NovelToon NovelToon
Meminjam Ibu Sehari

Meminjam Ibu Sehari

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Duda / Cintapertama
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: ririn rira

Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.

"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak akan pernah pergi lagi

Lonceng toko kembali berdenting, namun kali ini Jehan datang dengan langkah yang tidak lagi ragu. Ia menemukan Sebria sedang tertegun di sudut ruangan, wajahnya masih menyiratkan kelelahan emosional yang mendalam dari sisa malam tadi.

Tanpa menunggu sapaan, Jehan langsung berdiri di hadapannya. "Aku sudah tahu semuanya. Tentang apa yang dikatakan sekretaris ku dan tentang alasan di balik sikap dingin mu pagi ini," Ucapnya dengan suara rendah yang tulus. Ia menjelaskan bahwa sekretaris tersebut telah di pecat dan mengakui bahwa segala penghinaan itu hanyalah bentuk obsesi pribadi yang tidak berdasar.

Jehan tidak hanya datang untuk meluruskan kesalahpahaman, tapi juga untuk membawa pesan dari rumahnya yang kini terasa sepi. "Byan sedang menunggumu. Dia merasa kehilangan dunianya karena mengira Tante Bunga nya membencinya." Lanjut Jehan sambil menatap dalam mata wanita itu.

Ketegangan di bahu Seberia perlahan melonggar. Dinding pertahanan yang ia bangun sejak semalam mulai runtuh saat ia menyadari bahwa kehangatan yang ia rasakan tempo hari bukanlah sebuah kekeliruan, melainkan sesuatu yang layak untuk diperjuangkan.

Ia segera melepaskan celemek cokelatnya dan meninggalkan gunting stek yang masih tergeletak di atas meja. Tidak ada lagi keraguan rasa bersalahnya kepada bocah itu jauh lebih besar daripada rasa sakit hatinya sendiri.

Sepanjang perjalanan di dalam mobil, suasana terasa hangat namun penuh haru. Jehan sesekali melirik wanita di sampingnya, merasa lega karena kegelapan yang menyelimuti keluarganya sejak kemarin mulai tersingkap.

Begitu pintu rumah terbuka, mereka menemukan Byan sedang duduk meringkuk di sudut sofa, memeluk lututnya dengan pandangan kosong ke arah jendela. Saat mendengar suara langkah kaki yang familiar, anak itu mendongak. Begitu melihat sosok wanita pemilik toko bunga berdiri di sana bersama ayahnya, matanya yang redup seketika membesar dan berkaca-kaca.

Tanpa berkata-kata, Sebria langsung berlutut dan merentangkan tangannya. Byan berlari kencang menabrakkan tubuh kecilnya ke dalam pelukan hangat yang sempat hilang itu.

"Maafkan tante, Sayang. Tante tidak akan pernah pergi lagi," Bisiknya lembut di telinga Byan, sementara Jehan berdiri mengawasi mereka dengan senyum yang akhirnya kembali merekah.

Malam ini, meja makan yang semula sunyi berubah menjadi panggung penuh tawa dan kehangatan. Tidak ada lagi sup yang diaduk tanpa minat. Byan kini sibuk bercerita tentang segala hal, sesekali menyuapkan makanan dengan lahap seolah beban berat di pundak kecilnya telah menguap sepenuhnya.

Sebria duduk di sana, bukan lagi sebagai orang asing yang merasa keliru, melainkan sebagai bagian dari kepingan yang melengkapi. Ia menatap bocah itu dengan binar sayang, sesekali menimpali ceritanya dengan tawa lembut yang merdu. Di seberang meja, Jehan hanya diam memperhatikan, namun matanya memancarkan rasa syukur yang tak terlukiskan.

Aroma bunga sedap malam yang dibawa Sebria dari tokonya memenuhi ruangan, mengalahkan sisa-sisa ketegangan yang sempat mampir. Di bawah cahaya lampu gantung yang temaram, mereka bertiga seolah sepakat bahwa dinding pemisah yang sempat dibangun oleh lisan orang lain telah runtuh, digantikan oleh sebuah janji tak tertulis untuk saling menjaga kebahagiaan ini.

