NovelToon NovelToon
Agen Paling Dingin

Agen Paling Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Gangster / Action / Komedi
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: Di Persingkat Saja DPS

Mengisahkan seorang agen kocak tapi cool

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Atasan yang kikir dan serakah

Di suatu tempat yang belum di ketahui, di dalam ruangan yang luas dengan beberapa kursi besar di salah satu sisi ruangan.

Di kursi-kursi yang besar dan sangat mencolok itu duduk beberapa orang misterius yang belum di ketahui.

Seseorang kemudian memasuki ruangan dan orang itu adalah komandannya Wawan yang datang dengan penampilannya yang sangat meyakinkan.

Ia berdiri tegak layaknya seorang prajurit di hadapan beberapa orang yang duduk di kursi besar itu.

"Komandan Dari Divisi Burung Hantu, datang melapor!" Ucapnya dengan lantang dan kaku.

Salah satu dari orang misterius itu kemudian berkata. "Bukannya saya minta anda untuk menangani masalah ini sesegera mungkin!?"

Nada ucapannya begitu dingin dan acuh.

Ekspresi komandan pun jatuh ketika ia mendengar kata-kata yang keluar dari atasannya itu.

"Pak! Masalah ini sudah masuk sebagai ancaman tingkat nasional, bagiamana bisa kamu atasi dalam waktu singkat kalau anggota kami saja cuma tiga orang!"

"Belum lagi dua di antaranya masih tergolong amatir sedangkan yang senior baru bergabung beberapa jam yang lalu dalam misi ini!"

Setelah itu ruangan menjadi hening.

"Lantas?... Apa yang anda inginkan!?" Tanya orang itu.

"Saya minta tambahan waktu, personil dan dana yang sesuai dengan misi ini!" Suasana pun berubah menjadi tegang.

Sebenarnya permintaan komandan masih terbilang wajar, namun...

Karena yang di mintai tolong adalah orang-orang tamak dan kotor maka permintaan ini jelas akan kelewatan untuk orang-orang itu.

"Itu kelewatan!"

"Kami akan kirimkan personil tambahan dan waktu tambahan juga, tapi untuk dana kami tidak bisa!"

"Alasannya karena itu sudah kebijakan dari pusat!" Alis mata komandan tertekuk tajam ketika mendengarnya.

Ia tahu benar kalau perkataan atasannya itu adalah sebuah dusta.

Kenyataan tidak pernah ada kebijakan seperti itu.

Malahan, dana yang di berikan pusat sebenarnya sangat besar hingga jika dana itu di kelola dengan benar itu bisa memberikan Wawan gaji yang benar-benar fantastis.

"Baiklah. Saya akan terima personil dan waktu tambahan itu!" Merasa tak ada gunanya berdebat komandan memutuskan untuk mengambil apa yang bisa di ambil saja.

Berharap kalau orang-orang yang di kirim adalah orang-orang yang kompeten.

"Jika tidak ada urusan lagi, anda bisa pergi sekarang juga!" Ucap orang yang sedari tadi bicara dengan komandan.

Tanpa sepatah kapanpun terucap lagi komandan langsung keluar dengan ruangan dengan ekspresi muram.

Dalam lubuk hatinya, komandan sedang mengumpat dan mamaki orang-orang yang baru saja ia temui tadi.

Kembali pada Wawan.

Hari itu, Wawan tampak sedang duduk di teras rumahnya untuk bersantai karena hari ini libur dari pekerjaannya.

Secangkir kopi dan kue-kue kering tampak menemaninya bersantai di sana.

Untuk sesaat Wawan bisa merasakan kedamaian di rumahnya yang sederhana itu.

Tatapan Wawan tertuju pada sayur-sayuran yang ia tanam yang sekarang sedang di sinari cahaya matahari senjata.

Kebun kecil itu tampak indah dan itu memberi rasa puas tersendiri untuk Wawan yang telah merawat semua tanaman itu.

"Haahh... Rasanya damai sekali duduk sambil ngopi di sore hari dan menunggu waktu magrib tiba!" Ucapnya dengan wajah datar.

Namun kedamaian itu tak bertahan lama.

Karena, tiba-tiba saja muncul seseorang yang membuat Wawan agak terkejut hingga matang melotot.

"Mas Wawan!!" Teriak dari seorang perempuan dengan nada merajuk.

Perempuan ini adalah perempuan yang sama yang sebelumnya pernah melihat Wawan di bawa pergi oleh Raisya untuk menjalankan misi.

