Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak akan pernah pergi lagi
Lonceng toko kembali berdenting, namun kali ini Jehan datang dengan langkah yang tidak lagi ragu. Ia menemukan Sebria sedang tertegun di sudut ruangan, wajahnya masih menyiratkan kelelahan emosional yang mendalam dari sisa malam tadi.
Tanpa menunggu sapaan, Jehan langsung berdiri di hadapannya. "Aku sudah tahu semuanya. Tentang apa yang dikatakan sekretaris ku dan tentang alasan di balik sikap dingin mu pagi ini," Ucapnya dengan suara rendah yang tulus. Ia menjelaskan bahwa sekretaris tersebut telah di pecat dan mengakui bahwa segala penghinaan itu hanyalah bentuk obsesi pribadi yang tidak berdasar.
Jehan tidak hanya datang untuk meluruskan kesalahpahaman, tapi juga untuk membawa pesan dari rumahnya yang kini terasa sepi. "Byan sedang menunggumu. Dia merasa kehilangan dunianya karena mengira Tante Bunga nya membencinya." Lanjut Jehan sambil menatap dalam mata wanita itu.
Ketegangan di bahu Seberia perlahan melonggar. Dinding pertahanan yang ia bangun sejak semalam mulai runtuh saat ia menyadari bahwa kehangatan yang ia rasakan tempo hari bukanlah sebuah kekeliruan, melainkan sesuatu yang layak untuk diperjuangkan.
Ia segera melepaskan celemek cokelatnya dan meninggalkan gunting stek yang masih tergeletak di atas meja. Tidak ada lagi keraguan rasa bersalahnya kepada bocah itu jauh lebih besar daripada rasa sakit hatinya sendiri.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil, suasana terasa hangat namun penuh haru. Jehan sesekali melirik wanita di sampingnya, merasa lega karena kegelapan yang menyelimuti keluarganya sejak kemarin mulai tersingkap.
Begitu pintu rumah terbuka, mereka menemukan Byan sedang duduk meringkuk di sudut sofa, memeluk lututnya dengan pandangan kosong ke arah jendela. Saat mendengar suara langkah kaki yang familiar, anak itu mendongak. Begitu melihat sosok wanita pemilik toko bunga berdiri di sana bersama ayahnya, matanya yang redup seketika membesar dan berkaca-kaca.
Tanpa berkata-kata, Sebria langsung berlutut dan merentangkan tangannya. Byan berlari kencang menabrakkan tubuh kecilnya ke dalam pelukan hangat yang sempat hilang itu.
"Maafkan tante, Sayang. Tante tidak akan pernah pergi lagi," Bisiknya lembut di telinga Byan, sementara Jehan berdiri mengawasi mereka dengan senyum yang akhirnya kembali merekah.
Malam ini, meja makan yang semula sunyi berubah menjadi panggung penuh tawa dan kehangatan. Tidak ada lagi sup yang diaduk tanpa minat. Byan kini sibuk bercerita tentang segala hal, sesekali menyuapkan makanan dengan lahap seolah beban berat di pundak kecilnya telah menguap sepenuhnya.
Sebria duduk di sana, bukan lagi sebagai orang asing yang merasa keliru, melainkan sebagai bagian dari kepingan yang melengkapi. Ia menatap bocah itu dengan binar sayang, sesekali menimpali ceritanya dengan tawa lembut yang merdu. Di seberang meja, Jehan hanya diam memperhatikan, namun matanya memancarkan rasa syukur yang tak terlukiskan.
Aroma bunga sedap malam yang dibawa Sebria dari tokonya memenuhi ruangan, mengalahkan sisa-sisa ketegangan yang sempat mampir. Di bawah cahaya lampu gantung yang temaram, mereka bertiga seolah sepakat bahwa dinding pemisah yang sempat dibangun oleh lisan orang lain telah runtuh, digantikan oleh sebuah janji tak tertulis untuk saling menjaga kebahagiaan ini.
Setelah Byan akhirnya terlelap dengan senyum yang masih tersisa di bibirnya, suasana rumah kembali tenang namun kali ini, ketenangan itu terasa nyaman, bukan lagi mencekam. Jehan dan Sebria duduk berdampingan di beranda, menyesap teh hangat sambil memandangi sisa hujan yang membasahi jalanan.
