Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Penangkapan Rangga.
"A-apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Rangga dengan tergagap, terlihat empat orang polisi sedang berjalan ke arahnya, tentu saja hal itu membuat Beni dan Martha seketika berubah cemas.
Martha segera berlari menghampiri Rangga dan memegangi lengan putranya, sementara Beni berhadapan dengan keempat polisi yang telah berdiri di depan rumahnya.
"Selamat siang, Tuan Beni," sapa salah satu polisi, dia juga tampak menganggukkan kepala saat bersitatap mata dengan Andre.
"Yah, apa yang membawa kalian ke sini?" tanya Beni, berusaha untuk bersikap tenang walau debaran jantungnya mulai menguat.
Polisi itu lalu meminta sesuatu pada polisi lain, kemudian kembali beralih melihat ke arah Beni. "Kami datang ke sini membawa surat perintah penangkapan atas nama tuan Rangga Sanjaya."
Deg.
Rangga dan kedua orangtuanya tersentak dengan wajah pucat. "A-apa maksud kalian? Kenapa kalian mau menangkap anakku?" Martha berteriak marah, tangannya menggenggam lengan Rangga dengan lebih erat.
"Tuan Rangga diduga telah melakukan tindak pidana kekerasan, pemaksaan, pengurungan, dan pengancaman pada nona Rania Felisya, selaku istri dari tuan Rangga Sanjaya sendiri," ucap polisi itu. "Tuan Rangga juga diduga telah memisahkan nona Rania Felisya dengan Dafa Sanjaya, putra kandung korban." sambungnya seraya memberikan surat perintah penangkapan pada mereka.
Tubuh Rangga seketika menegang, wajahnya tampak pucat seperti tidak teraliri darah. Bagaimana mungkin semuanya jadi seperti ini? Padahal laporan itu baru beberapa hari dibuat oleh Rania, dia bahkan masih berusaha untuk menurunkan berkasnya. Tapi kenapa sekarang mereka malah sudah membawa surat perintah penangkapan?
"Tidak, semua itu tidak benar!" teriak Martha dengan histeris. "Anakku tidak melakukan hal seperti itu, anakku tidak bersalah!" katanya lagi dengan berurai air mata.
Beni juga mencoba untuk membela Rangga, menyangkal semua tuduhan yang ada dalam surat perintah penangkapan itu, sementara Rangga hanya diam seolah nyawanya dicabut secara paksa dari raganya.
"Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi," ucap polisi itu. "Bawa dia." perintahnya pada anak buahnya untuk segera membawa Rangga ke kantor polisi.
"Tidak! Jangan bawa anakku... Tidaaak!" jerit Martha seraya terus memeluk lengan Rangga tanpa sedikit pun berniat untuk melepaskannya.
"Dengarkan kami dulu, Pak. Anakku tidak bersalah!" Beni juga mencoba untuk menghalangi, tetapi semua itu percuma saja.
Polisi membawa paksa Rangga dengan memborgol kedua tangannya dan hendak memasukkannya ke dalam mobil polisi, membuat tangisan Martha menggema di tempat itu dengan histeris.
"Tidak! Anakku, anakku!" teriak Martha sembari berusaha untuk menahan tubuh Rangga yang dipaksa masuk ke dalam mobil polisi, sementara Beni hanya menghela napas kasar karena tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
Rania mengepalkan kedua tangannya dengan erat, merasa puas melihat tangisan Martha. Wanita itu bahkan sampai memukuli para petugas kepolisian yang berusaha membawa Rangga, juga menangis dengan histeris sambil terus berteriak.
"Rasakan! Rasakan semua penderitaan yang kau lakukan padaku, rasakan semuanya!" Rania menatap dengan tajam seraya menggertakkan gigi.
Martha terus berteriak, merasa dunianya runtuh seketika. “Jangan bawa anakku!” Tangisnya pecah, histeris, tubuhnya hampir jatuh kalau tidak ditahan oleh suaminya.
“Dia tidak bersalah! Ini semua salah perempuan itu!” Tangannya menunjuk ke arah Rania dengan gemetar penuh tuduhan.
Rania tersenyum sinis, seolah berkata bahwa dia telah menang, semua perbuatan mereka telah dia balas, tentu saja hal itu membuat Martha mendelik penuh kemarahan dan langsung menyerang Rania tanpa sempat menghindar.
