Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Pagi itu, udara di sekitar Rumah Sakit Arkatama terasa begitu segar, seolah semesta turut merayakan kepulangan sang "Silent Survivor".
Dokter memberikan instruksi terakhir dengan sangat mendetail kepada Ariel, memastikan bahwa Relia tidak boleh melakukan aktivitas berat agar jahitan di dadanya tetap aman dan tidak terbuka.
"Ingat Ariel, dia butuh ketenangan. Tapi melihat apa yang terjadi di luar, sepertinya tenang akan menjadi hal yang sulit," ucap sang dokter sambil tersenyum tipis.
Saat pintu lobi utama rumah sakit terbuka, Ariel membimbing Relia yang duduk di kursi roda dengan penuh kehati-hatian. Namun, langkah mereka terhenti sejenak oleh pemandangan luar biasa di depan mata.
Halaman rumah sakit hingga jalan raya di depannya telah dipenuhi oleh ribuan orang.
Mereka bukan hanya wartawan, melainkan pembaca setia, para penyintas trauma yang terinspirasi oleh tulisan Relia, dan masyarakat umum yang mendukung keadilannya.
Mereka berdiri dalam keheningan yang penuh hormat, masing-masing memegang sekuntum mawar putih dan poster bertuliskan,
KAMI ADALAH SUARAMU, RELIA" serta "IKAT PINGGANG ITU SUDAH PUTUS
Melihat hal itu, Relia meminta Ariel untuk membantunya berdiri.
Meski Ariel sempat ragu karena luka istrinya, ia akhirnya memapah Relia dengan sangat protektif.
Relia berdiri tegak, meski wajahnya masih sedikit pucat.
Ia melambaikan tangannya perlahan ke arah massa yang langsung bersorak haru.
Beberapa orang tampak menangis, melihat sosok yang selama ini mereka baca perjuangannya kini berdiri sebagai pemenang di depan mereka.
"Terima kasih..." bisik Relia, namun suaranya seolah tersampaikan ke hati setiap orang yang hadir.
"Terima kasih telah membantuku menyambung kembali hidupku."
Ariel membukakan pintu mobil mewah mereka, memberikan perlindungan dari hiruk-pikuk massa.
Di dalam mobil, ia menggenggam tangan istrinya yang terharu.
"Mulai hari ini, hidup kita bukan lagi tentang melarikan diri, Sayang. Kita akan membangun yayasan untuk mereka yang masih bungkam di luar sana. Kamu tidak hanya menulis cerita, kamu baru saja memulai sebuah gerakan."
Relia menyandarkan kepalanya di bahu Ariel saat mobil perlahan meninggalkan area rumah sakit, dikawal oleh kepolisian dan sorak-sorai pendukung.
Ia menatap iPad di pangkuannya, lalu mengetikkan baris penutup untuk hidup lamanya:
"Luka ini mungkin meninggalkan bekas, tapi ia bukan lagi tanda kepemilikan sang iblis. Ia adalah tanda jasa dari sebuah perjuangan. Hari ini, aku pulang bukan ke rumah yang penuh ketakutan, tapi ke pelukan dunia yang telah belajar untuk mendengarkan."
Mobil mewah Arkatama perlahan memasuki gerbang mansion.
Suasana kali ini jauh berbeda, tidak ada lagi ketakutan, hanya ada rasa hangat yang menyambut.
Di depan pintu utama, Mama Wahyuni sudah berdiri dengan senyum keibuan yang paling tulus, didampingi oleh beberapa pelayan yang menatap Relia dengan rasa hormat dan haru.
"Selamat datang di rumah yang sebenarnya, Sayang," ucap Mama Wahyuni sambil merentangkan tangannya pelan.
Ariel membantu Relia turun dari mobil dengan sangat hati-hati, menjaga agar gerakan istrinya tidak menarik jahitan di dadanya.
Begitu kakinya memijak lantai teras, Relia langsung memeluk Mama Wahyuni.
"Mama, terima kasih. Terima kasih sudah menjadi pelindungku," bisik Relia dengan suara bergetar.
Mama Wahyuni mengusap punggung Relia lembut.
"Sudah tugas Mama, Sayang. Sekarang, tidak ada lagi duka. Mari masuk, Mama sudah menyiapkan makan siang khusus untuk merayakan kepulanganmu. Makanan yang akan menguatkan fisik dan jiwamu."
