NovelToon NovelToon
Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pita Cantik

Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.

​Dialog Intens Liam kepada Olive
​"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 SORE YANG SENYAP DAN LUKA DI BALIK SENYUM LUNA

​Jumat, 25 April 2025, Musim Semi

​Matahari mulai condong ke arah barat, membiarkan semburat jingga keemasan masuk melalui jendela besar butik Aurevyn Couture. Keramaian yang sejak pagi menyelimuti tempat itu perlahan memudar, menyisakan ketenangan yang damai namun sedikit melankolis. Liam Maximilian Valerius, sang Monarch yang biasanya tak pernah melepaskan pandangannya dari Olive, kini harus mengalah pada keinginan putra kecilnya.

​Alex sejak tadi menarik-narik ujung jas Liam, merengek ingin melihat air mancur di taman kota yang terletak tak jauh dari sana. Melihat wajah menggemaskan sang jagoan, kekerasan hati Liam runtuh. Ia menatap Olive yang masih sibuk dengan tumpukan catatan di tangannya.

​"Olive, aku akan membawa Alex jalan-jalan sebentar ke taman. Dia sepertinya sudah mulai jenuh berada di dalam gedung seharian," ujar Liam lembut, suaranya merendah agar tidak mengganggu konsentrasi Olive.

​Olive mendongak, tersenyum tipis sambil merapikan helai rambutnya yang terjatuh. "Baiklah, Liam. Tolong jaga dia baik-baik. Jangan biarkan dia lari terlalu jauh."

​"Tentu. Marcus, kau ikut denganku," perintah Liam dengan nada mutlaknya yang kembali muncul.

​Marcus, yang sejak tadi berdiri kaku di dekat meja kasir sambil sesekali melirik Luna yang sedang merapikan rak kain, sedikit tersentak. Ia ingin sekali tetap berada di butik, namun perintah Liam adalah hukum. Dengan langkah berat, Marcus membuntuti tuannya keluar dari butik, namun sebelumnya ia sempat memberikan tatapan sekilas yang penuh arti ke arah Luna sesuatu yang sama sekali bukan gaya seorang Marcus.

​Di dalam butik, kini hanya tersisa Olive dan Luna. Olive kembali memfokuskan diri pada buku catatannya. Ia merinci setiap detail pembicaraannya dengan Liam tadi mengenai sentuhan akhir seragam elit Valerius Group. Pemilihan kancing titanium hitam, bordir perak yang harus presisi, hingga jenis kasmir yang harus tahan cuaca ekstrem namun tetap elegan.

​"Luna," panggil Olive pelan.

​Luna yang sedang berdiri di dekat meja potong segera menghampiri. "Iya, Olive?"

​"Bisa tolong kau potong kain sampel ini sesuai dengan ukuran yang sudah aku catat di sini? Dan tolong rapikan pinggirannya menggunakan teknik interlining yang aku ajarkan tadi," Olive menyodorkan secarik kertas teknis dan selembar kain mahal.

​Luna menatap kain itu dengan sedikit ragu. Tangannya sedikit gemetar. "Apakah saya sanggup? Kain ini terlihat sangat mahal, saya takut salah potong..."

​Olive terkekeh pelan, ia bangkit dan menghampiri Luna. Dengan penuh kesabaran, Olive mempraktekkan cara memegang gunting kain yang benar dan teknik pemotongan yang presisi. "Jangan takut. Tekan kainnya perlahan, ikuti garis kapurnya. Kau pasti bisa, Luna. Aku percaya padamu."

​Melihat ketelitian dan bimbingan Olive yang begitu tulus, Luna mulai mencoba. Benar saja, dengan kecerdasan yang ia miliki, Luna langsung mengerti. Ia memotong kain itu dengan gerakan halus namun pasti, membuat Olive tersenyum bangga.

​Setelah semua pekerjaan teknis selesai dan kain-kain telah dirapikan ke tempatnya, Olive mengajak Luna untuk beristirahat sejenak di sofa beludru di ruang tengah butik. Olive menyeduh dua cangkir teh hangat, memberikan satu pada Luna yang tampak sangat pemalu.

​Olive memperhatikan Luna dari dekat. Gadis ini memiliki kecantikan yang sangat alami, namun ada gurat kelelahan dan kesedihan yang coba disembunyikan di balik senyum tipisnya.

