam ini. Produser minta gue ke kantor pusat sekarang buat final checking segmen promosi besok pagi.”

Elvario menghela napas, namun ia tampak maklum. Ia melirik Adrina, lalu kembali menatap Rizal. “Ya udah, lo urus aja. Gue bisa balik sendiri.”

Begitu mobil Rizal menjauh, Elvario memutar kunci mobil di jarinya. Ia menatap Adrina yang sedang menyampirkan tas di bahu.

“Lo bisa nyetir?” tanya Elvario tiba-tiba.

Adrina sedikit terkejut, namun ia mengangguk ragu. “Bisa, cuma nggak jago, Mas. Masih agak kaku kalau harus di jalanan besar malam hari.”

Elvario terkekeh, lalu melemparkan kunci mobil itu yang langsung ditangkap dengan sigap oleh Adrina. “Gue nggak mau nyetir. Gue capek akting sedih tadi. Sekarang kamu yang bawa, pelan-pelan aja.”

Adrina menatap kunci di tangannya. “Kita mau ke mana, Mas? Restoran yang tadi Mas bilang?”

Elvario melepas jaket mahalnya, menyisakan kaos hitam polos yang pas di tubuhnya. Ia mengambil sebuah topi snapback dari dalam tasnya, menariknya rendah hingga menutupi sebagian wajahnya, lalu memakai masker hitam.

“Gue pengen coba pecel lele,” ucapnya santai, suaranya teredam masker. “Gue tahu ada tempat pecel lele enak di pinggiran jalan arah balik nanti. Kalau lo mau, gue bakal usahain nggak kelihatan kayak artis. Gue cuma mau jadi orang biasa yang laper.”

Adrina terdiam sejenak, menatap penampilan Elvario yang kini memang terlihat jauh lebih kasual—lebih mirip pemuda biasa daripada bintang film papan atas.

“Pecel lele di pinggir jalan, Mas? Yakin? Kalau ada yang kenal gimana?” tanya Adrina memastikan.

“Makanya kamu cari tempat yang agak mojok,” sahut Elvario sambil berjalan menuju pintu penumpang. “Ayo, gue udah laper banget. Anggap aja ini hadiah buat gue karena udah berhasil akting bagus hari ini.”

Adrina akhirnya menyerah dan duduk di kursi kemudi. Ia mengatur posisi spion dan jok dengan hati-hati. “Jangan protes kalau jalannya lambat ya, Mas.”

“Santai aja,” gumam Elvario sambil menyandarkan kepalanya, matanya terpejam namun ada senyum kecil di bibirnya. “Gue percaya sama penjaga jarak gue.”

Mobil melaju membelah malam yang mulai dingin. Di dalam kabin yang tenang itu, Elvario sesekali melirik Adrina yang sangat fokus memegang kemudi. Tidak ada sorot lampu panggung, tidak ada naskah yang harus dihafal. Hanya ada aroma parfum mobil dan rencana makan di warung tenda pinggir jalan—sebuah perayaan paling sederhana yang pernah Elvario lakukan, namun terasa paling nyata bagi hatinya.

1
Selfi Polin
mampir thor, awal yg bagus😍
Joice Sandri
bagus...tertata dg baik kisah n bhsnya
Ros Ani
mampir ah siapa tau suka dg karyamu thor
Dinna Wullan: terimakasih ka saran sarannya
total 1 replies
Tismar Khadijah
bahasanya hmm👍
Tismar Khadijah
lanjuut💪
Tismar Khadijah
baguus
Dinna Wullan: terimakasih dukungannya ka
total 1 replies
Mar lina
aku mampir, thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!