NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Rahasia Napas Langit dan Utusan Mahesa

Malam semakin larut di Kerajaan Durja. Angin pegunungan berhembus membawa aroma tanah basah dan bunga melati yang menusuk hidung.

Di bawah pohon beringin tua, Ki Sastro masih menatap Ranu dengan pandangan takjub. Pria tua itu, yang sebenarnya adalah tabib istana yang melarikan diri untuk mencari pertolongan, merasa seolah baru saja menemukan air di tengah padang pasir yang tandus.

"Ranu," ucap Ki Sastro dengan nada rendah, "Jika kau memang tidak tertarik pada urusan duniawi, setidaknya pertimbangkanlah keselamatan orang tuamu. Kerajaan Mahesa tidak akan berhenti mengirim orang-orang seperti pendekar tadi. Mereka adalah utusan dari Kakang Prabu Mahesa, penguasa yang haus darah. Jika mereka tahu ada anak ajaib di sini, mereka akan menangkapmu untuk dijadikan senjata perang, atau membunuhmu jika kau menolak."

Ranu menarik napas dalam-dalam. Setiap kali ia bernapas, cahaya perak di matanya tampak berdenyut seirama dengan detak jantung bumi.

"Kakang Prabu Mahesa... seorang raja yang bahkan tidak bisa mengendalikan nafsu serakahnya sendiri. Manusia memang makhluk yang sangat rapuh namun sangat berbahaya."

Ranu kemudian menoleh ke arah gubuknya. Di sana, ia melihat bayangan ibunya, Nyai Sumi, yang sedang menyalakan lampu minyak, dan ayahnya, Ki Garna, yang sedang membebat lukanya sendiri akibat serangan pendekar tadi.

Hati Ranu yang sedingin es dewa tiba-tiba bergetar. Inilah kelemahan sekaligus kekuatan terbesarnya di kehidupan ini yaitu kasih sayang keluarga.

"Baiklah, Ki Sastro. Aku akan mengurus masalah ini. Tapi aku butuh tempat yang tenang untuk memulihkan sedikit saja dari kekuatan asliku. Tubuh bocah tujuh tahun ini terlalu sempit untuk menampung jiwaku," ujar Ranu.

"Ikutlah denganku ke Lembah Sunyi di balik bukit itu, Ranu. Di sana ada mata air purba yang mengandung energi bumi yang sangat murni. Aku akan menjagamu dari gangguan luar," tawar Ki Sastro.

Ranu mengangguk. Namun sebelum berangkat, ia berjalan mendekati ayahnya. Ki Garna terkejut melihat putranya mendekat dengan tatapan yang begitu dewasa.

"Bapak, Ranu harus pergi sebentar bersama Ki Sastro untuk belajar beberapa hal. Jangan khawatirkan keselamatanku. Jagalah Dinda ibu dengan baik," ucap Ranu sambil mencium tangan ayahnya.

Ki Garna tertegun. Ia ingin melarang, namun ia tahu bahwa Ranu bukanlah anak yang bisa ia kurung di dalam rumah. "Pergilah, Nak. Tapi berjanjilah pada Bapak, kau akan kembali dalam keadaan selamat. Kau adalah satu-satunya harta berharga bagi Bapak dan Ibu."

Ranu tersenyum, sebuah senyuman yang jarang sekali terlihat. "Ranu berjanji, Bapak."

Perjalanan menuju Lembah Sunyi memakan waktu hingga fajar menyingsing. Di sana, di sebuah gua yang tersembunyi di balik air terjun, Ranu mulai melakukan meditasi tingkat tinggi yang ia sebut Teknik Pernapasan Dewa Pemurni Jiwa.

Selama tiga hari tiga malam, Ranu tidak makan dan tidak minum. Tubuhnya diselimuti kepompong cahaya perak yang sangat tebal. Ki Sastro yang berjaga di luar gua hanya bisa melongo kaget. Ia merasakan energi di sekitar lembah itu tersedot masuk ke dalam gua, membuat tanaman di sekitarnya tumbuh dua kali lebih cepat dan bunga-bunga bermekaran meski bukan musimnya.

Di dalam kepompong cahaya itu, Ranu sedang bertarung dengan batasan fisiknya. Ia memaksa energi murni untuk memperkuat tulang-tulangnya hingga mencapai tingkat Ranah Tulang Besi dalam waktu singkat. Sesuatu yang biasanya membutuhkan waktu puluhan tahun bagi manusia biasa, ia capai hanya dalam hitungan hari.

