NovelToon NovelToon
Fated Across Borders: Shared Wounds

Fated Across Borders: Shared Wounds

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiano R

Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.

Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23.1

Kamar Lena terasa hangat dan rapi, dengan rak buku memenuhi satu sisi dinding. Sampul-sampul pastel berjejer manis, berbeda jauh dari buku-buku tebal bersampul gelap yang biasa Brian baca.

“Kamu mau lihat koleksiku?” tanya Lena sambil menutup pintu pelan.

“Aku memang penasaran,” jawab Brian jujur. Matanya langsung menyapu deretan judul dengan serius.

“Tapi jangan protes ya. Kebanyakan sih romansa,” katanya ringan.

“Tidak masalah, tapi aku biasanya baca novel fantasi atau aksi,” sahut Brian. “Yang ada petualangan, pertarungan, atau dunia lain.”

Lena duduk di tepi tempat tidur. “Kalau aku suka cerita dua orang yang pelan-pelan menjadi dekat.”

“Itu saja?” tanya Brian polos.

“Ih, 'itu saja' katamu?” Lena mendengus geli. “Serunya justru di situ. Dari yang awalnya biasa saja, lalu mulai saling memikirkan satu sama lain.”

Brian mengangguk kecil. “Di fantasi juga ada yang seperti itu. Bedanya, sambil menyelamatkan dunia.”

“Di romance, yang diselamatkan biasanya hati,” balas Lena cepat.

Brian terdiam sebentar, memproses. “Kalau menurutmu, kenapa cerita cinta menarik?”

Lena berpikir sejenak. “Karena rasanya nyata. Semua orang pernah suka seseorang. Deg-degan saat berada di dekatnya, senyum sendiri waktu mengingat tentangnya."

Brian membuka salah satu novel Lena dan membalik halamannya perlahan. “Deg-degan...?" gumam Brian, namun Lena menganggapnya sebuah pertanyaan.

“Ya… jantungmu berdetak lebih cepat. Kamu jadi salah tingkah. Hal kecil dari dia terasa besar.”

Brian menunduk ke bukunya lagi. “Seperti itu?”

“Iya. Kamu pernah merasakannya?” tanya Lena, setengah bercanda, setengah penasaran.

Brian berhenti membalik halaman.

Sebenarnya ia pernah. Beberapa kali. Saat Lena berada terlalu dekat dengannya. Saat bersama dengan Amayah di kamar mandi. Jantungnya memang berubah—lebih cepat, lebih berat. Tapi ia selalu mengabaikannya, menganggap itu hal biasa.

“Tidak,” jawabnya akhirnya, tenang seperti biasa.

Lena menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum kecil. “Serius?”

“Aku tidak tahu pasti rasanya,” katanya singkat.

Lena menghela napas pelan. “Cinta itu bukan cuma soal jantung berdebar. Itu juga soal merasa nyaman. Kamu bisa nyaman bersama dengan seseorang tanpa rasa canggung.

Brian berpikir lagi. "Diam bersama tanpa canggung… itu sering terjadi."

“Aku belum yakin,” ujarnya.

“Kamu ini ya,” Lena terkekeh pelan. “Kadang terlalu jujur, kadang terlalu menutup diri.”

Brian duduk di lantai, bersandar di sisi tempat tidur, lalu mulai membaca novel yang tadi Lena berikan. Lena memperhatikannya dengan senyum tipis.

Beberapa helai rambut Brian berdiri sedikit di bagian atas, membuatnya terlihat lebih lembut dari biasanya. Lena menggigit bibir, berusaha tidak fokus ke sana.

Tapi semakin ia melihat, semakin gemas rasanya.

“Brian,” panggilnya pelan.

“Iya?” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari buku.

“Boleh aku betulkan rambutmu?”

Brian akhirnya menoleh. “Rambutku kenapa?”

“Ada yang berdiri. Mengganggu.”

Brian menyentuh kepalanya asal, lalu menyerah. “B-Baiklah..."

Jawaban polos itu membuat Lena tersenyum.

Ia turun dari tempat tidur dan berdiri di depannya. Brian tetap duduk, jadi Lena harus sedikit menunduk. Dengan hati-hati, ia merapikan helai rambut yang membandel itu menggunakan ujung jarinya.

Sentuhannya lembut.

Brian mencoba tetap membaca, tapi huruf-huruf di halaman mulai sulit dipahami. Jantungnya berdetak lebih cepat—lagi. Ia tahu perasaan ini. Ia hanya memilih tidak mengakuinya.

