Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.
Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.
Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.
Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.
Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.
Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Tempat Pengasingan
Bastian dan Seruni kini sudah duduk bersama di meja makan. Pak Tono, Bu Dewi dan Rasti juga sudah duduk di sana.
"Lama banget!" cibir Rasti.
"Maaf," sahut Seruni yang merasa bersalah pada keluarganya.
Gara-gara dirinya pingsan dan drama berganti baju, anggota keluarga yang lain harus menunggu mereka untuk duduk makan siang bersama.
"Makanan udah pada dingin gara-gara nungguin pengantin pingsan!" sindir Bu Dewi.
"Maafin Runi ya, Bu." Ucap Seruni tulus meminta maaf.
"Sudah, ayo semua nak makan. Apak udah lapar," ucap Pak Tono menengahi.
Seruni duduk di dekat Pak Tono dan Bastian. Sedangkan Bu Dewi dan Rasti duduk saling berhadapan dengan Seruni dan Bastian.
Dengan sigap tangan terampil Seruni mengambilkan makanan untuk Pak Tono dan Bu Dewi. Setelah itu, ia mengambilkan makanan untuk Bastian.
"Segini nasinya apa cukup, Bang?" tanya Seruni penuh kelembutan.
"Cukup, Run."
Lalu, Seruni menuang sayur dan lauk ke atas piring Bastian.
"Sok manis!" desis Rasti dalam hatinya.
Jujur, ia iri karena Seruni mendapatkan suami yang lebih tampan dari Ardi.
Di wilayah mereka bahkan di kota terdekat, jarang sekali melihat bule atau pria blasteran berkeliaran. Baik untuk sekedar wisata apalagi menikah dengan orang pribumi.
Akan tetapi, nasib baik menimpa Seruni setelah diterpa musibah. Jodohnya langsung diganti Tuhan begitu cepat dengan mendapat pria blasteran seperti Bastian Fernando Malik yang di mata Rasti adalah sosok pria sempurna atau idamannya.
Mereka semua akhirnya makan dengan lahap. Beberapa menit kemudian, Bu Dewi membuka obrolan.
"Apak jangan lupa! Besok pagi Seruni dan mantu barumu itu harus tinggal di tempat pengasingan. Para warga sejak tadi sudah pada bertanya ke ibu, kapan pengantin baru ini pergi dari sini?" ucap Bu Dewi terdengar sarkas.
Bastian seketika menghentikan suapan makanan ke dalam mulutnya usai mendengar ucapan ibu mertuanya tersebut.
"Iya, Bu. Besok mereka berdua akan pindah tinggal ke sana," jawab Pak Tono.
Bu Dewi dan Rasti seketika tersenyum usai mendengar kepastian pengasingan tersebut dari mulut Pak Tono.
Seruni memilih untuk diam dan pasrah. Ia sudah terbiasa selama ini tak punya kuasa di rumahnya sendiri. Suara Bu Dewi dan Rasti lebih mendominasi.
Bukan Seruni tak mampu menyuarakan keinginan atau pendapatnya pada sang ayah, tapi ia memilih diam untuk menghindari konflik keluarga.
☘️☘️
Setelah makan siang, Bastian dan Seruni memilih masuk ke dalam kamar. Kini mereka berdua tengah duduk di tepian ranjang pengantin.
"Maaf ya, Bang."
"Kenapa kamu hobi sekali minta maaf?" balas Bastian seraya tertawa kecil.
"Gara-gara menikah denganku, abang harus hidup di pengasingan selama setahun ke depan." Ungkap Seruni terdengar lesu dan merasa bersalah.
"Apa tempat itu jauh dari rumah ini?"
"Jaraknya sekitar 2-3 kilometer dari sini, Bang."
Seruni menjelaskan jika di daerah pengasingan, ada satu rumah sederhana di tengah-tengah ladang yang cukup luas. Tak jauh dari sana ada sungai. Di seberang sungai sudah masuk wilayah desa lain.
Tak ada satu pun tetangga di dekat rumah pengasingan. Di dalam rumah pengasingan hanya ada satu kamar tidur, ruang tamu kecil dan dapur. Kamar mandi dan W C di luar rumah.