​"Luna," Olive memulai pembicaraan dengan nada santai, berusaha mencairkan suasana agar gadis itu tidak terlalu tegang. "Boleh aku tahu sesuatu? Tadi pagi kau berangkat dari kampus ke sini naik apa?"

​Luna menundukkan kepalanya, jari-jarinya memainkan pinggiran cangkir teh. "S-saya jalan kaki, Olive."

​Olive terkejut bukan main. Matanya membulat sempurna. "Jalan kaki? Luna, jarak dari fakultasmu di Monte Carlo ke butik ini cukup jauh. Itu hampir memakan waktu empat puluh menit jika berjalan cepat. Kenapa kau tidak naik bus atau taksi daring? Monako punya sistem transportasi yang baik."

​Luna semakin menunduk, wajahnya memerah karena malu. "Uang sakunya... harus saya simpan, Olive. Ongkos bus di sini cukup mahal bagi saya. Saya lebih baik menggunakan uang itu untuk hal lain."

​Olive menghela napas, ia merasa sedikit kesal namun lebih banyak merasa kasihan. "Luna, jangan terlalu berhemat untuk kesehatanmu sendiri. Jika kau jatuh sakit karena kelelahan, itu akan lebih mahal biayanya. Kenapa kau harus sangat berhemat seperti itu?"

​Keheningan menyelimuti ruangan sejenak. Luna menarik napas panjang, mencoba menahan getaran di suaranya. "Karena... saya harus mengirimkan separuh dari uang jajan dan gaji saya ke nenek di kampung, Olive. Nenek harus membiayai adik saya yang masih kecil. Selain itu, nenek punya penyakit asma kronis yang membutuhkan obat bulanan. Kalau saya tidak mengirim uang, mereka tidak bisa membeli obat."

​Olive tertegun. Gelas teh di tangannya hampir terlepas. "Nenek? Di mana orang tuamu, Luna?"

​Mendengar pertanyaan itu, Luna meremas ujung kaosnya dengan sangat kuat. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis di depan bos barunya. "Ibu saya... meninggal dunia saat melahirkan adik saya. Saat itu saya berusia sepuluh tahun dan adik saya baru berusia dua tahun."

​Suara Luna mulai serak. "Dan Ayah saya... beliau pergi meninggalkan kami tidak lama setelah Ibu meninggal. Beliau menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, saya dan adik saya dibesarkan oleh Nenek dengan segala keterbatasan. Itu sebabnya saya sangat butuh pekerjaan ini. Saya ingin lulus kuliah agar bisa membawa mereka tinggal di tempat yang lebih layak."

​Hati Olive hancur mendengarnya. Ia merasa seperti melihat cerminan dirinya yang dulu berjuang sendirian di London tanpa dukungan siapa pun. Bedanya, Olive masih memiliki keluarga Aurevyn yang meski ia tinggalkan, hartanya masih mengalir dalam darahnya. Sedangkan Luna? Gadis ini benar-benar tidak punya siapa-siapa selain dirinya sendiri.

​Tanpa berkata-kata lagi, Olive bergeser mendekat dan langsung memeluk Luna dengan erat. Ia tidak peduli jika baju mahalnya akan terkena air mata. Ia hanya ingin Luna tahu bahwa dia tidak sendirian lagi.

​"Maafkan aku, Luna... aku tidak tahu," bisik Olive lirih. "Mulai hari ini, kau tidak perlu jalan kaki lagi. Aku akan mengatur jemputan atau memberikan tunjangan transportasi untukmu. Kau adalah tanggung jawabku sekarang."

​Luna yang sejak tadi menahan diri, akhirnya tumpah juga. Ia menangis tersedu-sedu di pundak Olive, mengeluarkan seluruh beban berat yang selama ini ia pikul di pundaknya yang masih sangat muda. Sore itu, di dalam butik yang sunyi, dua wanita dengan luka masa lalu yang berbeda saling menguatkan, sementara di luar sana, musim semi terus berbunga, seolah menjanjikan harapan baru bagi mereka yang berani bertahan.

1
Gibran AnamTriyono
bagus kak ceritanya
Butterfly🦋: makasih sudah membaca semoga suka ceritanya ya🤭😍
total 1 replies
Gibran AnamTriyono
mampir kak , semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!