Tiba-tiba, pada hari keempat, sebuah getaran hebat mengguncang lembah. Dari kejauhan, terdengar suara terompet perang yang ditiup dengan kencang. Ki Sastro memanjat pohon tinggi dan melihat ke arah desa tempat tinggal Ki Garna. Asap hitam mengepul tinggi ke langit.

"Gawat! Mereka menyerang desa lebih cepat dari perkiraanku!" teriak Ki Sastro panik.

Ia segera berlari ke depan mulut gua. "Ranu! Ranu! Bangunlah! Desa dalam bahaya! Pasukan Mahesa telah tiba!"

Kepompong cahaya itu retak. Ranu keluar dari gua dengan penampilan yang sedikit berbeda. Tubuhnya tampak sedikit lebih tinggi, dan aura yang terpancar darinya kini jauh lebih padat. Mata peraknya sekarang memiliki pola lingkaran emas tipis di sekelilingnya.

"Aku merasakannya, Ki," ucap Ranu dengan nada yang sangat tenang, namun tersimpan kemarahan yang membara. "Mereka telah menyentuh batas kesabaranku."

Di desa, suasana berubah menjadi neraka. Sekitar lima puluh prajurit berkuda dari Kerajaan Mahesa, dipimpin oleh seorang panglima bernama Paman Braja, sedang mengobrak-abrik rumah warga. Paman Braja adalah pendekar yang sudah mencapai puncak Ranah Aliran Angin. Dengan sekali tebasan pedang besarnya, ia bisa merobohkan tiang rumah.

"Di mana bocah bermata perak itu?!" teriak Paman Braja sambil menjambak rambut salah satu warga. "Katakan, atau aku akan membakar seluruh desa ini!"

Ki Garna mencoba melindungi Nyai Sumi di belakang tubuhnya. "Kami tidak tahu! Anak kami sudah pergi!"

Paman Braja turun dari kudanya dan berjalan mendekati Ki Garna. "Kau bapaknya, bukan? Suro Gento bilang anakmu memiliki kekuatan aneh. Jika dia tidak ada di sini, maka kepalamu akan aku jadikan jaminan agar dia keluar dari persembunyiannya!"

Paman Braja mengangkat pedang besarnya yang berkilauan terkena sinar matahari pagi. Nyai Sumi menjerit histeris. Saat pedang itu mulai mengayun turun, sebuah benda kecil melesat dari arah hutan dengan kecepatan yang tak tertangkap mata manusia.

KLANG!

Pedang besar milik Paman Braja terpental hebat hingga terlepas dari genggamannya. Paman Braja terhuyung mundur, tangannya bergetar karena hantaman yang sangat kuat. Ia melihat sebuah kerikil kecil tertanam di tanah tepat di tempat pedangnya tadi jatuh. Hanya sebuah kerikil, namun kekuatannya setara dengan hantaman palu raksasa.

"Siapa?! Keluar kau, pengecut!" teriak Paman Braja dengan wajah merah padam.

Dari balik kepulan asap dan debu, muncul sesosok bocah kecil yang berjalan dengan langkah tenang. Di belakangnya, seorang pria tua mengikuti dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Aku di sini, Paman yang malang," ucap Ranu.

Paman Braja tertawa terbahak-bahak melihat Ranu. "Hahaha! Jadi ini bocah yang diceritakan Suro Gento? Kau tidak lebih besar dari anjing pemburu keduaku! Pasukan! Tangkap bocah ini hidup-hidup, dan bunuh sisanya!"

Sepuluh prajurit berkuda segera memacu kuda mereka ke arah Ranu. Mereka menyiapkan tombak dan jaring baja. Namun, Ranu tetap berdiri diam. Ia tidak menghunus senjata, karena ia memang tidak membawa apa pun.

Saat para prajurit itu tinggal berjarak sepuluh langkah, Ranu menghentakkan kaki kanannya ke tanah.

"Goncangan Langit!" bisik Ranu.

Tanah di depan Ranu mendadak bergelombang seperti air laut. Kuda-kuda para prajurit terpelanting, melemparkan penunggangnya ke udara. Belum sempat mereka jatuh ke tanah, Ranu menggerakkan tangannya seperti sedang menepis lalat. Angin puyuh kecil tercipta secara instan, menghantam sepuluh prajurit itu hingga mereka terlempar puluhan meter ke arah hutan.

Paman Braja tertegun. Matanya membelalak. "Ranah Inti Bumi? Tidak mungkin! Bagaimana mungkin seorang bocah ingusan bisa mengendalikan energi alam sedahsyat itu?!"

Ranu menatap Paman Braja dengan mata peraknya yang mengerikan. "Kau bicara terlalu banyak untuk seseorang yang sebentar lagi akan mencium tanah."

