Realitanya,kita tidak pernah tahu bagaimana jalan menuju takdir itu sendiri
yang membuat kita menerka-nerka dimana kaki ini akan menapak esok hari.
'Tuhan tidak pernah salah dan tidak pula terlambat dalam menetapkan suatu takdir kepada hamba-Nya'
'Kamu tahu sayang?aku bertaruh dengan diriku sendiri bahwa suatu saat hatimu yang sempit itu akan menjadikanku tempat pulang yang paling nyaman untuk kamu singgahi'.~ Elvita
'pernikahan ini hanya sementara,Sampai Kakak pertamaku melahirkan anak pertamanya mari mengurus surat perceraian'~Bian
Pernikahan yang awal nya berdasarkan kesepakatan itu akhirnya mengungkap tabir lama kedua keluarga yang hampir diambang kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twdyaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panik
......................
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana..?
Bian bertanya pada dokter muda keluarga Brawijaya itu tanpa melepaskan pandangannya pada Elvita yang belum tersadar dari pingsannya.
"Tidak masalah Bi,nona Elvita hanya butuh istirahat yang cukup"
penyebab pingsan ada banyak macam salah satunya,
Gangguan Tekanan Darah dan Aliran Darah: Penurunan darah ke otak akibat tekanan darah rendah mendadak (hipotensi), berdiri terlalu cepat (hipotensi ortostatik), atau berdiri terlalu lama di cuaca panas.
"aku akan memberikan nya vitamin,pastikan nona Elvita beristirahat dan meminum nya dengan rutin" sambung dokter Enrina.
dia pikir baru kali ini melihat Bian panik bukan main kepada seseorang.
Dan melihat semua keluarga yang sedang menunggu di ruang tengah,bisa Enrina tebak bagaimana beruntungnya Gadis yang sedang terbaring di kasur itu.
"Mari nona..." Dion memecahkan pemikiran Enrina dan mengantar gadis itu untuk segera keluar dari kamar meninggalkan Bian yang memilih menemani Elvita disana.
'isshh... laki-laki kaku ini!aku kan masih ingin melihat Bian yang begitu mengkhawatirkan istri kecilnya itu,bukankah begitu romantis ahhhh!' batinnya.
"Bagaimana En..." Arga langsung berdiri ketika melihat Enrina telah keluar dari kamar anaknya.
Semua keluarga yang melihat pun ikut berdiri seakan juga menunggu penjelasan sang dokter.
"Bukan masalah paman,istri Bian hanya kelelahan dan butuh istirahat yang cukup...aku sudah memberikan vitaminnya pada Dion,jadi kalian semua tidak perlu khawatir"
"Alhamdulillah"
"Syukurlah"
mendengar itu pun jelas saja membuat mereka bernafas lega,sebab saat di pertengahan acara tadi, tiba-tiba saja Elvita jatuh pingsan dan membuat semua orang begitu panik.
Apalagi kedua orang tua Elvita yang jelas saja sangat khawatir.
Alhasil Arga langsung menyudahi acara dan menjelaskan pada para tamu yang datang.
Tentu saja hal itu membuat semua orang mengerti sebab musibah memang tidak tahu kapan datang nya.
"Bolehkah kami masuk melihat nya kak?" tanya Khanza
"Aku rasa untuk sekarang biarlah Elvita bersama Bian,dia hanya butuh istirahat dari keramaian sebentar... insyaAllah besok dia akan pulih kembali" ucap Enrina
"Baiklah nak,terimakasih sudah datang...Biarkan Dion yang mengantar mu sampai kedepan"
Arga mempersilahkan Enrina untuk pulang,sebab dia tahu gadis itu belakangan begitu sibuk mondar mandir mengurus masalah dirumah sakit.
Keluarga Enrina memang sudah turun temurun mengabdi untuk keluarga Brawijaya.
selain rumah sakit tempat mereka bekerja adalah milik keluarga Brawijaya.
hubungan Daddy Enrina dan Arga begitu baik dan bisa dikatakan Daddy nya adalah salah satu orang kepercayaan Arga.
maka dari itu tak jarang keluarga Enrina terlihat hilir mudik datang sekedar berkunjung ke kediaman Brawijaya.
"Baik paman..aku pamit undur diri"
Enrina pikir dia ingin beristirahat malam ini sebab sudah beberapa hari dia sangat sibuk mengurus pasien dirumah sakit
dia melangkah pelan dan mengabaikan Dion yang berjalan dibelakang mengikutinya.
"Kamu tidak perlu mengikuti ku" Ucap Erina ketika sudah sampai di pekarangan depan,bisa dia lihat dengan jelas wajah tampan Dion yang selalu datar tanpa ekspresi.
entah mengapa setiap berhadapan dengan laki-laki ini,membuat bulu kuduk Enrina merinding.
