Kalian percaya Transmigrasi? Percaya Jiwa manusia bisa tertukar?
Jessie Cassandra, gadis cantik yang terkenal Queen Bullying di sekolah, tak ada yang berani padanya termasuk guru, dia benci orang miskin. Secara mendadak membuat jiwanya tertukar dengan gadis yang sering ia bully.
Raya Azzahra, Korban Bully. Gadis culun dan miskin yang beruntung mendapatkan beasiswa di sekolah ternama.
=-=-=
"Kembalikan tubuh gue, cupu!" Hardik Jessie.
"B-bagaimana caranya? Aku gak tau apa yang terjadi." Raya masih heran.
"Lo pasti main dukun. Lo mau rebut kehidupan gue yang sempurna ini." Tuduh Jessie.
=-=-=
Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana jiwa mereka bisa tertukar? Bagaimana mereka menjalani hari di tubuh yang berbeda? Lantas apakah jiwa mereka bisa kembali ke tubuh asli?
=-=-=
Penasaran? Ikuti kisahnya. Jangan lupa beri dukungan LIKE, COMMENT, VOTE dan FAVORIT.
LOVE YOU~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shopping
*
Raya fokus menyetir, sedangkan Jessie duduk di sampingnya sambil menatap lurus ke depan.
Jessie menatapnya ragu"Kita mau kemana?"
"Nanti juga tau." Balasnya singkat, lalu melirik balik "Dompet gue." Ia menengadahkan tangan.
Segera Jessie membuka tas lalu mengambil dompet milik Raya dan memberikannya.
Raya menerima "Lo ambil?" Matanya memicing.
"Tidak. Aku bahkan tidak membukanya, sungguh!" Seru Jessie mantap.
Tak ada kecurigaan, Raya a.k.a Jessie yang asli tau bagaimana sifat cupu jiwa yang menempati tubuhnya itu.
Ternyata Raya mengajaknya ke rumah sakit bareng. Jessie mengernyit bingung.
"Untuk apa kita kesini?" Tanyanya heran.
"Mata ini harus di obati, minusnya gak parah dan cuma kayak kemasukan debu aja. Jadi pengobatan sedikit pasti akan sembuh total." Balas Raya menunjuk matanya sendiri.
Jessie hanya mengangguk, ia tahu pasti jiwa baru yang menempati tubuhnya itu tidak suka memakai kacamata minus. Mereka segera masuk rumah sakit, tepatnya di dokter spesialis mata.
Raya sudah mendaftar secara online semalam, jadi tentu bisa langsung bertemu dokter tanpa mendaftar ulang lagi. Jessie menunggu dengan sabar saat Raya memeriksakan mata.
"Tidak ada yang serius, minusnya tidak parah." Ujar Dokter itu setelah memeriksa "Jika mau nanti besok kita langsung lakukan terapi untuk membuat penglihatan kembali normal. Tapi biayanya--..."
"Jangan pedulikan biaya, berapapun saya bayar." Raya berkata tegas.
Dokter mengangguk "Besok sore anda bisa datang kembali kesini, kita lakukan pengobatan langsung karena saya harus mempersiapkan peralatannya."
"Oke. Besok saya kesini. Terimakasih."
Raya dan Jessie keluar dari sana lalu berjalan menuju mobilnya terparkir. Jessie meliriknya "Terimakasih."
"For what?" Raya mengernyit.
"Kamu menjalani pengobatan mata, artinya kamu juga mengobatiku." Ucap Jessie tersenyum.
Raya mengerti maksudnya "Selama gue di tubuh lo, gak akan gue biarin tubuh ini lecet sedikitpun." Serunya tegas.
Jessie mengangguk paham, ia tersenyum. Apapun alasannya, tetap saja dia membantu dirinya.
"Kita akan kemana lagi?" Tanya Jessie setelah mereka masuk ke mobil.
Raya tersenyum, matanya berbinar "Bersenang-senang."