Mereka bertiga menuju ruang makan yang telah ditata dengan indah.
Aroma sup ayam jahe dan rempah-rempah yang menenangkan memenuhi ruangan.
Mama Wahyuni secara pribadi mengambilkan nasi dan lauk untuk Relia, memastikan menantunya mendapatkan nutrisi terbaik.
Di sela-sela makan, suasana menjadi sedikit lebih serius namun tetap tenang.
Mama Wahyuni meletakkan sendoknya dan menatap Relia dengan tatapan yang membesarkan hati.
"Relia, lusa adalah waktunya dimana persidangan perdana Markus akan dimulai. Mama sudah menyiapkan semua berkas kesaksian ahli. Mama tahu ini tidak akan mudah bagimu untuk melihat wajahnya lagi."
Relia terhenti sejenak, genggamannya pada sendok mengerat.
Bayangan wajah Markus sempat melintas, namun ia segera menepisnya.
"Mama akan menemanimu di ruang sidang, tepat di sampingmu," lanjut Mama Wahyuni tegas.
"Ariel akan menjaga dari sisi hukum dan keamanan, dan Mama akan menjaga mentalmu. Kita akan tunjukkan pada dunia bahwa pria itu tidak lagi memiliki kuasa sedikit pun atas dirimu."
Ariel meraih tangan Relia di atas meja, memberikan kekuatan melalui genggamannya.
"Kamu tidak akan sendirian, Relia. Lusa adalah hari di mana kita benar-benar menutup buku hitam itu selamanya."
"Aku tidak takut lagi, Ma. Aku ingin dia melihat bahwa wanita yang dulu dia siksa, sekarang adalah wanita yang akan menjatuhkan vonis untuknya."
Sore itu di mansion Arkatama, matahari terbenam dengan warna emas yang luar biasa indah.
Di meja makan itu, sebuah keluarga baru telah lahir dimana keluarga yang bukan hanya diikat oleh darah, tapi oleh perjuangan dan perlindungan yang tak tergoyahkan.
Ariel membimbing Relia masuk ke dalam kamar utama mereka yang luas dan tenang.
Suasana kamar itu kini terasa jauh lebih hangat, dipenuhi dengan aroma bunga lavender yang membantu relaksasi.
Dengan sangat hati-hati, Ariel membantu Relia duduk di tepi ranjang, lalu ia berlutut di depan istrinya, menggenggam kedua tangan mungil itu dengan penuh kasih.
Tatapan mata Ariel begitu dalam, seolah sedang menghitung setiap detik kebahagiaan yang sempat terenggut dari mereka.
"Relia, setelah semua persidangan ini selesai, setelah dunia tahu kebenarannya dan kamu benar-benar tenang. Aku ingin mengajakmu pergi dari hiruk-pikuk ini. Aku ingin mengajakmu bulan madu. Hanya kita berdua."
Ariel mengusap punggung tangan Relia dengan ibu jarinya.
"Kamu mau bulan madu ke mana, Sayang? Sebutkan saja satu tempat di dunia ini, aku akan membawamu ke sana."
Relia menatap wajah suaminya. Ia melihat ketulusan yang luar biasa di mata pria yang telah mempertaruhkan segalanya untuknya itu.
Sebuah senyuman manis, yang kini tak lagi tertutup bayang-bayang ketakutan, merekah di bibirnya.
"Dari dulu, aku ingin sekali ke Bali, Mas," jawab Relia pelan.
"Aku ingin melihat matahari terbit di pantai yang tenang. Aku ingin merasakan pasir di kakiku dan mendengarkan suara ombak yang menghapus semua memori tentang suara hujan yang dulu menakutiku."
Ariel tersenyum lega, ia mencium tangan Relia lama sekali.
"Bali sounds perfect. Aku akan memesan villa paling tenang di Ubud atau di pinggir pantai Uluwatu. Kita akan menghabiskan waktu di sana sampai kamu merasa benar-benar pulih. Tidak akan ada laptop, tidak ada berita, hanya ada aku, kamu, dan suara alam."
Relia menyandarkan kepalanya di bahu Ariel, menghirup aroma tubuh suaminya yang maskulin dan menenangkan.
"Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah memberiku masa depan untuk diimpikan."
mudah"an relia selamat