Queenza Celeste tidak pernah menyangka suami yang selama ini dia cintai, tega menduakan cintanya. Di detik terakhir hidupnya dia baru sadar jika selama ini Xavier hanya memanfaatkan dirinya saja untuk menghancurkan keluarganya. Saat Queenza terbangun kembali, dia memutuskan untuk membalas semuanya.
Bagaimana kisah selengkapnya? Simak kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Apa Yang Harus Aku Lakukan?
Queen baru saja masuk ke kamar bayi. Dia melihat Bryan menggendong Sofia. Queen terkejut melihatnya.
"Kenapa kamu menggendong Sofia?"
Bryan menoleh ke arah Queen sekilas dan lalu kembali menatap Sofia. "Itu karena aku merasa harus adil. Ella memiliki aku sebagai ayahnya dan kamu menyusuinya seperti ibu. Sedangkan Sofia. Dia hanya memiliki kamu sebagai ibunya. Aku tidak ingin anak ini kehilangan peran ayahnya."
Bryan mengatakan hal itu tanpa mengangkat kepalanya. Queen menatap Bryan dengan mata memerah. Sudut matanya basah.
Saat Bryan tidak mendapatkan tanggapan dari Queen. Barulah dia mengangkat wajahnya dari Sofia. Bryan terkejut melihat wajah Queen sudah basah dengan air mata. Dia mendekati Queen dan mengusap wajahnya.
"Ada apa? Apakah kamu merasa tidak nyaman?"
"Kenapa kamu selalu bersikap seperti ini?"
Bryan tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia juga tidak mengerti apakah Queen marah kepadanya atau tidak dan kenapa dia menangis.
"Maaf jika sikapku menyakitimu. Kamu boleh katakan apa yang membuatmu tidak nyaman."
"Jangan terlalu baik padaku dan Sofia."
Bryan menarik Queen ke dalam pelukannya. Dia meletakkan dagunya di atas puncak kepala Queen.
"Jangan menangis, jangan menangis." Bryan akhirnya sadar, Queen hanya terlihat kuat di luar, tetapi rapuh di dalam. Dia bersumpah tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Queen.
Saat pelukan keduanya terurai, Queen terlihat canggung. Dia mengambil Sofia dari gendongan Bryan. "Aku akan membawa Sofia turun."
"Kalau begitu aku akan membawa Ella."
Queen menoleh dengan kaku. Tidak tahu kenapa situasinya malah menjadi semakin canggung, tetapi Bryan terlihat biasa saja.
Keduanya turun dengan bayi di masing-masing tangan. Kakek Lewis yang baru saja pulang dari perusahaan tersenyum melihat Queen dan Bryan.
Saat kakek Lewis mendekat, wajahnya berubah. Dia terlihat marah. Tanpa basa basi dia langsung menghardik Bryan. "Kamu apakan Queen?"
"Aku tidak melakukan apa-apa padanya, Kek. Bisakah kakek tidak tiba-tiba menuduhku?" Bryan terlihat tidak terima dituduh tiba-tiba.
"Kalau bukan kamu siapa lagi." Kakek Lewis menunjuk wajah Bryan dengan marah.
Merasa tidak enak, Queen mendekati kakek Lewis. "Ini tidak ada hubungannya dengan Bryan. Dia justru membantu menenangkanku, Kek."
"Lalu kenapa kamu menangis? Apakah ada yang menyakiti kamu?"
"Tidak ada, Kek. Aku hanya merasa sedih setiap melihat Sofia."
"Jangan khawatir, Sofia sudah aku anggap sebagai cucuku sendiri. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya."
Queen mengangguk. Dia lantas tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada kakek Lewis. Setelah kakek Lewis naik ke atas, Queen dan Bryan saling melempar tatapan, lalu tak lama keduanya justru tertawa.
Bryan menepuk kepala Queen dengan lembut. "Dasar cengeng."
Setelah makan malam, Queen dan Bryan duduk bersama di ruang kerja Bryan. Queen mulai mengakses CCTV yang dipasang kakaknya di ruang kerja Xavier. Dia mengunduh beberapa potongan rekaman bukti perselingkuhan Xavier dan Mia. Bryan hanya menatap kecepatan Queen dalam bertindak.
"Kamu perempuan serba bisa, kenapa bisa jatuh di tangan baj*ngan itu?"
