Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 02
"Mungkin dia sudah kembali ke kelas…”
Brian duduk di bangku taman sekolah, membuka cemilannya dan mulai mengunyah perlahan. Namun tak lama kemudian, ada sesuatu yang membuatnya menoleh.
Bukan suara—melainkan sebuah kehadiran. Dari pantulan kaca jendela gedung, ia melihat seseorang duduk di balik pohon.
Amayah.
Gadis itu duduk di tanah, memakan bekalnya tanpa suara. Brian sedikit terkejut, tetapi ia tetap diam, melanjutkan mengunyah roti sambil sesekali melirik pantulan itu.
Suasana terasa sunyi. Bukan hening yang tenang—melainkan hening yang menekan.
Hingga akhirnya Brian membuka suara, nadanya tetap datar.
“Mengapa kau melakukan itu?”
Tidak ada jawaban.
Dari pantulan, Brian melihat Amayah berhenti menyantap makanannya. Ia menutup kotak bekal perlahan, kemudian bangkit dan pergi begitu saja, seolah tak ingin satu kata pun keluar darinya.
Brian terdiam. Usahanya hari ini lagi-lagi gagal. Ia menarik napas pelan, memejamkan mata sebentar sambil memikirkan cara berbicara dengannya lain kali.
---
Sepulang sekolah, perut Brian keroncongan. Ia mampir ke sebuah kedai hotdog kecil di tepi jalan. Tepat saat ia memesan, seseorang tiba-tiba merangkulnya dengan semangat berlebihan.
“Ternyata orang jenius itu suka makan hotdog ya!” seru John ceria.
“Lepaskan aku!” Brian mendesis, merasa sesak.
“Oh, maaf!” John cepat melepaskannya.
Saat Brian menunggu pesanannya, matanya menangkap sosok yang tidak asing. Amayah, berjalan melintas di seberang. Tanpa berpikir panjang, Brian berdiri dan langsung mengejarnya.
“Hei, bagaimana dengan hotdog pesananmu?!” teriak John.
“Untukmu saja! Aku bayar besok!” balas Brian sambil berlari kecil.
John hanya bisa menghela napas. “Ada-ada saja…”
Namun ketika pesanan hotdog tiba, John membelalakkan mata. Hotdog itu adalah hotdog pedas ekstra—level yang tak mungkin ia makan.
“Yang benar saja!”
Di sisi lain, Brian berusaha mengejar Amayah. Awalnya berjalan cepat, lalu menjadi lari kecil. Namun Amayah yang sadar sedang diikuti, mempercepat langkahnya juga.
Brian tidak menyerah.
Namun setibanya di perempatan, lampu penyeberangan pejalan kaki berubah merah tepat saat Amayah telah sampai di seberang. Brian berhenti, frustrasi. Ia terlambat lagi.
Tak lama kemudian, John datang dengan napas terengah, membawa sesuatu.
“Ini hotdogmu, kawan. Aku tidak bisa makan makanan sepedas ini.” Ia menyodorkannya.
“Sudah kubilang itu untukmu.”
“Tidak, ambil saja. Aku yang bayar.”
Brian menatap John dengan ekspresi datarnya. “Mengapa kau sebaik ini padaku?”
“Ini trik,” jawab John jujur. “Trik agar seseorang mau berteman denganmu.”
“Kau membongkar niatmu sendiri, kau serius? Tapi sayang sekali trik itu gagal. Cobalah ke orang lain,” balas Brian tanpa berubah ekspresi.
Setelah menerima hotdog itu dengan terpaksa, Brian berjalan pergi tanpa berpamitan. John, kebingungan, akhirnya memanggil:
“Mengapa kau mengejar Amayah?”
Langkah Brian berhenti sejenak. “Itu bukan urusanmu. Jangan ikut campur.”
Kemudian ia pergi, meninggalkan John yang semakin bingung.
---
Keesokan harinya, Brian kembali mencari keberadaan Amayah—di kelas, taman, perpustakaan—tetapi gadis itu tidak terlihat.
Hingga akhirnya, ia menemukannya di lorong yang sepi. Brian langsung menghadang jalannya.
“Hei, Amayah. Ada yang ingin kubicarakan—”
Namun Amayah melewatinya begitu saja, tanpa satu kata pun. Seolah Brian hanyalah angin lewat.
“Mengapa kau menghindariku?” tanya Brian, tetap datar tetapi terdengar menahan emosi.
Amayah tetap mengabaikannya.