Setelah Byan akhirnya terlelap dengan senyum yang masih tersisa di bibirnya, suasana rumah kembali tenang namun kali ini, ketenangan itu terasa nyaman, bukan lagi mencekam. Jehan dan Sebria duduk berdampingan di beranda, menyesap teh hangat sambil memandangi sisa hujan yang membasahi jalanan.

"Maaf karena duniaku sempat membuatmu merasa tidak berharga," Ucap Jehan memecah keheningan, suaranya tulus dan penuh penyesalan. "Aku tidak pernah menyadari bahwa di balik pintu kantor yang tertutup, ada orang yang mencoba merusak hal terindah yang baru saja tumbuh dalam hidupku."

Sebria tersenyum tipis, menatap uap teh yang menari-nari. "Duri itu memang menyakitkan," jawabnya pelan, "Tapi tanpa duri, kita tidak tahu toleransi diri menerima rasa sakit itu." Ia meletakkan cangkirnya, lalu menoleh menatap Jehan. "Aku sempat takut kehangatan ini hanya kekeliruan. Tapi melihatnya tidur dengan tenang tadi, aku sadar bahwa ada beberapa hal yang memang layak untuk diperjuangkan, tak peduli seberapa tajam kata-kata orang lain. Byan ingin melihat foto-foto Ayusa, apa boleh?"

"Kalau kamu tidak apa-apa maka perlihatkan saja. Itu hak nya untuk melihat siapa ibu nya." Sahut Jehan.

Pagi berikutnya, toko bunga itu tidak lagi terasa seperti benteng perlindungan yang dingin. Sinar matahari masuk melalui celah kaca, menyinari kelopak-kelopak bunga yang tampak lebih segar, seolah ikut merasakan kelegaan pemiliknya.

Lonceng pintu berbunyi, namun kali ini bukan untuk pelanggan asing. Byan datang lebih awal sebelum sekolah, membawa sebuah gambar sederhana di secarik kertas gambar dirinya, ayahnya, dan Sebria yang dikelilingi taman mawar. Tanpa rasa cemas, ia meletakkan gambar itu di meja kasir, tepat di samping vas lili favoritnya.

Sebria menyambutnya dengan tawa lepas, tanpa lagi ada keraguan atau jarak. Ia menyadari bahwa tokonya kini bukan sekadar tempat berjualan bunga, melainkan sebuah rumah kedua tempat kasih sayang tumbuh tanpa takut akan duri penghinaan. Dari kejauhan, Jehan tampak memperhatikan dari dalam mobil, tersenyum melihat bagaimana hidup mereka kini telah mekar kembali dengan warna yang lebih cerah.

Beberapa bulan berlalu dan toko bunga itu kini memiliki satu sudut khusus sebuah meja kecil di dekat jendela tempat bocah laki-laki itu selalu mengerjakan PR-nya sepulang sekolah. Papan nama di depan toko pun bertambah sebuah keterangan kecil di bawahnya 'Tempat segala kasih'

Jehan datang menjemput, namun ia tidak lagi menunggu di dalam mobil. Ia melangkah masuk, menyampirkan jasnya di kursi, dan membantu wanita itu menyiram deretan mawar di selasar. Tak ada lagi kata-kata tajam yang menghantui, tak ada lagi sekretaris yang mencoba memutus garis takdir mereka.