“Sudah,” bisik Lena pelan.

Namun saat ia sadar wajahnya terlalu dekat—hanya beberapa senti dari Brian—ia langsung membeku. Brian juga menyadari jarak itu. Mata mereka bertemu tanpa sengaja.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.

Brian merasa hangat. Gugup. Tapi ia tetap memasang wajah tenang.

Lena mundur cepat. “Maaf! Tadi terlalu dekat.”

“Tidak apa-apa,” jawab Brian. Suaranya stabil, meski tangannya yang memegang buku sedikit menegang.

“Kamu tidak merasa aneh?” tanya Lena pelan.

“Sedikit,” jawabnya jujur.

“Sedikit bagaimana?”

Brian menatap halaman bukunya. “Jantungku lebih cepat.”

Lena terdiam.

“Tapi mungkin karena adegan di buku ini,” lanjutnya cepat, hampir seperti membela diri.

Lena menatapnya lama, lalu tertawa kecil. “Kamu yakin?”

“Aku hanya membaca,” jawabnya singkat.

Padahal ia tahu, itu bukan hanya karena buku.

Lena kembali duduk di tepi tempat tidur, kali ini menjaga jarak. “Kalau suatu hari kamu benar-benar merasakan deg-degan itu, jangan pura-pura tidak tahu, ya.”

Brian menutup bukunya sebentar. “Kalau aku merasakannya, aku akan memikirkannya baik-baik.”

“Itu jawaban paling ‘Brian’ yang pernah kudengar,” gumam Lena sambil tersenyum.

Tiba-tiba suara Kaisa terdengar dari bawah.

“Lena! Brian! Makan malamnya siap!”

Lena berdiri lebih dulu. “Ayo keluar.”

Brian ikut berdiri, masih memegang novel romance itu. “Aku akan pinjam ini.”

“Serius?” Lena tampak terkejut sekaligus senang.

“Iya. Untuk memastikan apakah aku benar-benar tidak mengerti.”

Lena tersenyum lembut. “Baiklah. Tapi kalau jantungmu berdebar lagi, jangan salahkan bukunya.”

Brian tidak menjawab. Ia hanya berjalan di samping Lena keluar kamar.

Dan diam-diam, ia berharap detak jantungnya tidak terlalu terdengar saat mereka berjalan berdampingan menuruni tangga.

---

Mereka pun akhirnya makan malam bersama. Saat Lena membantu ibunya mengantarkan hidangan ke meja, Brian tiba-tiba bertanya, "Jadi, pria di foto itu ayahmu, Lena?"

"Iya. Saat ini dia sedang bertugas," jawab Lena dengan ramah.

"Oh, jadi dia seorang polisi?" tanya Brian lagi.

"Ya! Ia merupakan kepala polisi New York," jawab Lena dengan nada bangga.

Mendengarnya, Brian tampak kagum. "Itu luar biasa," ujarnya tulus.

Setelah itu, mereka menikmati makan malam bersama. Brian menyantap hidangan yang disediakan dengan lahap. Bukan hanya makan, suasana meja dipenuhi obrolan ringan.

Ruang makan terasa hangat. Aroma salmon panggang dan sup krim khas Finlandia memenuhi ruangan. Brian duduk tegak dan kaku di kursinya, sementara Lena tampak sedikit gugup tapi berusaha santai.

“Tambah lagi, Brian. Di rumah ini tidak boleh ada yang pulang dalam keadaan lapar,” ujar Kaisa lembut sambil mendorong piring saji ke arahnya.

“Terima kasih, Tante. Ini sudah lebih dari cukup,” jawab Brian sopan. Nada bicaranya tenang dan datar.

Liisa yang duduk di seberang mereka menyeringai kecil. “Dia selalu duduk setegak itu, atau cuma kalau lagi makan sama keluarga calon mertua?” godanya pada Lena dengan bisikan santai.

“Kak!” Lena spontan memprotes, wajahnya langsung memerah.

Brian berkedip pelan. “Calon… apa?” tanyanya polos, tidak sengaja mendengarmya.

Tawa ringan langsung memenuhi meja makan. Kaisa menutup bibirnya sambil tersenyum, sementara Liisa terkekeh puas melihat reaksi mereka.

“Liisa memang suka menguji tamu,” ujar Kaisa santai.

“Aku cuma memastikan dia benar-benar manusia. Lena cerita bahwa nilaimu sangat tinggi. Terlalu sempurna itu mencurigakan,” lanjut Liisa dengan nada dramatis.

