Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.
Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.
Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran
Dunia Amira seperti berhenti berputar. Tubuhnya kaku, napasnya tercekat.
Aroma yang begitu dikenalnya, parfum maskulin yang sejak pagi mengganggu pikirannya, kini begitu dekat.
Amira yakin, Dirga pasti mengira yang duduk di hadapannya adalah Celine. Dari belakang, mungkin memang terlihat seperti istrinya.
Jantung Amira berdegup keras. Begitu keras hingga dia takut Dirga bisa merasakannya. Tangannya refleks ingin melepaskan dekapan itu. Namun tubuhnya seolah tak patuh.
Untuk sepersekian detik, dia merasakan sesuatu yang tak seharusnya dirasakan. Namun, saat kesadaran menghantamnya keras. Perlahan, dengan suara bergetar, Amira berkata,
“Pak Dirga, ini saya Amira. Maaf, sudah lancang masuk ke kamar, tapi tadi Bu Celine suruh saya masuk ke kamar buat kirim file, karena laptopnya ketinggalan.”
Pelukan itu langsung mengendur, hening beberapa detik. Dirga membeku, tangannya perlahan terlepas dari pinggang Amira.
Amira menoleh pelan, dan wajah Dirga, yang biasanya tenang dan penuh kendali, kini berubah pucat. Tatapannya kaget, masih tak percaya.
“Amira?”
Suaranya hampir tak terdengar. Detik itu juga, Dirga baru menyadari, kesalahan fatal mencium wanita yang bukan istrinya.
Ruangan itu mendadak terasa sempit. Dirga mundur satu langkah, wajahnya jelas menunjukkan rasa terkejut yang belum sepenuhnya hilang.
“Maaf,” ucapnya cepat. Suaranya tidak lagi setenang biasanya.
“A-aku pikir kamu Celine.”
Tangannya yang tadi sempat memeluk kini menggantung kaku di samping tubuhnya. Dia mengusap tengkuknya sendiri, gelagatnya salah tingkah, sesuatu yang jarang terlihat dari sosoknya yang selalu percaya diri. Amira menunduk, pipinya panas.
“Nggak apa-apa, Pak. Saya yang seharusnya nggak di kamar ini.”
Hening kembali menggantung. Dirga menggeleng pelan.
“Bukan, ini salahku. Aku nggak lihat dulu.”
Ada rasa malu di wajahnya. Juga canggung, dan jelas tidak enak karena sudah bertindak sejauh itu, walau tanpa sengaja.
Tatapan mereka sempat bertemu lagi. Namun kali ini bukan seperti sebelumnya. Melainkan kesadaran pahit tentang batas yang baru saja terlewati.
Dirga menarik napas panjang.
“Aku keluar dulu. Kamu istirahat saja.”
Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik dan melangkah cepat keluar kamar. Beberapa detik kemudian terdengar suara pintu depan terbuka, lalu tertutup kembali.
Sedangkan Amira masih berdiri di tempatnya, jantungnya belum juga tenang. Tengkuknya terasa panas, bukan hanya karena sisa kecupan tadi, tapi karena rasa bersalah yang tiba-tiba menghimpit dada.
Dia segera menutup laptop, meletakkannya di meja, lalu berlari keluar dari kamar utama. Langkahnya cepat menuju kamar sendiri. Begitu pintu tertutup, dia bersandar di baliknya.
Menarik napas dalam-dalam. Tangannya tanpa sadar menyentuh tengkuknya. Air matanya hampir jatuh bukan karena marah, tapi karena perasaannya sendiri yang semakin rumit.
Hari ini terlalu banyak yang terjadi, dan Amira belum siap. Meskipun, laki-laki itu sosok yang dia sukain, tapi statusnya sebagai suami orang membuatnya merasa bersalah.
Amira mengurung diri di kamar hampir satu jam. Dia tak berani keluar. Setiap kali terdengar suara mobil lewat di depan rumah, jantungnya langsung berdegup kencang, takut itu Dirga.
Amira bahkan tak tahu bagaimana harus bersikap jika mereka kembali bertemu malam ini.