Dalam hati Wawan berkata... 'Waduh... Repot, nih.'

Wawan pun meletakkan cangkir kopinya dan beranjak berdiri untuk menghampiri perempuan itu.

"Ada apa?!" Tanya Wawan datar nan acuh.

"Kemarin itu siapa? Kok mas Wawan jalan sama cewek lagi sih?!" Ia merajuk hingga menghentakkan kakinya beberapa kali ke tanah.

Wawan pun berkata dengan lantang. "Urusannya sama kamu apa?!"

Mendengar kata-kata yang sangat dingin itu, itu membuat si perempuan makin merajuk hingga seakan mau menggeliat.

"Iihhh!! Kok mas kayak begitu, sih!?" Ia pun mulai memasang wajah yang menyedihkan yang mana itu membuat Wawan jengkel hingga memalingkan wajahnya.

Kemudian ia merengek menuntut Wawan untuk menceritakan orang yang sebelumnya jalan dengan Wawan itu siapa.

Tidak cuma itu.

Ia juga merengek dan mendesak Wawan untuk memilih antara dia dan Raisya.

Tentu rengekannya itu tak sedikitpun di dengarkan oleh Wawan.

Wawan dengan santai menyimpan kembali kopi dan kue-kuenya kemudian pergi begitu saja.

"Loh! Mas mau kemana!?" Sambil berjalan santai Wawan menjawab. "Ke masjid, sudah mau Magrib!"

"Tapi kan, ini baru jam lima pas, masih ada waktu sejam lagi hingga magrib tiba!"

"Aku kau kumpul sama bapak-bapak di sana, jadi harus berangkat lebih awal!" Wawan pun keluar dari wilayah rumah.

Tak sedikitpun Wawan menoleh ke belakang dan itu sangat membuat si perempuan sedih hingga menangis di atas tangan dengan kaki yang menendang-nendang tanah.

Hal itu berlangsung cukup lama.

Satu hari pun berlalu.

Kini, tampak ada beberapa orang baru yang bergabung dalam misi pencarian tabung gas subsidi.

Ada tiga orang dan ketiganya kini sedang berdiri tepat di hadapan komandan markas ini.

Mereka terdiri tagak dalam satu barisan.

Di hadapan mereka, komandan tampak duduk sambil memasang wajah muram karena... "Haahh.... Aku minta personil yang bisa di andalkan, tapi yang mereka kirim malah amatir!"

"Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi di sini!" Tiga orang itu seketika saling menatap satu sama lain.

Raut wajah mereka terlihat kebingungan.

Tampaknya, mereka sendiri tidak begitu tahu kenapa mereka bisa di kirim ke markas ini.

"Um, pak... Bisa kami tahu, tugas apa yang akan kami bantu itu!?" Pertanyaan tadi membuat komandan makin terpuruk.

"Sialan! Mereka bahkan tidak tahu misi seperti apa yang akan mereka jalankan di sini!" Tidak henti-hentinya komandan mengumpat dalam hatinya.

Makin lama ia memikirkan masalah ini makin buruk pula raut wajahnya dan itu juga makin membuat anggota baru itu kebingungan.

"Haah... Kalian bisa temui senior kalian di markas ini dan lakukan apa yang mereka minta kalian lakukan!" Sambil melambaikan tangannya komandan berkata.

Tiga orang itu pun pergi dari ruangan.

Mereka berkeliling mencari-cari dimana anggota dari markas ini namun tidak ketemu satupun.

Belum lagi, tempat ini terlalu kecil dan kosong untuk di sebuah sebagai markas.

"Apa benar ini markas yang akan kita tempati untuk beberapa waktu kedepan?... Kenapa kondisinya buruk sekali!?" Ucap salah satu dari mereka bertiga.

Yang lain kemudian menimpali. "Ya, itu benar... Apalagi tidak ada seorangpun di tempat ini!" Ia melihat-lihat sekitar.

Tak lama, Wawan muncul dengan mengenakan pakaian santainya.

"Oh... Apa itu agen di tempat ini!?" Tanya satu-satunya perempuan di antara mereka bertiga.

Ketiganya langsung menghampiri Wawan yang baru sampai itu.

"Permisi! Apa anda senior di sini!?" Tanya si perempuan pada Wawan sambil tersenyum ramah.

Wawan yang tidak tahu siapa mereka tidak langsung menjawab dan hanya diam sambil menatap ketiganya.

'Siapa mereka ini?...'

1
Ai_Li
Saya mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!