Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan Bubur Abalone
Malam di atas Sungai Amsterdam selalu memiliki suaranya sendiri; derak pelan kayu houseboat yang beradu dengan arus dan suara angin yang bersiul di sela jendela. Di dalam kamar yang sempit namun hangat, suasana terasa begitu nostalgik.
Karena keterbatasan ruang, mereka kembali pada kebiasaan lama di Brisbane: berbagi satu ranjang yang sama. Tidak ada kecanggungan yang aneh, hanya rasa nyaman yang sudah mendarah daging. Bagi mereka, ini bukan tentang romansa yang dipaksakan, melainkan tentang dua jiwa yang lelah dan akhirnya menemukan sandaran.
"Gue seneng banget deh bisa nemuin lo di Amsterdam," ucap Jake lirih dalam kegelapan. Suaranya terdengar berat oleh rasa kantuk sekaligus kelegaan.
"Gue ngantuk banget, Jake..." gumam Takara, suaranya nyaris hilang ditelan bantal. Energinya habis setelah seharian didera kekhawatiran dan kejutan yang bertubi-tubi.
"Yaudah, lo tidur," balas Jake lembut. Ia mengulurkan tangan, mematikan lampu tidur di nakas, lalu dengan telaten menarik ujung selimut untuk menutupi bahu Takara yang terpapar udara malam.
Di bawah temaram cahaya bulan yang masuk lewat celah gorden, Jake menatap wajah tenang Takara. Ia tidak langsung memejamkan mata. Ia ingin menikmati detik-detik di mana ia tidak perlu menjadi "produk" global. Di sini, ia hanya seorang laki-laki yang menjaga sahabatnya tidur.
Waktu seolah berjalan dua kali lebih cepat saat kita ingin ia berhenti. Tak terasa, cahaya oranye pucat mulai merayap masuk ke dalam kabin. Takara sudah terbangun lebih dulu, meninggalkan kehangatan kasur untuk berkutat di dapur kecilnya.
Ia memutuskan untuk membuat bubur abalone. Ia tahu, setelah ini Jake harus kembali menghadapi jadwal makan yang berantakan, tekanan panggung, dan kilatan lampu blitz. Ia ingin perut Jake terisi oleh sesuatu yang bergizi dan penuh kasih sayang sebelum laki-laki itu kembali menjadi milik dunia.
Suara adukan sendok pada panci keramik perlahan membangunkan Jake. Ia muncul di ambang pintu dapur dengan rambut berantakan khas bangun tidur dan wajah yang masih sembap, pemandangan yang tidak akan pernah bisa dilihat oleh jutaan penggemarnya.
"Baunya enak banget, Ra," gumam Jake sambil bersandar di kusen pintu, memperhatikan punggung Takara.
"Mandi sana. Terus sarapan," perintah Takara tanpa menoleh, namun ada nada melankolis yang tertahan di suaranya. "Pesawat lo berangkat siang ini, kan? Jangan sampai telat, gue nggak mau lo kena masalah sama manajemen gara-gara telat balik."
Mereka duduk bersila di atas karpet bulu dekat jendela, menghadapi dua mangkuk bubur yang mengepul. Suasana pagi ini terasa jauh lebih berat daripada malam sebelumnya. Ada gajah besar di ruangan itu bernama "perpisahan".
Jake menyuap buburnya perlahan. Rasanya gurih dan hangat, tapi hatinya terasa hambar.
"Nanti malam gue udah harus di Seoul lagi. Latihan koreografi baru buat comeback," lapor Jake, seolah-olah ia sedang melapor pada komandannya.
Takara mengangguk kecil. "Jangan dipaksain kalau capek. Minum vitaminnya jangan lupa. Dan tolong... jangan sering matiin ponsel kalau nggak darurat. Lo tahu kan itu bikin gue jantungan?"
Jake tersenyum pahit. "Maaf ya. Gue cuma pengen kerasa bener-bener 'ngilang' sebentar."
Laki-laki itu menatap Takara dalam-dalam, seolah ingin merekam setiap detail wajah gadis itu ke dalam ingatannya agar bisa ia bawa sebagai "bekal" untuk bertahan hidup di Seoul.
"Ra," panggil Jake saat sarapan mereka hampir habis. "Makasih ya udah selalu ada di koordinat yang sama. Jangan pindah dulu, sebelum gue bener-bener bisa nyusul lo di sini lagi."
Takara hanya bisa terdiam, tangannya menggenggam sendok dengan erat. Ia tahu, siang nanti saat taksi menjemput Jake ke Schiphol, dunianya akan kembali sunyi, dan ia akan kembali menjadi penonton setia di balik layar ponsel.
Proses packing itu berjalan dalam sunyi yang menyakitkan. Takara membantu Jake melipat jaket besarnya dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal di bawah ranjang. Ia bergerak dengan cekatan, mencoba terlihat setegar mungkin. Namun, saat jemarinya menyentuh paspor Jake di atas meja, pertahanannya runtuh seketika.
Setetes air mata jatuh di atas sampul paspor itu, disusul isakan kecil yang tidak bisa lagi ia bendung.
Jake, yang sedang memakai sepatunya, langsung terhenti. Ia berdiri dan mendapati bahu Takara yang bergetar hebat. Takara tidak berniat menangis, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melepaskan Jake dengan senyuman agar laki-laki itu tidak terbebani di Seoul nanti. Tapi logika tidak pernah menang melawan rasa takut akan kehilangan.
