NovelToon NovelToon
Doa Terakhir Sang Kyai

Doa Terakhir Sang Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.

Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.

Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.

Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.

Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mata Yang Tertutup

Fariz berdiri di halaman rumahnya. Menatap motor yang membawa ayahnya menjauh.

Cangkul masih di tangan. Tanah masih di kaki. Dan di atas atap rumah, kabut masih menggulung. Sosok-sosok hitam masih berjongkok. Menunggu.

Lalu ia mendengar suara dari dalam rumah.

Ratna.

Fariz menjatuhkan cangkul. Masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat.

Ratna duduk di meja makan. Wajahnya pucat. Tangan gemetar di pangkuan. Seperti baru saja melihat atau mendengar sesuatu yang menakutkan.

"Bu."

Fariz berlutut di samping Ratna. Merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan ibunya. Menatap wajah yang pucat itu dengan mata yang penuh kekhawatiran.

"Bu... dengarkan aku."

Suaranya pelan. Tapi tegas.

"Sekarang ikut aku ke pondok. Tempat ini sudah tidak aman lagi."

Ratna menatapnya. Mata yang biasanya hangat sekarang terlihat kosong. Lelah.

"Tadi malam, aku melihat anak buah Pak Kades menanam sesuatu di halaman rumah. Dan pagi ini aku mencoba menggalinya tapi sudah lenyap. Bu, mereka menandai rumah ini untuk—"

"Cukup, Iz!"

Ratna membentak. Suaranya keras. Tapi ada gemetar di ujung yang menunjukkan ia tidak sepenuhnya yakin dengan kata-katanya sendiri.

"Kamu pasti sudah dihasut orang-orang di pondok itu! Mereka mengisi kepalamu dengan hal-hal yang tidak masuk akal!"

Wajahnya menegang. Seolah kata-kata Fariz hanyalah hasutan belaka.

Fariz menarik napas. Mencoba tetap tenang.

"Bu, ini bukan hasutan. Aku melihatnya sendiri dengan mataku."

Ia berdiri. Menarik tangan Ratna dengan lembut.

"Ayo, Bu. Keluar sebentar. Aku tunjukkan sesuatu."

Ratna mengikuti dengan ragu. Keluar dari rumah. Berdiri di halaman.

Fariz menunjuk ke atas. Ke atap rumah.

"Lihat, Bu. Kabut itu bukan kabut biasa."

Ratna mengangkat kepala. Menatap ke arah yang Fariz tunjuk.

Diam sebentar.

Lalu wajahnya berubah. Bingung. Marah.

"Kabut apa, Iz?!"

Ratna menarik tangannya dari genggaman Fariz. Keras.

"Ibu tidak melihat apa-apa!"

Fariz terkesiap.

Menatap ibunya dengan mata yang melebar. Tidak percaya.

Lalu perlahan ia mengerti.

Ibunya tidak bisa melihat. Kabut yang begitu jelas di matanya. Sosok-sosok hitam yang berjongkok menunggu. Semua itu tidak terlihat oleh Ratna.

Bukan karena tidak ada. Tapi karena matanya sudah tertutup. Terlalu jauh masuk ke dalam sistem. Terlalu lama hidup di bawah perlindungan yang diberikan oleh perjanjian ayahnya. Sampai ia tidak bisa lagi melihat tanda-tanda yang seharusnya jelas. Yang seharusnya menakutkan.

Dadanya sesak dengan cara yang berbeda sekarang.

Bukan hanya takut. Tapi menyakitkan dengan cara yang dalam.

Ibunya sudah tidak bisa diselamatkan dengan cara ini. Tidak dengan menunjukkan. Tidak dengan membujuk. Karena ia tidak bisa melihat apa yang mengancamnya.

"Lihat baik-baik, Bu." Fariz mencoba lagi. Suaranya lebih pelan sekarang. Lebih putus asa. "Tolong, Bu. Lihat sekali lagi."

