NovelToon NovelToon
Kelas Paus

Kelas Paus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:23.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chika cha

Cover by me.

Saat SMP Reani Sarasvati Ayuna pernah diam-diam jatuh pada Kadewa Pandugara Wisesa, sahabat kakaknya—Pramodya yang di ketahui playboy. Tapi bagi Kadewa, Rea cuma adik dari temannya, bocah kecil yang imut dan menggemaskan.

Patah hati saat Kadewa masuk AAL sambil menjalin cinta pada gadis lain dan kali ini cukup serius. Rea melarikan diri ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah dan setelahnya menetap dan berkarir disana sebagai encounter KAI, berharap bisa menjauhkan dirinya dari laut dan dari...

Kadewa..

Tujuh tahun berlalu, takdir menyeretnya kembali. Kadewa datang sebagai Kapten TNI AL yang lebih dewasa, lebih mempesona, dan lebih berbahaya bagi hatinya.

Rea ingin membuktikan bahwa ia sudah dewasa dan telah melupakan segalanya. Namun Kadewa si Paus yang tak pernah terdeteksi dengan mudah menemukan kembali perasaan yang telah ia tenggelamkan.

Mampukah cinta yang terkubur tujuh tahun itu muncul kembali ke permukaan, atau tetap menjadi rahasia di dasar samudra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paus dan Ombak Pertama

Di dalam supermarket mall, Kadewa berdiri mematung di depan rak panjang berisi berbagai merek pembalut.

Sayap. Ultra tipis. Malam. Siang. Dengan sayap. Tanpa sayap.

Matanya menyapu satu per satu dengan ekspresi seperti sedang menghadapi soal Matematika tingkat olimpiade.

Kadewa tahu satu hal dengan sangat pasti.

Ia playboy.

Tapi dari sekian banyak perempuan yang pernah singgah di hidupnya, yang datang dan pergi silih berganti, atau Nadin yang masih betah bertahan hingga kini, tidak pernah sekalipun ia berada di situasi seperti ini.

Belum pernah. Tidak satu pun.

Tidak pernah ada perempuan yang membuatnya berdiri kikuk di lorong supermarket, menatap pembalut dengan wajah nyaris putus asa.

Dan sekarang yang pertama kali melakukan itu justru Rea.

Adik dari sahabatnya sendiri.

Astaghfirullah!

Kadewa mengusap wajahnya pelan, lalu merogoh saku celana, mengambil ponsel. Ia menekan satu nama.

“Pram,” ucapnya singkat begitu sambungan terangkat.

“Kita udah di lantai tiga. Kamu di mana, Wa? Rea sama kamu, kan?” suara Pram terdengar santai, sama sekali belum curiga.

Kadewa menghela napas panjang. “Iya. Kalian bisa turun gak?”

“Hah? Kenapa? Ada apa? Rea kenapa?” nada Pram langsung naik, tentu ia panik khas kakak overprotektif.

Kadewa melirik rak pembalut lagi sebelum menjawab, suaranya diturunkan. “Rea… lagi mens. Kamu cari pembalut buat dia.”

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

“Pram?” panggil Kadewa tak sabar karena suara Pram tiba-tiba menghilang.

Lalu setelah itu suara Pram muncul, terdengar gugup. “E-eh… ya… yaudah. G-gini aja, Wa. Kamu aja, ya. Tolong kamu yang cariin. Aku… aku kurang pengalaman soal begituan.”

Mata Kadewa langsung mendelik.

Apa katanya?

“Heh!” desisnya. “Kamu pikir aku berpengalaman?! Enggak, Pram! Lagian Rea itu adikmu, bukan adikku!”

Kalimat itu seperti tamparan telak untuk Pram.

Di seberang sana, Pram mendadak diam kembali Benar-benar diam, sampai Kadewa sempat mengira sambungannya terputus.

“Ya… yaudah,” suara Pram akhirnya muncul, terdengar kalah telak. “Aku sama Jojo turun sekarang. Tunggu.”

Tut!

Kadewa menurunkan ponselnya pelan, lalu menghela napas panjang. Sangat panjang. Setelah itu, ia kembali menatap rak di depannya.