Aura Dion jelas saja membuat siapapun yang berada didekatnya begitu terintimidasi.
begitu sulit ditebak,batinnya.
"Saya hanya menuruti perintah Tuan Arga"
seperti biasa hanya jawaban template yang diucapkan Dion.
"ahhh...terserah kamu saja"
lantas Erina memilih masuk kedalam mobilnya dan berlalu dari rumah yang begitu megah tersebut.
ahhh...aku merindukan kasurku.teriaknya
................
Elvita menggeliat pelan ketika sebuah tangan melingkar di atas pinggangnya,begitu dia membuka mata dia tersadar saat Bian rupanya tertidur sambil memeluknya.
Dia memandang suaminya dengan tatapan yang begitu lembut,tangannya terulur ingin menyentuh wajah tampan tersebut tapi ia urungkan.
lantas Elvita memilih menggeserkan badannya dengan perlahan agar tidak menganggu tidur nyenyak sang suami.
ehhh
Bukannya berhasil menjauh Elvita justru semakin terjerembab ketika laki-laki itu menariknya masuk kedalam pelukannya.
"Mau kemana..?"Tanya Bian dengan suara serak nya,dia tidak berusaha melepaskan pelukannya tidak pula berniat membuka matanya.
"ahhh..aku pikir kamu salah memeluk Bi,bantal guling mu ada di sofa...aku akan mengambilkannya" ucap Elvita salah tingkah berusaha duduk namun dihalang oleh Bian.
"Kamu membuat semua orang khawatir Elv.."
Bian tidak membalas ucapannya melainkan membicarakan sesuatu yang seketika membuat Elvita ingat.
bukankah tadi mereka semua berada di bawah mengadakan pesta bersama keluarga besar dan beberapa rekan bisnis?
Dia hanya ingat saat terakhir kali berbincang dengan Leo dirinya mengalami pusing yang begitu hebat,tubuhnya begitu lemah dan didetik berikutnya dia tidak ingat apa-apa.
"Aku pingsan Bi?" Tanya Elvita yang langsung mendapatkan anggukan dari Bian.
"Jangan membuat ku panik Elv,kamu tahu?aku tidak terlalu suka jika seseorang memaksakan keadaan dan malah membuat orang lain begitu khawatir...setiap manusia memiliki kapasitas nya masing-masing jadi jangan merasa terbebani"
mendengar perkataan Bian, seketika membuat Elvita merasa bersalah
dia pikir sudah membuat kekacauan yang seharusnya bisa dia hindari sebelumnya.
bisa dia tebak bagaimana khawatir nya semua keluarga ketika mendapati dirinya pingsan.
Dia memang memaksakan diri untuk menyelesaikan acara tersebut karena berpikir tidak sopan jika yang punya acara justru tidak hadir,Padahal Bian sudah meminta nya untuk beristirahat semalam.
"Maafkan aku..." ucap Elvita pelan dan tanpa sadar membalas pelukan Bian dengan begitu erat.
"Tidurlah hari masih gelap...aku akan membangunkan kamu ketika waktu subuh"
Elvita hanya diam lantas memejamkan mata nya,pikirannya berkecamuk tapi entah kenapa dekapan sang suami membuatnya begitu tenang.
ketika sudah menikah,sandaran yang paling hangat adalah bersandar kepada pasangan.
......................
"Buat penyambutan di perusahaan untukku besok dan undang semua rekan bisnis termasuk Brawijaya company,mulai sekarang aku sendiri yang akan menghandle nya..."
setelah memberi perintah, laki-laki itu langsung mematikan teleponnya.
Dia pikir sudah cukup dirinya bersembunyi dari dunia...Entah apa yang membuat mommy nya bersikeras tidak ingin mengungkapkan identitasnya
jelas saja dia sudah bisa membuat keputusan sendiri sekarang.
"kamu yakin?apakah Winda sudah mengetahui nya?"Tanya seorang laki-laki tua yang sedari tadi mengamati nya.
"Bukankah untuk membalas dendam,kita harus tahu mengenal lebih dekat siapa yang menjadi lawan kita,paman nadiem?"
laki-laki itu berbicara dengan seringai jahatnya, dia tahu betul jika laki-laki tua dihadapannya ini akan sangat mendukungnya.
"Tapi mommymu jelas akan murka jika tahu kamu membuat keputusan tanpa melibatkannya, Anthony !"
yang di sebutkan namanya itu hanya diam tanpa berniat menjawab.
Anthony Salim.
Dia adalah anak dari Winda yang selama ini disembunyikan dari dunia.
sedari kecil hidup dengan doktrin yang begitu buruk membuatnya tumbuh menjadi laki-laki yang kejam tanpa belas kasih.
'Welcome to the gameee...DADDY'
......................
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*maaf jika ada typo atau kesalahan dalam penulisan kata