Tapi Ratna hanya menggeleng. Wajahnya semakin menegang.

"Cukup, Iz. Kamu memang anak yang tidak bisa diatur!"

Suaranya naik. Keras. Tapi ada air mata yang mulai berkumpul di ujung matanya.

"Sejak kamu tinggal di pondok itu, kamu berubah! Kamu tidak mendengarkan lagi! Kamu—"

Ratna tidak melanjutkan. Berbalik dan masuk ke dalam rumah dengan langkah kesal. Pintu ditutup keras.

Fariz berdiri di situ. Sendirian.

Lalu ia merasakan sesuatu.

Hawa dingin di belakang leher.

Ia mengangkat kepala perlahan. Menatap atap rumah.

Salah satu sosok hitam bergerak. Turun dari atap. Melayang pelan ke arah Fariz.

Perlahan membentuk wajah.

Wajah wanita. Cantik. Tapi dingin. Mata tajam yang menatap langsung ke Fariz. Senyum tipis di bibir.

Menyeringai. Mengejek. Seolah bilang: Kamu tidak akan bisa menyelamatkan mereka. Sudah terlambat.

Fariz menatap balik.

Tidak seperti dulu. Tidak lagi membeku. Tidak lagi mundur.

Kali ini ia menatap dengan tatapan yang berbeda. Lebih tegas. Lebih marah. Ada sesuatu di dalam dadanya yang mulai panas. Bukan rasa hangat seperti yang ia rasakan saat ingat Kyai Salman. Tapi panas yang berbeda. Seperti api yang mulai menyala.

"Aku tidak akan membiarkan ini terjadi." Suaranya keluar pelan. Tapi jelas.

Wajah itu masih tersenyum. Lalu perlahan memudar. Kembali jadi asap. Naik ke atap lagi.

Fariz berbalik. Berjalan meninggalkan rumah.

Tanpa menoleh lagi.

PONDOK AL MUKHLISIN

Rahman menunggu di gerbang. Melihat Fariz berjalan sendirian dari kejauhan.

Menatap ke belakang tubuh Fariz. Berharap kedua orang tua Fariz ada di sana.

Tapi tidak ada.

"Bagaimana, Iz?"

Rahman bertanya pelan saat Fariz sampai.

"Percuma saja, Man."

Fariz menghela napas. Menyandarkan punggung ke dinding pondok.

"Mereka sudah terlalu dalam masuk ke sistem ini. Ibu tidak bisa melihat kabut yang ada di atas rumah. Bapak dibawa entah ke mana. Aku tidak bisa mengeluarkan mereka."

Suaranya pelan. Lelah.

Rahman tidak bicara. Hanya menatap Fariz dengan wajah yang penuh simpati.

"Lalu apa rencanamu sekarang?"

Fariz menggelengkan kepala. Isi pikirannya kacau. Tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Di balik itu semua, Fariz tidak tahu apa yang akan terjadi jika harinya sudah tiba. Dan bagaimana Dewi Kuasa menerima persembahan itu.

Tidak lama, terdengar langkah dari balik gerbang.

Aisyah datang dengan napas terengah. Seperti baru berlari.

"Iz... aku lihat Bapakmu ada di rumahku."

Fariz mengangkat kepala. Menatap Aisyah.

"Bukannya Mas Karno bawa Bapak ke pendopo?"

Ia heran. Karena ia mendengar dari mulut Karno sendiri bahwa Sucipto tengah ditunggu di pendopo.

"Mereka membawa Bapakmu masuk ke dalam ruangan ritual di belakang rumah." Aisyah bicara cepat. "Dan aku tidak bisa mendengarkan sama sekali pembicaraan Bapak dengan Pak Sucipto, karena Mas Karno duduk di depan pintu bersama dengan beberapa anak buah Bapak."

Rahman mengerutkan dahi.

"Kalau dibawa ke rumah Pak Kades, bukan pendopo, berarti ada ritual persiapan yang tidak boleh dilihat orang lain."