Deretan pembalut.

Banyak.

Terlalu banyak.

Ukuran, merek, warna, sampai tulisan-tulisan misterius yang terasa seperti sandi rahasia. Extra long. Ultra thin. Maxi. Night use. Ada gambar bulan sabit, bintang, dan entah kenapa boneka, bunga, juga daun.

Gusti!

Beberapa menit kemudian, Pram dan Joshua muncul dari ujung lorong supermarket.

Begitu melihat rak itu, langkah mereka langsung melambat.

Lalu berhenti.

Dan kini, tiga lelaki remaja itu berdiri sejajar, mematung, menatap rak pembalut seperti sedang menghadapi soal ujian hidup yang paling sulit.

Hening.

Canggung.

Sangat memalukan.

Joshua memiringkan kepala, membaca salah satu kemasan dengan serius. “Ini… pakai sayap,” katanya akhirnya, memecah keheningan. “Nanti Rea kalau pakai ini bisa terbang gitu?”

Pram menoleh tajam. Tentu tangannya tidak tinggal diam, menoyor kepala sahabatnya itu. “Jojo, otakmu taruh di mana, sih?”

Di pikir Rea pakai pembalut begini itu seperti pakai pesawat bisa terbang?

“Aku nanya serius,” Joshua membela diri. “Soalnya ada gambar dan tulisannya. Pakai sayap. Nih, baca."

Kadewa mengusap wajahnya frustasi. “Itu bukan sayap buat terbang, goblok. Itu… entahlah, pokoknya bukan buat itu.”

“Terus yang ini?” Joshua mengambil satu lagi. “Ada tulisan overnight. Ini dipakai cuma kalau nginep aja kah?”

Pram mendesah keras. “Ya Allah…”

Di toko sembakonya si Joshua ini ada pembalut gak sih? Kok bodohnya gak ketulungan.

Kadewa jelas mulai kehilangan kesabarannya. “Fokus, bisa nggak? Kita cuma perlu satu. Yang normal.”

“Normal itu yang mana?” Pram balik nanya, wajahnya pucat.

Mereka bertiga kembali menatap rak.

Diam.

Lama.

Seorang ibu-ibu lewat sambil mendorong troli. Pandangannya sempat berhenti pada mereka, tiga cowok berdiri kaku di depan rak pembalut.

Alisnya terangkat.

Joshua refleks menegakkan badan, pura-pura serius. Kadewa berdehem. Pram pura-pura baca label.

Ibu itu melanjutkan jalan, tapi senyum kecil di sudut bibirnya terasa seperti ejekan tak langsung.

Malu-maluin Ya Allah, malu-maluin!!

Kadewa mendesis pelan, “Oke. Gini aja. Ambil yang paling netral. Nggak terlalu gede, nggak terlalu kecil.”

Mereka harus pergi dari tempat memalukan ini secepatnya.

Joshua mengangguk sok paham, lalu mengambil satu kemasan warna pink terang dengan bunga besar.

“Ini?”

Kadewa dan Pram serempak menoleh.

“Jojo,” kata Kadewa pelan, sangat pelan, tapi mengandung ancaman. “Taruh. Sekarang.”

Joshua buru-buru mengembalikannya.

Padahal yang Joshua ambil normal loh itu.

Akhirnya, setelah perdebatan panjang yang lebih mirip seminar dadakan bertema "Perempuan dan Hal-Hal yang Tidak Pernah Kami Pahami" akhirnya satu bungkus pembalut berhasil masuk ke keranjang.

Entah benar atau salah, yang penting dibeli.

Kadewa menatap barang di tangannya.

Belum pernah dalam hidupnya ia merasa sebegini kalah.

Dan semua ini karena Rea.

Adik temannya.

Yang bahkan tanpa sadar sudah menyeretnya ke situasi paling memalukan sepanjang sejarah hidup Kadewa Pandugara Wisesa.

Namun penderitaan belum berakhir.

Kini ketiganya berdiri kaku di depan sebuah toko pakaian dalam wanita.

Lampu toko terang. Terlalu terang. Seolah sengaja menyorot rasa malu mereka bertiga.

