NovelToon NovelToon
Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawaran

Seminggu setelah liburan Dieng, Jogja kembali diguyur hujan. Udara sore itu dingin menusuk, tapi di dalam kos Bima, suasana terasa hangat.

Bima duduk di depan laptopnya, menyelesaikan revisi website klien terakhir sebelum deadline. Di sampingnya, segelas kopi hitam menemani seperti biasa.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak asing—nomor yang minggu lalu ia hubungi untuk transfer uang.

Ibu Kay: Bima, apa kamu ada waktu besok? Saya ingin bertemu.

Bima menatap layar ponselnya beberapa saat, mencerna pesan itu. Lydia—ibunda Kay—ingin bertemu. Perempuan yang enam bulan lalu memintanya pergi dari hidup Kay, kini meminta pertemuan.

Jantung Bima berdetak sedikit lebih cepat. Bukan takut, tapi waspada. Ia sudah tidak lagi sama seperti enam bulan lalu. Sekarang ia punya usaha, punya harga diri yang utuh, punya keyakinan bahwa ia pantas untuk Kay.

Bima: Ada keperluan apa, Bu?

Ibu Kay: Saya ingin bicara serius. Tentang kamu, tentang Kay, tentang masa depan. Saya juga dengar rencana kamu buka studio dari Kay. Mungkin saya bisa bantu.

Bima menghela napas. Tawaran bantuan dari Lydia? Perempuan yang dulu meremehkannya? Ini ironis.

Bima: Baik, Bu. Besok jam berapa?

Ibu Kay: Jam 10 pagi di kafe yang biasa tempat saya wasting time, Alamatnya saya kirim.

---

Malam harinya, Bima menelepon Kay. Suara Kay terdengar ceria seperti biasa, tapi segera berubah ketika Bima menyebut pertemuan dengan ibunya.

"MAMA NGAJAKIN LO KETEMU?" teriak Kay. "Bim, gue ikut!"

"Kay, ini antara gue sama ibu lo."

"Tapi—"

"Kay." Suara Bima tegas tapi lembut. "Gue harus ngadepin ini sendiri. Ini tentang harga diri gue. Lo ngerti?"

Kay terdiam beberapa saat. "Gue ngerti. Tapi kalo Mama ngomong kasar lagi, lo kabarin gue. Gue dateng."

Bima tersenyum. "Iya Janji."

---

Pukul sepuluh pagi, Bima tiba di kafe yang dimaksud. Kafe itu bergaya Eropa klasik—dinding bata ekspos, lampu gantung kristal, meja kayu ukir, dan aroma kopi mahal yang menguar.

Para pengunjungnya kebanyakan orang dewasa berpenampilan rapi. Bima merasa sedikit tidak cocok dengan jaket hoodie abu-abu dan celana jeans hitamnya, tapi ia tegakkan bahu dan masuk.

Lydia sudah duduk di meja pojok dekat jendela. Wanita itu tampil elegan dengan blus sutra warna krem, blazer hitam, dan perhiasan mutiara di leher dan telinga.

Rambutnya disanggul rapi, riasan wajahnya sempurna. Di meja, secangkir kopi dengan foam art yang indah mengepulkan uap.

"Bima, sini." Lydia menunjuk kursi di hadapannya.

Bima duduk dengan sopan. "Selamat pagi, Bu."

"Selamat pagi. Pesan minum dulu."

Seorang pelayan datang. Bima memesan Americano hitam—paling murah di menu.

Lydia mengamati Bima dengan tatapan berbeda dari pertemuan pertama mereka di restoran enam bulan lalu. Tidak ada lagi sinisme di matanya, hanya rasa ingin tahu dan mungkin sedikit rasa bersalah.

"Bima, saya mau minta maaf."

Bima mengerjapkan mata. "Apa, Bu?"

"Saya minta maaf atas pertemuan kita dulu. Waktu itu saya bicara kasar, meremehkan kamu, memintamu pergi dari Kay. Itu salah saya."

Bima terdiam. Ia tidak menyangka akan mendengar permintaan maaf dari Lydia.

"Saya... tidak tahu harus berkata apa, Bu."

"Kamu tidak perlu berkata apa-apa. Saya hanya ingin kamu tahu, bahwa saya salah." Lydia menghela napas.

"Selama enam bulan terakhir, saya melihat perubahan pada Kay. Dia jadi lebih kuat, lebih dewasa, lebih bahagia. Dan saya tahu itu karena kamu."

