Vilov tidak pernah berniat jatuh cinta dua kali.
Awalnya, ia yakin Putra adalah sosok yang tepat—hadir, hangat, dan selalu ada di sisinya.
Namun satu tatapan pada Tora mengubah segalanya.
Tora bukan siapa-siapa bagi Vilov. Ia dingin, pendiam, dan bahkan tak pernah menyadari keberadaannya.
Tapi sejak saat itu, hati Vilov berhenti mendengarkan logika.
Banyak yang mendekat. Banyak yang ingin memiliki Vilov.
Namun di antara tawa palsu dan hubungan yang tak pernah benar-benar ia rasakan, satu nama selalu tinggal di hatinya.
Tora.
Di usia remaja, Vilov belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki.
Akankah ia bertahan pada perasaan sepihak yang perlahan melukainya?
Ataukah ia akan memilih cinta baru—yang hadir, nyata, dan benar-benar menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Helm yang Tertinggal
Vilov mendadak mematung. Setelah kegaduhan soal motor tadi mereda, ia baru sadar akan satu hal penting : bagaimana caranya ia pulang? Matahari sudah mulai turun,jarak sekolahnya menuju jalan raya ke angkutan umum lumayan jauh.
Ia menoleh ke arah Tije yang sedang bersiap memanaskan motornya. "Tijeeeeee, gue bareng lu ya!" pinta Vilov dengan wajah memelas.
"Lu lupa ya? Gue kan boncengan sama Tika, Vil," sahut Tije.
Vilov langsung lemas. Namun, tanpa sepengetahuannya, Tika menghampiri Putra yang sudah berada di atas motor. Vilov tidak tahu apa yang mereka bicarakan, sampai akhirnya Putra menyalakan mesin motor dan mengarahkannya tepat ke depan Vilov.
Vilov kaget setengah mati. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba cowok si jersey merah itu menghampirinya. Tika kemudian naik ke motor Tije sambil berseru pada Vilov, "Naik noh! Gue udah titipin 'manusia aneh' ini ke Putra!"
Lalu Tika beralih ke Putra. "Put, titip ya manusia unik ini. Kalau dia makin aneh di jalan, turunin aja!"
Putra hanya tertawa kecil mendengar ocehan Tika. Ia kemudian menyodorkan sebuah helm kepada Vilov. Dengan tangan sedikit gemetar, Vilov menerima helm itu dan memakainya. Saat Vilov sibuk mengancingkan helm, Putra dengan sigap menurunkan injakan kaki (footstep) motornya untuk Vilov.
Perlakuan sederhana namun manis itu sukses membuat Vilov salah tingkah. Sebelum naik, ia sempat melirik ke arah Tika dan Tije sambil menjulurkan lidah—pamer karena mendapat perlakuan istimewa dari Putra. Tika dan Tije hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu.
Sepanjang perjalanan, suasana terasa canggung. Keduanya terdiam, bingung harus memulai pembicaraan dari mana karena memang baru saja saling kenal. Namun, Vilov tidak ingin kehilangan momen emas ini. Ia memutar otak mencari topik agar bisa mendengar suara Putra lagi.
"Put, ngomong-ngomong makasih ya udah mau anterin gue pulang," ucap Vilov akhirnya memberanikan diri.
"Iya, nggak apa-apa, santai aja, Vil. Searah ini sama gue," jawab Putra santai.
Hati Vilov bersorak. Setidaknya Putra tidak merasa keberatan memboncengnya. Mencoba mencairkan suasana lagi, Vilov bertanya, "Put, lu sekolah di mana?"
"SMK Negeri 1," sahut Putra singkat namun ramah.
Tak terasa, motor Putra sudah berhenti tepat di depan rumah Vilov. Vilov segera turun dan berdiri di samping motor. Karena Putra tidak langsung beranjak pergi, Vilov kembali berucap, "Makasih banyak ya, Put."
Putra tersenyum tipis. "Iya, Vil, sama-sama. Tapi... itu helm masih nyangkut di kepala lu."
Vilov tertegun. Ia meraba kepalanya dan—astaga!—ia lupa melepaskan helm Putra! Dengan gerakan cepat dan wajah merah padam, ia segera melepas helm itu dan menyerahkannya pada Putra.
"Eh, iya! Hahaha, lupa lagi gue!" seru Vilov tertawa menutupi rasa malunya yang sudah di ubun-ubun.
"Vilov, Vilov..." gumam Putra sambil menggelengkan kepala, lalu menyalakan motornya dan berlalu pergi.
Vilov memandangi punggung Putra sampai hilang di belokan jalan. Saat ia hendak masuk ke rumah, ia menyadari sesuatu. Di balik kaca jendela depan, tampak siluet sang mama yang sedang mengintip.
"Assalamualaikum, Mah! Hahaha, tumben amat ngintip dari kaca?" goda Vilov saat masuk ke rumah.