Joshua menelan ludah. “Ini… harus juga, Wa?” tanyanya lirih, matanya nyaris tak berani menatap ke dalam toko.

Kadewa memijat pelipis. “Kalau kena darah, ya harus.”

Pram menggaruk tengkuk. “Tapi… ini wilayah terlarang, gak sih?”

“Ini bukan wilayah terlarang,” balas Kadewa datar. “Tapi ini wilayah darurat.”

Joshua mengintip sedikit ke dalam toko. Manekin-manekin berjejer rapi, mengenakan pakaian dalam warna-warni dengan senyum plastik yang terasa mengintimidasi.

“Kenapa semuanya kecil-kecil?” gumam Joshua polos. “Apa emang ukurannya segini?”

Pram langsung menepuk kepala Joshua. “Astaghfirullah, Jo. lebih baik kamu gak usah ngomong, deh!”

“Lah aku nanya doang!”

Kadewa menarik napas panjang, lalu melangkah masuk dengan ekspresi pasrah total, seperti prajurit yang tahu ia akan gugur di medan perang.

“Cepat,” katanya sambil menunjuk rak terdekat. “Ambil yang paling netral. Jangan aneh-aneh.”

“Netral tuh yang gimana?” Pram berbisik.

Kadewa menatap satu rak penuh renda, pita, dan warna mencolok. Alisnya berkedut.

“yang nggak niat buat pamer.”

Joshua lagi-lagi mengangguk sok paham, lalu mengambil satu.

“Ini?”

Kadewa melirik. Merah menyala. Berbentuk segi tiga kecil di depan dan bagian belakangnya tidak tertutup hanya ada tali kecil.

“Jo...” ucap Kadewa pelan tapi berbahaya. “Itu buat bulan madu, bukan buat kondisi darurat. Lagian gimana cara Rea pakai kalau modelannya aja begitu.”

Joshua buru-buru mengembalikannya. “Oh. Salah konteks berarti."

Akhirnya, setelah diskusi penuh bisik-bisik panik dan tatapan curiga dari pegawai toko, mereka memilih satu warna polos, sederhana, dan aman secara moral.

Pram menghela napas lega. “Sumpah, ini pengalaman paling traumatis selama aku jadi Masnya Rea.”

Kadewa mendengus. “Selamat. Kamu naik level.”

Joshua mengangguk serius. “Aku malah ngerasa dewasa mendadak, Pram.”

Mereka bertiga saling pandang.

Lalu serempak bergidik.

“Udah,” kata Kadewa cepat. “Bayar. Sebelum aku tinggalin kalian disini.”

Dan dengan langkah tergesa, penuh malu, kocak, dan rasa bersalah yang tak bisa dijelaskan, tiga remaja itu meninggalkan toko, membawa kantong kecil berisi barang-barang yang tak pernah mereka bayangkan akan mereka beli bersama.

Tiba-tiba langkah Kadewa kembali berhenti di sebuah toko yang menjajakan pakaian wanita.

Pram yang berjalan di belakangnya refleks berhenti juga. Joshua nyaris nabrak punggung mereka berdua.

“Mau beli apa lagi, Wa?” tanya Pram, nada suaranya sudah mulai pasrah.

Kadewa menoleh singkat. “Rok Rea tadi kena darah. Kita harus beliin juga.”

Joshua memicingkan mata, wajahnya berubah seperti baru menerima vonis hidup. Joshua gak punya kakak ataupun adik. Dia adalah seorang anak tunggal tapi harus ikut merasakan hal memalukan seperti ini?!

Tuhan!!

Kadewa sudah lebih dulu melangkah masuk ke toko itu, diikuti Pram dan Joshua dengan langkah setengah hati.

Di dalam, Pram langsung mengambil satu celana jeans hotpants yang paling dekat dari pintu masuk.

“Nih,” katanya cepat. “Ini aja. Beres.”

“Heh! Jangan itu!” bentak Kadewa spontan.

Pram mendengus. “Lah terus yang mana? Dia cuma butuh ganti bawahan, kan? Nggak usah ribet, Wa.”

