NovelToon NovelToon
Asisten Kesayangan Pak Manager

Asisten Kesayangan Pak Manager

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Cinta pada Pandangan Pertama / Office Romance
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Seribu Bulan

Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian Dua Puluh

Setelah lelah berkeliling mall, tertawa di photobox, mencicipi minuman boba yang membuat Pak Han mengernyit karena terlalu manis, sampai mencoba kuliner yang sedang ramai di sosial media, semuanya sudah mereka lakukan.

Alih-alih kembali ke parkiran, Felicia justru mengarahkan langkah mereka menuju sebuah sudut yang lebih tenang, di mana aroma aromaterapi lemongrass dan musik instrumental yang menenangkan mulai tercium.

​"Kita ke mana lagi, Fel? Saya rasa porsi 'jalan-jalan anak muda' saya sudah habis untuk malam ini," tanya Pak Han sambil melonggarkan kancing kerah kemejanya yang terasa mencekik.

​Felicia berhenti di depan sebuah pintu kayu estetis dengan tulisan "Traditional Healing & Zen Spa". Ia menoleh sambil tersenyum lebar.

"Bapak tenang aja. Ini destinasi terakhir. Saya udah buat reservasi paket couple massage dari minggu lalu karena saya tahu Bapak pasti pegal banget habis dari Semarang, ditambah kemarin juga sempat demam."

​Pak Han mematung di depan pintu. "Kamu... ngajak saya pijat?"

​"Iya, Pak. Habisnya Bapak kalau di kantor tegang terus. Sesekali harus relaks biar work life balance," ujar Felicia santai sambil mengurus administrasi di resepsionis.

​Saat mereka diminta untuk mengganti pakaian dengan kimono spa, Pak Han tampak sangat canggung. Namun, begitu mereka berdua berbaring di tempat tidur pijat yang bersebelahan—dipisahkan oleh tirai tipis—ketegangan itu mulai mencair.

​"Saya nggak nyangka, padahal kamu masih muda lho. Ko suka ke tempat pijat begini?" gumam Pak Han dari balik lubang bantal pijat.

​Felicia terkekeh, ia sudah merasa rileks hanya dengan mencium aroma minyak esensial di ruangan itu.

"Saya ini memang gen z Pak, tapi badan saya udah kaya jompo. Makanya rutinitas pijat kaya gini tuh, wajib banget minimal satu bulan sekali. Supaya bisa recharge dan nggak sensi pas dikantor nanti."

"Kamu nyindir saya, ya?"

Felicia terkekeh, "Bapak sensi melulu nih sama saya. Saya kan ngomongin diri sendiri. Fix, bapak kurang pijet."

"Saya gak sensi, cuma nanya." jawab Pak Han singkat.

"Makanya jangan kebanyakan lembur, Pak. Kerjaan nggak akan kemana-mana kok, hidup cuman sekali. Harus di nikmatin gitu lho, Pak."

​Pak Han tertawa kecil, suara baritonnya terdengar rendah dan bergetar di ruangan yang sunyi itu. "Jadi, ceritanya kamu lagi balas dendam karena sering saya kasih lembur?"

​"Bisa jadi," sahut Felicia jenaka. "Tapi liat sisi baiknya, Pak. Kalau Bapak rileks, besok Bapak nggak akan marah-marah kalau saya telat bikinin kopi."

​"Memangnya saya pernah marahin kamu, kalau kamu telat bikin kopi?"

Felicia bergumam sebentar, "kalau marahin secara verbal sih nggak. Tapi biasanya bapak suka jadi badmood gitu."

"Itu saya badmood bukan karena kopinya." balas Pak Han.

"Terus?"

"Karena saya telat liat kamu. Kalo pagi-pagi belum liat kamu itu, kayak ada yang kurang."

Felicia tidak membalas, ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya dibalik bantal empuknya. Pak Han ini memang paling bisa membalik keadaan.

​Keheningan menyelimuti ruangan saat terapis mulai menekan titik-titik pegal di punggung mereka. Pak Han yang biasanya sangat menjaga jarak, kini berada di ruang yang sangat personal dengan Felicia.

​"Felicia," panggil Pak Han pelan.

​"Ya, Pak?"

​"Terima kasih. Ternyata... perawatan tubuh seperti ini sangat menenangkan ya." Pak Han menjeda sejenak, suaranya terdengar sangat tulus. "Sepertinya saya harus mulai membiasakan diri dengan gaya hidup 'jompo' kamu ini."

​Felicia tersenyum dalam kegelapan ruangan. "Bapak cocok kok jadi ketua komunitas Jompo. Nanti saya buatin kartu anggotanya."

"Kamu ini, hobi banget sepertinya ngeledek saya tua."

Felicia tergelak, "loh, kan bapak yang minta gabung."

"Tidak jadi lah, kalau gitu."

"Yah, ternyata bapak ngambekan ya? Saya nggak suka lho pak sama cowok ngambekan." goda Felicia.

...****************...

Suasana setelah pijat dan spa membuat tubuh mereka jauh lebih rileks, namun obrolan di sepanjang jalan menuju parkiran justru membuat jantung Felicia kembali berolahraga. Pak Han berjalan di sampingnya dengan langkah santai, satu tangannya dimasukkan ke saku celana, sementara tangannya yang lain sesekali menyentuh bahu Felicia untuk menjaganya dari kerumunan orang yang berlalu lalang.