Pelayan datang membawa Americano Bima. Ia menyesapnya sebentar, memberi waktu untuk mencerna.

"Saya juga tahu tentang transfer uang kamu minggu lalu. Dua puluh juta. Itu uang hasil jerih payahmu sendiri." Lydia tersenyum tipis.

"Saya kagum, Bima. Anak muda seumuranmu, dengan latar belakang sulit, bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dan mengembalikannya dengan penuh tanggung jawab. Itu langka."

Bima menunduk. "Saya hanya ingin membayar utang, Bu. Saya tidak suka merasa berutang."

"Itu yang membuat saya makin kagum. Kamu punya harga diri. Kamu punya prinsip." Lydia mencondongkan tubuh.

"Dan saya dengar kamu mau buka studio. Tempat usaha jasa website."

Bima mengangguk. "Iya, Bu. Rencananya di ruko kawasan Demak. Teman saya Laras yang punya."

"Laras? Yang selama ini merawat kamu?"

"Iya."

Lydia tersenyum. "Kamu dikelilingi orang-orang baik. Itu pertanda kamu juga orang baik."

Bima tidak tahu harus menjawab apa. Pujian dari Lydia terasa aneh di telinganya.

"Bima, saya ingin menawarkan sesuatu."

Bima menegakkan punggung. "Apa itu, Bu?"

"Saya ingin berinvestasi di usaha kamu."

Bima terperanjat. "Apa?"

Lydia mengeluarkan sebuah map dari tasnya, membuka beberapa dokumen.

"Saya sudah riset sedikit tentang bisnis jasa pembuatan website. Potensinya besar, apalagi di era digital seperti sekarang. Kamu punya keahlian, punya etos kerja, punya tim. Yang kamu kurang mungkin modal untuk pengembangan."

"Bu, saya—"

"Dengar dulu." Lydia mengangkat tangan.

"Saya menawarkan investasi bagi hasil. Saya akan memberikan modal awal untuk sewa tempat, renovasi, pembelian peralatan—komputer, meja, kursi, dan lain-lain. Sistemnya bagi hasil.

Selama lima tahun, keuntungan bersih usaha kamu dibagi 50-50. Setelah lima tahun, semua aset menjadi milik kamu sepenuhnya. Saya keluar dari kepemilikan."

Bima membeku. Ini tawaran yang luar biasa. Modal penuh, bagi hasil lima tahun, lalu aset jadi miliknya. Tidak ada bunga, tidak ada utang mengikat.

"Bu, ini... ini terlalu besar."

"Ini investasi, Bima. Bukan amal. Saya melihat potensi. Saya yakin usaha kamu akan berkembang pesat. Dalam lima tahun, omset kamu mungkin sudah berkali-kali lipat. Bagi hasil 50 persen untuk saya akan jauh lebih besar dari sekadar bunga pinjaman."

Bima berpikir keras. Tawaran ini menggiurkan, tapi ada ganjalan di hatinya.

"Bu, jujur, saya... masih trauma. Waktu itu Ibu meminta saya pergi dari Kay. Sekarang Ibu tiba-tiba menawarkan ini. Saya bingung."

Lydia menghela napas, matanya berkaca-kaca.

"Bima, saya ibu. Saya ingin yang terbaik untuk anak saya. Waktu itu saya pikir yang terbaik untuk Kay adalah laki-laki dari kalangan yang sama dengannya. Saya salah. Saya baru sadar, kebahagiaan Kay tidak bisa diukur dari status sosial. Dan kamu sumber kebahagiaannya."

Bima terdiam.

"Terimalah tawaran ini, Bima. Bukan untuk saya. Tapi untuk masa depan kamu dan Kay. Saya ingin melihat kalian berdua sukses bersama."

Bima membuka mulut, tapi ponselnya bergetar. Pesan dari Kay.

Kay: Bim, apa kabar? Mama ngomong apa? Jangan takut! Apapun keputusan lo, gue dukung. Tapi kalo lo nolak bantuan Mama, pikir baik-baik. Ini kesempatan, Bim.

Bukan karena apa-apa, tapi karena lo pantas. Lo udah berjuang keras. Saatnya menerima. Love you.

Bima membaca pesan itu dua kali. Kay tahu. Kay mendorongnya dari belakang. Dan Kay benar—ia sudah berjuang keras. Ia pantas mendapat kesempatan.

Bima mengangkat kepala, menatap Lydia. "Bu, saya terima."

Lydia tersenyum lega. "Syukurlah."

"Tapi dengan satu syarat."