“Kalau saya aneh-aneh, mungkin saya tidak diundang makan malam,” balas Brian serius, tanpa sadar ucapannya justru terdengar seperti candaan kering.

Lena tak bisa menahan senyum. “Brian sebenarnya bisa bercanda, cuma jarang saja,” katanya pelan.

“Oh? Jadi Lena sering membicarakan sisi tersembunyi Brian?” pancing Kaisa dengan tatapan lembut namun penuh arti.

“Apasih Ibu!"

Beberapa saat kemudian, percakapan beralih ke budaya Finlandia. Brian dengan tenang menyebut konsep sisu yang menurutnya mengagumkan—keteguhan hati orang Finlandia yang tak mudah menyerah. Lena menatapnya dengan sorot kagum yang terlalu jelas untuk disembunyikan.

“Bahkan tahu soal sisu. Lena yang mengajarimu, ya?” goda Liisa lagi.

“Aku cuma cerita sedikit,” gumam Lena, semakin salah tingkah.

“Kalau begitu, kamu pasti tahu juga orang Finlandia cenderung jujur soal perasaan,” ujar Kaisa, nadanya tetap lembut tapi sarat makna.

“Kejujuran itu penting,” jawab Brian mantap.

“Termasuk jujur pada seseorang yang kamu sukai?” Liisa kembali menyerang.

Brian terdiam sejenak, benar-benar memikirkan jawabannya. “Kalau memang ada perasaan, seharusnya disampaikan dengan cara yang baik dan tidak tergesa-gesa,” ucapnya akhirnya.

Lena hampir tersedak minumnya sendiri. Wajahnya makin merah, sementara Liisa menatapnya dengan senyum penuh kemenangan kecil.

Makan malam pun hampir selesai dalam suasana yang semakin hangat. Saat Lena sedang membereskan sendoknya, Kaisa menoleh padanya dan berbicara dalam bahasa Finlandia, suaranya lembut namun jelas.

"Lena, laki-laki yang sering kamu ceritakan padaku itu… dia benar-benar orang baik. Aku merestuinya!" ujar Kaisa dengan santai.

Lena membeku. “Ibu…” desahnya pelan, pipinya memanas hebat.

Liisa hanya tersenyum jahil, menikmati momen itu.

Di sisi lain meja, Brian menggenggam gelasnya sedikit lebih erat. Ekspresinya tetap datar, tetapi ujung telinganya perlahan memerah. Ia menunduk sesaat sebelum kembali mengangkat wajah dengan tenang.

“Supnya sangat enak, Tante,” ujarnya stabil, seolah tak terjadi apa-apa.

Tak lama kemudian, anjing peliharaan Lena yang bernama Röver terbangun dari tidurnya. Ia langsung menghampiri Brian dengan antusias, memutari kaki Brian beberapa kali sebelum akhirnya naik dan duduk di atas pahanya, lalu bersandar dengan nyaman.

"Sepertinya Röver menyukai Brian!" seru Lena ceria.

Di sisi lain, Liisa yang enggan memakan sayuran karena tidak menyukainya justru dimarahi oleh ibunya. Namun Liisa membantah, hingga terjadi perdebatan kecil. Suara lembut Kaisa beradu dengan suara Liisa yang lantang.

"Lena, ibunya, dan kakaknya… Mereka bertiga seperti hasil kloningan. Sama-sama aktif dan murah senyum," pikir Brian lelah. "Aku bisa kehabisan tenaga jika harus meladeni mereka terus-menerus…"

Setelah makan malam selesai, Brian berdiri di depan pintu apartemen. Di hadapannya berdiri Lena bersama ibunya.

"Terima kasih atas makan malamnya. Maaf sudah merepotkan kalian," kata Brian dengan nada datar.

"Tidak apa-apa. Anggap saja ini balasan atas kebaikanmu," ucap Kaisa santai. "Lain kali berkunjung lagi, ya," tambahnya ramah.

"Kalau ibu ingin mengundang Brian, beri tahu aku terlebih dahulu!" protes Lena dalam bahasa Finlandia. "Aku ingin mempersiapkan diriku!"

Kaisa tersenyum nakal. "Mempersiapkan untuk apa~?" godanya.

Mendengarnya, Lena langsung kesal. "Duh, Ibu!"

Brian hanya bisa berdiri canggung, terlihat tidak mengerti pembicaraan mereka karena menggunakan bahasa Finlandia.

"Kalau begitu, saya pamit dulu," ucap Brian sambil perlahan melangkah pergi.

