NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan gelap

Saat langit masih gelap, Ares sudah bangun lebih dulu dari biasanya. Ia menoleh sekilas pada Elina yang masih tertidur lelap di sisinya, lalu bangkit perlahan agar tak menimbulkan suara. Tanpa banyak pikir, ia langsung masuk ke dalam toilet.

Tak selang lama, Ares keluar dengan pakaian kerja yang sudah rapi. Wajahnya terlihat tegang, seperti seseorang yang menyimpan rencana besar. Ia bergegas keluar kamar, mengambil kunci mobil, lalu meninggalkan rumah tanpa berpamitan.

Setelah satu jam perjalanan, Ares menepikan mobilnya di depan sebuah rumah yang terlihat mewah dan terawat. Dari luar, bangunan itu tampak tenang, namun justru menimbulkan rasa was-was di dadanya.

Sebelum turun dari mobil, Ares menatap sekeliling untuk memastikan situasi aman. Setelah merasa tak ada yang mencurigakan, ia keluar dari mobil dan melangkah ke pagar.

Ting! Tong!

Ia menekan bel di samping pagar. Tak lama kemudian, seorang pria baya muncul dan membuka pagar.

"Cari siapa, Tuan?" tanyanya sopan.

"Saya ingin bertemu dengan Pak Bayu?" ucap Ares.

"Apakah Tuan sudah memiliki janji sebelumnya?"

Ares mengangguk. "Katakan pada Pak Bayu, Ares dari direktur perusahaan Anderson Group Internasional."

Mendengar nama perusahaan internasional itu, raut wajah penjaga sedikit berubah. Ia tampak terkejut, lalu segera membukakan pintu lebih lebar dan mempersilahkan Ares masuk.

"Tuan Ares, Pak Bayu sebentar lagi akan datang. Silahkan tunggu sebentar."

Ares hanya mengangguk, wajahnya tetap datar, meski di dalam dadanya jantungnya berdetak lebih cepat.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat dari dalam ruangan.

"Tuan Ares," ucap Bayu menyapa.

Ares membalas dengan anggukan singkat.

Bayu duduk di salah satu sofa single, sementara beberapa pelayan datang membawa minuman dan cemilan, lalu meletakkannya di meja kecil di antara mereka.

Bayu menatap Ares penuh selidik, jemarinya bertaut di atas paha.

"Sepertinya urusan Tuan Ares cukup penting sampai harus datang sepagi ini."

Ares menyandarkan punggung, tatapannya lurus ke depan. "Saya tidak suka membuang waktu, Pak Bayu. Apalagi untuk urusan yang menyangkut... aset."

Bayu mengangkat alis. "Aset?"

Ares tersenyum tipis. "Saya butuh bantuan Anda untuk beberapa kepemilikan perusahaan. Secara... administratif."

Bayu terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan. "Kalau ini soal pengalihan saham, Anda datang ke orang yang tepat. Tapi saya perlu tahu, ini perintah resmi perusahaan atau urusan pribadi?"

"Dua-duanya," jawab Ares tanpa ragu.

"Anderson Group Internasional punya beberapa anak perusahaan: divisi fashion, properti dan saham pasar modal. Saat ini semuanya masih berada di bawah nama... istri saya."

Bayu menatap tajam. "Istri Anda? Elina Aurelia Anderson?"

Ares mengangguk. "Saya ingin mulai memindahkan kepemilikan itu. Pelan-pelan. Tanpa menimbulkan kecurigaan."

Bayu menyilangkan tangan. "Tuan Ares, Anda tahu resikonya. Pengalihan aset tanpa persetujuan penuh pemilik bisa berujung masalah hukum."

Ares mencondongkan tubuhnya. Suaranya diturunkan, dingin. "Saya bukan ingin mencuri, Pak Bayu. Saya hanya... mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik saya sebagai suaminya."

Bayu tersenyum samar. "Dunia hukum tidak mengenal kata seharusnya, Tuan. Yang ada hanya hitam di atas putih."

Ares mengeluarkan map tipis dari tas kerjanya, lalu mendorongnya ke arah Bayu. "Di dalam itu ada salinan kuasa direksi, kontrak lama, dan celah-celah yang bisa kita manfaatkan. Anda hanya perlu memastikan, dalam waktu dekat, beberapa saham strategis Anderson Group berpindah ke nama saya... atau setidaknya ke perusahaan bayangan."