Paman Braja meraung marah. Ia mengeluarkan teknik pamungkasnya, Ilmu Pedang Pembelah Badai. Energi berwarna merah gelap menyelimuti tubuhnya. Ia melesat ke arah Ranu dengan kecepatan tinggi, menciptakan suara ledakan udara.

"Mati kau, bocah iblis!"

Ranu hanya mengangkat satu jarinya. Di ujung jarinya, terkumpul sebuah titik cahaya perak yang sangat kecil namun sangat padat.

"Hanya karena kau bisa menggerakkan angin, bukan berarti kau tahu cara bernapas dengan benar," ucap Ranu dingin.

BUM!

Tabrakan antara pedang raksasa Paman Braja dan ujung jari Ranu menciptakan gelombang kejut yang merubuhkan sisa-sisa pagar di sekitar mereka. Namun, yang terjadi selanjutnya membuat semua orang yang melihatnya merasa bermimpi. Pedang Paman Braja tidak hanya patah, tapi hancur menjadi debu logam. Paman Braja sendiri terpaku di tempatnya, matanya melotot, dan dari pori-pori kulitnya keluar asap tipis.

Ranu menarik jarinya. Paman Braja jatuh berlutut, lalu tersungkur dengan wajah mencium tanah. Ia tidak mati, namun seluruh jalur energinya telah diputus secara paksa oleh Ranu. Ia kini tidak lebih dari manusia biasa yang lumpuh.

Ranu menoleh ke arah prajurit Mahesa yang tersisa. "Bawa pemimpin kalian ini kembali ke raja kalian. Katakan padanya, jika dia mengirim satu orang lagi ke Kerajaan Durja, aku sendiri yang akan berjalan ke istananya dan merobohkan singgasananya dengan satu tangan."

Para prajurit yang ketakutan itu segera memungut tubuh Paman Braja yang terkulai lemah dan melarikan diri tanpa menoleh ke belakang.

Desa kembali sunyi, meski luka akibat penyerangan itu masih membekas. Ranu berjalan mendekati orang tuanya. Ia melihat luka-luka di tubuh ayahnya dan air mata di wajah ibunya. Hatinya terasa perih. Ia sadar, selama ia berada di sini, keluarga ini akan selalu dalam bahaya.

"Bapak, Ibu... Ranu mohon maaf karena telah membawa bencana ini," ucap Ranu sambil bersujud di kaki mereka.

Ki Garna mengangkat Ranu dan memeluknya erat. "Tidak, Nak. Kau justru menyelamatkan kami. Tapi... siapa kau sebenarnya, Ranu? Kekuatan ini... ini bukan milik manusia."

Ranu terdiam sejenak, menatap ke arah langit biru yang luas. "Ranu adalah anak Bapak dan Ibu. Itu adalah kebenaran yang paling penting sekarang. Tapi di dunia ini, ada banyak hal jahat yang harus Ranu bersihkan agar Bapak dan Ibu bisa hidup tenang."

Ki Sastro mendekat, membungkuk dalam-dalam pada Ranu. "Tuan Muda Ranu, setelah melihat ini, aku yakin hanya Anda yang bisa menyelamatkan Raja Durja. Racun di tubuh beliau bukan racun biasa, itu adalah Racun Hitam Sukma yang hanya bisa disembuhkan oleh seseorang dengan energi murni seperti Anda."

Ranu menatap Ki Sastro. "Jika aku menyelamatkan rajamu, apakah dia bisa menjamin keamanan keluarga dan desaku?"

"Aku bersumpah dengan nyawaku, Tuan Muda. Raja Durja adalah pria yang adil. Jika Anda menyelamatkannya, Anda akan dianggap sebagai pahlawan nasional dan keluarga Anda akan diberikan perlindungan kasta tertinggi," jawab Ki Sastro mantap.

Ranu mengangguk. "Baiklah. Besok fajar, kita berangkat ke Istana Durja. Aku akan menyelesaikan urusan ini dengan cepat, agar aku bisa fokus pada tujuanku yang sebenarnya."

Malam itu, Ranu duduk sendirian di atap gubuknya. Ia menatap bintang-bintang di langit. Salah satu bintang di punggungnya, bintang paling bawah, kini telah bersinar terang. Segel pertama telah terbuka.

"Satu bintang telah bangkit," gumam Ranu. "Enam lagi, dan aku akan kembali ke tempat yang seharusnya."

......................

Akankah Ranu berhasil masuk ke istana dan menyembuhkan Raja di tengah intrik para pengkhianat di dalam kerajaan? Ataukah Kerajaan Mahesa akan mengirim pendekar yang jauh lebih kuat untuk mencegatnya?

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!