Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Bayangan di Bahu dan Bubur Kacang Hijau
Hujan gerimis kembali turun membasahi Yogyakarta malam itu. Suara tik-tik-tik air yang jatuh di atap terpal warung terdengar ritmis, seharusnya menenangkan. Namun bagi Alya, suara itu terdengar seperti ribuan kaki serangga yang merayap.
Sudah dua hari sejak penyerbuan ke Gedung Kesenian Cempaka. Fisik Alya baik-baik saja, tidak ada tulang yang patah. Tapi ada yang salah dengan pundaknya.
Noda hitam bekas tepukan Mbah Suro di halte waktu itu tidak hilang. Awalnya hanya seukuran telapak tangan, sekarang noda itu mulai "tumbuh". Garis-garis hitam halus seperti akar tanaman merambat perlahan menjalar ke arah leher dan dada kiri Alya.
Rasanya gatal. Gatal yang bukan di kulit, tapi di bawah daging. Alya terus menggaruknya tanpa sadar sampai kulit luarnya lecet merah, tapi rasa gatal di dalamnya tidak berkurang.
"Alya," panggil Seno dengan suara beratnya.
Alya tersentak kaget. Dia menjatuhkan sendok yang sedang dilapnya.
Klontang!
"Maaf, Pak. Saya... ngelamun," kata Alya gugup, memungut sendok itu.
Seno menatap Alya dari balik panci besar berisi Bubur Kacang Hijau.
Bubur itu dimasak dengan santan kental, jahe emprit, dan daun pandan. Aromanya wangi dan hangat, cocok untuk udara dingin. Tapi wajah Alya justru pucat dan berkeringat dingin.
"Kamu... lihat... apa?" tanya Seno. Dia memperhatikan Alya sejak tadi sering menepuk-nepuk bahunya sendiri dan menatap sudut-sudut gelap dengan mata liar.
Alya menggeleng cepat. "Nggak ada apa-apa, Pak. Cuma kurang tidur."
Itu bohong.
Sejak tadi sore, Alya mulai melihat hal-hal aneh.
Saat dia melihat butiran kacang hijau di panci, dia tidak melihat kacang. Dia melihat telur lalat hijau yang berdenyut-denyut.
Saat dia melihat uap air, dia melihat asap berbentuk wajah Mbah Suro yang menyeringai.
Dan saat dia menggaruk bahunya, dia merasa ada sesuatu yang bergerak di bawah kulitnya.
Ini adalah fase kedua santet Mbah Suro: Gendam Halusinasi. Tujuannya untuk membuat korban gila perlahan sebelum organ dalamnya rusak.
Kring!
Lonceng sepeda berbunyi.
Seorang pelanggan datang.
Seorang nenek tua bungkuk, mengenakan kebaya lusuh dan menggendong bakul berisi bunga melati dan kenanga. Bau bunga dagangannya sangat menyengat, menutupi aroma bubur kacang hijau.
"Nak... beli buburnya satu ya. Dibungkus," suara nenek itu serak dan gemetar.
Alya mencoba fokus. Ini cuma nenek-nenek biasa. Jangan takut.
"Iya, Mbah. Pakai santan?"
"Iya... yang banyak santannya," jawab si Mbah sambil tersenyum. Gigi-giginya hitam karena sirih.
Alya menyendokkan bubur ke dalam plastik.
Tiba-tiba, penglihatannya kabur lagi.
Bubur yang dia sendok berubah menjadi cairan darah kental yang penuh dengan belatung.
"KYAA!" Alya menjerit, melempar gayung bubur itu kembali ke panci.
Cipratan bubur panas mengenai tangannya.
"Panas!"
Seno segera bertindak. Dia mematikan api, lalu menarik tangan Alya, mencelupkannya ke ember air dingin.
"Tenang... Alya... Tenang..."
"Itu darah, Pak! Itu belatung!" Alya histeris, menunjuk panci bubur.
Seno melihat ke dalam panci. Isinya normal. Bubur kacang hijau yang lezat.
Seno menatap tajam ke arah nenek penjual bunga itu.
Nenek itu masih tersenyum. Senyumnya melebar aneh. Terlalu lebar untuk ukuran mulut manusia normal.
Gulo, yang sedang tidur di atap gerobak, terbangun. Dia mencium bau yang salah.
Dia mendesis marah pada nenek itu, bulu kuduknya berdiri.
Krrhhhuuu!
Nenek itu menatap Gulo sekilas, lalu matanya kembali ke Alya.
"Kenapa, Nak? Kok takut? Padahal buburnya enak lho. Mbah suka makan yang hidup-hidup."
Kata-kata itu memicu sesuatu di kepala Alya.
Dunia Alya berputar. Warung tenda itu serasa meleleh. Dia melihat nenek itu berubah wujud. Kulitnya mengelupas, memperlihatkan daging merah. Bakul bunganya berubah menjadi keranjang berisi kepala manusia.
Alya mundur ketakutan, menabrak meja.
"Pergi! Jangan deket-deket!"
Seno melepaskan tangan Alya. Dia mengambil segenggam garam kasar dari toples.
Dia tidak melemparnya. Dia menggenggamnya erat, memusatkan energi batinnya, lalu berjalan keluar dari balik gerobak, menghampiri nenek itu.
Nenek itu tidak mundur. Dia malah terkekeh.
"Heh heh heh... Koki Bisu sudah bisa bicara ya? Tapi matamu masih buta. Kau tidak lihat racun yang sudah kutanam di asistenmu?"