Bayu membuka map itu perlahan. Matanya menyipit membaca satu per satu dokumen. "Kalau ini berhasil," gumamnya, "Istri Anda bahkan tidak akan sadar sampai semuanya terlambat."

Sudut bibir Ares terangkat tipis.

"Itu memang rencananya."

“Ini semuanya akan sulit…”

“Soal biaya tidak akan menyulitkan, kan?” potong Ares dengan senyum miring.

Bayu mengangguk kecil, lalu membalas dengan senyum serupa.

“Berapa pun yang dibutuhkan, pastikan urusan ini selesai,” ucap Ares dengan nada tegas yang tak memberi ruang tawar-menawar.

“Satu miliar,” ucap Bayu singkat.

Mata Ares terbelalak, menatap Bayu yang masih mempertahankan senyum miring di bibirnya.

“Satu miliar tidak akan sebanding dengan apa yang Tuan Ares akan dapatkan nanti,” lanjut Bayu santai, seolah angka itu tak berarti apa-apa.

Ares terdiam. Ia sama sekali tak menyangka nominalnya akan sebesar itu. Dadanya mengeras, pikirannya berputar cepat menimbang risiko dan keuntungan.

Melihat Ares terdiam, Bayu justru tersenyum semakin tipis, lalu meletakkan kembali map yang sebelumnya diberikan Ares ke atas meja.

“Apabila Tuan Ares tidak sanggup…”

“Saya siap menanggung seluruh biayanya, asalkan semua aset itu resmi berpindah ke tangan saya.”

Bayu menautkan jemarinya di atas lutut, sorot matanya mengeras, membaca keseriusan lawan bicaranya.

“Baik,” ucapnya akhirnya. “Kalau begitu, kita akan bermain rapi.”

Ares mengangkat wajahnya, sorot matanya kini dipenuhi antisipasi.

“Saya akan memulai dari anak perusahaan kecil lebih dulu,” lanjut Bayu tenang. “Divisi yang jarang diperhatikan istri Anda—perusahaan fashion dan satu holding properti. Kita ubah struktur direksi, sisipkan nama orang kepercayaan Anda, lalu dari sana aliran saham bisa dialihkan secara bertahap.”

Ares menyeringai tipis. “Berapa lama prosesnya?”

“Dua minggu pertama hanya pengondisian. Satu bulan, Anda sudah memegang kendali lebih dari tiga puluh persen aset strategis.”

Bayu berhenti sejenak, lalu menatap Ares lebih dalam, seolah memastikan komitmen pria di hadapannya.

“Dan setelah itu… semua akan terlihat seperti keputusan bisnis biasa.”

Ares mengangguk puas. Dadanya terasa lebih ringan, seakan sebagian besar beban yang selama ini menekan akhirnya menemukan jalan keluar.

"Saya ingin satu hal," ucapnya dingin. "Jangan sampai Elina mencium apa pun."

Bayu tersenyum tipis penuh keyakinan. "Tenang saja, Tuan Ares. Istri Anda terlalu sibuk menyelamatkan perusahaan. Dia tidak akan sadar bahwa fondasinya sedang Anda cabuti satu per satu.

Ares berdiri, merapikan jasnya dengan gerakan tenang. "Transfer pertama saya kirim hari ini."

Bayu ikut berdiri dan berjabat tangan Ares dengan erat.

"Selamat datang di permainan sesungguhnya, Tuan Ares."

Dalam perjalanan pulang, Ares menatap jalanan yang masih lengang dengan perasaan bergejolak. Lampu-lampu kota berpendar samar di balik kaca mobil, sementara benaknya dipenuhi bayangan wajah Elina yang selalu tampak tenang dan percaya diri.

"Sebentar lagi," gumamnya pelan, tangannya mencengkeram setir.

"Semua yang kamu bawakan.... akan jadi milikku."

Selesai urusannya dengan Bayu, Ares tidak langsung pulang, melainkan bertolak ke lokasi berikutnya. Ia memacu mobilnya menembus lalu lintas pagi yang mulai padat, pikirannya masih dipenuhi rencana yang baru saja disepakati.

Tak selang lama, mobilnya berhenti di depan sebuah apartemen yang menjulang tinggi di tengah kota. Gedung itu tampak eksklusif, menjadi simbol gaya hidup kelas atas yang selama ini ia idamkan sepenuhnya.