"Orang pintar juga ada kalanya melakukan kesalahan. Aku bukan Tuhan yang serba sempurna. Aku juga tidak tahu kenapa. Padahal sejak kecil hingga besar aku tidak kekurangan kasih sayang dari ayah dan kakakku. Mungkin pria itu begitu lihai mencari celah. Dia tahu aku tipe orang yang mudah kasihan dan tidak tega pada orang miskin. Makanya dia menjual kesedihan di depanku dan berhasil meyakinkan aku jika dia itu tulus," ujar Queen.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan video itu?"
"Aku ingin memberi mereka sedikit pelajaran moral."
Queen kembali mengoperasikan laptopnya dan membuka satu aplikasi yang logonya begitu asing bagi Bryan. Dalam satu kali klik, video dengan durasi 20 detik itu langsung masuk ke beberapa grup yang ada di perusahaan Celestial. Dari layar laptopnya, Queen bahkan bisa mengamati komentar semua orang tanpa terkecuali.
"Kamu benar-benar mengerikan. Aku tidak tahu, kamu belajar dari mana, yang jelas ini sangat keren sekali."
Queen hanya menarik sudut bibirnya. Di masa lalu, dia belajar mati-matian demi membantu Xavier, agar dia dipandang mampu oleh para petinggi. Bahkan Queen rela menyewa jasa seorang hacker nomor satu untuk mengajarinya segala macam ketrampilan untuk menguasai segala jenis aplikasi komputer, dari cara meretas hingga membuat firewall yang mudah hingga yang tersulit. Semua Queen lakukan demi menunjang karir Xavier, tetapi sayangnya semua pengorbanannya sama sekali tidak berarti di mata pria itu. Padahal Queen rela memakai seluruh uangnya untuk membayar jasa hacker itu.
Tak berselang lama banyak pesan muncul dan kebanyakan menghujat Mia dan Xavier. Mereka mengutuk perbuatan pasangan itu, terlebih semua orang tahu bahwa Xavier ipar dari pemilik perusahaan.
Lalu di grup petinggi, para pemegang saham dan dewan direksi mengutuk Xavier. Mungkin mereka melakukan semua itu untuk mencari muka di depan Blake. Meski begitu, Queen tetap merasa puas. Dia tersenyum sambil melipat tangan di depan dada.
Sejak tadi Bryan terus menatapnya dengan penuh kekaguman. Dia tidak tahu jika seorang wanita bisa melakukan hal yang biasanya dilakukan oleh laki-laki.
"Lalu setelah ini apa yang akan kamu lakukan?"
Queen menoleh dan tersenyum miring. "Memberi pelajaran pada jalang itu."
"Katakan jika kamu perlu bantuanku."
"Aku ingin kamu menemukan seorang pria paruh baya. Dia ayah Mia. Namanya Wilson Brooke."
Jemari Queen dengan lincah mengetik di keyboard, lalu tak berapa lama muncul sebuah foto dengan wajah seorang pria paruh baya berpenampilan sangat lusuh.
"Ini ayah Mia. Kabar terakhir yang aku dengar dia sedang diburu oleh pemilik kasino, Gallard Patton. Dia memiliki hutang sebesar 100 ribu dollar.
"Maksudmu kasino milik keluarga Patton?"
"Ya."
"Kebetulan sekali. Aku kenal dengan anggota keluarga Patton. Aku akan mengurus ini untukmu."
"Terima kasih."
"Apa lagi yang harus aku lakukan?"
"Untuk sementara ini dulu. Besok aku akan bertindak. Setidaknya dengan dokumen cacat itu aku tidak perlu khawatir lagi."
"Sebenarnya aku bisa membuat ini lebih mudah untukmu. Kamu yang menolaknya," jawab Bryan sambil terus menatap Queen.
Wanita itu hanya membalas tatapan Bryan tanpa bersuara. Queen menatap mata hijau itu cukup lama. Dia lantas menghela napas.
"Aku ingin menghancurkan mereka dengan tanganku sendiri. Dengan begitu dendamku akan terbalaskan."
"Apakah kamu benar-benar membenci mereka karena mereka berselingkuh di belakangmu? Atau ada hal lain yang membuatmu menaruh dendam pada mereka?"
Queen tertawa dengan mata terpejam, tetapi tiba-tiba sudut matanya basah. "Aku membenci mereka sampai ke sumsum tulangku, Bryan. Mereka tidak hanya sekedar menyakitiku. Mereka berani menyentuh putriku dengan tangan kotor mereka."
Bryan mengulurkan tangannya dan mengusap sudut mata Queen. Queen membuka matanya dengan kaget.
Dia mundur dan mengusap wajahnya. Dia tidak menyadari sama sekali jika dirinya tiba-tiba menangis sementara wajahnya tertawa.