"Maaf karena duniaku sempat membuatmu merasa tidak berharga," Ucap Jehan memecah keheningan, suaranya tulus dan penuh penyesalan. "Aku tidak pernah menyadari bahwa di balik pintu kantor yang tertutup, ada orang yang mencoba merusak hal terindah yang baru saja tumbuh dalam hidupku."
Sebria tersenyum tipis, menatap uap teh yang menari-nari. "Duri itu memang menyakitkan," jawabnya pelan, "Tapi tanpa duri, kita tidak tahu toleransi diri menerima rasa sakit itu." Ia meletakkan cangkirnya, lalu menoleh menatap Jehan. "Aku sempat takut kehangatan ini hanya kekeliruan. Tapi melihatnya tidur dengan tenang tadi, aku sadar bahwa ada beberapa hal yang memang layak untuk diperjuangkan, tak peduli seberapa tajam kata-kata orang lain. Byan ingin melihat foto-foto Ayusa, apa boleh?"
"Kalau kamu tidak apa-apa maka perlihatkan saja. Itu hak nya untuk melihat siapa ibu nya." Sahut Jehan.
Pagi berikutnya, toko bunga itu tidak lagi terasa seperti benteng perlindungan yang dingin. Sinar matahari masuk melalui celah kaca, menyinari kelopak-kelopak bunga yang tampak lebih segar, seolah ikut merasakan kelegaan pemiliknya.
Lonceng pintu berbunyi, namun kali ini bukan untuk pelanggan asing. Byan datang lebih awal sebelum sekolah, membawa sebuah gambar sederhana di secarik kertas gambar dirinya, ayahnya, dan Sebria yang dikelilingi taman mawar. Tanpa rasa cemas, ia meletakkan gambar itu di meja kasir, tepat di samping vas lili favoritnya.
Sebria menyambutnya dengan tawa lepas, tanpa lagi ada keraguan atau jarak. Ia menyadari bahwa tokonya kini bukan sekadar tempat berjualan bunga, melainkan sebuah rumah kedua tempat kasih sayang tumbuh tanpa takut akan duri penghinaan. Dari kejauhan, Jehan tampak memperhatikan dari dalam mobil, tersenyum melihat bagaimana hidup mereka kini telah mekar kembali dengan warna yang lebih cerah.
Beberapa bulan berlalu dan toko bunga itu kini memiliki satu sudut khusus sebuah meja kecil di dekat jendela tempat bocah laki-laki itu selalu mengerjakan PR-nya sepulang sekolah. Papan nama di depan toko pun bertambah sebuah keterangan kecil di bawahnya 'Tempat segala kasih'
Jehan datang menjemput, namun ia tidak lagi menunggu di dalam mobil. Ia melangkah masuk, menyampirkan jasnya di kursi, dan membantu wanita itu menyiram deretan mawar di selasar. Tak ada lagi kata-kata tajam yang menghantui, tak ada lagi sekretaris yang mencoba memutus garis takdir mereka.
Saat mereka bertiga bersiap menutup toko, Jehan menggenggam tangan Sebria tepat di ambang pintu. Ia menatap lekat mata wanita yang kini tak lagi menyimpan mendung cemas. "Kehangatan ini adalah milikmu sepenuhnya dan tak akan ada lagi kekeliruan yang perlu kamu takuti." Jehan menarik nafas panjang lalu berkata. "Terima kasih sudah selalu menyambut Byan dengan senyum paling tulus setiap kali kami mampir ke sini. Bagi banyak orang, tempat ini mungkin hanya toko bunga, tapi bagi kami, ini adalah satu-satunya tempat di mana duniaku yang terasa abu-abu perlahan kembali berwarna. Melihat caramu menjelaskan nama-nama bunga kepadanya dan bagaimana matamu berbinar saat Byan bertanya hal-hal lucu, membuatku menyadari sesuatu. Aku tidak hanya datang ke sini untuk membeli bunga. Aku datang ke sini karena di toko ini, aku menemukan kehangatan yang sudah lama hilang dari rumah kami. Jika kamu mengizinkan, aku ingin membawa bunga-bunga ini bukan untuk diletakkan di meja tamu, melainkan untuk memulai sesuatu yang baru bersamamu. Aku ingin Byan tumbuh dengan melihat senyum itu setiap hari dan aku ingin menjadi alasan di balik senyum tersebut."