Ares turun dari mobil, merapikan jasnya sekilas, lalu melangkah masuk ke lobi dengan wajah dingin seolah ini hanya kunjungan biasa. Satpam yang mengenali hanya mengangguk singkat tanpa banyak tanya.

Di dalam lift, Ares menekan tombol lima belas. Pintu besi itu menutup perlahan bayangan wajahnya yang tegang di dinding kaca.

Ding!

Pintu lift terbuka. Ares melangkah keluar menuju koridor lantai lima belas yang sunyi. Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu apartemen yang tampak mewah namun sepi.

Ting! Tong!

Tak lama kemudian pintu terbuka, memperlihatkan seorang pemuda di baliknya.

"Dengan Tuan Ares," ucap pemuda tersebut.

Ares mengangguk. "Pak Dirga?"

Pemuda itu kembali mengangguk, lalu membuka pintu lebih besar, mempersilahkan Ares masuk ke dalam.

"Ada keperluan apa Tuan Ares kemari?" tanya Dirga sambil menaruh minuman kaleng di atas meja.

"Saya butuh Anda mengalihkan dana perusahaan ke rekening saya, lakukan dengan cara yang tidak meninggalkan jejak," ucap Ares tanpa basa-basi. "Buat semuanya terlihat legal di atas kertas, tapi hasil akhirnya tetap sama—uang itu berada di tangan saya."

“Sepertinya Tuan Ares memang mencari saya,” kata Dirga dengan senyum tipis. “Tapi saya harap Anda sudah siap dengan konsekuensinya—termasuk soal biaya.”

“Biaya tidak jadi masalah bagi saya,” jawab Ares singkat.

“Satu miliar…” ucap Dirga pelan.

Lagi-lagi Ares terkejut, meski ia berusaha menyembunyikannya di balik wajah datar.

“Bagaimana, Tuan? Itu terbilang paling murah sebab Anda akan mendapatkan keuntungan lebih besar dari saya.”

Ares terdiam sejenak, menimbang dalam hati, lalu mengangguk. “Baik, saya sanggup. Lakukan semuanya dengan rapi.”

Setelah diskusi panjang, Ares pamitan dengan senyum puas. Ia melangkah keluar apartemen dengan keyakinan baru—sebentar lagi apa yang ia inginkan akan segera terwujud, walau harus mengeluarkan uang yang baginya tak seberapa.

“Dua miliar tidak seberapa dengan apa yang nanti akan aku dapatkan,” gumamnya lirih.

Sementara itu, Dirga berdiri di balkon apartemennya, menatap mobil Ares yang perlahan pergi meninggalkan area apartemen dengan senyum penuh arti di bibirnya.

Dring! Dring!

Suara ponselnya langsung saja ia angkat.

“Bagaimana?” ucap seseorang di seberang sana.

“Lancar, Non. Dia percaya dengan saya,” jawab Dirga.

“Bagus! Lakukan sesuai rencana.”

1
Ma Em
Ares pasti akan ngamuk karena sdh dibohongi sama Elina , karena kedudukan CEO yg Ares inginkan ternyata zonk .
tia
lanjut Thor
Nona Jmn: Sabar yah🫶🥰
total 1 replies
Ma Em
Sudah ga sabar nunggu kehancuran Ares dan keluarganya , Elina cepat tendang para benalu yg nempel dirumah mu .
Nona Jmn: Sabar
total 1 replies
Ma Em
Duh sdh ga sabar Ares dan keluarganya diusir dari perusahaan juga rumah Elina
tia
cepat singkirkan benalu
Nona Jmn: Sabar😭😁
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
keterlaluan area
Nona Jmn: Sabar😁
total 1 replies
kaylla salsabella
pasti si maya
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
anak buah dewa
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣 res Ares
kaylla salsabella
ayah belum tahu klu Ares selingkuh
kaylla salsabella
nah khawatir kan kamu res 🤣🤣
kaylla salsabella
lanjut thor
Nona Jmn: Besok ya kakak🥰 jangan lupa vote🙏😭🫶🫡
total 1 replies
@Mita🥰
😍😍😍
Nona Jmn
Besok ya kakak🥰
tia
lanjut Thor
kaylla salsabella
ooo ku kira Elina udah yatim piatu 🤭🤭
Ma Em
Semoga Elina selamat dari para benalu yg mau menguasai semua harta kekayaan nya , jgn sampai si mokondo Ares juga keluarganya yg benalu berhasil menguasai semua harta Elina .
kaylla salsabella
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!