"Baiklah, hati-hati di jalan," ujar Kaisa ramah.

"Aku akan mengantarkanmu sampai bawah," kata Lena santai sambil berjalan di samping Brian.

---

Lift apartemen turun perlahan dengan suara dengung lembut. Di dalamnya hanya ada mereka berdua. Lena berdiri di samping Brian, kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya, mencoba terlihat santai. Sementara Brian berdiri tegak seperti biasa, menatap angka lantai yang terus berubah dengan ekspresi tenang.

“Hari ini… kamu tidak terlalu tegang kan?” tanya Lena pelan, mencoba membuka percakapan.

“Aku tidak tegang,” jawab Brian jujur. Ia berpikir sejenak. “Hanya berusaha sopan.”

Lena tersenyum kecil. “Itu yang bikin kamu kelihatan tegang.”

Brian menoleh sedikit. “Begitu, ya.”

Lift berbunyi pelan saat melewati beberapa lantai. Keheningan singkat muncul, tapi tidak canggung—lebih seperti ruang kosong yang nyaman.

“Ibu dan Kak Liisa memang suka menggoda,” lanjut Lena, sedikit malu. “Jangan dimasukkan ke hati.”

“Aku tidak merasa terganggu,” jawab Brian tenang. “Keluargamu begitu hangat.”

Lena meliriknya cepat. “Hangat?”

“Iya. Cara mereka berbicara. Cara mereka tertawa. Rasanya… nyaman," jawab Brian datar, namun ada makna tersirat bahwa ia sebenarnya ingin merasakan rasanya berkumpul bersama keluarga.

Jawaban itu sederhana, tapi membuat dada Lena terasa penuh. Ia menunduk sedikit agar Brian tidak melihat senyumnya yang terlalu lebar.

“Kalau begitu… kamu tidak kapok makan malam di rumahku lagi kan?” godanya pelan.

“Aku tidak pernah bilang kapok.”

“Berarti mau datang lagi?”

Brian berpikir beberapa detik terlalu lama untuk pertanyaan sesederhana itu. “Kalau diundang, mungkin aku akan mempertimbangkannya..."

“Kalau yang mengundangnya aku?” Lena menatapnya hati-hati.

Kali ini Brian benar-benar menoleh penuh. Tatapannya serius, tapi lembut. “Kamu tidak perlu undangan formal untuk itu.”

Jantung Lena langsung berdetak lebih cepat. “Maksudnya?”

“Kita teman,” jawabnya polos. “Aku senang menghabiskan waktu bersamamu.”

Lena hampir tertawa karena antara gemas dan bahagia. “Kamu tahu tidak sih, kalau ngomong begitu itu terdengar manis?”

“Manis?” Brian tampak benar-benar mencerna kata itu. “Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.”

Lift akhirnya sampai di lantai dasar. Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan lobi yang sepi dan lampu malam yang temaram.

Mereka melangkah keluar bersama. Udara malam terasa lebih dingin dibanding di atas.

“Kamu pulang naik apa?” tanya Lena.

“Jalan sedikit ke halte. Aku akan memanggil taksi."

"Tidak naik bus?"

"Bus tidak akan masuk ke perumahanku, sedangkan taksi bisa."

"Perumahan?"

"Ya, perumahan Aura West," jawab Brian datar.

"Sepertinya aku pernah dengar..." gumam Lena bingung. “Kalau begitu, aku temani sampai pintu depan,” katanya cepat.

Mereka berjalan berdampingan, langkahnya pelan seolah sama-sama tidak ingin terburu-buru mengakhiri momen.

“Brian,” Lena memanggil pelan.

“Iya?”

“Kalau… misalnya ada seseorang yang sering cerita tentang kamu ke ibunya, apakah menurutmu itu aneh?”

Brian terdiam sebentar. Pertanyaannya terdengar biasa, tapi nadanya tidak.

“Tidak aneh,” jawabnya akhirnya. “Biasanya orang menceritakan seseorang yang penting bagi mereka.”

Lena menahan napas. “Kalau kamu jadi orang itu?”

“Aku akan merasa… dihargai.”

Lena berhenti tepat di depan pintu gedung. Angin malam meniup pelan rambutnya.

“Kamu orang yang baik, Brian,” katanya tulus.

Brian menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. “Ah, terima kasih..."

"Kamu... juga baik..." kata Brian pelan, dia kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi, bibit-bibit nostalgia seolah kembali.

Hening sejenak, tapi hangat.

“Jangan terlalu sering serius,” Lena tersenyum menggoda. “Nanti banyak yang salah paham.”