"Apa?"

"Semua perjanjian tertulis hitam di atas putih. Saya ingin semuanya transparan. Dan saya tetap bayar sewa ruko ke Laras. Uang dari Ibu khusus untuk renovasi dan peralatan."

Lydia mengangguk. "Setuju. Saya akan suruh lawyer saya buat draft perjanjian."

Mereka berjabat tangan. Untuk pertama kalinya, Bima merasa setara di hadapan Lydia. Bukan sebagai "anak miskin yang tidak pantas", tapi sebagai calon pengusaha yang diajak kerja sama.

---

Dua jam kemudian, Bima keluar dari kafe dengan perasaan campur aduk. Ia baru saja menerima investasi puluhan juta dari ibu pacarnya. Ini gila. Tapi ini nyata.

Ia langsung menelepon Kay.

"Gue terima, Kay."

"YA AMPUN BIM! GUE TAHU LO PASTI BISA!"

"Kay, lo tahu dari awal?"

"Iya. Mama chat gue semalem, bilang mau nawarin sesuatu. Tapi dia minta gue diem, biar lo yang mutusin sendiri."

Bima menghela napas. "Ibu lo... berubah."

"Iya. Dan itu karena lo, Bim. Lo buktiin kalo lo bukan siapa-siapa yang bisa diremehkan."

Bima tersenyum. "Kay, gue nggak tahu harus bilang apa."

"Bilang aja 'Kay, gue sayang lo'."

Bima tertawa. "Kay, gue sayang lo."

"Itu pun baru diminta Lo ngomong. Sekarang, lo di mana? Gue jemput. Kita rayain!"

---

Malam harinya, mereka berkumpul lagi di kos Bima—Kay, Mika, Laras, dan Tasya. Bima memasak mi goreng sederhana dan telur ceplok. Mereka duduk lesehan di lantai, makan dengan lahap.

"Jadi gue denger lo dapet investasi dari mama Kay?" tanya Laras.

Bima mengangguk. "Iya. Dan gue tetap mau sewa ruko lo. Bayar normal."

Laras tersenyum. "Oke. Tapi mulai kapan?"

"Secepatnya. Renovasi dulu, beli peralatan. Target bulan depan udah bisa operasional."

Mika bersiul. "Cepat amat."

"Waktu adalah uang." Bima menatap Kay. "Makasih, Kay. Lo yang dorong gue."

Kay meraih tangan Bima. "Gue cuma pengen lo dapet yang terbaik. Lo udah berjuang terlalu lama sendirian."

Tasya mengangkat gelas aqua-nya. "Toast buat Bima! Semoga sukses usahanya!"

Mereka bersulang dengan air mineral dan teh botol. Tawa memenuhi kos kecil itu.

---

Malam semakin larut. Satu per satu teman-teman pulang. Mika, Laras, dan Tasya pamit lebih dulu. Tinggal Kay dan Bima di teras kos, ditemani suara jangkrik dan dinginnya malam Jogja.

"Bim, lo senang?" tanya Kay pelan.

Bima menoleh. "Senang banget. Kayak mimpi."

"Ini nyata, Bim. Dan ini baru awal."

Bima menghela napas. "Gue nggak nyangka semua ini bisa terjadi. Dari yang tadinya gue cuma anak miskin dengan segudang mimpi, sekarang... gue punya usaha, punya temen-temen baik, punya lo."

Kay tersenyum. "Lo pantas dapet semua ini."

"Tapi ada satu hal yang masih mengganjal."

"Apa?"

Bima menatap Kay dalam-dalam. "Ibu lo. Dia minta maaf. Dia tawarin investasi. Tapi gue masih... sulit percaya sepenuhnya."

Kay mengerti. "Wajar, Bim. Butuh waktu. Tapi liat dari sisi baiknya: Mama berusaha berubah. Itu langkah besar."

"Iya. Gue hargai itu."

Kay meraih tangan Bima. "Bim, apapun yang terjadi, gue di sini. Dukung lo. Percaya sama lo. Lo nggak sendiri lagi."

Bima menggenggam tangan Kay erat. "Makasih, Kay. Makasih udah nggak nyerah sama gue."

Mereka berpelukan di bawah langit malam. Di kejauhan, lampu-lampu kota berkelip. Hidup memang tidak pernah mudah, tapi dengan orang yang tepat di samping, semua terasa mungkin.

