Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan Dalam Kesempitan
Sesampainya di Gedung Bale Santika.
Suasana di dalam gedung olahraga itu riuh rendah. Ada spanduk besar membentang: KEJUARAAN KARATE ANTAR MAHASISWA SE-JAWA BARAT.
Di tengah gelanggang (matras tatami), dua petarung sedang beradu jurus.
Salah satunya berbadan tegap, tinggi, dan berwajah tampan (tipikal idola kampus yang agak tengil). Dia memakai sabuk hitam. Gerakannya agresif, mendominasi lawannya habis-habisan.
Setiap kali dia melancarkan tendangan memutar atau pukulan telak, tribun penonton khususnya tribun cewek langsung histeris.
"KYAAA! Kak Raka keren banget!"
"Hajar Kak! Habisin!"
Sonia menyenggol lengan Banyu, berbisik pelan. "Liat tuh cowok yang lagi nge-bantai lawannya? Itu Raka. Target operasi kita hari ini."
Banyu melihat aksi Raka di matras. "Hmm... lumayan juga. Sabuk hitam ya?"
Lalu wajah Banyu berubah jadi ekspresi ketakutan yang dibuat-buat (akting lebay). Dia memeluk lengannya sendiri.
"Waduh, Neng Son... saingan Abang ngeri bener. Jago karate. Kalau Abang digebukin gimana? Tulang Abang kan lunak, cuma biasa nyangkul doang."
Sonia memutar bola matanya malas. "Halah, nggak usah drama! Lo yang ngeremes botol besi di kereta sampe gepeng, masa takut sama karateka kampus? Akting lo jelek tahu."
"Yaa... siapa tahu dia bawa pistol," kilah Banyu sambil nyengir. "Tapi serius Son, kalau gue bonyok, lo harus tanggung jawab ngerawat gue seumur hidup ya."
"Dih, ngarep!" Sonia mendengus, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyum geli. "Udah ah, tonton dulu."
Wasit meniup peluit panjang.
Raka menang telak.
Dia mengangkat kedua tangannya ke udara, merayakan kemenangan. Seluruh gedung bergemuruh meneriakkan namanya: "RAKA! RAKA! JUARA!"
Raka menikmati momen itu. Dia berjalan keliling matras, melambaikan tangan dengan gaya sok cool maksimal. Lalu, dia meminta mikrofon dari panitia.
Suasana gedung perlahan hening. Semua orang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Gosip Raka mau "nembak" Sonia sudah menyebar seantero kampus.
Raka berdiri di tengah matras, napasnya masih memburu, keringat bercucuran. Dia menatap ke arah tribun penonton dengan tatapan "mendalam".
"Tes... tes..." Raka memulai pidatonya.
"Teman-teman semua, makasih dukungannya! Jujur aja... kemenangan gue hari ini, sabuk hitam gue, bahkan alesan gue masuk UNPAD... semuanya cuma demi satu tujuan."
Dia memberi jeda dramatis. Musik latar seolah berhenti.
"Semuanya demi satu cewek spesial. Gue belajar bela diri supaya bisa jadi pelindung dia. Gue mau jadi cowok yang pantas berdiri di samping dia!"
"AWWW... SO SWEEET!"
Para mahasiswi di tribun menjerit histeris, baper massal.
Banyu, yang berdiri di pinggir tribun, merinding disko.
"Buset..." gumam Banyu pelan. "Naskah FTV tahun 2000-an banget. Emang dia nggak tahu kalau sok asik itu bisa bikin ilfeel?"
Sonia di sebelahnya sudah memijat pelipisnya, malu setengah mati. "Duh... malu-maluin banget sih."
Di tengah matras, Raka melanjutkan aksinya. Matanya yang tajam menyapu kerumunan penonton, mencari sosok targetnya.
Dan akhirnya, tatapannya terkunci pada Sonia yang berdiri di dekat pintu masuk.
Raka menunjuk lurus ke arah Sonia dengan telunjuknya, persis pose anime.
"SONIA!" teriak Raka lewat mic. "Di depan ratusan saksi ini... Gue, Raka, minta lo jadi pacar gue! Please, be mine!"
Lampu sorot (yang telah disiapkan oleh tim bayaran Raka) menyorot ke arah Sonia.
Semua mata tertuju padanya.