Kadewa menarik napas dalam-dalam, jelas menahan emosi.

“Dia tadi pakai rok span putih, Pram. Bukan hotpants jeans.”

“Terus?” Joshua nimbrung polos.

“Terus ini bukan soal praktis buat kita,” lanjut Kadewa, suaranya menurun tapi tegas. “Ini soal Rea. Dia yang harus pakai. Dia yang malu. Kita jangan asal.”

Pram terdiam sebentar, menatap celana di tangannya, lalu mengembalikannya pelan ke rak.

“Oh.”

Joshua mengangguk pelan, pura-pura paham. “Oke. Jadi… yang nggak bikin Rea kelihatan kayak mau ke konser musik.”

Kadewa menghela napas panjang. “Persis.”

Mereka bertiga lalu berdiri kaku di tengah toko, menatap rok dan celana wanita seperti menghadapi soal ujian nasional dadakan.

“Wa,” bisik Joshua akhirnya, “jujur aja… kita kelihatan mencurigakan nggak sih?”

Kadewa melirik pantulan mereka di cermin toko, tiga cowok remaja berdiri kikuk di antara rak, tadi di antara pembalut, terus ke pakaian dalam dan sekarang ke pakaian wanita.

“Iya,” jawabnya singkat. “Banget.”

Aneh? Jelas.

Mana ada laki-laki remaja seperti mereka yang mau masuk ke tiga tempat seperti itu.

Tidak ada.

Tapi walaupun aneh dan memalukan, tidak ada satupun yang mundur dari mereka.

Karena mereka tahu di luar sana, ada seorang gadis SMP yang sedang panik, malu, dan berusaha terlihat baik-baik saja.

__________

Sementara di dalam toilet perempuan, Rea duduk di atas kloset di salah satu bilik dengan kepala bersandar di dinding.

Tangannya mencengkeram ponsel, padahal layar sudah gelap sejak tadi.

Deg!

Deg!

Deg!

Jantungnya sejak tadi tidak mau berhenti berdebar.

Karena jantungnya tahu, ini mimpi buruk untuk Rea.

Rea menutup wajahnya sebentar. Bukan karena sakit, tapi karena malu yang rasanya pengin menenggelamkan diri sendiri ke kloset.

Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ini cuma menstruasi. Normal. Semua perempuan ngalamin.

Iya. Tapi nggak semua perempuan ngalamin ketahuan sama crush nya!!!

Beberapa menit terasa seperti setengah jam.

Sampai akhirnya terdengar suara dari luar bilik.

“Rea?”

Panggil seseorang dari luar. Itu suara perempuan asing tapi lembut.

Rea langsung berdiri. “I-iya?”

Pintu bilik diketuk pelan. “Ini titipan dari Masnya.. Katanya buat kamu.”

Perlahan, pintu bilik dibuka sedikit. Sebuah kantong belanja diselipkan masuk.

Rea menerimanya dengan tangan gemetar. “Makasih banyak, Mbak…”

Perempuan itu tersenyum hangat. “Santai aja ya. Nggak usah malu. Masnya perhatian banget, loh.”

Pintu bilik kembali tertutup.

Rea menatap kantong itu.

Di dalamnya ada rok, pembalut dan... Celana dalam.

Rea memejamkan mata sesaat.

Astaga.

Malu.

Malu sekali.

Seorang Kadewa.

Kadewa.

Si playboy.

Si Mas Paus itu.

Yang melakukan semua ini untuknya.

Hais!

Bagaimana Rea harus bersikap setelah ini? Bagaimana caranya menatap Kadewa tanpa wajahnya terbakar sendiri?

Bagiamana?!

Rea menghela nafas panjang

Sudahlah. Itu urusan nanti.

Sekarang, ia harus membereskan ini dulu.

Beberapa menit kemudian, Rea keluar dari bilik dengan wajah masih sedikit pucat, tapi jauh lebih tenang. Rok putihnya sudah berganti. Ia mencuci tangan di wastafel, menatap pantulan dirinya sebentar, lalu menarik napas panjang untuk yang terkahir kali sebelum melangkah keluar toilet dengan membawa kantong belanja berisi rok dan kemeja Kadewa yang sudah kotor terkena noda.