Rumah tersebut biliknya masih terbuat dari kayu dan anyaman bambu, bukan tembok batu bata seperti kediaman orang tua Seruni. Bahkan tak ada kasur di sana. Hanya terdapat ranjang yang terbuat dari kayu dengan alas tikar seadanya bersama bantal serta guling.
Udara di sana seringnya panas jika siang hari. Namun cukup dingin bila malam hari.
"Sementara ini bagiku tak ada masalah. Daripada aku masuk penjara dan membuat nama papa serta mama jadi bu_ruk," batin Bastian terlihat pasrah akan nasibnya kelak bersama Seruni di tempat pengasingan.
☘️☘️
Bastian tak tau saja jika di Jakarta, sang ibu sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit setelah mendengar desas-desus kabar tentang dirinya dari Alex.
Syok.
Tentu Elsa Lopez, ibu kandung Bastian terkejut bukan main mendengar kabar buruk putra semata wayangnya tersebut sampai harus dilarikan ke rumah sakit.
Mama Elsa tak punya riwayat penyakit serius. Ia hanya pingsan dan tubuhnya lemas saja.
"Gimana Lex, apa kamu berhasil menemukan putraku?" tanya Mama Elsa.
"Maaf, Nyonya. Saya kehilangan jejak tuan muda," jawab Alex.
"Ya Tuhan, lindungi putraku di mana pun ia berada. Aku yakin dia gak bersalah," gumam Mama Elsa seraya terus memanjatkan doa terbaiknya sebagai seorang ibu untuk Bastian.
"Aku yakin Bastian bukan pembunuh wanita itu, Lex. Aku sangat mengenal putraku," lanjutnya.
"Saya juga punya pendapat yang sama seperti Nyonya. Tapi seluruh bukti saat ini mengarah pada Tuan Bastian sebagai tersangka pembunuh Rossa,"
"Setelah putus dari Maura, aku tau Bastian memang dikenal playboy. Ia sering berganti-ganti teman dekat wanita. Tapi aku pernah bertanya padanya dan kulihat kejujuran di mata putraku. Bastian tak pernah making love baik dengan Maura atau wanita yang lain," ungkap Mama Elsa.
Ya, faktanya memang benar demikian.
Walaupun Bastian Fernando Malik hidup beberapa tahun di Australia untuk kuliah dan sempat bekerja di sana, ia tak menganut paham hidup kumpul ke_bo atau mudah melakukan making love dengan para wanita.
Selama menjalin cinta dengan Maura Hadinata, Bastian hanya sebatas ciuman dan saling menyentuh. Bibir, leher dan area da_da. Ia tak pernah menggunakan adik kecilnya yang disebut terong impor tersebut untuk memasuki tubuh Maura maupun wanita mana pun.
Sebagai pria dewasa, tak menampik terkadang has_ratnya muncul secara tiba-tiba. Jika ia sedang ingin, biasanya Bastian hanya meminta si terong impornya dipuaskan dengan mulut wanita yang dibayarnya.
Mama Elsa selalu memberikan wejangan pada Bastian bahwa jangan sampai merusak atau menyakiti seorang wanita. Dikarenakan ia lahir dari rahim seorang wanita juga.
"Yang lalu Bastian sempat cerita padaku kalau dia lagi dekat dan pengin nikah dengan janda punya anak. Bastian minta restu ke mama. Aku merestuinya. Mau Bastian menikah dengan siapapun, aku tak peduli janda atau pera_wan. Yang penting wanita itu baik dan sayang sama putraku," ucap Mama Elsa sejenak menjeda kalimatnya.
"Ehm, kalau gak salah ingat namanya Kirana. Apa kamu pernah bertemu dengan Kirana, Lex?"
Bersambung...
🍁🍁🍁
Bang Bastian....,, masak setelah sekian waktu dirimu bersama seruni,, dirimu belum bisa menilai seruni itu orangnya gimana....
hei laki-laki inget baik baik ya wanita modal ngangkang merebut suami orang bukan wanita baik2 sehina hina nya wanita adalah modelan begitu semoga para pelaku perselingkuhan kalau tidak bertobat azab dunia dan akhirat menimpanya dengan sangat tragis Aamiin