Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.
Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 Merekah Indah
"Sebuah hubungan yang merekah indah, jikalau itu mendapat ridho dari-Nya."
—Aldivano Athariz—
Pagi itu, mentari menyelinap lembut melalui sela-sela tirai jendela kediaman keluarga Athariz. Cahaya keemasan menari di atas lantai marmer, seolah ingin turut merayakan kebersamaan yang jarang terulang. Aroma roti panggang dan teh hangat menyatu dengan udara pagi, menciptakan kehangatan yang tak kasatmata namun terasa hingga ke relung dada.
Di meja makan panjang berukir klasik itu, keluarga Athariz duduk berdampingan. Sang Ayah, Aariz Athariz, duduk di ujung meja dengan wibawa yang tak pernah pudar meski usia mulai menorehkan garis-garis halus di wajahnya. Di sampingnya, Bunda Afsheen tersenyum lembut—senyum yang selalu mampu menenangkan badai sekalipun. Dan di hadapan mereka, Aldivano Athariz, lelaki muda dengan tatapan teduh namun menyimpan keteguhan sekeras karang di tengah samudra.
Sendok dan garpu beradu pelan, menciptakan irama kecil yang mengisi keheningan. Namun, ketenangan itu pecah saat Aariz Athariz meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap putranya dengan sorot mata yang sarat makna.
“Aldivano,” panggilnya tenang, namun suaranya seakan mengetuk pintu kesadaran. “Setelah sarapan, susul Ayah ke ruang kerja.”
Gerakan Aldivano terhenti sepersekian detik. Ia mengangkat wajahnya, lalu mengangguk hormat. “Baik, Ayah.”
Bunda Afsheen yang sejak tadi memperhatikan, tersenyum sambil menatap putranya. Senyum itu bukan sekadar lengkungan bibir—ia seperti kitab rahasia yang tak semua orang mampu membacanya. Ada sesuatu di baliknya, sesuatu yang belum terucap, namun perlahan ingin menemukan jalannya sendiri.
“Ayolah, makan dulu sampai habis. Kalian ini selalu membahas pekerjaan, ” ujar Bunda Afsgen dengan wajah cemberut, seolah ingin menunda takdir beberapa menit lebih lama.
Aldivano tersenyum tipis. Namun hatinya telah bersiap, seperti prajurit yang menunggu aba-aba perang.
"Siap, bunda," jawab Aldivano dengan senyum hangatnya.
Ayah Aarizpun menenangkan istrinya diiringi dengan mengelus tangannya. "Iya, sayang."
Ruang kerja Aariz Athariz berdiri megah, dipenuhi rak buku tinggi yang memuat sejarah panjang keluarga Athariz. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan klasik, saksi bisu keputusan besar yang pernah lahir di ruangan ini. Aroma kayu tua dan kopi hitam menguar, menambah kesan serius yang membuat siapa pun menahan napas saat melangkah masuk.
Aldivano berdiri tegap di hadapan meja kerja ayahnya. Sang Ayah tak bertele-tele. Tatapannya lurus, suaranya mantap.
“Ayah ingin kamu menggantikan posisi Ayah sebagai Presiden Direktur.”
Kalimat itu jatuh seperti petir di siang bolong. Meski Aldivano telah menebak arah pembicaraan, mendengarnya secara langsung tetap membuat dadanya bergetar. Ia terdiam. Bukan karena ragu, melainkan karena sedang menimbang beban langit yang hendak diletakkan di pundaknya.
Beberapa detik terasa seperti ribuan tahun. Hingga akhirnya, Aldivano mengangkat wajahnya. Tatapannya tenang, namun di baliknya tersimpan keyakinan yang tak mudah digoyahkan.
“Aldivano bersedia, Ayah,” ucapnya pelan, namun tegas. “Dengan satu syarat.”
Aariz Athariz sedikit mengernyit. “Syarat?”
Aldivano menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan keberanian dari dasar jiwanya. “Aldivano ingin dinikahkan dengan Celine.”
Hening.
Udara di ruangan itu seolah membeku. Aariz Athariz terdiam, matanya membesar sesaat—reaksi yang jarang sekali muncul darinya. Seorang pria yang biasa mengambil keputusan dalam hitungan detik, kini justru terjebak dalam sunyi.
Pintu ruang kerja terbuka perlahan. Bunda Afsheen masuk sambil membawa nampan berisi teh hangat. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar nama itu terucap.
“Celine?” ulang Bunda, suaranya lirih namun penuh keterkejutan.
Aldivano menoleh, lalu menunduk hormat. “Iya, Bunda.”
Bunda Afsheen meletakkan nampan di atas meja, tangannya sedikit bergetar. Ia menatap suami dan putranya bergantian, seolah sedang menyusun kepingan puzzle yang selama ini terpisah.
“Apa yang membuatmu meminta itu, Nak?” tanya Aariz Athariz akhirnya, suaranya kini lebih lembut, namun sarat selidik.
Aldivano tersenyum kecil—senyum yang bukan lahir dari candaan, melainkan dari keyakinan yang telah lama bersemayam. “Celine bukan sekadar perempuan bagi Aldivano. Ia adalah tenang yang Allah titipkan di tengah riuh dunia. Aldivano ingin memimpin perusahaan, Ayah. Tapi lebih dari itu, Aldivano ingin memimpin keluarga dengan perempuan yang tepat. Selain itu, Aldivano juga ingin membimbing Celine supaya enggak salah arah."
Bunda Afsheen menahan napas. Kata-kata itu seperti angin lembut yang menggetarkan dedaunan hatinya. Ia menatap putranya dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu yakin?” tanya Bunda lirih.
“Sangat yakin, Bunda,” jawab Aldivano tanpa ragu. “Aldivano tidak ingin kekuasaan tanpa keberkahan.”
Ayah Aariz Athariz menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya menerawang, seolah kembali ke masa lalu. Ingatannya melayang pada sebuah janji lama—tentang dua anak yang pernah mereka rencanakan, namun tak pernah mereka paksa.
Ia tersenyum pelan. Senyum seorang ayah yang akhirnya memahami isi hati putranya.
“Baik,” ucapnya akhirnya. “Ayah dan Bunda setuju.”
Bunda Afsheen mengangguk perlahan. “Namun, ada wewenang dan tanggung jawab yang harus kamu pegang, Aldivano. Pernikahan bukan pelarian, tapi amanah.”
“Aldivano paham, Bunda,” jawabnya mantap.
Hari itu, Aariz Athariz menghubungi seseorang yang telah lama ia anggap keluarga sendiri—Daddy Caesar. Suaranya hangat, penuh keakraban, seolah jarak dan waktu tak pernah menjadi penghalang.
“Caesar,” ucapnya. “Sepertinya, janji lama kita ingin menemukan jalannya.”
Di seberang sana, Daddy Caesar terdiam sesaat. Lalu tertawa kecil, lalu bertanya penuh keheranan. "Janji apa? Sepertinya aku lupa."
"Menjodohkan kedua anak kita," jawab Ayah Aariz dengan wajah yang bahagia, seolah Daddy Caesar ada dihadapannya.
"Bukannya kita sepakat untuk tidak memaksa mereka?"
"Iya, aku tahu. Tapi kamu pasti terkejut mendengar hal yang baru saja aku dengar," ujar Ayah Aariz dengan satu tangan berada di saku.
"Apa itu?"
"Aldivano ingin menikah dengan Celine, sebagai syarat untuk menggantikanku di perusahaan."
"APAA!!"
"Iya, bahkan aku dan Afshen dibuat terkejut oleh permintaanya. Jadi apakah kamu setuju?"
"Sebentar, kasih aku waktu untuk memutuskan semua ini. Karena kamu tahu sendiri Celine seperti apa, bukan," jawab Daddy Caesar dengan memijat pelipisnya.
"Aku harap keputusanmu adalah hal yang baik bagi kita semua."
"Aamiin."
Tak lama terdengar suara pintu terbuka. Dan tampaklah—Calvin yang datang dengan raut pasrah. Lalu diikuti Celine yang berada di belakangnya dengan raut ceria.
"Hei, kenapa dengan wajahmu, boy?"
"Ohh ayolah, Dad. Kenapa anak gadismu mengesalkan sekali."
Sementara Celine yang mendengar gerutuan dari abangnya pun terkikik geli di sebelahnya.
"Kenapa, Princes?"
"Jadi gini, Dad. Tadi kan Abang telat jemput aku yaudah aku ngambek dong, habis itu abang bujuk aku dan dibeliin ini deh," jelas Celine sembari menujukkan helm yang lucu dan aksesoris balap lainnya.
"Salahnya di mana, bang?" Tanya Celine dengan wajah menggemaskan.
"Ya, tapi enggak beli barang yang banyak banget dong, dek," ujar Calvin dengan wajah yang berusaha sabar.
"Jadi, abang enggak ikhlas?" Tanya Celine dengan mendelik sebal.
"Ikhlassss, dek."
"Shutttt... sudah. Princes, kalau mau beli sesuatu lihat dulu kegunaaannya ya, sayang. Jangan langsung dibeli semua, utamakan yang lebih prioritas," nasehat Daddy Caesar pada anak gadisnya yang imut itu.
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...