Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pagi di Ciwidey dengan selimut kabut tipis membuat udara dingin menyusup pelan, membawa aroma belerang dengan napas menyembul dari kawah.
Kawah putih terbentang sunyi dengan danau berwarna biru kehijauan pucat itu, tampak seperti lukisan yang belum tersentuh kaki manusia.
Tak terlalu banyak pengunjung karena ini bukan akhir pekan, tempat ini nampak lenggang.
Rania mengenakan jacket berwarna krem tebal dan celana berwarna krem senada, tak lupa kepalanya mengenakan kupluk hitam----dengan rambut keriting panjang di biarkan tergerai.
Matanya berbinar tatkala mengangkat kamera dan membidik pantulan langit, di permukaan danau kawah putih Ciwidey yang pucat.
Klik.
Arga melihat istrinya menikmati hobinya memotret alam keindahan kawah putih.
Pria itu mengenakan jacket tebal warna hijau tua yang menjadi warna kesukaannya----dengan celana panjang warna hitam panjang yang tebal.
"Bagaimana hasil fotonya?" tanya Arga mendekati sang istri yang tengah memotret.
"Bagus...," ujar Rania dengan lirih, dan tak segan Rania memberikan hasil jepretan fotonya.
Arga tersenyum melihat istrinya amat bahagia, senyum di wajah Rania yang amat di rindukan Arga selama ini.
"Mas liat ini, mau taruhan nggak," kata Rania dengan senyuman memperlihatkan hasil fotonya.
Arga menatap istrinya memiringkan kepalanya dan keningnya sedikit berkerut, "taruhan apa?" tanya Arga.
"Jika foto ini laku di jual di photo stock sampai besok, aku akan traktir es krim."
Rania tersenyum menatap suaminya.
Tiba-tiba, angin berhembus dengan rambut Arga yang pendek lurus terbang di terpa angin.
Dan rambut Rania yang keriting panjang juga terbang tertiup angin----angin berhembus menerpa mereka dengan aroma belerang yang menyengat.
Di belakang Arga memeluk Rania yang sedang asyik memotret, kedua tangannya melingkar di tubuh Rania, dari atas sana keduanya menikmati dingin dengan aroma belerang di langit kawah putih.
"Kamu kelihatan seneng," ujar Arga bicara sambil memeluk Rania.
Rania menoleh ke samping saat dagu Arga di taruh di bahu Rania, lalu gadis berambut keriting panjang itu bicara pada sang suami apa yang membuatnya bahagia.
"Ya wajar aku bahagia, karena kamu izinin aku photografi dan tetap biarin aku kerja sebagai penjual photo freelance," kata Rania amat bahagia.
Arga mencium pipi sang istri lantaran dirinya bisa mendekati Rania, karena itulah Rania amat bahagia---hobi sekaligus pekerjaan yang amat di cintainya akhirnya di dukung oleh sang suami.
Menurut Rania ini semua sudah lebih dari cukup.
"Ibu emang sengaja milih hari biasa biar sepi," kata Arga dengan tersenyum yang setia memeluk Rania dari belakang.
"Mas...lepasin nanti ada orang yang liat," tegur Rania yang pipinya sudah memerah.
"Ya biarin mereka liat," sahut Arga yang masih setia memeluk Rania.
"Kita belum foto bulan madu," kata Arga.
"Bawa tripod nggak?" tanya Rania.
Arga menggelengkan kepalanya, dan Rania hanya menghelakan napas lalu dari tas ranselnya mengeluarkan tripod dengan remot.
"Ini apa?" tanya Arga, heran mengernyitkan keningnya.
"Ini Tripod," jawab Rania.
Arga masih bingung, lalu Rania meminta ponsel Arga untuk di sambungkan pada bluetooth.
"Nah udah kaya gini tinggal foto deh," kata Rania.
Arga tersenyum ternyata kalo soal teknologi Rania lebih cerdas darinya.
"Kamu pinter juga...," ujar Arga.
"Ya aku juga bisa dikit-dikit buat website," jawab Rania.
"Kamu belajar darimana semua ini?" tanya Arga.
Rania yang sibuk merapikan barang-barangnya menjawab sang suami dengan santai, "dulu aku waktu kuliah ngambil jurusan sistem informasi, dan aku ikut organisasi design kebetulan minat aku di photograpy."
Rania menjelaskan kepada sang suami mengenai dirinya.
"Lalu aku juga ikut pelatihan pembuatan website di kampus, aku juga ngembangin waktu lulus kuliah sambil kerja freelance jual beli foto lewat online," jelas Rania membawa tas ranselnya yang berisi alat photograpy.
Arga tersenyum dan tak salah dirinya memilih istri, selain cantik juga cerdas----kenapa dulu dirinya amat bodoh dan tak memilih Rania sejak awal.
"Mas!" ucap Rania sambil tangannya menggoyang-goyangkan di depan wajah Arga yang melamun.
"Eh iya," suara Arga dengan kaget.
"Ayo kita kebawah turun, nanti nggak kedapatan ontang-anting loh," ajak Rania yang mengandeng tangan suaminya.
Arga tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya, dan Rania menatap Arga juga meminta sang suami menjelaskan soal selama dia kuliah.
Keduanya berjalan menuruni tangga, sambil berbicara mengenal satu sama lain.
"Dulu aku ngambil jurusan Teknik industri, dan aku juga magang di kantor minyak tempat aku bekerja sekarang," jelas Arga.
"Kenapa nggak milih cewek yang kerja di tambang aja, Mas."
"Kan cantik-cantik rambutnya lurus, bodynya pun bohay," ejek Rania dengan tertawa.
Keduanya tengah menunggu ontang-anting.
"Yah, aku suka kamu, sayang kita belum begituan jadi aku nggak tahu kamu bohay atau nggak," balas Arga dengen terkekeh.
Rania mencubit lengan Arga yang tertutup jacket tebal, sayang tak berasa.
"Nanti setiap aku libur aku mau ajak jalan kamu ke alam," ujar Arga menghibur istrinya yang mulutnya maju.
Rania langsung berbinar mendengar itu lalu kembali memeluk sang suami.
"Beneran?" kata Rania dengan mata berbinar.
"Beneran, kalo bohong hidung tambah mancung," kata Arga.
"Emang di kira pinokio," sahut Rania.
Keduanya nampak sudah akrab satu sama lain, hanya saja keduanya belum melakukan hubungan badan----Arga masih menepati janjinya agar tak menyentuh Rania sebelum dapat izin.
Langit Ciwidey yang mendung dengan kabut.
Hawa dingin yang terasa, seolah menjadi hangat dengan canda tawa pasangan suami istri yang mulai dekat satu sama lain.
Rania merasa traumanya hilang sedikit demi sedikit, meskipun Arga belum mendapatkan izin untuk menyentuh Rania----tetap saja Arga akan menjaga Rania sesuai amanat ayah mertuanya.
*
*
*