Tekanan sosial level maksimal. Biasanya, cewek yang ditembak begini akan malu-malu lalu mengangguk.
Tapi Raka lupa satu hal. Sonia bukan cewek FTV biasa.
Dan di samping Sonia, ada "Petani Sultan" yang sedang menahan tawa melihat kekonyolan ini.
Sorakan mulai menggema.
"TERIMA! TERIMA!"
"Jadian! Jadian!"
Dipandu oleh beberapa kroni Raka yang sudah diseting di antara penonton, mahasiswa lain mulai ikut-ikutan bersorak. Tekanan massa (peer pressure) di Gedung Bale Santika makin menggila.
Raka tersenyum tipis penuh kemenangan. Dia tahu Sonia itu keras kepala, tapi di hadapan ratusan orang begini, cewek mana pun pasti akan luluh atau setidaknya terpaksa mengangguk demi menjaga suasana.
Raka sudah membayangkan skenario sempurnanya: Sonia menerima bunganya, lalu dia akan memeluk pinggang ramping itu di tengah sorak-sorai, membuktikan pada dunia kalau sang "Ratu Jutek" UNPAD telah takluk.
Saat Raka sedang asyik berimajinasi liar...
"WOY! Sonia udah ada yang punya! Lo jangan halu!"
Suara bariton yang lantang dan penuh tenaga membelah kebisingan gedung itu. Seketika, sorak-sorai "Terima! Terima!" mati mendadak seperti kaset kusut.
Hening.
Semua mata tertuju pada sumber suara.
Banyu berdiri santai di samping Sonia, satu tangan dimasukkan ke saku celana, wajahnya tenang tapi matanya tajam menatap Raka.
Raka, yang tadinya merasa di atas angin, langsung kaku. Senyumnya lenyap. Dia menatap Banyu dengan tatapan membunuh.
Tanpa peduli tatapan ratusan orang, Banyu menoleh ke Sonia dan berbicara cukup keras agar terdengar oleh orang-orang di dekatnya.
"Yang, ternyata yang sering gangguin kamu itu cuma bocah ingusan kayak gini? Kirain saingan aku berat. Ternyata cuma anak kecil yang kurang kasih sayang."
JLEB.
Kalimat "Bocah Ingusan" itu menohok ego Raka yang setinggi langit. Wajah tampannya langsung merah padam menahan amarah.
"SIALAN! Lo siapa woy?!" teriak Raka lewat mik, suaranya bergetar karena emosi. "Jangan ngaku-ngaku! Sonia bukan pacar lo!"
Banyu menatap Raka dengan tatapan malas, seolah sedang melihat anak TK yang tantrum minta permen.
"Nggak percaya?" tanya Banyu santai.
Tanpa peringatan, Banyu menarik pinggang ramping Sonia mendekat.
Sonia terkesiap. "Eh, Nyu-"
Belum sempat Sonia protes, Banyu menunduk dan...
CUP!
Banyu mendaratkan ciuman di bibir Sonia.
Bukan ciuman nafsu yang liar, tapi ciuman tegas yang cukup lama untuk membungkam seluruh gedung.
Mata Sonia membelalak lebar saking kagetnya. Dia mematung. Otaknya blank. Dia bisa merasakan hangatnya bibir Banyu dan napas pria itu.
Gila... dia beneran nyium gue di depan satu kampus?! batin Sonia panik.
Sadar ini situasi darurat, Sonia yang separuh malu separuh marah refleks mencubit pinggang Banyu sekeras-kerasnya.
Nyuuut!
"Aduh... pedes juga cubitannya," batin Banyu meringis, tapi dia menahan ekspresi wajahnya agar tetap cool. Dia menikmati sensasi bibir Sonia yang lembut itu sedikit lebih lama sebelum akhirnya melepaskannya.
Banyu menegakkan tubuhnya kembali, lalu menatap Raka dengan senyum miring yang provokatif.
"Gimana? Masih kurang bukti?"
Gedung Bale Santika sunyi senyap. Mahasiswa yang menonton menahan napas. Drama ini jauh lebih seru daripada sinetron TV!
Raka sang sultan, Eh salah... Raka sang juara Karate idola kampus, baru saja ditikung dan dipermalukan secara brutal di kandangnya sendiri.