Mereka pikir, bercerai adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri pernikahan yang terasa jauh dan hambar tanpa rasa. Namun siapa menyangka, Jika setelah pahit perceraian justru terbitlah madunya pernikahan... rasa rindu yang berkepanjangan, kehilangan, rasa saling membutuhkan, dan manisnya cinta?
Sweet after divorce...manis setelah berpisah.
"Setelah berpisah, kamu jadi terlihat menawan dimataku."
"Setelah berpisah, kamu jadi manis terhadapku."
"Mau rujuk?"
.
.
.
Cover by Pinterest and Canva
Dear pembaca, bijaklah memilih bacaan. Jika hanya ingin mampir dan tidak berniat membaca sampai akhir, maka jangan berani membuka ya 🤗 kecuali kalau sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Pergi, aku ingin kamu pergi!
Anye masih kebingungan dengan hari ini, dimana dua orang therapist tiba-tiba datang ke rumah melayani paket spa dan massage untuknya atas pesanan seseorang.
Belum lagi, makanan-makanan tadi yang masih menumpuk di meja ruang tamu....ibu ikut terheran sekaligus tertawa renyah melihat orang usil yang melakukan itu untuk Anye.
"Ini siapa yang pesen, kamu?" tanya ibu digelengi Anye, "ngga tau."
"Ada orang iseng apa gimana?" lagi, ibu bertanya yang digelengi Anye. Isengnya nih orang buang-buang duit....oke satu nama yang sejak tadi mengerucut di otak Anye.
"Ibas bukan?"
Anye kembali menggeleng, "kayanya bukan." seratus persen Anye yakin bukan Ibas.
Satu nama yang selalu jadi sasaran tebakan Anye, ia lantas mengirimkan pertanyaannya pada Desti, karena sudah bisa ditebak dimana dirinya terganggu oleh orang luar pasti ada sangkut pautnya dengan asistennya itu.
Anyelir
Hari ini siapa yang tanya saya?
Desti
Bang Lana, mbak Jannah....teh Angel. Sama....anu Bu, mas Yahya....🏃🏃🏃🏃
Dan benar, sudah dapat dipastikan jika semua makanan, dan orang-orang ini adalah kiriman Ganesha, siapa lagi memangnya? Yahya tak akan sekonyong-konyong bertanya tentang dirinya, semua itu make sense saat Desti mengatakan, jika dirinya sedang sakit.
Desti
Pak Ganesha kirim pesen Bu, 👉👈 katanya nomor ibu ngga aktif.
Anyelir
Biarkan. Anggap aja angin. Sore antar berkas proyekan ke rumah ya...
Desti
Siap Bu..
Akhirnya mau tak mau, Anye menerima pelayanan itu. Ia melihat kedua orang yang hanya sedang memenuhi tuntutan tugasnya, Anye tak mau membawa-bawa mereka ke dalam pusaran masalahnya.
"Tunggu sebentar ya mbak, kalo di kamar tamu aja gimana?" Anye meringis lalu membawa kedua therapist itu ke dalam.
"Siapa yang kirim, Nye?" tanya ibu ketika Anye hampir melewati ibu membawa kedua wanita dengan cepolan rendah dan seragam merah ati itu masuk ke kamar tamu.
Ada helaan nafas panjang dari Anye, "bang Ganes, Bu.."
Ibu hampir mengeluarkan biji matanya, "Ganesha?"
Anye mengangguk lemah sembari meringis, sementara ibu menatapnya getir.
Ada bisikan diantara jeda waktu sebelum Anye mulai dipijat, dan untuk itu ia menunggu ibu sampai berlalu ke belakang.
"Mbak, minta dipijit tidak di area perut ya... Saya sedang mengandung..."
Kedua therapist itu mengangguk.
Lilin aromaterapi, suasana kamar tamu yang menurutnya tenang membawa rasa nyaman bersama pijatan lembut.
*Apa yang lagi kamu lakuin, bang*?
Anye semakin merasa kesulitan untuk pergi jika begini caranya.
Kedua therapist ini selesai dengan rangkaian paket pesanan bahkan sempat minum teh manis dan cemilan yang disajikan ibu.
"Permisi Bu," pamit mereka.
Sepeninggal keduanya, ibu menatap Anye gamang, "apa karena ini kamu masih sulit melangkah dengan Ibas, Nye?" tatapnya jatuh sedikit redup tapi entahlah----ibu terlihat bingung sekarang, dibuat tak habis pikir dengan hubungan rumit yang dijalani putrinya itu.
"Kalau memang masih perhatian dan sayang, kenapa harus pisah? Jujur, ibu ngga tau alasan perceraian kalian selain dari udah ngga cocok, udah ngga satu jalan....tapi kelihatannya Ganesha masih perhatian sama kamu. Ganesha juga masih sering kirim ibu uang." Akui ibu membuat Anye terkejut, "ha? Abang..."
