Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Toko Mainan.
"Apa kau senang, Rania?"
Rania termangu, menatap pesan masuk dari Kenzo. Kemudian dia mengetik balasan untuk laki-laki itu.
"Aku sangat senang, terima kasih, Kenzo."
Rania tersenyum setelah berhasil mengirim pesan balasan, dia juga mengirim kan satu foto Dafa yang baru saja dia ambil. Tidak lupa ucapan terima kasih sebagai perwakilan dari putranya itu.
Ting.
"Pasti lebih bagus kalau foto anak itu bersama ibunya juga."
Rania membulatkan kedua matanya saat membaca pesan balasan dari Kenzo, dengan cepat dia mengatakan jika ibu dari anak itu sedang dalam keadaan acak-acakan dan sama sekali tidak bagus untuk di foto.
"Tidak masalah, lagi pula ibu dari anak itu memang selalu tampil acak-acakan di hadapanku."
Blush.
Wajah Rania seketika memerah, merasa malu dan tidak menyangka jika Kenzo akan membahas tentang penampilannya secara langsung.
"Tapi bener sih, aku selalu bertemu dengannya saat sedang kacau," gumam Rania, tetapi mulutnya berdecak kesal. "Cih, kalau gitu seterusnya aku akan selalu berpenampilan kacau saja sekalian." katanya sembari mencebikkan bibir, lalu dengan cepat mengirim balasan lagi pada Kenzo.
"Tidak masalah, bagaimana pun dia akan selalu tampak cantik di mataku."
"Acak-acakan pun aku suka."
Wajah Rania semakin memerah saat membaca pesan demi pesan yang Kenzo kirim padanya, sampai akhirnya dia mendessah frustasi dan memilih untuk tidak lagi membalas pesan itu atau wajahnya yang terasa panas akan meledak karenanya.
"Kita sudah sampai, Nona."
Rania terkesiap. "Ba-baiklah, aku dan Dafa akan turun di sini. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu, Andre." ucapnya sebelum keluar dari mobil karena telah sampai di toko mainan langganannya.
"Saya tetap akan menunggu di sini, Nona. Anda bisa belanja dengan Dafa sepuasnya," ucap Andre kembali. Dia tidak mungkin meninggalkan Rania dan Dafa di tempat ini atau akan terkena amukan dari sang tuan muda.
Rania mendessah kesal. Bagaimana mungkin dia bisa puas belanja sementara Andre menunggunya? Tentu saja dia jadi merasa tidak enak, padahal laki-laki itu bisa pergi dan dia juga nanti bisa kembali dengan menaiki taksi.
"Kalau gitu ayo, ikut masuk bersama kami!" ajak Rania. "Aku merasa tidak nyaman kalau kau cuma menunggu di mobil saja." katanya lagi saat Andre akan menolak ajakannya.
Andre diam sejenak, mencoba untuk memikirkan ajakan Rania. Kemudian dia mengangguk dan mempersilahkan mereka untuk keluar dari mobil.
"Waaah... " seru Dafa sembari melompat-lompat kegirangan saat melihat banyak mainan di dalam toko. "Mama, Dapa mau itu!" Dia langsung menunjuk beberapa mainan yang ingin dibeli membuat sang mama mengecup pipinya dengan gemas.
"Iya-iya, Dafa boleh beli semua mainan yang Dafa mau," ucap Rania, sontak membuat Dafa langsung bersorak senang. "Ayo, kita-" Ucapannya seketika terhenti saat tidak sengaja melihat lengan Dafa yang bajunya tersingkap ke atas karena melompat-lompat kesenangan.
Rania langsung menarik tangan Dafa dan menaikkan lengan baju putranya itu membuat Dafa menatap dengan bingung.
Deg.
Jantung Rania seolah di hantam oleh batu besar saat melihat lengan Dafa yang dipenuhi lebam, sementara Andre yang sejak tadi hanya memperhatikan juga ikut mendekat, melihat apa yang sedang Rania lihat.
"A-apa yang terjadi dengan lenganmu, Sayang?" tanya Rania dengan gemetar, kedua matanya langsung berkaca-kaca saat melihat raut wajah Dafa yang semula senang, berubah jadi sendu. "Katakan pada Mama, kenapa lenganmu bisa sampai lebam seperti itu?" tanyanya lagi dengan suara tertahan.
