aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Volume II — The Weight of Survival Chapter 4 — Trial of the Blade
Cahaya sore menembus reruntuhan kota dengan hangat, tapi tidak sepenuhnya. Kota barat mulai membangun kembali pos-pos kecil untuk para penyintas. Suara langkah kaki, percakapan warga, dan gelegar aktivitas Hunter lain menciptakan irama kehidupan yang rapuh, sebuah tanda bahwa dunia masih bisa bertahan.
Daniel duduk di sebuah bangku beton retak, katana di pangkuannya. Pedang itu terasa berat—bukan karena materi, tetapi karena tanggung jawab yang kini melekat di setiap tebasan.
Raven datang dari lorong, membawa tas perlengkapan. “Misi berikutnya,” katanya. “Zona selatan—lebih besar, lebih banyak warga, dan laporan intel menyebut iblis tingkat menengah sudah menguasai gedung tinggi.”
Daniel menarik napas panjang. Ia menatap kota yang hancur tapi tidak padam. Segel pertama berdenyut pelan di dadanya, memberi stabilitas fisik dan mental. Ia sadar, misi ini tidak bisa dianggap remeh, tapi itu juga bukan perang tanpa harapan.
Masuk ke Zona Selatan
Mereka bergerak menuju gedung tinggi yang menjadi sarang iblis. Jalanan dipenuhi reruntuhan dan kendaraan terbakar, tetapi penduduk yang selamat membantu menyingkirkan puing ringan untuk membuat jalur. Daniel menggerakkan katana di sampingnya, bukan sebagai alat menyerang—tetapi untuk menyingkirkan reruntuhan yang bisa menghalangi warga.
“Ini berbeda dari sebelumnya,” kata Daniel pelan. “Tidak semua yang kita lakukan harus tentang menyerang. Kadang… hanya tentang memberi jalan.”
Raven menatapnya, sedikit tersenyum. “Itulah yang membuatmu berbeda, Daniel. Banyak Hunter hanya fokus membunuh. Kau… kau menimbang nyawa mereka, bukan sekadar melawan.”
Mereka memasuki gedung pertama. Suasana di dalam lebih tenang, namun aura bahaya tetap ada. Bayangan bergerak di dinding, dan suara langkah iblis terdengar samar. Daniel menahan napas, mengatur posisi pedang. Segel pertama memantau ritme tubuhnya, membantunya tetap fokus tanpa panik.
Pertempuran Terkoordinasi
Iblis muncul dari tangga dan lorong samping. Kali ini, mereka lebih terorganisir, bergerak seperti pasukan kecil yang cerdas. Daniel menebas satu makhluk, menghindari serangan lain, sementara Raven menembak dari jarak jauh.
Setiap gerakan Daniel lebih presisi daripada sebelumnya. Ia mulai merasakan pola serangan iblis—bukan dengan kekuatan, tetapi dengan insting yang diperkuat segel pertama.
Seorang warga terselip di belakang puing. Daniel menunduk, memotong besi yang menekannya dengan satu tebasan, lalu menuntunnya keluar. Di saat yang sama, iblis lain meluncur dari atap. Dengan gerakan berputar, Daniel menebas tepat waktu, memanfaatkan momentum jatuhnya puing untuk memukul mundur musuh.
Raven berteriak: “Cepat! Kita harus naik ke lantai atas!”
Daniel mengangguk, napasnya masih teratur, namun beban tanggung jawab terasa semakin nyata. Setiap nyawa yang terselamatkan menambah tekanan, dan ia tahu setiap langkah salah bisa menelan korban lebih banyak.
Ketegangan Tidak Hanya Fisik
Mereka sampai di lantai atas gedung tinggi. Dari sini, Daniel bisa melihat distrik lain—puing, reruntuhan, dan asap yang perlahan membubung. Sebuah keluarga terjebak di balkon lantai tiga, dikepung oleh bayangan iblis yang menunggu di lorong dalam.
Daniel menelan ludah. Ia tahu ia bisa menebas mereka satu per satu, tapi jika terlambat, keluarga itu jatuh.
Segel pertama berdenyut lebih kuat, memberi tubuhnya stabilitas untuk bertahan dan bergerak cepat. Daniel melompat dari tangga ke balkon, katana diarahkan untuk menahan serangan iblis, membuka jalan bagi warga.
Raven membantu dari belakang, menembakkan beberapa iblis yang mengejar. Tepat saat Daniel menuntun keluarga itu ke tangga darurat, lantai balkon retak sebagian. Ia harus memilih: menyelamatkan satu keluarga itu sepenuhnya, atau memastikan jalan untuk warga lain tetap terbuka.
Hatinya bergetar. Pilihan itu tidak bisa diselesaikan dengan kekuatan atau pedang. Ia harus mengandalkan penilaian manusia.
Daniel menatap keluarga itu, lalu menatap Raven. “Ikuti aku!” katanya. Ia membuat keputusan—mendorong keluarga itu ke arah tangga yang lebih aman, kemudian menahan iblis yang mencoba mengejar. Katana bergerak seperti perpanjangan tangan, memotong ruang untuk mereka.
Akhir Misi Hari Itu
Setelah beberapa jam, mereka berhasil mengevakuasi sebagian besar warga. Beberapa iblis berhasil melarikan diri, tetapi kota tetap aman untuk sementara. Daniel duduk di lantai gedung, keringat bercampur debu, katana menempel di pangkuannya.
Raven berdiri di sampingnya. “Kau tidak hanya bertarung dengan iblis hari ini,” katanya. “Kau bertarung dengan keputusanmu sendiri. Itu lebih berat daripada pedang manapun.”
Daniel mengangguk, matanya menatap kota yang mulai membangun kembali diri. Segel pertama berdenyut pelan—memberinya stabilitas, tetapi tidak menghapus beban emosional. Ia tahu misi ini hanyalah awal dari banyak ujian yang akan datang, dan bahwa hidup bukan sekadar bertahan, tetapi menghadapi tanggung jawab yang terus bertambah.
Di kejauhan, bayangan iblis yang kabur kini berkumpul, dan suara mereka terdengar semakin jelas. Mereka telah belajar dari serangan sebelumnya. Daniel menatap katana di tangannya, menyadari: ia harus lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih tegas.
Dan di hati Daniel, sebuah kesadaran baru muncul:
Hidup bukan hanya untuk bertahan.
Hidup adalah mengambil tanggung jawab penuh—bahkan jika itu berat.