"Besok jangan pesan ojek lagi. Saya jemput jam tujuh," ucap Pak Han tiba-tiba, memecah keheningan.

Felicia menoleh cepat, "Eh? Nggak usah, Pak. Dari kantor ke kost saya itu rutenya rawan macet, lagian saya udah biasa naik ojek biar cepat sampai."

Pak Han menghentikan langkahnya sebentar, menatap Felicia dengan senyum miring yang tampak sangat nakal namun tampan. "Oh, jadi kamu lebih seneng berangkat bareng abang ojek, daripada sama calon suami kamu sendiri?"

Mata Felicia seketika melotot sempurna. Ia refleks memukul pelan lengan Pak Han. "Pak, ih! Malu dilihat orang! Lagian saya belum setuju soal... soal status itu!"

Pak Han terkekeh, suara tawa rendahnya terdengar sangat renyah—sesuatu yang sangat langka terdengar di kantor. "Saya bakal ngomong gitu terus, Fel. Biar jadi manifestasi. Dan biasanya, apa yang saya targetkan, selalu berhasil saya dapatkan."

Felicia terdiam sebentar. Pipinya masih terasa panas, namun ada satu ganjalan di hatinya yang tiba-tiba ingin ia tumpahkan. Langkahnya melambat sampai akhirnya ia berhenti tepat di samping mobil Pak Han.

"Pak, boleh saya tanya sesuatu? Tapi ini cukup serius, jadi Bapak harus jawab dengan jujur," ucap Felicia. Wajahnya yang tadi jenaka kini berubah serius, ada sedikit keraguan yang terpancar dari matanya.

Pak Han ikut berhenti. Ia bersandar di pintu mobil, melipat tangan di depan dada, dan memberikan perhatian penuhnya pada Felicia. "Silakan, tanya apa pun yang ingin kamu tahu. Malam ini, saya bukan Bos kamu. Saya cuma pria yang sedang berusaha mendapatkan jawaban 'iya' dari kamu."

Felicia nampak berpikir sejenak, menimbang setiap kata yang akan keluar dari bibirnya.

"Dari semua wanita yang ada di sekitar Bapak... kolega bisnis Bapak, anak-anak rekan Bapak yang mungkin jauh lebih 'setara' dan hebat... kenapa Bapak pilih saya? Saya cuma asisten yang sering bikin Bapak pusing."

Pak Han menghela napas berat, namun bukan napas kesal. Ia justru menatap langit malam sebentar sebelum kembali mengunci tatapannya pada mata Felicia. Sebetulnya, ia sudah mengira bahwa Felicia akan mengutarakan pertanyaan ini sejak awal.

"Akhirnya kamu nanya soal itu," gumam Pak Han.

Ia berdeham pelan, mendadak merasa sedikit canggung karena harus mengutarakan isi hatinya secara gamblang. "Sejujurnya, saya bukan orang yang pandai dalam merangkai kata-kata. Saya, seringkali kehabisan kata untuk menjabarkan apa yang saya rasakan."

Ia melangkah satu langkah lebih dekat, membuat Felicia bisa merasakan aroma parfum yang bercampur dengan minyak aromaterapi spa tadi.

"Tapi," lanjut Pak Han sambil menatap mata Felicia dengan sangat dalam. "Sejak pertama kali saya melihat kamu di ruang sampel, saya selalu kepikiran soal kamu. Ada sesuatu yang 'berisik' setiap kali kamu lewat. Bahkan, saat para direksi mengatakan bahwa saya harus punya istri demi posisi itu, wajah pertama—dan satu-satunya—yang terlintas di kepala saya itu cuma kamu."

"Serius?" tanya Felicia lirih, suaranya hampir hilang karena tidak percaya.

Pak Han mengangguk pasti, tatapannya tidak goyah sedikit pun. "Serius. Nggak ada nama lain, nggak ada pilihan kedua. Cuma kamu."

Felicia mengerjap, mencoba mencerna kejujuran itu. "Apa... apa itu juga alasan Bapak tiba-tiba minta saya jadi asisten pribadi Bapak? Biar Bapak bisa ngetes kinerja saya?"

Pak Han tersenyum tipis, kali ini senyumnya terlihat sangat jujur dan tanpa beban. "Sepertinya, iya. Tapi bukan cuma soal kerjaan. Alasan utamanya... karena saya nggak tahan kalau nggak lihat kamu sehari saja. Saya butuh alasan profesional untuk bisa terus dekat dengan kamu tanpa dianggap aneh oleh orang kantor."

Felicia terpaku. Ternyata selama ini, di balik sikap dingin dan perintah-perintah lemburnya, Pak Han hanya sedang berusaha mencuri waktu agar asistennya itu tidak jauh dari pandangannya.

"Jadi... Bapak sudah merencanakan ini sejak lama?" tanya Felicia malu-malu.

Pak Han membukakan pintu mobil untuk Felicia, lalu membungkuk sedikit agar wajah mereka sejajar.

"Bisa dibilang begitu."

1
Seribu Bulan 🌙
siap kak makasih yaa😍
Andina Jahanara
lanjut sampe tamat kak 💪
Faidah Tondongseke
Ceritanya seru,Cinta bersemi di kantor,Asiik deh pokoknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!