Dafa menunduk, kedua tangannya saling bertautan karena merasa takut. "Dapa gak ngapa-ngapain, Dapa gak nangis lagi." katanya dengan pelan.
Rania mengernyitkan kening, merasa tidak mengerti dengan apa yang putranya katakan. "Apa maksudnya, Sayang?" tanyanya dengan tidak sabar, sementara Andre tampak menatap Dafa dengan fokus.
"Kata nenek Dapa gak boleh nangis, terus Dapa juga harus cari mama, tapi Dapa gak tau," jawab Dafa dengan polos membuat Rania diam sejenak, mencoba untuk memahami ucapan sang putra.
"Apa nenekmu yang membuat lebam di lenganmu, Dafa?"
Dafa mendongakkan kepala, menatap Andre yang juga sedang menatapnya. Kemudian dia mengangguk. "Nenek tarik-tarik, jadinya sakit." katanya dengan cemberut.
Dada Rania terasa seperti di remas keras saat mendengar ucapan Dafa. Pantas saja lengan putranya sampe lebam seperti itu, ternyata karena tarikan dari mertuanya sendiri.
"Beraninya dia menyakiti anakku!" ucap Rania dengan suara tertahan, napasnya seketika memburu dengan tatapan berkilat marah.
Dafa langsung mengerut takut saat melihat ekspresi mamanya membuat Andre seketika berjongkok, lalu mengusap puncak kepala Dafa dengan penuh kelembutan.
"Tidak apa-apa, Dafa. Sekarang tidak ada nenek lagi, jadi tidak ada lagi yang akan menyakiti Dafa," ucap Andre, dia melirik ke arah Rania yang sudah kembali tenang dan bisa mengendalikan amarahnya.
Dafa terdiam, kedua matanya berkedip-kedip menatap Andre dengan serius. "Dapa bisa sama mama lagi? Dapa gak di rumah nenek lagi?" tanyanya dengan wajah mulai ceria.
Andre tersenyum, lalu kepalanya mengangguk. "Tentu saja."
"Yeay!" Dafa langsung bersorak senang mendengar jawaban Andre, kemudian dia menarik tangan laki-laki itu untuk membeli mainan yang tadi sudah dia tunjuk.
Andre tersentak, merasa kaget saat tangannya dipegang dan ditarik oleh Dafa. Namun, kakinya melangkah mengikuti ke mana bocah kecil itu membawanya.
"Bisa-bisanya mereka menyakiti anak se-menggemaskan ini!" Sorot mata Andre berubah tajam dengan perasaan geram.
Rania yang masih diam di tempat tampak tersenyum, tapi hatinya terasa sangat sakit melihat apa yang terjadi pada Dafa. Bukankah kedua mertuanya sangat menyayangi cucu mereka? Tapi kenapa Martha tega menyakiti Dafa yang sama sekali tidak tahu apa-apa?
"Maafkan mama, Sayang. Gara-gara mama kau jadi menderita seperti itu," gumam Rania dengan suara parau, menahan tangis. Dia lalu segera mengikuti langkah Andre dan Dafa karena tidak mau jika putranya sampai melihatnya menangis.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Rangga sedang duduk di hadapan para penyidik. Sudah ada tiga orang pengacara yang mendampinginya di tempat itu, bahkan Beni juga sudah datang bersama dengan asistennya.
"Aku tidak pernah menyiksa istriku, apa kalian pikir aku gila!" teriak Rangga dengan penuh emosi saat berulang kali ditanyai oleh pihak penyidik dengan pertanyaan yang sama. "Sudah aku bilang, dia berniat berpisah denganku dan memberontak, jadi aku menenangkannya dan sengaja menjauhkan putra kami karna takut dia berada dalam bahaya!" katanya lagi dengan penuh penekanan.
Beberapa penyidik tampak menghela napas berat. "Kami sudah memeriksa bukti-bukti yang diberikan oleh korban, jadi Anda tidak bisa lagi memban-"
"Apa dia juga memberikan bukti tentang kegilaan yang dia lakukan, hah? Dia bahkan sampai menodongkan pisau padaku, dia yang mau membunuhku!"
*
*
*
Bersambung.
aihhh macam jelangkung ga ini Thor
sehat selalu Thor