Seno berdiri menjulang di depan nenek bungkuk itu.
"Kau... bukan... manusia," geram Seno.
Seno menaburkan garam itu membuat lingkaran mengelilingi si nenek.
Srrrt.
Garam itu menyala biru saat menyentuh tanah.
Nenek itu menjerit. "Panas! Dasar Koki sialan!"
Tubuh nenek itu berasap. Wujud manusianya luntur.
Dia ternyata bukan nenek-nenek. Dia adalah Banaspati Tanah—bola api yang menyamar menjadi manusia untuk menyebarkan penyakit.
Bola api itu melesat terbang ke atas, meninggalkan bakul bunganya yang ternyata berisi sampah busuk.
"Tunggu saja! Tiga hari lagi akar itu akan sampai ke jantungnya! Gadis itu akan mati kaku!" teriak suara gaib dari langit sebelum menghilang.
Alya merosot duduk di tanah, memegangi kepalanya yang pening. Halusinasinya perlahan hilang. Bubur kembali menjadi bubur. Tapi rasa takutnya menetap.
"Pak..." Alya menangis. "Saya kenapa? Saya gila ya?"
Seno berjongkok di depan Alya. Wajahnya khawatir. Dia memeriksa bahu Alya lagi.
Garis-garis hitam itu sudah memanjang, hampir menyentuh pangkal leher.
Seno mengambil papan tulisnya (karena suaranya masih terbatas untuk penjelasan panjang).
INI BUKAN GILA. INI 'AKAR MIMANG'. SANTET YANG MENGIKAT JIWA DAN PIKIRAN. MBAH SURO MENANAMNYA DI BAHUMU.
JIKA AKAR INI SAMPAI KE JANTUNG, KAMU AKAN TERJEBAK DALAM MIMPI BURUK SELAMANYA DAN TUBUHMU AKAN MATI.
"Terus obatnya apa, Pak? Dokter kulit?" tanya Alya putus asa.
Seno menggeleng. Medis tidak bisa menyembuhkan luka spiritual.
SAYA BISA MEMASAK UNTUK MEREDAKAN GEJALANYA. TAPI UNTUK MENCABUT AKARNYA SAMPAI TUNTAS... KITA BUTUH AHLI.
"Ahli apa? Dukun lagi?"
Seno menatap ke arah Selatan, ke arah pesisir Bantul.
BUKAN DUKUN. TAPI TABIB. SAHABAT LAMA SAYA YANG DULU PERNAH SAYA SELAMATKAN DARI KELAPARAN.
DIA SEKARANG MEMBUKA PRAKTEK DI PASAR SETAN.
"Pasar... Setan?" Alya menelan ludah. Namanya saja sudah tidak enak didengar.
Seno mengangguk.
PASAR BUBRAH MERAPI. DI SANA ADA TABIB YANG BISA MENGOPERASI JIWA. KITA HARUS KE SANA BESOK.
Seno berdiri, membantu Alya bangkit. Dia mengambil semangkuk bubur kacang hijau yang masih hangat.
Dia membacakan doa sebentar, lalu menyuapkan satu sendok ke mulut Alya.
"Makan... Lawan... takutmu."
Alya memaksakan diri menelan.
Rasanya manis, hangat, dan nyata. Rasa bubur itu mengusir sisa-sisa bayangan belatung di kepalanya.
Masakan Seno adalah satu-satunya penawar sementara yang membuat Alya tetap waras malam ini.
Tapi waktu terus berjalan. Akar hitam di bahunya terus merambat, pelan tapi pasti, mencari jalan menuju jantung.
Mbah Suro di kantornya yang mewah sedang tertawa sambil memutar-mutar gelas wine-nya. Dia tahu dia tidak perlu menyerang fisik lagi. Dia cukup menunggu benih ketakutan itu membunuh musuhnya dari dalam.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS
jago sekali anda merayu eyang banaspati, amarah melunak ,melebur dalam cita rasa ,aroma khas nusantara.
kereen thor, tetap semangat yaa mengetik karya indah.
menyusun kalimat perkata dengan ketelitian ekstra
sepanjang apik runut no typo
ciamik
endah thor, ora bakal cukup ratusan mangsi
horor tapi beda, auranya gak menakutkan.
perjuangan remaja putri yang merasa tidak dapat kasih sayang ,kenyamanan hidup bersama keluarga.
diambang putus asa malah ketemu sosok misterius yang terbelenggu perjanjian , pertukaran nyawa demi sang terkasih, meski tragis ...
pada akhirnya cinta tak berpihak padanya.
hanya bisa memandang dari kejauhan.
ketulusan kasih tanpa perhitungan .
memendam bara asmara seorang diri ,menuangkan rasa lewat cita masakan ,walau beda alam.
semoga di penghujung pak seno bisa menemukan kebahagiaan sejati..
bersama alya saling membantu terlepas dari kerumitan sebuah janji
adakah semua ini terinspirasi dari sana thor? atau hanya suatu kebetulan belaka?
tapi kepala yang ditanam di undakan itu desas desusnya adalah seorang penghianat? benarkah ? atau hanya cerita dongeng untuk kita selalu bersikap baik ,tulus? sebab konon barang siapa yang menginjak undakan yang ada kepalanya itu sudah dianggap menginjak nginjak harga diri sebagai hukuman sang kepala?
yang memberi pelajaran berharga buat alya.
seburuk apapun keluarga adalah tempat pulang.
tempat yang nyaman dibanding keganasan hidup diluaran.