Brian mengepalkan tangan diam-diam, berusaha meredam rasa kesal, ia berniat mengejar Amayah. Tepat saat itu, John kembali muncul dari belakang dan menepuk pundaknya.
“Jangan menggangguku,” kata Brian cepat, kesal karena disentuh.
“Kau justru yang mengganggu Amayah,” kata John serius. “Apa kau tahu apa yang dia pikirkan barusan?”
“Hah? Mana aku tahu.”
“Bayangkan ada seseorang yang terus mengajakmu bicara, padahal kau tidak ingin bicara dengannya. Apa yang kau pikirkan?” tanya John.
“Tentu saja itu mengganggu. Contohnya kau.”
John mengangguk. “Nah. Begitulah tanggapan Amayah padamu. Aku tidak tahu hubungan kalian apa, atau apa tujuanmu mengejarnya. Tapi kalau dia menghindarimu, berarti kau harus berhenti mengganggunya.”
Brian terdiam. Tatapannya kosong ke arah lorong yang kini sudah tak lagi ada sosok Amayah.
Ia lalu menatap John singkat. “Kukira ototmu saja yang besar. Ternyata otaknya juga… mungkin.”
“Kau mengejekku bodoh ya?! Dan apa maksudmu dengan ‘mungkin’?!”
Brian langsung pergi. Seperti biasa, meninggalkan John bingung sendirian.
---
Sesampainya di rumah, Brian menjatuhkan tubuh ke ranjang. Tatapannya kosong ke langit-langit.
Ia merasa lelah. Frustasi. Dan sedikit… kecewa.
“Aku sadar betapa mengganggunya diriku jika terus mencoba berbicara dengannya. Jelas dia tidak tertarik.”
“Kalau aku memaksakan diri… dia bisa saja membenciku. Atau mungkin dia sudah membenciku?”
Ia menarik napas panjang.
“Apa aku harus menyerah? Rasanya… tidak. Tapi terus begini juga merepotkan.”
Brian kemudian bangkit, duduk sebentar, dan menatap rumah Amayah dari balik jendela kamarnya.
Setelah itu, ia kembali berbaring, memejamkan mata pelan.
“Maafkan saya, Bu Barbara…”
Hening.
“Andai saja Kayla ada di sini… mungkin dia bisa membantuku…” gumamnya lirih.
---
Setelah hari itu, Brian tidak lagi berniat mengejar Amayah. Ia memilih fokus sepenuhnya pada dirinya sendiri. Meski begitu, beberapa tantangan tetap bermunculan. Salah satunya adalah ketika ia harus berhadapan dengan para murid berandalan di sekolah.
Pagi itu, lorong sekolah begitu ramai. Suara tawa, obrolan, dan langkah kaki memenuhi udara. Brian berjalan santai di antara kerumunan, sampai tiba-tiba seseorang menabrak pundaknya dengan kasar.
Rasa sakit langsung menjalar. Brian menoleh cepat, mencari tahu siapa pelakunya. Ternyata, pelakunya adalah salah satu murid kelasnya—Michael. Murid terpintar sejak SD Empire Heights, selalu peringkat satu, dan terkenal dengan sifat angkuhnya. Michael menoleh sambil menyunggingkan senyum meremehkan, seolah yakin Brian tidak akan berani melakukan apa pun.
Brian tetap diam, memilih menahan emosi. Ia tidak ingin terlibat masalah atau memancing keributan yang tidak penting.
Namun gangguan tidak berhenti begitu saja.
Setelah jam istirahat, Brian kembali ke kelas dan mendapati tasnya hilang. Ia mematung, kebingungan. John datang menghampirinya.
“Kau kehilangan tasmu?”
“Ya. Aku tidak memindahkannya…” jawab Brian, memeriksa setiap sudut dengan alis mengernyit.
John keluar sebentar, lalu dari arah tempat sampah terdengar suaranya. “Brian! Ini tasmu kan!?”
Brian menghampiri. Benar saja—tasnya tergeletak di tumpukan sampah.
“Ya… itu punyaku.”
“Brengsek! Siapa yang tega melakukan ini…” John mengepalkan tangan, jelas menahan kesal.
“Tidak perlu, John.”
“Tidak perlu!? Ini tidak boleh dibiarkan!”
“Isi tasnya kosong. Semua buku sudah kupindahkan ke kolong meja. Tidak ada barang penting.”
John menatap Brian tak percaya. “Kau ini… penyabar sekali.”