"Perempuan s*ialan! Mati kau j*alang tidak tau diri!" umpat Martha seraya menjambak rambut Rania dengan kuat membuat Rania berteriak dan spontan menjambak rambut Martha juga.
"Kalian duluan yang memperlakukan aku seperti sampah, kalian yang tidak punya hati!" teriak Rania sambil menjambak rambut Martha membuat tubuh wanita paruh baya itu tersungkur ke tanah.
Bruk!
"Martha!" Beni berteriak cemas dan segera menghampiri istrinya yang telah terkapar di tanah, sementara Rangga yang sudah berada di dalam mobil tampak menatap Rania dengan tajam, penuh amarah yang tidak terucap.
Dada Rangga serasa terbakar atas apa yang telah Rania lakukan saat ini. "Kau lihat saja, Rania. Aku tidak akan tinggal diam dan akan membalas semua penghinaan ini." Dia mengepalkan kedua tangan penuh dendam, tapi mulutnya tetap diam karena tidak sanggup untuk mengeluarkan suara seakan tercekat ditenggorokan.
Semua orang yang ada di rumah itu berlarian keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi, termasuk Dafa yang sedang berada di kamar dan langsung dibawa keluar oleh Sari.
"Mama!" teriak Dafa saat melihat keberadaan sang mama.
Rania yang sedang merapikan rambut dan juga pakaiannya akibat baku hantam dengan Martha, seketika menoleh ke arah belakang saat mendengar panggilan putranya.
"Dafa!" Rania langsung berlari menghampiri Dafa yang juga berlari ke arahnya dengan terisak. "Anakku Sayang... Dafa..." Dia memeluk tubuh Dafa dengan erat, mengecupi seluruh wajah putranya dengan kerinduan yang mendalam.
Dafa menangis dalam pelukan mamanya, seolah menumpahkan segala sakit yang selama ini dia rasakan. Tangan kecilnya tampak gemetaran, mencengkram erat tubuh sang mama seolah tidak mau lagi berpisah.
"Ooh anakku... Anakku... " Rania juga terisak, merasa senang dan terharu di saat bersamaan.
Andre yang sejak tadi diam tampak tersenyum senang melihat Rania bisa bertemu kembali dengan putranya, begitu juga dengan seseorang yang sedang memperhatikan dari dalam mobil yang terparkir di samping mobil polisi. Senyum puas terbit diwajahnya membuat Damian yang sedang melirik ke arah sang tuan ikut tersenyum senang.
"Kita pergi sekarang," ucap Kenzo seraya menutup kaca mobilnya.
Damian mengangguk. "Baik, Tuan." Dia segera menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu pergi dari tempat itu.
Kenzo menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, lalu kembali tersenyum karena teringat wajah bahagia Rania. Tidak sia-sia tadi malam dia bertemu langsung dengan kepala kepolisian dan menekan laki-laki itu untuk segera menangkap Rangga, jika tidak maka dia sendiri yang akan turun tangan.
"Apa sekarang dia sudah tidak sedih lagi?" gumam Kenzo, dia lalu mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Rania.
Sementara itu, Rania dan Andre bergegas meninggalkan rumah keluarga Sanjaya setelah Rangga dibawa pergi oleh polisi. Namun, sebelum pergi, Martha kembali mengamuk dan bersumpah akan membunuh Rania yang telah menghancurkan keluarganya, dia akan membalas dendam dengan menghancurkan wanita itu juga.
"Terserah Anda mau melakukan apapun pada saya, saya tidak peduli!" ucap Rania. "Saya hanya membalas semua perlakukan yang putra Anda lakukan." Tambahnya sebelum benar-benar pergi dari sana.
"Semua ini salahmu Dasar j*alang s*ialan!" Martha kembali berteriak, mengumpati Rania dengan penuh kebencian, sampai akhirnya dia jatuh pingsan karena tidak dapat mengendalikan diri.
"Astaga, benar-benar tidak sadar diri," gumam Rania saat sudah berada di dalam mobil dan hendak pergi bersama dengan Dafa. Namun, tiba-tiba ponselnya bergetar membuatnya langsung mengambil benda pipih itu.
"Apa kau senang, Rania?"
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda