Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Setelah selesai makan, Nayla mengelus perutnya dengan puas. “Enak banget, Om Ashabi!”
Fattan mengangguk kuat. “Kak, Om Ashabi baik, ya!”
Ashabi tertawa kecil, mengusap kepala mereka satu per satu. “Kalian juga harus jadi anak yang baik, ya. Dengarkan apa kata Kak Kayla.”
Malam semakin larut. Ketiga anak itu akhirnya mengantuk. Kayla membawa mereka ke kamar, membaringkan mereka satu per satu, menyelimuti tubuh kecil mereka dengan penuh kasih.
Ketika Kayla masuk ke kamar untuk menidurkan ketiga adiknya, Ashabi berdiri di depan kontrakan kecil itu, memandangi pintu kayu yang sudah mulai mengelupas. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon ibunya.
“Assalamualaikum, Bu.”
“Waalaikumsalam. Kamu di mana, Bi?” tanya Bu Aisyah dengan suara lembut terdengar dari ujung telepon.
“Bu, ada yang ingin aku bicarakan.”
Hening sejenak.
“Ada seorang perempuan, namanya Kayla. Dia benar-benar ingin berubah, Bu. Dia butuh pekerjaan yang halal. Dia punya tiga adik kecil yang harus dia urus.”
Bu Aisyah terdiam mendengarkan.
“Aku ingin Ibu mempertimbangkan untuk menerimanya sebagai asisten rumah tangga di rumah kita.”
Beberapa detik terasa sangat panjang.
Akhirnya, suara Bu Aisyah terdengar lagi. “Kalau kamu yakin dia orang baik, Ibu akan bertemu dengannya dulu.”
Ashabi memejamkan mata lega. “Terima kasih, Bu.”
Saat kembali ke ruang tamu, Kayla melihat Ashabi masih duduk di bangku kayu sederhana.
Kayla menarik napas panjang. “Terima kasih untuk semuanya.”
Ashabi menatapnya serius. “Kayla, aku ingin bicara.”
Nada suaranya membuat Kayla sedikit tegang. Ia duduk berhadapan dengannya.
“Aku tahu kamu sedang kesulitan mencari pekerjaan,” lanjut Ashabi pelan. “Dan aku tahu kamu ingin pekerjaan yang halal.”
Kayla menunduk. “Iya.”
Ashabi terdiam sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Ibuku sedang mencari asisten rumah tangga di rumah kami. Kerjanya dari pagi sampai sore. Membersihkan rumah, memasak sederhana, dan membantu ibuku.”
Kayla mengangkat wajahnya, terkejut. “Asisten rumah tangga?”
Ashabi mengangguk. “Aku tahu mungkin terdengar sederhana. Tapi kamu bisa pulang sore dan tetap bersama adik-adikmu malam hari.”
Kayla terdiam lama. Tangannya meremas kain bajunya. Ini adalah pekerjaan halal. Pekerjaan yang tidak melukai dirinya lagi.
“Aku tidak masalah,” ujar Kayla akhirnya, suaranya lirih tetapi mantap. “Asal itu pekerjaan yang halal.”
Ashabi menghela napas lega. “Maaf, aku belum bisa memberikan pekerjaan yang lebih baik dari itu sama kamu.”
Kayla menatapnya ragu. “Kamu tidak perlu memaksakan.”
Ashabi menggeleng cepat. “Aku tidak memaksakan. Justru aku ingin membantumu.”
Keesokan paginya, Kayla terbangun dengan perasaan campur aduk. Ia menyiapkan sarapan sederhana untuk adik-adiknya seperti biasa, lalu menunggu kabar dari Ashabi dengan jantung berdebar.
Pagi jam delapan, Ashabi datang kembali. Kayla keluar dengan sedikit gugup.
“Ibuku minta bertemu denganmu besok,” kata Ashabi tanpa basa-basi. “Karena hari ini Ibu dan Ayah akan pulang dari umrah.”
Kayla tersenyum tipis, napasnya tertahan. “Baiklah.”
Ashabi tersenyum tipis. “Dan kemungkinan besar kamu bisa mulai bekerja besok.”
Air mata langsung menggenang di mata Kayla.
Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak yang hampir keluar.
“Terima kasih,” bisik Kayla suaranya bergetar. “Kamu sudah begitu banyak membantu aku.”
Ashabi menatapnya lembut. “Kamu yang sudah berani memilih jalan yang benar.”
Perasaan Kayla seperti suasana pagi ini. Sinar matahari yang terang dan hangat.
“O, iya. Aku punya sesuatu untukmu," ucap Ashabi. “Semoga saja kamu suka.”
Ashabi mengambil satu paper bag berukuran besar yang di simpan di motornya. Isinya tiga setelan tunik dan beberapa model jilbab.
“Apa ini?” tanya Kayla setelah menerima paper bag yang terasa berat.
“Kemarin kamu bilang ingin memakai jilbab. Pakailah baju dan jilbab itu untuk menutupi Auratmu,” jawab Ashabi dan itu membuat Kayla tak kuat menahan air matanya.
“Terima kasih, Ashabi. Aku tidak tahu harus membalas kebaikan kamu dengan cara apa,” ucap Kayla yang menangis tergugu.
Malam itu, Kayla duduk di samping adik-adiknya yang sudah tertidur, menatap wajah polos mereka satu per satu.
Ia menggenggam dadanya, merasakan detak jantungnya yang masih penuh kecemasan, tetapi juga dipenuhi harapan baru.
“Ya Allah, jika ini jalan-Mu, kuatkan aku,” doanya dalam hati.
Di luar, angin malam berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan awal dari lembaran hidup baru yang sedang menanti Kayla.
Pagi itu, langit masih berwarna biru pucat ketika Ashabi menghentikan motornya di depan sebuah rumah besar berpagar tinggi berwarna hitam. Bangunan itu megah, tetapi tidak berlebihan; tampak terawat, hangat, dan tertata rapi. Halamannya luas, dipenuhi tanaman hijau dan bunga-bunga yang tertata apik.
Kayla menatap rumah itu dengan dada berdebar. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Tangan kecilnya menggenggam tali tas kain berisi pakaian ganti dan perlengkapan kerja seadanya.
“Sudah siap?” tanya Ashabi pelan, menoleh ke arahnya.
Kayla mengangguk, meski sebenarnya hatinya diliputi kegugupan. “Bismillah ....”
Gerbang terbuka otomatis dan motor Ashabi melaju perlahan masuk ke halaman. Begitu mereka berhenti di teras, pintu utama rumah terbuka lebar.
Seorang wanita paruh baya dengan wajah lembut dan senyum hangat berdiri di sana. Pakaiannya sederhana, tetapi rapi. Di sampingnya, seorang pria bertubuh tegap dengan rambut mulai memutih tersenyum ramah.
“Itu Kayla, Bu,” ujar Ashabi pelan.
Bu Aisyah melangkah maju, menatap Kayla dengan intens. Bukan hanya menilai, tetapi dia juga mengamati dengan kelembutan.
“Assalamualaikum, Bu,” salam Kayla hangat. Kayla langsung menunduk hormat.
“Waalaikumsalam. Kamu Kayla, ya?”
“Iya, Bu.”
Pak Ramlan ikut mendekat. “Selamat datang di rumah kami.”
Nada suaranya rendah, tetapi ramah. Tidak ada sedikit pun rasa merendahkan.
Kayla merasa dadanya menghangat. Ia tidak menyangka akan disambut sebaik ini.
“Terima kasih sudah mau datang membantu kami,” lanjut Bu Aisyah sambil tersenyum.
Kayla mengangguk pelan, menahan haru. “Saya yang seharusnya berterima kasih karena sudah diberi kesempatan, Bu.”
Setelah berbasa-basi sebentar, Bu Aisyah mengajak Kayla berkeliling rumah. Ruang tamu luas dengan sofa empuk, ruang keluarga yang terang, dapur bersih dan rapi, serta beberapa kamar tidur yang tertata sempurna.
up LG Thor