“Salah paham tentang apa?”

Lena mundur selangkah, berjalan pelan ke arah pintu masuk. “Tentang kamu yang sebenarnya lebih lembut dari kelihatannya.”

Brian berdiri di tempatnya, sedikit terpaku. “Aku tidak merasa lembut.”

“Itu karena kamu polos,” balas Lena ringan.

Brian memperhatikan wajahnya yang tersenyum di bawah cahaya lampu lobi. Untuk sesaat, ekspresinya melembut tanpa ia sadari.

“Kalau begitu, selamat malam, Brian, hati-hati di jalan ya!"

"Selamat malam juga..."

Brian mengangguk, lalu berbalik melangkah pergi. Namun sebelum terlalu jauh, ia berhenti sebentar dan menoleh.

“Lena.”

“Iya?”

“Aku berterima kasih sekali lagi, atas sambutan hangat dari keluargamu, aku benar-benar tersanjung hari ini.”

Kalimat sederhana itu membuat Lena berdiri membeku beberapa detik. Senyumnya perlahan melebar, pipinya kembali memerah.

“Sama-sama."

Dan malam itu terasa sedikit lebih hangat dari biasanya, meski udara di luar cukup dingin.

---

Malam sudah lewat dari biasanya ketika Brian membuka pagar rumahnya. Lampu teras menyala terang, dan seperti dugaan yang tidak pernah meleset, Amayah berdiri di sana dengan tangan terlipat dan tatapan tajam.

“Kau tahu ini jam berapa?” tanyanya dingin.

“Aku tahu,” jawab Brian tenang sambil menutup pagar. “Sedikit lebih malam dari biasanya.”

“Sedikit?” ulang Amayah. “Ponselmu tidak aktif. Kau tidak memberi kabar. Kau pikir itu hal sepele?”

“Ada keperluan,” katanya singkat.

“Keperluan apa?”

Brian tidak langsung menjawab. Ia menatapnya lurus, tidak menghindar. “Aku makan malam di rumah Lena.”

Jawaban itu membuat Amayah terdiam sepersekian detik. Namun alih-alih mereda, sorot matanya justru semakin tajam.

“Di rumah Lena,” ulangnya pelan. “Berdua?”

“Bersama keluarganya.”

“Kau yakin hanya makan malam?” nada suaranya berubah sinis. “Atau ada acara lain yang tidak perlu kau ceritakan?”

“Aku tidak punya alasan untuk menyembunyikan apa pun.”

Amayah melangkah mendekat. “Lalu kenapa kau pulang selarut ini? Makan malam tidak butuh waktu selama itu.”

“Kami berbincang,” jawab Brian apa adanya. “Itu wajar.”

Hening sejenak. Lalu Amayah sedikit mengernyit.

“Kau pakai parfum?” tanyanya tiba-tiba.

“Aku tidak pernah pakai.”

“Jangan bohong.” Ia semakin dekat, nyaris mengendus tanpa sadar. “Ini wangi perempuan.”

“Itu mungkin dari ruang makan mereka,” balas Brian tenang. “Aku duduk cukup lama di sana.”

“Cukup lama sampai aromanya menempel?” Amayah mendecih. “Atau seseorang terlalu dekat denganmu?”

Nada tuduhan itu membuat kesabaran Brian mulai menipis. “Jangan mencari kesalahan yang tidak ada.”

“Aku tidak mencari-cari!” bantahnya cepat. “Aku hanya heran kenapa kau bisa berlama-lama di sana."

“Sudah kubilang kami hanya mengobrol."

“Lena menyukaimu, bukan?” desaknya.

Brian terdiam sesaat. “Itu bukan urusan yang perlu kau debatkan di teras rumah.”

“Nah, jadi benar ada sesuatu!” Amayah menyimpulkan sepihak.

“Aku tidak mengatakan itu.”

“Tapi kau tidak membantah!”

“Kau yang menyimpulkan terlalu jauh.”

Emosi Amayah makin terlihat. Kecemburuan yang ia sembunyikan kini muncul sebagai kemarahan. “Kau selalu begitu. Diam, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal kau tahu orang bisa salah paham.”

“Aku tidak bertanggung jawab atas prasangkamu,” jawab Brian tegas.

Pintu rumah terbuka, dan Emilia muncul dengan ekspresi heran melihat ketegangan di antara mereka. “Astaga, kalian bertengkar lagi?” tanyanya lembut. “Brian, makan malamnya sudah siap.”