"Anak bungsu Mama ternyata udah ada yang nganter pulang, ya?" goda Mamanya balik.
"Gimana, Mah, tadi? Oke nggak pilihanku?" celetuk Vilov sambil nyengir. Sang Mama hanya tersenyum malu melihat tingkah anak bungsunya yang ternyata sudah mulai beranjak dewasa.
Vilov langsung masuk ke kamar dan membersihkan diri. Setelah segar, ia merebahkan tubuhnya di kasur. Seharian beraktivitas biasanya membuat orang lelah, tapi bagi Vilov, hari ini justru sebaliknya. Ia merasa sangat bahagia. Di sela langit-langit kamarnya, wajah Putra dan momen "helm" tadi terus berputar seperti film indah yang tak ingin ia sudahi.
Setelah puas memikirkan momen-momen manis tadi, Vilov pun akhirnya tertidur pulas di kasurnya dengan senyum yang masih tersisa. Mungkin karena hatinya sedang sangat senang, tidurnya menjadi sangat nyenyak tanpa gangguan.
Sampai keesokan paginya, sinar matahari menembus celah jendela kamarnya. Vilov menggeliat, lalu melirik ke arah jam dinding. Matanya mendadak membulat sempurna. Ia baru sadar ternyata ia tidur dalam waktu yang sangat lama saking lelah dan bahagianya. Tanpa membuang waktu, ia segera bangkit dari kasur dan menyambar handuk. Ia harus segera mandi dan bersiap-siap agar tidak terlambat sampai di sekolah.
Sesampainya di kelas, suasana masih cukup sepi karena bel masuk belum berbunyi. Vilov duduk santai di bangkunya, lalu mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya. Ia asyik berselancar di aplikasi Facebook, jempolnya lincah menggeser layar untuk melihat kabar terbaru dari teman-temannya. Namun, fokusnya buyar seketika.
"DORRRR! Wehhh, fokus amat itu mata!" teriak Tika tepat di samping telinganya.
Vilov tersentak sampai hampir menjatuhkan ponselnya. "Tuh, kan! Kemarin gue kagetin marah-marah, sekarang lu sendiri malah ngagetin gue!" protes Vilov sambil mengelus dadanya yang masih berdegup kencang.
Tika hanya tertawa tanpa merasa bersalah. "Hahaha! Baru tahu kan rasanya nggak enak dikagetin? Lagian lu serius banget. Eh... gimana kemarin?" tanya Tika dengan nada penuh selidik. Matanya menyipit, tanda ia sangat kepo dengan kelanjutan kejadian pulang bareng kemarin.
Vilov tersenyum misterius. Ia sengaja ingin mengerjai sahabatnya itu. "Ikh, lu mau tahu banget nggak, Tik?" bisik Vilov pelan sambil mendekatkan wajahnya ke arah Tika.
Tika yang sudah sangat penasaran mulai mencondongkan badannya, telinganya sudah siap menangkap informasi paling rahasia dari Vilov. Namun, bukannya bercerita, Vilov malah menjauh dan meledakkan tawanya.
"MAU TAHU AJA! HAHAHAHA!" ledak Vilov puas melihat wajah Tika yang seketika berubah masam.
"Awas lu ya! Nggak akan gue bantuin lagi kalau ada urusan sama Putra!" ancam Tika sambil pura-pura ingin beranjak pergi.
Menyadari bahwa "nasib" cintanya ada di tangan Tika—karena Tika-lah yang punya koneksi ke Putra—Vilov langsung panik. Ia segera menarik lengan Tika dan mulai mengeluarkan jurus rayuan mautnya.
"Uhhh, bercanda sayang... jangan marah dong!" rayu Vilov sambil memasang muka manis. "Gini loh, kemarin itu ya cuma ngobrol-ngobrol biasa aja di jalan. Tapi... lu mau tahu nggak sebodoh apa gue kemarin?"
Tika kembali mendekat, kali ini wajahnya terlihat sangat penasaran. "Apaan?"
"Masa pas gue udah turun dari motor dan pamitan, helmnya si Putra masih nyangkut di kepala gue! Gue nggak sadar, Tik! Hahaha!" Vilov bercerita sambil menunjuk kepalanya sendiri, membayangkan betapa malunya ia saat Putra yang harus menegurnya langsung.
Tika yang mendengar cerita itu bukannya merasa kasihan, tapi justru menepuk jidatnya sendiri dengan keras. Ia merasa tidak habis pikir dengan sahabatnya ini. "Vilov, Vilov... konyol lu itu benar-benar nggak ada obatnya ya. Bisa-bisanya terulang lagi hal kayak gitu di depan Putra!"
Mereka berdua pun tertawa bersama di dalam kelas, mengisi pagi itu dengan cerita tentang kecerobohan Vilov yang entah kenapa selalu saja muncul jika sudah berurusan dengan cowok bernama Putra itu.