Tidak mengerti apa maksudnya, Jessie hanya menurut. Kali ini Raya mengemudikan mobil menuju salon langganannya. Mereka berdua masuk bersama.
Pegawai salon disana melihat kedatangan mereka langsung mendekat dengan wajah paling sopan "Selamat datang Nona Jessie." Sapanya.
Jessie terdiam mematung, lalu melirik Raya yang terlihat mendengus. Raya lupa, jika kini bukan di tubuh aslinya. Jadi wajar jika para pegawai itu mengabaikan dia dan memilih tunduk pada Raga Jessie, alias jiwa Raya yang asli.
"Nona, anda ingin apa? Potong rambut? Mandi susu? Atau lainnya? Kami siap melayani anda." Ucap para pegawai begitu lembut.
Raya berdehem singkat, Jessie paham itu "Mba, dia yang mau perawatan." Ucap Jessie tersenyum canggung sambil menunjuk Raya.
Semua pegawai langsung melirik Raya. Raya mengeluarkan blackcard miliknya dengan tampang songong.
Melihat blackcard itu, langsung semua pegawai mendekati Raya dan bertanya dengan sopan.
"Saya mau perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki. No lecet satu titikpun." Serunya tegas.
"Baik Nona, silahkan ikut kami." Pegawai itu mempersilahkan.
Raya melirik Jessie "Lo juga."
"Hah? Aku?"
"Gak ada bantahan." Raya melotot, Jessie terpaksa mengangguk setuju.
Mereka mulai melakukan perawatan. Jessie hanya di poles sedikit, sedangkan Raya seperti di ubah total. Raya memakai softlen, untuk melindungi matanya sebelum pengobatan besok. Rambutnya dijadikan sedikit bervolume juga bergelombang rapi, warna hitam pekat, merasa jidatnya sedikit lebar jadi Raya meminta dibuat poni agar menambah kesan imut. Perawatan wajah juga ia lakukan, beruntungnya tidak berjerawat atau berminyak jadi tidak jadi masalah. Raya juga membersihkan tubuhnya agar menjadi putih mulus bersih.
Raya tersenyum puas menatap dirinya yang sekarang, kulitnya dari dulu putih jadi itu nilai plus. Jessie sendiri menatap Raya tidak berkedip, tidak menyangka jika mantan tubuhnya itu bisa secantik ini.
"Kendalikan tatapan lo, gue masih normal." Cetus Raya.
"Aku cuma kaget aja. Ternyata aku cantik." Jessie menyengir kuda.
"Gue yang cantik, bukan lo." Protes Raya, dia yang mempercantik diri tapi seenaknya Jessie mengaku.
"Baiklah." Pasrah Jessie tak ingin membantah.
Raya mendekati kasir "Dua orang."
Kasir mengangguk, mulai menghitung "Totalnya seratus dua puluh juta."
Raya membayar menggunakan blackcard, Jessie menganga tidak percaya 'Semahal itu? Biasanya aku kalo potong rambut cuma dua pukuh ribu.'
Setelah pembayaran berhasil, mereka kembali ke mobil dan Raya yang tentunya menyetir. "Oke, waktunya shopping." Serunya berbinar.
"Shopping?" Ulang Jessie.
"Ya Shopping. Masa gue udah cantik gini tapi pakaiannya kayak gembel. Kan gak mungkin." Cibir Raya sepedas cabai satu Ton.
Lagi dan lagi Jessie hanya bisa pasrah, entah berapa uang lagi yang akan Raya keluarkan dalam sehari ini.
Sesampainya di mall, Raya benar benar kalap. Dia langsung menyerbu toko pakaian dan memilihnya sesuka hati tanpa melihat harga yang tertera.
Jessie mengikuti, ia melihat banyak baju bagus yang ia tebak harganya sangat mahal. Spontan karena penasaran, ia melirik bercode baju. Matanya membola sempurna 'Lima belas juta? Ya ampun, ini bayar pake uang atau daun?' Pekiknya ngeri.