Brian hendak kembali ke kelas, namun berhenti dan menoleh. “Kau pikir aku tidak kesal?”
“Dari reaksimu sih… iya.”
“Memang wajahku begini. Tapi… lihat saja nanti siapa yang tertawa.”
Tatapan Brian mengarah ke kelas—dingin, tajam, penuh arti. John mengangkat alis, bingung tapi penasaran.
“Wah, apa pun kejutanmu… aku menantikannya.”
Setelah itu, para murid berandalan tidak berhenti mengganggu Brian. Saat pelajaran olahraga, mereka sengaja melempar bola basket terlalu keras ke arahnya. Untungnya, sebelum bola sempat mengenai, Brian sudah berbelok pergi, pura-pura hendak ke kamar mandi.
“Kau tidak muak dijahili mereka?” tanya John di ruang ganti sambil mengganti baju.
Brian, yang sedang mengikat sepatu, menjawab datar, “Untuk apa meladeni mereka? Tidak ada gunanya.”
“Mereka itu ingin menunjukkan eksistensi sebagai perkumpulan murid terbaik. Menyebalkan sih, tapi mereka kuat dan pintar. Orang-orang jadi takut melawan.”
“Bahkan kalau ada lomba pun, yang lain sudah menyerah duluan,” lanjut John.
Brian menghela napas panjang. “Jadi, mereka sedang cari perhatian dariku? Dasar haus validasi.”
“Yang penting, jangan bilang apa pun pada mereka. Hidupmu bisa hancur.”
“Dan jangan bicara denganku. Hidupmu juga bisa hancur.”
Brian pergi meninggalkan ruang ganti. John hanya tersenyum heran. Ia sudah terbiasa dengan cara Brian mengakhiri pembicaraan seenaknya.
---
Semester kedua berakhir, namun bagi Brian ini adalah semester pertamanya di sekolah barunya. Selama itu, Brian selalu diperbolehkan tidur di kelas, sebab meskipun sering tertidur, ia masih bisa menyelesaikan tugas yang diberikan seperti pertanyaan atau soal di papan tulis. Dan hari ini adalah pengumuman hasil ujian akademik. Aula besar sekolah penuh sesak oleh murid dari tingkat SD hingga SMP.
Tidak ada yang menyangka bahwa Brian—murid pindahan—akan membuat kejutan. Baru masuk semester ini, tapi ia langsung merebut peringkat pertama seangkatan, bahkan mendapat nilai tertinggi di SMP Empire Heights.
Brian sendiri tidak tertarik mendekati papan pengumuman. Ia berdiri di belakang, menghindari keramaian. John, entah bagaimana, langsung menemukannya.
“Brian! Kau hebat sekali! Jadi ini kejutan yang kau maksud? Semua nilaimu seratus!”
“Betul sekali.”
“Setelah ini… aku tidak yakin nasibmu bagaimana.”
“Apa maksudmu?”
“Lihat sana.”
John menunjuk Michael dan gengnya. Wajah mereka tegang, jelas tidak menerima kenyataan bahwa Michael kehilangan posisi peringkat satu.
“Sial… mana mungkin murid baru dapat nilai sempurna,” gerutu Michael.
“Kau yakin dia tidak curang?” tanya temannya.
“Pasti curang. Mana mungkin dia lebih hebat dariku? Pasti ada permainan sekolah.”
Bisikan dan tuduhan menyebar cepat. Brian dan John bisa merasakan kebencian yang makin mengarah pada Brian.
“Sepertinya kau akan kerepotan nanti,” kata John.
“Yang penting aku peringkat teratas. Bagaimana denganmu? Ah, pasti peringkat terbawah,” ejek Brian santai.
“Kau! Aku naik peringkat loh! Sekarang enam puluh tujuh! Tahun lalu aku ratusan!”
"Tunggu, bagaimana bisa kau peringkat ratusan tapi masuk ke kelas A?" tanya Brian heran.
John menjawab dengan penuh rasa bangga. "Karena aku mewakilkan sekolah ke olimpiade nasional dan memenangkan banyak penghargaan, dan itu terhitung sebagai poin!
"Tidak aku sangka kau begitu hebat. Kukira hanya sekumpulan lemak yang menjadi otot saja."
“Tapi Kalau kau belajar denganku, bisa masuk sepuluh besar. Itu pun kalau kau paham penjelasanku," tambahnya.
