Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Tangisan Dafa.
"Mamamu gak akan datang ke sini, Dafa. Mamamu sudah pergi, dia sudah membuangmu dan tidak peduli lagi padamu."
Ucapan Martha seketika menghentikan tangisan Dafa, bocah kecil itu menatap neneknya dengan sendu, kedua tangannya tampak saling bertautan membuat siapa saja yang melihatnya pasti merasa kasihan.
"Dapa mau mama," ucap Dafa kembali dengan serak, wajahnya sembab dan kedua matanya menyipit karena terlalu banyak menangis.
Martha menghela napas, kemudian dia menoleh ke arah belakang saat mendengar langkah seseorang. Terlihat Rangga berjalan ke arah mereka dengan muka masam dan mulut bergumam tidak jelas.
"Kau dari mana saja, Rangga?" tanya Martha dengan tajam, sungguh dia sangat lelah sekali melihat putra semata wayangnya itu. Apalagi dia harus ke sana kemari atas perintah Rangga, benar-benar sangat menyebalkan.
"S*ialan!" umpat Rangga tanpa mempedulikan pertanyaan ibunya seraya menghempaskan tubuhnya ke sofa membuat tatapan Martha semakin menajam.
Melihat kedatangan ayahnya, sontak membuat Dafa beranjak dari lantai untuk menghampiri sang ayah. "Papa." panggilnya dengan mata berkaca-kaca, tangan kecilnya memeluk kaki sang ayah membuat Rangga menghela napas berat.
Rangga yang semula sedang bersandar, mau tidak mau menegakkan tubuhnya dan melihat ke arah Dafa. "Ada apa, Dafa? Kenapa kau menangis terus?" katanya kesal. Dia lalu mengangkat tubuh Dafa dan mendudukkan bocah kecil itu ke pangkuannya.
Dafa segera mengusap air matanya dengan baju. "Dapa mau mama, mau sama mama." katanya lirih.
Rangga terdiam, rahangnya mulai mengeras, dadanya kembali terasa sesak. "Mama udah pergi." jawabnya tajam.
Dafa tertegun, lalu menggelengkan kepala. "Dapa mau pergi sama mama juga, mau ikut mama." pintanya mulai terisak.
Rangga berdecak kesal, lalu menurunkan tubuh putranya ke atas sofa dengan kasar. "Papa gak tau di mana mamamu, dia udah pergi sama orang lain." suaranya mulai meninggi. "Dia udah gak sayang sama kita, mamamu membuangmu, membuang papa juga. Dia meninggalkanmu, dia gak peduli lagi sama anaknya sendiri." katanya tajam.
Dafa terdiam, menatap wajah ayahnya tanpa berkedip, mencoba mencerna ucapan sang ayah yang tidak dia mengerti.
"Tapi Dapa mau mama, Dapa mau-"
"Udah kubilang kalau mamamu pergi, 'kan!" bentak Rangga membuat tubuh Dafa terlonjak kaget. "Kau gak ngerti ucapan papa, hah? Udah di bilang pergi yah pergi!" bentaknya lagi dengan lebih kuat membuat tubuh Dafa gemetaran.
"Hiks hiks." Dafa terisak dan meringkuk di atas sofa dengan ketakutan, napasnya tersengal-sengal, suhu tubuhnya mulai meningkat, dan sejak pagi dia sama sekali tidak mau makan.
Beni yang baru saja kembali dari kantor bergegas menghampiri Rangga saat mendengar suara putranya itu. Kedua matanya membelalak lebar saat melihat keadaan Dafa, dengan cepat dia menghampiri bocah kecil itu dan segera menggendongnya.
"Apa-apaan kau, Rangga!" bentak Beni marah. Dia menatap putranya itu dengan tajam, lalu berusaha untuk menenangkan tangisan Dafa.
Rangga menghela napas berat, lalu beranjak dari sofa dan hendak naik ke kamarnya. Namun, ucapan sang ayah membuat langkahnya terhenti dan langsung berbalik dengan kedua mata berkilat marah.
"Apa Papa bilang?" tanyanya dengan tajam.
Beni berdecak, menatap putranya depan penuh kekesalan. "Istrimu pergi karena perbuatanmu sendiri, jadi jangan lagi membuat keributan dan lepaskan saja dia." ulangnya dengan penuh penekanan.
