"Jika dunia membuangmu, ingatlah ada satu orang yang akan menghancurkan dunia demi menjemputmu kembali."
Bagi Kyrania Ruella, masa kecil di desa Sukamaju adalah satu-satunya memori indah yang tersisa. Di sana ada Herjuno Allegra, bocah dekil pembawa ketapel yang selalu melindunginya dari nyamuk hingga anak-anak nakal. Namun, takdir memisahkan mereka secara paksa saat Kyra diseret kembali ke kota oleh ayahnya yang serakah. Hidup Kyra bak di neraka. Menjadi istri dari Nathan Sagara, pria kaya yang patriarki dan pelit, Kyra diperlakukan lebih rendah dari pelayan. Ia terjebak dalam pernikahan hampa, bahkan nyaris dijual oleh suaminya sendiri demi menutupi hutang keluarga.
Di saat Kyra nyaris menyerah pada hidupnya, Juno kembali. Namun, ia bukan lagi bocah desa pembawa ketapel. Ia kini adalah Herjuno Allegra, pewaris tunggal kerajaan bisnis raksasa yang dingin, berkuasa, dan sangat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Suci dan Petualangan di Bukit
Hari pertama Kyra di SMP Desa Sukamaju terasa seperti pameran makhluk asing. Berita tentang "Anak Jakarta yang cantik tapi sombong" sudah menyebar bahkan sebelum bel masuk berbunyi. Kyra duduk di bangku tengah dengan punggung tegak, menatap lurus ke papan tulis seolah sedang membangun tembok transparan di sekelilingnya.
"Hai, aku Sari," sapa seorang gadis berkuncir kuda yang duduk di sebelahnya. "Kamu beneran pakai skincare dari luar negeri ya? Mukamu kok bisa bening banget kayak ubin masjid?"
Kyra hanya tersenyum tipis—senyum formal yang sangat hemat energi. "Enggak juga, Sari."
Di belakang Kyra, terdengar suara gesekan kursi yang keras. Siapa lagi kalau bukan Juno. Ia duduk tepat di belakang Kyra, sengaja menendang pelan kaki kursi Kyra agar gadis itu menoleh.
"Psst, Ra! Nanti kalau guru masuk, kamu duduknya agak tegak ya," bisik Juno sambil meletakkan kepalanya di atas meja.
"Kenapa?" tanya Kyra heran.
"Mau numpang tidur. Capek aku, tadi malam abis bantuin Bapak benerin pompa air. Tutupin aku ya, badanmu kan pas buat jadi tameng," ucap Juno santai, lalu memejamkan mata dalam hitungan detik.
Kyra hanya bisa geleng-geleng kepala. Juno adalah satu-satunya orang di dunia ini yang berani memperalatnya sebagai "penutup" untuk tidur di kelas.
Saat istirahat tiba, meja Kyra langsung dikerubungi oleh gerombolan cowok dan cewek yang penasaran.
"Kyra, minta nomor telepon rumah dong!" seru salah satu cowok bernama Rendy.
"Kyra, kamu kalau di Jakarta makannya apa sih? Pasta tiap hari ya?" tanya yang lain.
Kyra merasa sesak. Ia mencengkeram pulpennya erat-erat, mulai merasa cemas dengan keramaian itu. Namun, sebuah tangan tiba-tiba menggebrak meja dari belakang.
BRAK!
Juno berdiri dengan wajah bantal dan rambut yang makin berantakan. Matanya menatap tajam ke sekeliling. "Woi! Bubar-bubar! Kalian pikir ini loket antrean sembako? Pergi sana! Kyra lagi mau belajar, jangan diganggu!"
"Lah, Jun, kita kan cuma mau kenalan," protes Rendy.
"Nggak ada kenal-kenalan! Sekali lagi kalian ngerubungin meja ini, aku ketapel satu-satu ya!" Juno menunjukkan jempol dan jari telunjuknya, membentuk simbol ketapel andalannya. "Sana pergi!"
Melihat wajah Juno yang sudah "setengah preman", gerombolan itu pun bubar dengan gerutu. Juno kembali duduk, lalu menoleh ke Kyra yang tampak lega. "Nah, tenang kan? Makanya, kalau nggak ada aku, kamu bisa habis dimakan mereka, Ra."
Pulang sekolah, Juno sudah menunggu di gerbang dengan sepeda BMX-nya yang sudah dimodifikasi. Ada pijakan kaki tambahan di roda belakang agar Kyra bisa berdiri sambil memegang bahu Juno.
"Ayo naik, Tuan Putri! Hari ini kita pulang lewat jalur VIP," seru Juno semangat.
Kyra naik dan berdiri di belakang Juno. Awalnya ia ragu, namun saat Juno mulai mengayuh dengan kencang melewati jalanan menurun, Kyra refleks memegang erat bahu Juno.
"Juno! Pelan-pelan! Nanti jatuh!" teriak Kyra sambil tertawa, ketakutan bercampur senang.
"Nggak akan! Pegangan yang kuat!" Juno malah makin kencang mengayuh, membelah angin sore. Mereka tertawa lepas sepanjang perjalanan, suara tawa mereka bersahutan dengan bunyi rantai sepeda yang berderit.
Alih-alih langsung pulang, Juno memutar kemudi menuju perbukitan kecil di pinggir desa. Di sana, pemandangannya luar biasa—hamparan sawah hijau di bawah dan langit yang mulai menguning.
"Juno, berhenti! Aku mau gambar sebentar," pinta Kyra saat melihat sebuah pohon tua yang bentuknya sangat artistik di tepi bukit.
Juno berhenti. "Ya sudah, sok mangga. Aku mau istirahat di sini."
Juno merebahkan tubuhnya di rumput tepat di samping kaki Kyra yang duduk mulai mencoretkan pensilnya. Tak lama kemudian, Juno terdengar mendengkur halus. Namun, tidurnya tidak tenang. Sesekali tangannya bergerak menepaki udara atau menepuk kakinya sendiri.
Plak!
"Nyamuk nakal! Berani-beraninya gigit!" gumam Juno dalam tidurnya.
Kyra memperhatikan Juno. Laki-laki itu sedang berusaha menghalau nyamuk yang terbang di sekitar mereka. Juno bahkan menggerakkan jaketnya untuk menutupi kaki Kyra yang terbuka.
"Jangan gigit Kyra," igau Juno setengah sadar. "Darah Kyra itu... darah suci. Nggak boleh dikisap sama nyamuk desa kayak kalian. Gigit aku aja yang darahnya pahit..."
Kyra tertegun. Ia menghentikan goresan pensilnya, menatap wajah Juno yang tampak polos saat tidur. Ia merasa matanya memanas. Di saat keluarganya sendiri menganggapnya tidak berguna, anak laki-laki yang berisik ini justru menganggap darahnya "suci" dan melindunginya bahkan dalam tidurnya.
Kyra tersenyum sangat tulus, lalu ia melanjutkan lukisannya. Kali ini, ia tidak menggambar pohon tua itu. Ia justru mulai mensketsa wajah Juno yang sedang tidur dengan mulut sedikit terbuka, lengkap dengan satu bekas gigitan nyamuk di pipinya.
😍😍😍
didunia nyata ada gak sihh cowok kayak juno 🤭🤭🤭
kasihan kyra udah terlalu banyak menderita apalagi lg hamil skrng 🥹🙏
cintanya ugal-ugalan bet daahh....
baguslah.... buang eek ayam dapet berlian nih si Kyra.. /Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
daripada sama cowok pelit/Bye-Bye/