Ibu mengangguk meringis, "tapi ibu ngga pernah pakai. Uang sehari-hari untuk makan, beli perlengkapan atau arisan, ibu pakai uang dari Anye...ibu sudah larang Ganesha, tapi----dia tetep kirim, katanya udah terbiasa kirim. Toh buatnya ibu tetep jadi ibunya. Kamu juga sering ketemu mama Ica, kan?"
"Kenapa sih, Nye? Seandainya rujuk, ibu ngga keberatan...Ganesha bikin salah yang fatal, yang ngga bisa kamu maafkan?"
Anye melengos pergi dari ibu. Tanda jika ia tak nyaman dengan obrolan itu, "banyak bu!" Jangan sampai pertahanannya goyah kembali, ia sudah memutuskan semalam, keputusannya sudah ia ketuk palu dan segel.
"Ya ngomong lah Nye, sama orangnya....biar bisa diperbaiki. Mungkin Ganesha tipe orang yang mesti diingatkan, bukan ditinggalkan..." pesan ibu berlalu seperti angin sebab Anye sudah masuk ke dalam kamarnya.
Tapi sejurus kemudian, Anye baru menyadari sesuatu dan kembali membuka pintu kamarnya, "Abang masih suka hubungin ibu?"
Ibu mengangguk, "barusan dia tanya, kamu sakit?"
"Ibu jawab apa?"
"Ibu jawab iya...ibu tawarin juga, mau jenguk, sini ke rumah, begitu...tapi Ganesha belum jawab lagi sih, sibuk kayanya."
Anye menganga dibuatnya, "ya jangan disuruh nengok lah Bu!!!" serunya mele nguh, "ibu kok ngga koordinasi dulu sama Anye?"
Duhhhh, Anye menepuk jidatnya. Semoga saja memang benar ia sangattttt sibuk!
Benar, setelahnya....saat sore menjelang, sebuah mobil mewah berhenti dan mematikan mesinnya di depan rumah Anye.
Bel berbunyi ketika Anye berada di kamarnya sambil memasang masker di wajah.
Ibu yang bergegas membuka, dan sambutan diberikan. Bahkan terbilang santai dan ramah.
"Anye tamu."
"Desti bukan? Kalo iya suruh masuk aja, Bu..." tanya Anye memperbaiki letak masker di wajahnya, tapi ia sudah beranjak keluar dari kamar.
Ayunan langkahnya begitu sama dengan langkah manusia di belakang badan ibu, saat ibu meninggalkannya tepat di ruang tamu.
"Des... klien Bekasi ntar saya yang hubungi aja langsung, tapi pake nomor kamu..." oceh Anye tanpa tau siapa yang ada di balik belokan tembok.
Dan
Hhaaaa!!!
Baik Anyelir ataupun Ganesha sama-sama terkejut meski reaksi terkejut mereka kentara perbedaannya. Ibu tertawa dari arah dalam.
"Kamu apa-apaan?" tanya Ganesha dengan alis mengerut. Sementara Anye, ekspresinya tak terlihat sebab masker yang menutupi wajah menyebabkan rasa kaku, "abang ngapain kesini?! Siapa yang ijinin?"
"Ibu. Katanya anaknya sakit...jadi saya jenguk, kemarin juga ada yang janji datang ke apartemen, tapi ngga datang-datang, bukannya kartu akses masih di kamu, atau kamu buang?" Ganesha hampir menyemburkan tawa mengingat kekonyolan barusan. Namun ia berdehem dan memilih duduk.
Sementara Anye, memilih berbalik badan dan kembali, "nomor kamu ngga aktif seharian? Abis pulsa?"
Anye diam untuk itu, tak menjawab dan lebih memilih melengos ke kamar saja.
Anye, ia tak mau membuang perawatan masker yang ujungnya berakhir mubadzir, jadi ....ibu yang menemani Ganesha di ruang tamu.
Persis sepasang kekasih yang sedang bertengkar, selalu saja orang sekitar yang direpotkannya. Hingga akhirnya ia memilih keluar dari kamar dan menemui Ganesha, alih-alih mengajak bicara ia justru mengusir Ganesha.
"Baiknya Abang ngga perlu datang lagi kesini."
Ganesha menatapnya dengan lebih serius, "kenapa? Ada apa Anye? Dalam kurun waktu kurang dari 24 jam kamu jadi orang yang berbeda, apa selama itu saya ada salah?"
"Banyak." begitu Anye menjawabnya.
"Saya harus minta maaf?" tanya Ganesha lagi tapi digelengi Anye, "ngga perlu. Abang cuma harus pergi. Kemarin itu...ada yang mau aku obrolin, ya ini----" angguk Anyelir menatap Ganesha mantap. Meski kini hatinya bergetar sakit, kecewa dan yeahhh! Jangan kembali lagi please ...
"Aku, ingin abang pergi dari hidupku..."
Alih-alih setuju, Ganesha justru menyeringai, menyenderkan punggungnya di sofa, "yang bisa memutuskan untuk pergi, cuma saya sendiri."
.
.
.
.
.
diam diam menenggelamkan ternyata