“Mungkin benar. Tapi waktu itu keluargaku mengajakku pergi, jadi aku tidak bisa belajar denganmu.”
“Terima kasih keluarga John.”
“Kau… memang tidak berniat mengajariku ya?” tanya John curiga.
Brian tidak menjawab. Tatapannya kembali ke papan mading—mencari nama Amayah.
“Berapa peringkat Amayah?” tanya Brian datar.
John membuka foto papan peringkat dari pacarnya. Brian menelusuri daftar itu, hingga menemukan nama Amayah—di peringkat terbawah, dengan nilai paling buruk.
“Bagaimana?” tanya John hati-hati.
“Bukan urusanku.” Brian berbalik dan pergi.
John tersenyum samar. “Kau bilang begitu, tapi kau sebenarnya peduli kan, Brian?”
Dan benar—Brian memikirkan itu terus. Ia bahkan membayangkan bagaimana perasaan ibu Amayah melihat rapornya.
“Aku… tidak tahu harus bagaimana.”
Saat mengambil rapor, Brian datang sendirian. Guru pengampu pun bahkan sampai terkejut.
“Orang tua saya bekerja. Wali saya juga.”
“Mereka… tidak bisa meluangkan waktu sedikit pun?”
“Tidak. Pekerjaan mereka penting.”
Guru itu sampai mengusap air matanya yang mulai berjatuhan, menangis terharu. “Kasihan sekali kamu…”
"Semua murid didampingi oleh orang tua mereka ke sini, tapi kamu tidak..."
"Saya sangat sedih mendengar ceritamu..."
“Tolong berikan saja rapornya, pak.”
Guru memberikan rapor sambil tersenyum. “Ah, ya... Maaf... Selamat menjadi peringkat satu.”
“Terima kasih.”
Saat keluar dari ruangan, Brian melihat Barbara dan Amayah duduk menunggu giliran. Tiba-tiba ia teringat percakapannya dengan ibunya beberapa bulan lalu—betapa dekatnya ibunya dan Barbara.
“Oh ya, Ibu belakangan ini sering teleponan dengan Barbara, tetangga kita!” kata Ibu Brian dengan nada ceria.
Brian mengernyit penasaran. “Apa yang kalian bicarakan?”
“Kebanyakan tentang pekerjaan sih. Kamu penasaran? Ibu ceritakan ya—”
“Tidak perlu, Bu. Nanti Ibu malah meninggalkan pekerjaan lagi karena keasyikan bercerita."
“Iya juga ya!” Ibu tertawa kecil. “Kamu pengertian sekali, seperti ayahmu.”
“Karena aku anaknya.”
“Benar juga!”
Hening sejenak. Brian akhirnya bertanya, “Apa Bu Barbara ada bicara soal Amayah?”
“Amayah? Putrinya itu ya?” Ibu tampak ragu. “Ibu tidak berani bertanya. Ibu tidak tahu latar belakang keluarga mereka, jadi Ibu menghormati saja.”
“Begitu ya.”
“Kenapa memangnya? Kamu tertarik pada Amayah?” tanya ibunya sambil menggoda.
“Tidak.” Brian mengelak. “Kenapa Ibu bilang hal yang sama seperti temanku?”
“Wah, berarti ada yang sepemikiran!” Ibunya berseru senang. “Kalau kamu menyukainya, Ibu akan mendukungmu kok~”
“Baik. Terima kasih atas teleponnya. Sampai jumpa lain waktu, Nyonya,” ucap Brian sebelum menutup telepon.
“Eh, tunggu—!”
Sambungan telepon itu pun terputus.
"Mengapa aku peduli padanya? Aku sudah berjanji tidak akan ikut campur urusan mereka lagi."
---
Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)
---
Keesokan paginya, acara terakhir semester ini digelar—upacara perpisahan murid senior. Brian terpaksa hadir meski malas. Sambutan-sambutan panjang membuatnya kesal. Ketika bosan dan kebelet, ia memutuskan pergi ke toilet.
Namun saat melewati lorong, sebuah teriakan terdengar.
“JANGAN PERNAH MENYENTUH BRIAN!”
Brian menghentikan langkah. Itu… suara Amayah.
Ia segera menuju sumber suara. Begitu sampai, matanya melebar.
Amayah—si pendiam, si dingin—tengah mencekik kerah baju seorang siswa dengan kedua tangannya.
Dan yang membuat Brian paling bingung…
Mengapa Amayah menyebut namanya?
Bersambung.
semangat terus bang!!!