Saat mereka bertiga bersiap menutup toko, Jehan menggenggam tangan Sebria tepat di ambang pintu. Ia menatap lekat mata wanita yang kini tak lagi menyimpan mendung cemas. "Kehangatan ini adalah milikmu sepenuhnya dan tak akan ada lagi kekeliruan yang perlu kamu takuti." Jehan menarik nafas panjang lalu berkata. "Terima kasih sudah selalu menyambut Byan dengan senyum paling tulus setiap kali kami mampir ke sini. Bagi banyak orang, tempat ini mungkin hanya toko bunga, tapi bagi kami, ini adalah satu-satunya tempat di mana duniaku yang terasa abu-abu perlahan kembali berwarna. Melihat caramu menjelaskan nama-nama bunga kepadanya dan bagaimana matamu berbinar saat Byan bertanya hal-hal lucu, membuatku menyadari sesuatu. Aku tidak hanya datang ke sini untuk membeli bunga. Aku datang ke sini karena di toko ini, aku menemukan kehangatan yang sudah lama hilang dari rumah kami. Jika kamu mengizinkan, aku ingin membawa bunga-bunga ini bukan untuk diletakkan di meja tamu, melainkan untuk memulai sesuatu yang baru bersamamu. Aku ingin Byan tumbuh dengan melihat senyum itu setiap hari dan aku ingin menjadi alasan di balik senyum tersebut."

1
Lisa
Senangnya akhirnya Bria menerima lamaran dr Jehan..
Ayuwidia
Berada di posisi Bria itu nggak mudah. Ada Luka tak kasat mata yang sulit untuk sembuh, apalagi ketika melihat foto dan vidio Ayusa. Ah Sebria, terbuat dari apa hatimu?
Ririn Rira: Iya kak kalau kata Keona ada cermin masa lalu di antara Jehan sama Sebria
total 1 replies
Lisa
Bria sayang banget sama Byan..moga kalian menjadi 1 keluarga yg utuh y..amin..
Ririn Rira: semoga ya kak
total 1 replies
Ayuwidia
Selalu berharap, Jehan & Sebria bisa bersatu
Lisa
Percayalah pdJehan Bria..dia sungguh2 mencintaimu dan menerimamu apa adanya
Ayuwidia
Itu artinya... kamu melamar Bria, Je?
Ayuwidia: tho the point dia, nggak mau kehilangan lagi 😄
total 2 replies
Ayuwidia
Bener banget, Jehan
Ayuwidia
Keliatan banget si Delia cembokur
Lisa
Wah Jehan secara tidak langsung melamar Sebria nih 😊
Ririn Rira: Gercep si Jehan 🤭
total 1 replies
Lisa
Syukurlah akhirnya sudah ditemukan penyebab kekacauan..moga Bria mau membuka hati lg utk Byan
Lisa
Kasihan Byan..ayo Bria jgn terpengaruh dgn ucapan sekretaris itu..dia ada hati sama Jehan makanya berkata spt itu..
Lisa
Sok banget si Delia itu..ngapain dia ikut campur urusannya Bria & Jehan..pasti dia naksir Jehan..
Ririn Rira
Deric mulai muncu ya kak 🤭
Ayuwidia
Betoel kata Kanaga. Dan asal kamu tau, Ric... berlian yang sudah dibuang tidak bisa dipungut lagi
Lisa: Bener banget Kak Ayu
total 1 replies
Ayuwidia
Pemandangan yang hangat dan indah. Semoga hati Sebria terbuka lebar lagi untuk Jehan. Menerimanya sebagai pasangan hidup, dan menjadikan Byan seperti anaknya sendiri 🥰
Lisa
Papa & anak kompak nih 😊
Ayuwidia
Selalu nyesek tiap keinget kisah 'Luka Sebria'. Ada Ayusa di antara Jehan & Sebria. Masih berharap, Jehan & Sebria bisa bersatu
Lisa: Benar Kak Ayu..aku jg berharap seperti itu.
total 1 replies
Ayuwidia
Keona... dia sosok adik yang teramat sayang pada kakaknya. Dia tidak ingin dan tidak rela kakaknya kembali terluka. Makanya, dia super tegas. Tugas Jehan menaklukan hati Keona
Lisa
Wah Keona benar² protektif nih
Ayuwidia
Bagus banget. Kisahnya bikin baper. Semangat berkarya Kak Author ✍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!