Siapa yang tidak akan hancur? Orang yang ia cintai sejak kecil, yang kini menjadi bintang milik dunia, harus pergi kembali ke dalam sangkar emasnya. Dan Takara tetap di sini, sendirian, mempertahankan status "sahabat" yang terasa seperti penjara tanpa jeruji.
"Ra..." suara Jake pecah.
Tanpa menunggu penjelasan, Jake melangkah lebar dan menarik Takara ke dalam pelukannya. Ia mendekap kepala gadis itu di dadanya, membiarkan air mata Takara membasahi kaosnya. Jake memejamkan mata kuat-kuat, mencoba meresapi kehadiran Takara untuk terakhir kalinya.
Ia menghirup dalam-dalam aroma sampo buah dari rambut Takara, aroma yang tidak pernah berubah sejak mereka masih remaja di Brisbane. Bagi Jake, aroma itu adalah satu-satunya hal yang tetap konstan di dunianya yang terus berubah dengan gila.
"Jangan nangis, gue jadi nggak mau pergi kalau lo kayak gini," bisik Jake, suaranya parau karena menahan tangisnya sendiri.
"Gue nggak tahu kapan lo bisa balik lagi, Jake," isak Takara di sela pelukannya. "Setiap kali lo pergi, gue selalu ngerasa lo makin jauh buat digapai. Lo bukan Jake gue lagi, lo milik semua orang."
Jake mempererat pelukannya, seolah ingin menyatukan kembali kepingan hati Takara yang retak. "Gue selalu jadi Jake lo, Ra. Di atas panggung manapun, di depan kamera manapun, gue cuma akting. Yang asli itu... yang sekarang lagi meluk lo."
Suara klakson taksi di luar dermaga terdengar seperti bunyi lonceng kematian bagi kebersamaan mereka. Jake perlahan melepaskan pelukannya, menangkup wajah Takara dengan kedua tangannya yang hangat. Ia menghapus sisa air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya.
"Gue harus pergi," ucap Jake lirih.
Jake melangkah menuju taksi tanpa menoleh lagi, karena ia tahu jika ia berbalik sekali saja, ia mungkin akan membatalkan tiketnya dan tinggal selamanya di Amsterdam.
Di ambang pintu, Takara berdiri mematung. Ia menatap taksi itu menjauh hingga hilang di tikungan jalan berbatu. Udara Amsterdam mendadak terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Di dalam houseboat yang kini sunyi, hanya tersisa aroma parfum Jake yang memudar dan sisa bubur abalone di atas meja, satu-satunya bukti bahwa mimpi indah selama 48 jam itu benar-benar terjadi.
———
Ingatan itu berputar seperti rol film tua di kepala Takara, persis saat taksi yang membawa Jake menghilang dari pandangan. Di tengah sunyinya houseboat yang kini terasa terlalu luas, bayangan masa lalu di Brisbane justru terasa lebih nyata daripada udara dingin Amsterdam.
Takara kecil berdiri mematung di depan pagar kayu rumah barunya. Brisbane sangat asing; bau udaranya, aksen orang-orangnya, hingga matahari yang terasa terlalu terik. Ibunya, seorang single mom yang tangguh namun kelelahan, harus segera berangkat kerja setelah menurunkan koper-koper mereka.
"Tunggu di rumah ya, Sayang. Ibu pulang malam," adalah kalimat yang paling sering Takara dengar.
Hari-hari awal di sana terasa seperti penjara. Takara sering duduk di beranda belakang, menatap pohon jacaranda sambil meremas ujung bajunya. Ia kesepian, merasa seperti alien yang terdampar.
Sampai suatu hari, sebuah bola tenis melompati pagar dan mendarat tepat di kaki Takara.
"Hai! Sorry, boleh minta tolong balikin bolanya?"
Seorang anak laki-laki dengan senyum selebar matahari muncul dari balik pagar. Itu Jake. Tanpa menunggu jawaban, Jake justru melompati pagar dan mendarat di depan Takara dengan wajah tanpa dosa.
"Lo baru pindah ya? Gue Jake. Rumah gue di sebelah. Ayo main ke rumah gue, Ibu gue lagi bikin pancake!"
Sejak saat itu, rumah Jake menjadi tempat perlindungan Takara. Saat ibunya sibuk bekerja hingga larut, ada Jake yang selalu menyeretnya masuk ke rumah keluarganya.
Takara ingat betapa hangatnya suasana di sana. Jake akan mengajaknya berbagi makanan di meja makan kayu yang besar, mengenalkannya pada masakan Australia dan sesekali mencoba makanan Korea yang dibuat ibunya. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di halaman belakang untuk memandikan anak anjing peliharaan Jake yang nakal.
"Takara, pegang kakinya! Dia mau lari!" teriak Jake sambil tertawa, tubuhnya basah kuyup karena semprotan air, sementara Takara hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat Jake bergulat dengan seekor anjing kecil yang lincah.
Bukan hanya itu, hobi favorit mereka adalah menjahili Leah, adik Jake. Jake sering menyembunyikan boneka Leah atau menaruh serangga mainan di tas sekolahnya, lalu menarik Takara untuk lari bersembunyi di dalam lemari sambil menahan tawa hingga perut mereka sakit.
Bagi Takara, Jake bukan sekadar teman. Jake adalah orang yang mengisi kekosongan saat ibunya tidak ada. Jake adalah orang yang pertama kali mengajarinya bahwa dunia yang asing pun bisa menjadi rumah, asalkan ada seseorang yang peduli.