NovelToon NovelToon
From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: WesternGirl10

Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
​Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
​Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
​Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
​Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

04

​"Apa...? Kau bilang apa tadi?" tanya Kevin tak percaya.

​"Kubilang, berikan aku seorang anak. Anak laki-laki atau perempuan, tidak masalah."

​"Aku mendengarnya dengan sangat jelas!" Kevin sedikit menaikkan suaranya, wajahnya memerah padam. "Ashley... apakah ini kebiasaan baru anak konglomerat?"

​"Apa maksudmu?"

​"Maksudku, ini seperti kau membeli seluruh mal hanya karena memiliki terlalu banyak uang yang sulit dihabiskan. Kau meminta anak seolah-olah itu barang mewah yang bisa dibeli kapan saja."

​"Kau bicara hal yang tidak jelas. Apa aku kurang serius saat menyampaikan maksudku tadi?"

​Kevin terdiam, mencoba mencerna ekspresi Ashley yang tetap datar. "Ah, aku tahu. Maksudmu, kau ingin anak itu artinya kau ingin mengadopsi, kan? Katanya perempuan sering menganggap hewan peliharaan mereka sebagai anak. Jadi, maksudmu mengadopsi hewan?" Kevin menatap Ashley penuh harap. "Iya, kan...?"

​"Bukan. Anak sungguhan. Seorang bayi," jawab Ashley singkat.

​Jawaban itu seketika membuat Kevin lemas. Ia menjatuhkan kepalanya ke atas meja dengan bunyi buk yang cukup keras.

​"Apa itu hal yang mengejutkan?" sambung Ashley tenang.

​"Tentu saja! Kau meminta anak seolah meminta permen!" Kevin mengangkat kepalanya kembali dan sedikit menggebrak meja.

​"Begitu ya... apakah itu artinya kau tidak menginginkannya?"

​"Bukan berarti aku tidak menginginkannya. Aku hanya belum memikirkannya sama sekali karena kukira selama ini kau sudah cukup puas dengan kehidupanmu sekarang."

​"Tentu saja aku puas."

​"Kalau begitu, kenapa tiba-tiba kau ingin seorang anak?"

​Ashley terdiam sejenak. "Karena... sepertinya aku mencintaimu..." Ia sedikit mengalihkan pandangannya.

​"Bicara yang jujur. Jangan mengira aku tidak tahu kebiasaanmu saat berbohong. Kau selalu mengalihkan pandangan," potong Kevin cepat.

​Ashley mendecit kesal. "Ck, kenapa tidak turuti saja kemauanku, sih?"

​"Aku harus tahu alasannya dulu. Tidak mungkin kau tiba-tiba ingin seorang anak dariku, padahal kau belum benar-benar mengenalku."

​"Hei, apa kau sebegitu tidak sukanya menikah denganku?"

​"Justru sebaliknya! Aku sangat, sangat suka karena bisa menikmati hidup sebagai pengangguran kaya."

​"Kalau begitu apa masalahnya?"

​"Tidak ada, aku hanya ingin tahu alasan aslimu."

​Ashley menghela napas panjang, menyerah. "Ugh, baiklah... Jangan terlalu kecewa setelah mendengar alasanku."

​"Itu akan kupikirkan nanti."

​"Sebenarnya..."

​Kilas Balik: Kediaman Andrew Giovano

​"Kalau begitu, beginilah keputusannya," ucap Andrew mantap. "Di antara kau dan Kay, siapa yang paling cepat memberikanku cucu, dia yang akan menjadi pewaris berikutnya."

​Ashley membeku menatap ayahnya. "Kau bercanda, kan?"

​"Tidak. Ini karena kalian berdua sama-sama tidak memedulikanku. Aku tidak bisa membiarkan garis keturunan Giovano berakhir begitu saja."

​"Bukan berarti aku atau Kay tidak peduli padamu, hanya saja... sepertinya sulit bagi kami memberikan cucu secepat itu."

​"Kenapa? Kalian berdua sudah menikah. Pria yang kupilihkan untuk kalian adalah yang terbaik di antara yang terbaik. Kupikir kalian akan berterima kasih, tapi boro-boro ucapan terima kasih, aku malah dipaksa menyaksikan garis keturunanku berhenti di tangan kalian."