Di luar...

“Re.”

Rea mendongak refleks.

Pram.

Kakaknya.

Bukan Kadewa yang menunggu.

Apa yang Rea harapan kan tadi?

Tidak mungkin Kadewa mau membelikan semua barang itu untuknya jika disini ada Pram, kan?

“Oh…” Rea berkedip. “Mas?”

Pram berdiri sambil menyelipkan tangan ke saku, pura-pura santai padahal wajahnya jelas kikuk. “Kadewa sama Jojo udah ke restoran duluan.”

Rea mengangguk kecil.

Ya, memang begini seharusnya.

Rea hanya adik dari teman Kadewa. Tidak lebih. Jadi jangan berharap banyak Rea.

Tapi entah kenapa, begitu saja, dadanya terasa sesak.

Air matanya jatuh.

Satu.

Lalu dua.

Tanpa aba-aba, Rea maju selangkah.

Greb!

Ia memeluk tubuh Pram erat-erat, wajahnya tertimbun di dada kakaknya.

“Hiks… hiks… aku malu, Mas,” isaknya pecah. “Malu banget.”

Pram kaku satu detik.

Cukup kaget dengan reaksi adiknya.

Tapi setelah itu ia paham, pasti Rea malu luar biasa. Apa lagi yang melihat hal memalukan itu adalah seorang laki-laki.

perlahan tangannya terangkat, menepuk punggung Rea pelan, canggung tapi penuh usaha untuk menenangkan adiknya.

"Cup... Cup... Cup... Udah-udah. Nggak apa-apa. Itu hal normal, Re.”

Rea menggeleng kecil di dadanya.

“Tapi… tapi ketahuan Mas Kadewa…”

Pram mendesah, setengah geli, setengah pasrah.

“Justru itu, Re. Dia nggak ketawa, kan? Nggak bilang aneh-aneh, kan?”

Rea terdiam.

Tidak.

Kadewa tidak tertawa. Tidak mengejek. Tidak membuatnya merasa kotor atau salah.

Ia justru menutupinya.

Membantunya.

Diam-diam memperhatikan.

Tangis Rea perlahan mereda, berganti isakan kecil yang tersisa.

Pram menghela napas lega. Ia membelai puncak kepala adiknya pelan. “Udah, ayo. Kita nyusul makan. Kalau kamu masih malu, Mas duduk di sebelah kamu. Mas tutupin kamu dari penglihatan Kadewa tenang aja. Yuk. Mas udah laper ini." Ucap Pram setengah bercanda.

Andai Rea tahu jika bukan hanya dirinya saja yang turun tangan melainkan mereka bertiga. Sudah semalu apa adiknya itu?

Pram pun menarik tangan adiknya untuk mengikutinya.

Setibanya di restoran, Pram langsung celingak-celinguk mencari dua temannya.

“Pram!”

Suara Kadewa terdengar dari sudut ruangan. Ia mengangkat satu tangan, memberi tanda.

Pram yang melihat segera menghampiri, ia masih menggenggam tangan Rea yang sejak keluar dari toilet tak banyak bicara. Rea menunduk dalam-dalam, langkahnya kecil, seolah berharap lantai restoran bisa menelannya bulat-bulat.

Namun begitu mereka duduk di kursi yang sudah disediakan semuanya tampak normal.

Terlalu normal, bahkan.

Kadewa bersandar santai di kursinya, Joshua sibuk membolak-balik menu sambil bersiul kecil. Tidak ada tatapan aneh. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada bisik-bisik mencurigakan.

Seolah kejadian memalukan di basement dan di beberapa tadi hanyalah ilusi.

Dan memang begitu yang Kadewa minta.

Instruksinya jelas sebelum mereka naik ke restoran. "Kalau Rea datang, kita biasa aja. Nggak ada yang bahas apa pun. Anggap nggak pernah terjadi."

Rea diam-diam melirik ke arah Kadewa.

Dan sialnya lagi-lagi, Kadewa juga sedang meliriknya.

Tatapan mereka bertemu sesaat.