“Aku sudah makan, Tante,” jawab Brian.

“Makan di sana?” tanya Emilia hati-hati.

“Iya.”

Amayah tertawa kecil tanpa humor. “Tentu saja sudah kenyang. Makan bersama keluarga perempuan lain pasti lebih menyenangkan daripada makan di rumah sendiri.”

“Amayah,” tegur Emilia pelan.

“Aku hanya mengatakan fakta,” balasnya, meski suaranya mulai bergetar. “Pulang telat, kenyang, bau parfum perempuan. Harusnya aku menyimpulkan apa?”

“Kesimpulan yang rasional,” jawab Brian tajam. “Aku makan malam dengan teman sekelas dan keluarganya. Tidak ada yang lebih dari itu.”

“Kau yakin?” desaknya lagi. “Atau kau hanya tidak mau mengaku?”

Brian akhirnya kehilangan kesabaran. “Cukup.”

Suasana langsung membeku.

“Aku sudah jujur,” lanjutnya, suaranya lebih keras dari biasanya meski tetap terkendali. “Aku mengatakan ke mana aku pergi. Dengan siapa. Kau tetap mencari-cari kesalahan.”

Amayah menatapnya, matanya mulai memerah entah karena marah atau hal lain.

“Kau terlalu ikut campur,” kata Brian tanpa ragu. “Ini hidupku.”

“Aku cuma peduli!” balasnya.

“Peduli bukan berarti bisa menginterogasi.”

Hening beberapa detik. Lalu Brian mengucapkan kalimat yang menggantung tajam di udara malam.

“Kau siapa? Jangan mengaturku dan jangan ikut campur.”

Wajah Amayah seketika kosong. Tangan yang tadi terlipat perlahan turun. Semua kemarahan itu runtuh menjadi diam yang menyakitkan. Kepalanya tertunduk, seolah tidak ingin melihat ke arah Brian lagi.

Emilia tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi suasana terlalu tegang.

Tanpa sepatah kata pun, Amayah berbalik. Langkahnya cepat melewati pagar, kembali ke rumahnya sendiri. Pintu tertutup lebih keras dari biasanya.

Brian tetap berdiri di tempatnya, napasnya berat namun wajahnya kembali datar. Emilia hanya bisa menatapnya prihatin.

Malam terasa jauh lebih dingin, dan kali ini bukan karena angin.

Bersambung.

1
shizue
oh ini toh
ZenSteyrs
Jujur gua tertarik baca novel ini tuh pas lewat fyp tiktok gua, gua lihat isi komennya ternyata yang nulis novelnya orang indo. Dan di sini gua tertarik bacanya, soalnya sering ada novel buatan orang indo yang alurnya bagus tapi jarang ada yang baca. Ya lu tahulah rata² orang kita (🇮🇩) minim literasi baca tulisan di buku aja langsung males sama ngantuk. Jadi kesimpulannya gua respect banget sama authornya yang udah ngerancangin / mikirin ide² nya dengan matang, sampai gua merasa kaya pas baca series ini gua bisa rasain perasaan karakter di novelnya, thank you author udah menyajikan story yang bagus dan perfect 🥳👍
ZenSteyrs: gas lah sikat 😎
total 2 replies
ZenSteyrs
finally tamat ending yang perfect, semangat author di tunggu kelanjutannya 🥳👍
ZenSteyrs
Julia sus 🤨
ZenSteyrs
bagus min di tunggu karya selanjutnya 👍
Zildiano R: terima kasih 🙏
total 1 replies
Rama Iskandar
end ny gk nikah?
Zildiano R: Ini baru tamat part 1, part 2 nya menyusul, join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini 🙏
total 1 replies
Rama Iskandar
p
Rama Iskandar
sepi amat
Rama Iskandar
p
SaeKanai
Saya puas dengan endingnya🤣🤣
semangat terus bang!!!
Zildiano R: thank you👍
total 1 replies
sakura
...
gralsyah
diam-diam menghanyutkan tuh si amayah ya 😭 gk ketebak wkwk
Zildiano R: wkkwk🤣
total 1 replies
gralsyah
mampir kak author. ihh seruuuu. ceritanya
Zildiano R: terima kasih~
total 1 replies
Marley Howard
keren cuy
Zildiano R: makasih🙏
total 1 replies
Arisell
semangat oi
Zildiano R: makasih, siap🙏
total 1 replies
Khai Dok
udah chat ke editor ya... covernya?
Zildiano R: sudah👍
total 1 replies
Khai Dok
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!