​"Ugh... masalahnya, aku dan Kevin..." Ashley memijat pelipisnya.

​"Aku tahu. Karena itu, inilah kesempatanmu memperbaikinya. Anak polos itu terlihat begitu takut padamu. Apa kau sering menyiksanya?"

​"Kau kira aku ini apa? Aku justru membiarkannya hidup dengan sangat nyaman di mansion."

​"Kalau begitu pendekatanmu akan lebih mudah. Kau hanya perlu mengajaknya mengobrol lebih dulu dan mendekatinya perlahan. Setelah itu, baru mulai kehidupan asmaramu yang membara."

​"Entah kenapa aku merasa jijik mendengarnya dari pria tua sepertimu."

​"Jangan menghinaku. Ini pelajaran berharga dari senior kehidupan!" seru Andrew bangga.

​"Ugh, baiklah... aku akan membicarakannya dengan Kevin."

​"Bagus. Aku juga akan membicarakan hal yang sama dengan Kay besok pagi. Sudah sangat larut, kembalilah ke kamarmu."

***

​"Begitulah ceritanya," Ashley menutup penjelasan sambil meneguk air putihnya. Sementara itu, Kevin masih bengong.

​"Jadi, kau memerlukan seorang anak hanya untuk mengambil alih Giotech Corp?" tanya Kevin akhirnya.

​"Iya, seperti yang kubilang tadi."

​"Yah, aku tidak bisa bilang kalau aku tidak kecewa. Rasanya seolah kau memperlakukanku seperti alat."

​"Aku juga sempat berpikir begitu..."

​"Hah?" Kevin meninggikan suara, jelas tersinggung dengan kejujuran Ashley.

​"Itulah sebabnya aku membicarakannya denganmu sekarang untuk berdiskusi. Kau adalah manusia, dan juga suami yang harus kuhormati. Jadi, aku tidak akan membuat keputusan yang membebanimu sepihak."

​Kevin menghela napas panjang. "Huft... bukankah menurutmu kita masih terlalu muda untuk itu?"

​"Kau benar. Tapi apa salahnya memiliki anak saat masih muda? Itu artinya kita bisa bersantai lebih awal di hari tua, kan?"

​"Ugh... aku tidak bisa membantah karena itu benar."

​"Jadi, apa keputusanmu?"

​Kevin bersandar di kursi dan menatap Ashley lekat-lekat. "Kita mulai pelan-pelan saja. Ayo saling mengenali dengan lebih baik, setelah itu baru kita pikirkan dengan matang."

​"Hm, jadi kau mengajakku berpacaran?"

​"Anggap saja begitu. Temanku bilang, berpacaran setelah menikah itu jauh lebih nyaman daripada sebelumnya. Dan kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan menyentuhmu tanpa izinmu."

​"Baiklah. Kalau begitu, besok aku akan memberitahu Neena untuk memindahkan semua barangmu ke kamarku."

​"Tunggu! Kan kubilang 'pelan-pelan'!"

​"Setidaknya kita harus membiasakan diri untuk tidur di ranjang yang sama."

​"Ugh... ya sudah. Kita mulai dari tidur bersama."

​Ashley menatap Kevin dengan rasa ingin tahu yang jarang ia tunjukkan. "Tapi, tadi kau bilang 'temanku'. Kau punya teman?"

​"Hah? Tentu saja punya! Kau anggap aku ini apa?"

​"Bukan begitu, hanya saja aku tidak pernah melihatmu bersama siapa pun selama setahun ini."

​"Itu karena aku lebih sering berada di dalam mansion."

​"Sepanjang hari? Apa kau tidak bosan?"

​"Tentu saja tidak. Mansion ini bagaikan surga."

​"Hee... Jadi selama setahun ini kau belum pernah melangkah keluar?"

​"Hm, paling-paling hanya ke toko buku. Itu pun tiga atau empat bulan sekali."

​Ashley memijat pelipisnya lagi. "Begitu? Semoga saja tetangga tidak berpikir kalau aku mengurungmu."

​"Kita kan tidak punya tetangga."

​"Maksudku warga desa di kaki bukit."