Raya meliriknya "Ambil yang lo mau."
"Hah? Tidak. Aku gak punya uang." Balas Jessie menolak.
"Gue bayarin." Tawar Raya.
"Tidak usah--..."
"Gak usah naif, lo butuh." Cetus Raya sinis.
Jessie terdiam, perkataan Raya barusan sepertinya tidak asing. Tapi dia mendengarnya dimana?
"Ngapain lo bengong? Ambil apapun yang lo mau, gak usah mikiran harga." Celetuk Raya membuyarkan lamunan Jessie "Tapi gak usah geer ya, gue beliin lo karna gue gak mau tubuh gue pake pakaian yang lama." Lanjutnya.
"Apa boleh beneran? Gratis? Kamu gak akan menagih kembali kan?" Cecar Jessie bertanya, ia takut jika nanti diminta mengembalikan semua uang Raya. Ia tidak mau berhutang.
"Lo pikir gue renternir Ha?!" Raya melotot tajam, Jessie langsung menggeleng "Cepat ambil. Gue gak suka mengulang ucapan gue."
Tidak mau membuat Raya semakin marah, Jessie langsung mengambil beberapa pakaian yang menurutnya bagus dan tentu ada beberapa yang Raya pilihkan untuknya. Raya tidak ingin jika Jessie memilih pakaian yang norak.
"Total ada 250 juta." Ucap kasir, Raya memberikan blackcard miliknya.
Setelah membayar, Raya langsung memakai pakaian yang ia beli. Sungguh tidak betah dengan pakaian murahnya itu. Tak hanya membeli pakaian, Raya juga mampir ke beberapa toko fashion lainnya. Seperti sepatu, tas, skincare, aksesoris dan lainnya.
"Jumlah keseluruhan 180 juta."
"Semua 110 juta."
"Ini 270 juta."
Beberapa lagi Jessie membuka mulut lebar, entah berapa uang yang Raya gunakan hari ini. Hampir satu Milyar uang Raya belanjakan. Bahkan mereka berdua menenteng banyak paperbag. Ah tidak, lebih tepatnya Raya yang lebih banyak belanjar. Sedangkan Jessie hanya sekitar lima paperbag.
"Ah ya satu lagi yang belum beli." Ucap Raya mengingat sesuatu.
"Apa?" Tanya Jessie.
"Handphone." Raya bergegas menuju toko handphone. Jessie mengikutinya pasrah.
Raya memilih handphone keluaran terbaru yang harganya tiga puluh juta lebih. Mendengar harganya, Jessie lagi dan lagi menahan nafas. Harganya sangat mengerikan.
Setelah di rasa keperluan sudah lengkap, mereka mampir ke cafe di dalam mall. Semua paperbag mereka diletakkan di bawah meja.
"Pesan apa Nona?" Pelayan menghampiri meja mereka.
"Steak with mushroom sauce 2, minumannya avocado juicy 2." Ucap Raya tanpa melihat menu makanan, dia beberapa kali kesana dan itulah makanan favoritnya.
"Baik, silahkan tunggu sebentar." Pelayan itu pergi.
Jessie menatap Raya "Kenapa langsung pesan dua?" Tanyanya.
"Why? Lo gak mau?" Raya mengangkat sebelah alisnya.
"Bukan gak mau sih, tapi aku bahkan belum liat menu makanannya. Kamu gak tanya aku mau makan apa? Gimana kalo aku gak suka?" Jessie bertanya.
"Lo pasti suka pilihan gue dan gue gak bisa biarin lo pesen sendiri. Pasti lo mau nanya tempe bacem." Cibirnya sinis, beberapa kali Bu Indah memberinya tempe bacem karna bilang anaknya suka itu.
Jessie menyengir kuda "Itu enak."
Raya memutar bola matanya malas. Ia memilih sibuk memainkan handphone barunya. Sedangkan Jessie melirik kanan kiri memperhatikan sekitar. Ia tidak pernah kesana.
...----------------...