“Amira?”
Suara Celine terdengar dari luar kamar, Amira tersentak.
“I-iya, Bu,” jawabnya cepat, berusaha menormalkan suara.
“Keluar ya. Kita makan malam.”
Amira menarik napas panjang, lalu membuka pintu. Celine sudah berdiri di lorong, tampak segar dan rapi seperti tak terjadi apa-apa.
“Kamu udah mandi kan?” tanya Celine sambil berjalan menuju ruang makan.
"Udah, Bu.”
“Bagus.”
Meja makan sudah tertata sederhana. Hanya mereka berdua. Amira sedikit lega saat menyadari Dirga belum pulang.
“Dirga belum balik?” tanya Celine santai sambil mengambil air minum.
“Belum, Bu,” jawab Amira pelan.
“Biasanya dia memang sering pulang malam."
Amira hanya mengangguk. Sepanjang makan malam, Celine bercerita ringan tentang pekerjaannya, tentang revisi proposal, tentang target kerja sama dengan Cambridge.
Sedangkan Amira makan dengan cepat, dan menjawab seperlunya. Dia ingin segera kembali ke kamar sebelum Dirga pulang. Setelah selesai, Amira segera membereskan piringnya.
“Saya masuk dulu, Bu.”
Namun sebelum Amira sempat berbalik, suara Celine menghentikannya.
“Oh ya, sebentar!”
Amira menoleh. Celine menyandarkan punggungnya di kursi, menatap Amira dengan senyum tipis yang sulit dibaca.
“Bagaimana perkembangan hubungan kamu sama Dirga?”
Jantung Amira seperti berhenti.
“A-apa maksudnya, Bu?”
Celine tersenyum lebih lebar.
“Kalian kan seharian bareng hari ini.”
Amira menelan ludah.
“Kami cuma ke proyek. Lalu makan siang. Karena Ibu bilang untuk antar saya pulang.”
Celine mengamati wajahnya.
“Cuma itu?”
Amira memaksakan diri tetap tenang.
“Iya, Bu. Nggak ada apa-apa.”
Beberapa detik hening. Celine bangkit perlahan, berjalan mendekati Amira.
“Usahakan kalian lebih akrab ya!”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun terasa menohok.
“Iya, Bu.”
Celine tersenyum lagi, kali ini lebih tipis.
“Masuklah. Istirahat. Besok kamu bantu aku lagi.”
Amira mengangguk cepat lalu bergegas masuk ke kamar. Begitu pintu tertutup, dia berjalan ke arah ranjang, lalu duduk di tepi ranjang ketika suara mobil terdengar memasuki halaman.
Jantung Amira langsung berdegup lebih cepat.
"Itu pasti Dirga," batin Amira dalam hati.
Dia menahan napas, tanpa sadar mendekat ke pintu kamar, seolah suara langkah bisa terdengar lebih jelas dari sana.
Pintu depan terbuka, auara langkah masuk. Tidak ada percakapan. Tidak ada sapaan hangat.
Beberapa detik hening yang aneh. Lalu, suara pintu kamar utama tertutup cukup keras.
Amira tersentak, itu bukan suara pintu yang ditutup biasa. Itu seperti, seseorang yang sedang marah.
Amira menggigit bibir bawahnya. Tak lama kemudian, suara langkah cepat terdengar di lorong, lalu suara Celine menyusul.
“Dirga!”
Tidak terdengar jelas apa yang dibalas. Hanya suara percakapan rendah yang teredam dinding.
Nada Celine terdengar tegas. Nada Dirga lebih berat. Amira menutup telinganya dengan kedua tangan.bDia tidak ingin mendengar. Tidak ingin tahu.
Beberapa menit kemudian, rumah kembali sunyi. Amira berbaring di kasur, memeluk bantal, matanya menatap kosong ke arah jendela.
Hatinya tidak tenang. Malam ini terasa berbeda, seperti ada sesuatu.
"Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apakah mereka bertengkar? Kalau iya, jangan-jangan pertengkaran itu karena aku?"
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..