Kedua tangan Rangga mengepal erat, dadanya tampak naik turun menahan amarah. "Papa tidak punya hak untuk ikut campur dengan rumah tanggaku." katanya tajam.
"Tapi gara-gara kebodohanmu nama baik keluarga ini hampir saja hancur!" bentak Beni. "Bukan cuma nama baik keluarga ini yang kau pertaruhkan, tapi perusahaan juga! Gara-gara masalah ini kau jadi tidak bisa mengurus pekerjaanmu dengan benar, apa kau tau kalau para investor mengeluh dengan sikapmu ini, hah! " sambungnya dengan tidak kalah tajam.
Rangga menggertakkan gigi, wajahnya merah padam. Memangnya bisa apa para investor itu padanya? Dia adalah pemilik perusahaan Sanjaya grup, jadi tidak ada satu orangbpun yang bisa mengomentarinya.
"Cukup, Rangga. Jangan berbuat lebih dari ini," ucap Beni seraya menghela napas lelah, apalagi saat mengetahui pertengkaran antara istrinya dan Rania yang membuat kehebohan di depan gerbang, juga tentang kepergian wanita itu saat ini. "Lepaskan saja wanita itu, ceraikan dia. Kau bisa mendapat perempuan yang jauh lebih baik darinya." sambung Beni, kalimatnya menggantung. "Soal Dafa biar papa yang urus."
Rangga kembali diam, tetapi sorot matanya memancarkan kemarahan yang mendalam. Apalagi saat mendengar ucapan ayahnya yang serasa memantik kobaran api dari dalam dirinya.
"Papa benar-benar tidak paham dengan sikapmu ini. Kalau memang kau tidak mau berpisah dan secinta itu dengan Rania, lalu kenapa kau berselingkuh dengan wanita lain?" tanya Beni. "Kau sendiri yang membuat rumah tanggamu rusak, tapi sekarang kau juga yang tidak mau menceraikannya. Dasar bodoh!" Dia langsung berbalik dan menjauh dari tempat itu sembari membawa Dafa.
"Ah brengs*ek!" teriak Rangga, dia menendang kursi yang ada didekatnya membuat kursi itu terpelanting dan menyebabkan suara benturan yang cukup keras.
Rangga mengusap wajahnya dengan kasar, merasa kesal sekaligus frustasi. "Tidak, aku tidak akan pernah menceraikannya." katanya tajam. "Dia tidak akan pernah lepas dari tanganku, tidak akan pernah!" Dia lalu berbalik dan berjalan cepat menuju kamar.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Andre sedang berada di kantor polisi untuk mengurus laporan yang telah dibuat oleh Rania. Dia melambaikan tangan pada seorang petugas yang sedang berjalan ke arahnya sembari tersenyum hangat.
"Wah, sudah lama kita tidak bertemu, Andre," ucap Ivan sembari menepuk bahu Andre—teman lamanya.
"Iya yah, entah udah berapa tahun gak ketemu," balas Andre dengan tidak kalah ramah. Kemudian Ivan mengajaknya ke ruangan laki-laki itu.
Setelah berada di dalam ruangan, Ivan langsung menanyakan alasan kedatangan Andre ke kantor polisi. Padahal temannya itu telah menjadi pengacara pribadi dari salah satu keluarga konglomerat yang ada di kota mereka.
"Aku sedang menangani kasus perceraian dan dugaan kekerasan, dan klienku sudah membuat laporan ke sini," ucap Andre.
Ivan mengangguk paham. "Apa kau ingin aku mengurusnya?" Dia langsung mengerti ke mana arah pembicaraan mereka saat ini.
"Tentu saja, percuma aku punya teman yang punya jabatan tinggi di sini," seru Andre seraya tertawa senang membuat Ivan ikut tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Baiklah, aku akan mengurusnya. Tapi, apa klienmu ini dari keluarga konglomerat itu?" tanya Ivan dengan hati-hati karena tidak mau membuat kesalahan dan juga masalah.
Andre menggeleng. "Tidak, tapi sepertinya mereka punya hubungan spesial." jawabnya jujur. "Kalau kau bisa mengurusnya dengan baik, aku akan mengenalkanmu pada atasanku."
"Be-benarkah?" tanya Ivan dengan mata berbinar-binar dan dijawab dengan anggukan kepala Andre.
"Kau tenang saja, aku akan langsung melihat laporan itu dan segera mengurusnya."
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda