NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: tamat
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Pengasuh / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Gantiin Emak

Tiga hari terakhir terasa lebih panjang dari biasanya bagi Raisa.

Pagi datang tanpa semangat, siang berlalu tanpa kabar baik, dan sore selalu ditutup dengan rasa hampa yang menggantung di dada. Setiap lamaran kerja yang ia titipkan—di toko kelontong, warung makan, bahkan kios pulsa—selalu berujung pada kalimat yang sama.

“Nanti kami kabari ya.”

Kalimat sopan yang artinya: tidak.

Raisa duduk di lantai rumahnya, memandangi ponsel butut yang tak pernah berdering. Grup WhatsApp teman-teman sekolahnya ramai—foto seragam kerja baru, gedung-gedung tinggi di kota, caption penuh tawa.

First day at work!

Akhirnya dapet kerja juga!

Kangen kampung, tapi ya beginilah hidup.

Raisa menekan layar ponsel, lalu melemparkannya ke kasur tipis.

“Kerja di kota juga bukan jaminan bahagia,” gumamnya, meski hatinya mencubit iri.

Ia bangkit, menyapu rumah tanpa benar-benar fokus. Kepalanya penuh. Rasanya seperti dunia berjalan terlalu cepat sementara ia tertinggal di tempat.

Di sudut rumah, Bu Rika terbaring di dipan bambu. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. Sejak subuh ia mengeluh pusing dan mual, tubuhnya lemas seperti kehilangan tenaga.

“Mak, minum obat dulu,” Raisa menyodorkan segelas air.

Bu Rika menggeleng pelan. “Mak istirahat saja.”

Raisa duduk di sampingnya, alisnya berkerut. “Kerja hari ini gimana, Mak?”

Bu Rika terdiam sesaat. Matanya menatap langit-langit rumah yang kusam. “Ini yang mau Mak omongin.”

Raisa langsung waspada. “Kenapa, Mak?”

“Di rumah Pak Kades lagi banyak kerjaan,” Bu Rika berkata pelan. “Mau ada syukuran pulangnya Den Krisna. Malam ini. Orang-orang desa bakal datang. Mak diminta bantu dari pagi.”

Raisa menghela napas kecil. “Terus?”

“Mak nggak kuat ke sana hari ini,” lanjut Bu Rika sambil memejamkan mata sebentar. “Badan Mak nggak enak, pada pegel-pegel.”

Raisa mengangguk pelan. “Ya udah. Istirahat aja. Nanti aku masakin bubur.”

Bu Rika membuka mata, menatap Raisa dengan ekspresi ragu tapi penuh harap. “Raisa … kamu bisa nggak gantikan Mak kerja ke rumah Pak Kades hari ini?”

Kalimat itu jatuh tepat di dada Raisa.

“Apa?” Raisa refleks menolak. “Nggak, Mak.”

Bu Rika menghela napas. “Cuma bantu-bantu dapur, bersih-bersih, nyiapin piring. Nanti pulangnya sore.”

Raisa berdiri, gelisah. “Mak ... Mak lupa aku tuh ribut sama anaknya Pak Kades? Nanti kalau aku ribut lagi ngimana?”

Bu Rika menelan ludah. “Mak tahu.”

“Kaca mobilnya retak karena aku!” Raisa menaikkan suara, meski tidak bermaksud kasar. “Kalau aku ke sana, terus mereka minta ganti rugi gimana? Aku belum punya uang, Mak.”

Bu Rika bangkit sedikit, menahan pusing. “Nak … Mak sudah ngomong sama Pak Wijaya. Soal itu nanti dibicarakan baik-baik.”

Raisa menatap ibunya tajam. “Mak yakin?”

Bu Rika mengangguk. “Pak Wijaya orangnya bijak. Lagi pula, ini kerjaan. Kamu nggak salah kalau datang untuk membantu.”

Raisa mengepalkan tangan. Di satu sisi, ia takut. Takut berhadapan lagi dengan Krisna—tatapan dingin itu, suara datar yang membuatnya merasa kecil meski ia berusaha keras terlihat berani. Di sisi lain, melihat ibunya terbaring lemah membuat hatinya mengalah.

Bu Rika menggenggam tangan Raisa. “Mak butuh kamu hari ini.”

Raisa menghela napas panjang. “Iya,” jawabnya akhirnya. “Aku ke sana.” Dengan terpaksa.

Ia bangkit, masuk kamar, berganti pakaian yang paling rapi yang ia punya. Kemeja lengan panjang warna krem dan celana hitam. Rambutnya ia ikat rapi, wajahnya dibasuh air agar terlihat segar.

Saat keluar kamar, Bu Rika menyentuh lengannya. “Hati-hati. Sopan. Jangan emosian.”

Raisa mengangguk. “Iya, Mak.”

Meski di dalam hatinya ia ngedumel, Kalau diserang duluan, ya jangan salahkan aku.

Rumah Pak Wijaya berdiri megah seperti biasa—pagar tinggi, halaman luas, tanaman hias tertata rapi. Raisa berhenti sejenak di depan gerbang samping, menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk.

Ini cuma kerja. Fokus kerja.

Ia masuk lewat pintu samping yang biasa dipakai para ART. Di dapur, aroma bumbu dan suara panci bertabrakan memenuhi ruangan. Beberapa ibu-ibu tampak sibuk, lalu menoleh saat Raisa muncul.

“Eh?” Bik Sum, perempuan setengah baya yang sudah lama bekerja di situ, mendekat. “Kamu … Raisa, ya?”

Raisa tersenyum kecil, menunduk sopan. “Iya, Bik. Saya anaknya Bu Rika.”

Bik Sum mengangguk. “Ibumu mana?”

“Mak lagi sakit, Bik. Jadi saya yang gantikan hari ini.” Raisa ragu sejenak, lalu menambahkan, “Saya mau izin ke Bu Lita dulu, bisa?"

Bik Sum menunjuk ke arah ruang tengah. “Bu Lita di sana. Lagi sama cucunya.”

Raisa mengangguk. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat saat ia melangkah ke arah ruang tengah—ruangan luas dengan sofa empuk dan jendela besar yang membiarkan cahaya pagi masuk dengan lembut.

Di sana, Bu Lita duduk di sofa, menggendong baby Ezio. Bayi itu merengek kecil, wajahnya memerah, tangannya mengepal, tubuhnya menggeliat tak nyaman.

Raisa berhenti di ambang pintu, lalu melangkah masuk dengan hati-hati.

“Permisi, Bu,” sapanya lembut.

Bu Lita menoleh. Wajahnya hangat, meski terlihat sedikit lelah. “Iya, Nak?”

“Saya Raisa, Bu. Anak Bu Rika,” ucap Raisa sopan. “Ibu saya sakit hari ini, jadi saya yang gantikan Ibu untuk bekerja.”

Bu Lita tersenyum. “Oh, iya. Bu Rika sudah bilang.” Matanya melirik bayi di gendongannya yang makin rewel. “Terima kasih ya sudah datang.”

“Iya, Bu,” Raisa mengangguk.

Tanpa sadar, pandangan Raisa tertuju pada baby Ezio. Tangisan kecil itu seperti memanggil sesuatu di dalam dirinya—sesuatu yang lembut, naluriah.

Raisa mendekat perlahan. “Kenapa adeknya, Bu?” tanyanya lirih, lebih pada bayi itu daripada pada Bu Lita.

“Dari tadi rewel,” jawab Bu Lita. “Biasanya kalau digendong ayahnya langsung diam, tapi ayahnya lagi ke luar.”

Raisa tersenyum tipis. Ia mengulurkan jari telunjuknya, membiarkan baby Ezio menggenggamnya. Tangisan bayi itu mereda sedikit, berubah jadi rengekan pelan.

“Gendongan sama kakak yuk,” kata Raisa lembut, refleks—suaranya berbeda dari nada ketus yang biasa ia pakai.

Bu Lita menatapnya, agak terkejut. “Kamu bisa?”

Raisa mengangguk kecil. “Sering n gendong anak sepupu, Bu.”

Bu Lita ragu sejenak, lalu menyerahkan baby Ezio ke pelukan Raisa.

Begitu tubuh kecil itu berpindah, Raisa langsung menyesuaikan posisi—satu tangan menyangga kepala, satu tangan menopang tubuh. Ia mengayun pelan, gerakannya halus, hampir tanpa suara.

Ajaibnya, baby Ezio berhenti menangis.

Mata bayi itu terbuka, menatap wajah Raisa dengan tatapan polos. Bibir kecilnya mengerucut, lalu mengendur. Napasnya menjadi lebih teratur.

Bu Lita terperangah. “Lho .…”

Raisa tersenyum tanpa sadar. Ia menunduk sedikit, menggumamkan suara pelan yang tidak jelas—bukan lagu, bukan kata, hanya ritme yang menenangkan.

“Pinter ya,” bisik Raisa. “Dede ganteng, capek ya nangis terus.”

Baby Ezio mengeluarkan suara kecil, seperti dengusan puas.

Bu Lita menghela napas lega. “Kok bisa langsung tenang?”

Bersambung ... 🔥

 

1
Tamirah
Ya... namanya aja gadis desa dan dari keluarga yg sangat sederhana, untuk kata kata spt yg diucapkan dokter duda ya bukan gak nyambung tapi Raisa' beranggapan gak mungkilah seorang dokter kota anaknya Pak Kades ada hati sama dirinya yg hanya anak seorang pembantu.Makanya ia selalu bersikap bar bar agar tidak diremehkan.
Tamirah
Ha. ha. ....mulai cemburu.. Krisna...! Gak memberikan kesempatan pada Raisa dan Fahri untuk bersama dgn alasan ibu Lita butuh bantuan alias Raisa dibawa pulang lagi kerumah Bu Lita...modus.
Tamirah
Dengan bergabungnya dua wanita ular untuk menyingkir Raisa maka Krisna akan semakin melindungi Raisa demi kenyamanan anaknya.Hanya Raisa lah yg bisa mengatasi anak sang dokter..itu tdk diragukan lagi.
Tamirah
Kuakui Thor novel mu emang keren habis, pingin baca karya mu yg lain.👍👍👍👍
Tamirah
Wik ....wik..sang janda mulai mengatur strategi untuk memfinah Raisa agar dialah yg jadi pengasuh nya, apa lagi diberi wkt 1 bulan untuk bersaing dgn Raisa tentu banyak rencana jahatnya untuk menjebak Raisa .. lanjut Thor.
Tamirah
Wajar kalau Lena gak terima Raisa jadi pengasuh Ezio,janda itu sangat membutuhkan pekerjaan utk kelangsungan hidup bersama anaknya nya,yg gak ituu karena punya misi untuk mendekati dokter obsesinya berharap dijadikan ibu sambung Enzo, mimpi' kali.... mbak Lena . ....!
Tamirah
Makan ituu gengsi gak peka banget kalau anaknya sdh nyaman dgn Raisa.
Seorang bayi sangat lah peka terhadap orang yg tulus menyayangi nya,begitu ia dijauhkan otomatis tubuhnya merespon yg akhir nya bayi jadi rewel....!
Tamirah
Ternyata Lena gak selugu yg kita duga ia punya tujuan lain, selain dia bekerja sebagai pengasuh Ia juga punya niat untuk mendekati dr Krisna wik wik janda gatal....perlu waspada pada hey..hey Dokter Krisna.Tentu para readers lebih senang Krisna berjodoh dgn anak pembantu dibandingkan dgn janda gatal....!!!!!
Tamirah
Gak usah fikir fikir lagi langsung aja gantikan ibumu bekerja lagi dirumah pak dokter kan lumayan di gaji buat tabungan. sebagai anak pembantu mendapatkan uang dgn hasil keringat sendiri itu sangatlah berarti.
Tamirah
Modus Krisna untuk menjadikan Raisa jadi pengasuh anaknya dgn alasan kaca mobil yg retak 😄😄😄
Tamirah
Suka banget dgn visualnya. ... keren...!!
Tamirah
Mungkinkah Raisa akan bekerja di Klinik Krisna, karena klinik perlu tenaga admin utk proses data pasien.
Tamirah
Sudah biasa laki laki kaya meremehkan orang yg ekonomi nya dibawah standar alias miskin, walau pun tidak semua laki laki punya sikap spt itu.Toh bisa di tebak walau nnt banyak drama antara sang Dokter desa dgn anak pembantu Ahir nya yg bucin ya sang dokter itu sendiri.
Tamirah
Visual dari alur cerita nya keren, awal dari perkenalan yg gak sengaja' tapi akan berlanjut menjadi drama yg mengasyikkan... lanjut Thor.
Maria Ulfah
Syafakillah mama ghina ..dan keluarga
Maria Ulfah
gemezz sin😁😁😁
Pujierde
gak mungkin dok klo lena ngajak makan siang bukan belain lena ya dok tapi lena juga sadar diri dok gak mungkin lgsg ngajakin makan siang
Pujierde
terlalu berani raisa padahal ada bu lita, pak wijaya jadi jangab salahin lena juga klo dia marah karena belum apa" sudah ngajak perang klo memang raisa orang yang masa bodo tentu gak akan nyidir" lena semua orang tau kok klo lena berlebihan dandanannya
Pujierde
jadi seorang ayah itu harus punya hati plus logika bukan hanya punya gengsi jadi tau mana yang tulus dan mana yang gak tulus heran seorang dokter kok hati dan logika gak jalan
Pujierde
iya emang cocoknya namanya dokter oneng bukan dokter krisna 😄😄 laki" gak punya hati yang dia punya tuh gengsi klo dia punya hati harus bisa liat bagaimana anaknya lebih nyaman sama raisa dacal doktel oon klo kata bodel mah 😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!