Suaranya pelan. Tapi jelas.

"Sepertinya ini bukan pertemuan biasa."

Ketiganya terdiam. Berpikir keras bagaimana caranya untuk menghentikan ini semua.

Lalu Fariz teringat sesuatu.

"Aisyah... apa kamu sudah menemukan petunjuk prosesi persembahan ini di buku Kyai Salman yang ada di rumahmu?"

Aisyah menggelengkan kepala.

"Tapi aku ingat sesuatu." Ia menatap Fariz. "Dewi Kuasa pernah bilang kalau ia akan menunggu di makam leluhur. Artinya makam leluhur desa ini, Iz."

Fariz langsung menatap Rahman.

"Bagaimana kalau kita ke sana sekarang?"

Ia beranjak dari lantai.

"Sebentar."

Rahman mengangkat tangan. Menghentikan Fariz.

"Aku ingat sesuatu. Kalau tidak salah, Kyai Salman pernah menulis tentang makam leluhur di lembaran yang aku berikan kepadamu, Iz."

Ketiganya kemudian segera kembali ke dalam rumah persembunyian.

Membuka tas Fariz. Mengeluarkan semua lembaran yang dikumpulkan selama beberapa hari ini. Menyebarkannya di lantai tajuk.

Mencocokkan dengan apa yang didengar Aisyah dari ritual. Dengan catatan-catatan yang mereka temukan.

Sampai Fariz menemukan satu halaman.

Tulisan Kyai Salman yang sudah pudar. Tapi masih bisa dibaca.

"Makam itu adalah tempat pengikatan jiwa antara Dewi Kuasa dan manusia. Saat mereka dijadikan persembahan, maka akan ada darah yang dituangkan ke dalam sebuah perjanjian baru. Dan ikatan lama akan terputus, digantikan oleh ikatan yang lebih kuat."

Kalimat itu tertangkap jelas di mata Fariz.

Selama ini ia hanya menganggap tulisan itu sebagai bacaan biasa. Tapi sekarang ia mengerti.

Persembahan bukan hanya tentang membunuh. Tapi tentang mengikat. Membuat perjanjian baru dengan darah yang segar.

Dan kalau perjanjian baru dibuat, maka perjanjian lama — perjanjian yang Sucipto buat dua puluh tahun lalu — akan terputus.

Fariz menatap Rahman. Lalu ke Aisyah.

"Ritual ini akan dimulai besok malam."

Suaranya lebih tegas sekarang.

"Besok adalah Jumat Kliwon."

Rahman mengangguk pelan.

"Satu hari, Iz." Suaranya keluar dengan berat. "Kita hanya punya satu hari untuk mencari cara menghentikan ini."

Aisyah menatap mereka berdua.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?"

Fariz menatap lembaran di tangannya. Membaca lagi kalimat itu.

"Darah yang dituangkan ke dalam sebuah perjanjian baru."

Lalu ia menatap ke atas. Ke langit-langit rumah.

"Kita harus ke makam leluhur itu." Suaranya pelan tapi jelas. "Kita harus tahu bagaimana ritual itu dilakukan. Dan mencari cara untuk menghentikannya."

Rahman menatapnya cukup lama. Lalu mengangguk.

"Kalau begitu kita pergi sekarang. Sebelum terlambat."

Ketiganya berdiri. Mengambil tas. Memasukkan semua lembaran penting.

Lalu berjalan keluar dari pondok.

Menuju makam leluhur yang terletak di ujung desa. Di tempat yang jarang didatangi orang. Di tempat yang bahkan di siang hari pun terasa gelap dan dingin.

Tempat di mana ritual persembahan akan dilakukan besok malam.

Tempat di mana Dewi Kuasa menunggu.

1
Was pray
shalat magrib 2 rakaat? shalat model baru kah?
kang adhie: oalaaah kayaknya aku typo
thx u kak udh remind
aku coba perbaiki
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!