---

Besoknya, Bima memulai babak baru. Ia bertemu dengan lawyer Lydia, menandatangani perjanjian investasi. Ia ke ruko Laras, mengukur, mulai merancang renovasi. Ia menghubungi dua karyawan freelancenya, memberi kabar bahwa mereka akan punya kantor sungguhan.

Prosesnya tidak mudah. Ada ribuan hal yang harus diurus—izin, desain interior, pembelian peralatan, rekrutmen karyawan baru. Tapi Bima menjalaninya dengan semangat. Ini mimpinya. Ini saatnya.

Kay selalu ada di sampingnya. Sesekali datang dengan kopi dan makanan, membantu mengecat dinding, memilih furnitur. Mika, Laras, dan Tasya juga bergantian membantu. Mereka menjadi tim solid.

Lydia sesekali mengecek perkembangan, tapi tidak ikut campur. Ia membiarkan Bima menjalankan usahanya sendiri, sesuai dengan prinsip investasi yang mereka sepakati.

Dan di sela-sela kesibukan itu, Bima masih sempat menggambar. Kini bukan hanya sketsa pemandangan, tapi juga sketsa teman-temannya yang bekerja, sketsa Kay yang tertidur di sofa ruko karena kelelahan, sketsa masa depan yang mulai terbangun.

Satu bulan kemudian, studio kecil itu resmi dibuka. Namanya: "Bima Wijaya Digital Creative". Papan nama sederhana dengan latar hitam dan tulisan putih. Di dalam, tiga unit komputer terbaru berjejer rapi, meja kerja yang nyaman, dan dinding penuh sketsa karya Bima.

Acara pembukaan sederhana saja—doa bersama, potong tumpeng, dan makan siang dengan teman-teman. Lydia hadir, begitu juga Laras, Mika, Tasya, dan beberapa klien lama Bima.

"Selamat, Bim!" seru Mika.

"Sukses terus!" tambah Tasya.

Laras memeluk Bima singkat. "Gue bangga sama lo, Bim."

Bima tersenyum. "Makasih, Ras. Makasih semuanya."

Kay berdiri di samping Bima, matanya berkaca-kaca. Ia memegang tangan Bima, merasakan getaran kebahagiaan.

"Gue bangga sama lo," bisiknya.

Bima menoleh, mencium kening Kay pelan. "Ini baru awal, Kay. Masih panjang perjalanan kita."

"Iya. Dan gue akan selalu di sini."

Di luar ruko, hujan turun lagi. Tapi kali ini, Bima tidak perlu takut basah. Ia punya tempat berteduh—bukan hanya ruko ini, tapi juga orang-orang yang mencintainya.

Dan itu lebih dari cukup.

1
falea sezi
lanjut anpe nikah
Bp. Juenk: siaap
total 1 replies
falea sezi
laki. plin plan amat kayaknya dia uda. mulai. suka. laras cowok. g tau diri
Bp. Juenk: 🤭 iya nih emang parah
total 1 replies
Nani Rahayu
semoga bisa diluruskan semuanya..paham sama sikap bima tp Kay juga gak salah...
Bp. Juenk: aamiin 🙏
total 1 replies
Jing_Jing22
Suka banget ceritanya thor🥰🥰🥰 akhirnya nemu cerita yang aku suka🫶🫶🫶
Bp. Juenk: thanks kaka, selamat menikmati
total 1 replies
OMG!!!!!/Applaud/
/Blush/
aku bisa ngebayangin sih..../Good/
Halwah 4g
😍😍😍😍😍😍 pelit bener update nya Thor..sebiji doang . hemmmm..Bimo mengingatkan q pada laki q yg pelit ngomng syag juga .🤣🤣🤣..lanjutkan Thor..lanjutkan...💪💪
Bp. Juenk: 🤭🤭🤭 bisa gitu ya
total 1 replies
Halwah 4g
😍 berlabuh jugaaa ....
Bp. Juenk: iya donk 😍
total 1 replies
Halwah 4g
aelah Bim..blm juga berlayar kapal nya..dah patah dluan .. zzzzzzzzzzzz..si Bimo nih cueknya kek othor pasti 🤣
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae
total 1 replies
Halwah 4g
sueeee kbyang salting ny 🤭
Halwah 4g
aaahhhhhhh....karya baru lagi ya Thor..q suka..q sukaaaaaa.. romansa percintaan yang ringan tapi manis....jangan monoton plis ceritanya Thor..biar kita naik rollercoaster bareng 😄..semngat trs Thor..kencengin updatenya 💪
Bp. Juenk: 🙏 thanks supportnya kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!