​"Mereka kan tidak kenal kita. Dan selama setahun aku tinggal di sini, aku bahkan belum pernah melihatmu berinteraksi dengan mereka."

​"Itu karena aku tidak punya alasan untuk melakukannya."

​"Kau terlalu cuek dengan sekitarmu. Apa kau sendiri punya teman?" tanya Kevin balik.

​"Tidak. Selama aku bisa melakukan apa pun sendirian, aku tidak membutuhkan teman."

​"Hm, kasihannya..." Kevin menghela napas prihatin.

​"Kau mengasihaniku?" Ashley menatapnya tajam.

​"Tidak apa-apa. Mulai hari ini, aku juga akan berperan sebagai temanmu."

​"Tidak. Peran jadi suami saja belum kau jalankan dengan baik, kan?"

​"Aku bisa mengisi keduanya! Waktu masih kerja dulu, aku pernah merangkap jadi bawahan sekaligus atasan."

​"Hm, itu artinya bosmu malas."

​Kevin hanya terkekeh, tidak bisa menyangkal kebenaran pernyataan itu.

​"Tapi, ngomong-ngomong... seandainya kau berhasil mengambil alih Giotech Corp, apa kau akan bekerja dua kali lipat? Bagaimana dengan Giotech C&T?"

​"Ah, soal itu... aku berencana memberikannya padamu."

​"Apa? Kenapa?"

​"Apanya yang kenapa? Tentu saja karena aku tidak bisa memegang dua posisi sekaligus."

​"Maksudku, kau kan bisa menempatkan orang lain sebagai CEO di sana."

​"Kenapa aku harus mempekerjakan orang lain saat aku punya suami yang kompeten? Dulu kau juga pernah bekerja, kan?"

​"Tapi kan bidangnya berbeda. Dulu aku di perusahaan media, bukan keuangan."

​"Oh, tenang saja. Aku berencana mengembalikan lini bisnis C&T yang dulu hancur."

​"Bukannya dari dulu memang perusahaan saham dan keuangan?"

​"Bukan. Sesuai namanya, C&T itu singkatan dari Construction & Trading. Aku mengambil alih perusahaan itu saat berada di ambang kehancuran dan mengelola saham untuk memulihkan keuangannya."

​"Loh, jadi dulunya itu perusahaan konstruksi?"

​"Iya. Jadi, jika aku berhasil menjadi pemilik Giotech Corp, aku akan menyerahkan C&T padamu setelah mengembalikan fokusnya ke bidang konstruksi."

​"Tetap saja, bukankah itu berlebihan?"

​"Berlebihan apanya? Kau harus bersosialisasi. Walaupun kau bilang tempat ini surga, pasti ada kalanya kau bosan, kan? Apalagi jika semua buku komikmu sudah habis dibaca."

​"Ugh... Kalau begitu, aku akan mulai belajar manajemen."

​"Hm, mau kuliah saja? Akan kubiayai."

​"Aku boleh kuliah?"

​"Tentu saja. Aku tidak pernah melarangmu melakukan apa yang kau mau, kan? Jadi, kuliah saja."

​"Memang lebih mudah jika kuliah, tapi..." Kevin menatap ponselnya dengan ragu.

​"Tapi apa? Kenapa menatap ponselmu?" Ashley menaikkan sebelah alisnya.

​"Waktu membaca mangaku akan berkurang banyak."

​Ashley terdiam sejenak, menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. "Kau... mengkhawatirkan itu?"

​Ashley memejamkan mata dan menghela napas pasrah. "Kau bisa membacanya setelah lulus nanti, kan?"

​"Bukankah aku akan semakin sibuk setelah lulus?"

​"Kau pikir kau akan bekerja sendirian? Apa gunanya posisi CEO jika kau mengerjakan semuanya sendiri? Kau bisa mempekerjakan asisten dan memberikan semua pekerjaan yang memusingkan kepadanya."

​"Kau bicara seolah-olah sering melakukannya," ujar Kevin sarkastik.

​Namun, reaksi Ashley di luar dugaan. Ia menjawab dengan tenang, "Tentu saja. Aku sering melakukannya karena asistenku sangat kompeten."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!