Kadewa cepat-cepat mengalihkan pandangan, pura-pura sibuk mengambil sumpit. Rea ikut menunduk, pipinya kembali menghangat.

“Eh, Re,” Joshua tiba-tiba menyodorkan sumpit berisi satu potong sushi. “Kamu suka sushi, kan? Nih, katanya ini paling enak di sini. Coba deh.”

Belum sempat Rea menjawab—

Sret!

Sumpit Joshua ditarik paksa oleh Pram. Sushi itu jatuh ke piringnya.

“Kamu lupa apa gimana, Jo?” Pram mendengus. “Rea nggak bisa makan daging mentah. Nanti muntah-muntah. Habis aku di buat Umma dan Baba kalau ngasih makan asal adikku.”

"Astaga, aku lupa Pram." Ujar Joshua sambil menepuk jidatnya.

Pram lantas menoleh ke adiknya, “Kamu pesen yang lain aja ya, Re. Ramen gimana? Atau udon?"

Rea mengangguk kecil. “terserah Mas aja.”

Kadewa yang sejak tadi diam ikut menambahkan, nadanya ringan tapi penuh perhatian, “Pesan sekalian air hangatnya, Pram. Biar enakan perutnya.”

Pram mengangguk. Lalu memanggil seorang waitress memberitahukan segala pesanannya.

Sementara Rea tangannya menggenggam ujung rok barunya di bawah meja.

Dadanya masih terasa penuh, antara malu, lega, dan perasaan aneh yang sulit ia namai.

1
Esti 523
bha ha ha ha ya ampun aq baca sambil guling2 ngakak bgt
Ghiffari Zaka
kok aq senyum2 sendiri ya bacanya??🤭🤭🤭 laaaah AQ jadi baper malahan,duh mas paus gombalnya buat AQ ikut cengar cengir padahal siapa. yg di gombali 🤭🤭🤭.
ah pokoknya author is the best lah👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
mey
makasih thor untuk upnya🥰🥰 I❤️U sekebon mawar🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Yani Sri
kopi untukmu kakak....
Lili Susanti
nyambung banget syg.....senyum2 sendiri dr awal sampai akhir baca nya ....yg rajin update ya..ku ksh gift nuch 😍
Niken Dwi Handayani
masih nyambung kok ...ini malahan lagi masa pdkt mas Paus 🤭🤭. Belum masuk yang tegang-tegang nich cerita nya
syora
cukup fokus ke si paus sm plakton
another story keep in save folder🤭
semangat thor gas pol
buat tmn mnyambut ramadhan
syora
nyambung
jgn coba" mlarikan diri xa 🤣
mey
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Esti 523
aq vote 1 ya ka syemangaddd
Esti 523
bagus bgt ceritanya,gak typo2
Esti 523
sekian purnama baru ketemu lg dgn novel yg reel bgt,gak typo2 good luc otor,syemangst
Chika cha: ada typo juga kak, tapi sebelum upload di cek dulu baru upload itu pun masih ada satu dua yang gak keliatan🤭
total 1 replies
falea sezi
jangan murahan re di gombalin gt aja km. uda basah yo heran deh jual. mahal donk di sakitin berkali kali. kok ttep oon meski dia g tau perasaan mu tp. dia penjahat kelamin
falea sezi
murahan
falea sezi
ini cerita nya emank bertele tele kah dr SMP dih lama amat thor
falea sezi
layu sebelum berkembang ya rea hiksss
falea sezi
sabar rea moga nanti ada cogan yg baik setia ya.. lupain cinta pertama yg jatuh pd orang yg salah
falea sezi
kok lucu gmbarnya
Nia nurhayati
dasar paus raja goombll kmu kadewaa
Ghiffari Zaka
di bab ini AQ benar2 gak bs kan men Thor,gak bs ngomong apa2 lagi,blenk AQ Thor karena fokus dan menghayati kata demi kata yg author tulis sehingga AQ merasa kayak bukan baca tp melihat suatu adegan di depan mata,sepertinya AQ ada di dlm situ buat nonton live,pokoknya cuman bisa bilang LUAR BIASA 👍👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!