NovelToon NovelToon
Ibu Susu Bayi Sang Duda

Ibu Susu Bayi Sang Duda

Status: tamat
Genre:Duda / Janda / Selingkuh / Ibu Pengganti / Menikah Karena Anak / Ibu susu / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Hari yang seharusnya menjadi momen terindah bagi Hanum berubah menjadi mimpi buruk. Tepat menjelang persalinan, ia memergoki perselingkuhan suaminya. Pertengkaran berujung tragedi, bayinya tak terselamatkan, dan Hanum diceraikan dengan kejam. Dalam luka yang dalam, Hanum diminta menjadi ibu susu bagi bayi seorang duda, Abraham Biantara yaitu pria matang yang baru kehilangan istri saat melahirkan. Dua jiwa yang sama-sama terluka dipertemukan oleh takdir dan tangis seorang bayi. Bahkan, keduanya dipaksa menikah demi seorang bayi.

Mampukah Hanum menemukan kembali arti hidup dan cinta di balik peran barunya sebagai ibu susu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Dibuang tak terhina

Sebulan berlalu sejak insiden di pesta pernikahan Galih dan Lilis. Hubungan Hanum dan Abraham perlahan membaik. Abraham memang masih menampilkan sikap dingin seperti biasanya, tapi ada hal-hal kecil yang tak bisa Hanum abaikan, caranya memastikan ia makan tepat waktu, menanyakan kondisi Kevin, bahkan diam-diam memperhatikan ketika Hanum tertawa bersama ibunya.

Hari itu, Siska mengetuk pintu kamar Hanum sambil tersenyum lebar.

“Hanum, temani Ibu belanja, ya? Sudah lama sekali kita tidak keluar rumah bersama.”

Hanum menoleh dari kasur tempat Kevin terbaring. “Belanja, Bu? Ke mana?” tanyanya hati-hati.

“Ke mall, sekalian Ibu ingin membelikan beberapa kebutuhanmu juga. Kau tidak bisa terus-menerus memakai pakaian lama yang seadanya. Kau sekarang menantu keluarga Biantara, Hanum.”

Hanum sempat terdiam, sedikit kikuk. “Tapi Kevin, Bu … dia tidak pernah mau jauh dariku terlalu lama.”

Siska menepuk pundaknya dengan lembut. “Kita titipkan sebentar pada pengasuh. Kau sudah menyiapkan ASI perah, bukan?”

“Iya, Bu. Tapi Kevin … biasanya menolak kalau bukan saya yang memberinya langsung.”

Siska tersenyum, menatap bayi mungil yang tidur pulas. “Percayalah, Nak. Lama-lama dia akan terbiasa ... lagipula, kalau kau terus menolak keluar rumah, dunia ini hanya akan terasa sesempit kamar ini.”

Hanum menggigit bibirnya, dia tahu ada benarnya, akhirnya ia mengangguk. “Baik, Bu. Kalau begitu … saya ikut.”

Mereka pun menyiapkan Kevin, botol ASI diletakkan di meja kecil di samping pengasuh. Hanum menunduk, mencium dahi putranya berkali-kali.

“Ibu sebentar saja pergi, Nak. Minumlah susu ini, ya … meski bukan langsung dari Ibu,” bisiknya lirih, hatinya masih berat meninggalkan si kecil.

Siska memperhatikan adegan itu dengan mata yang melembut. Ada rasa kagum terselip di hatinya. Hanum benar-benar seorang ibu yang penuh kasih sayang. Setelah memastikan Kevin dalam pelukan pengasuh, mereka berdua pun berangkat. Mobil hitam keluarga Biantara melaju menuju pusat perbelanjaan. Sepanjang jalan, Hanum lebih banyak diam, sesekali menatap keluar jendela. Ada rasa canggung, tapi juga sedikit bahagia karena untuk pertama kalinya ia diajak keluar oleh ibu mertuanya.

Mall sore itu cukup ramai, lampu-lampu toko berkilauan memantulkan bayangan orang-orang yang lalu lalang. Hanum melangkah pelan di samping Siska, merasa canggung dengan gaun sederhana yang dipakainya. Dia tidak pernah membayangkan akan memasuki butik perhiasan mewah seperti itu.

Begitu melewati pintu kaca, hawa dingin menyambut. Kilauan emas, berlian, dan permata seolah menyilaukan mata Hanum. Dia berhenti sejenak, merasa seperti orang asing di dunia penuh kemewahan.

“Pilihlah apa yang kamu suka, Hanum,” ujar Siska lembut sambil menggenggam lengannya. “Jangan malu, kamu menantu keluarga Biantara. Sudah sewajarnya kamu memiliki sesuatu yang layak.”

Hanum tergagap, matanya membesar. “Tapi Bu … ini terlalu mewah. Saya tidak pernah...”

“Sudah.” Siska menepuk tangannya. “Anggap saja hadiah dari ibu mertuamu. Ibu ada urusan sebentar dengan manager toko. Kamu pilih dulu, nanti kita bicarakan lagi.”

Dengan langkah anggun, Siska berlalu ke arah dalam butik, meninggalkan Hanum yang masih bingung. Dia melangkah mendekati etalase kaca, menatap kalung berhiaskan permata biru. Cantik sekali, tangannya terangkat sedikit, ingin menyentuh kaca, tapi segera ia tarik kembali.

‘Tidak mungkin aku memakai sesuatu semahal ini,’ batinnya getir.

Saat itulah, suara nyaring terdengar dari belakang.

“Hanum?”

Hanum menoleh kaget, Lilis berdiri di sana dengan tas bermerek menggantung di lengannya, riasan tebal menghiasi wajahnya. Senyumnya sinis, penuh ejekan.

“Aku kira tadi salah lihat,” Lilis melangkah mendekat, suaranya keras sengaja agar pengunjung lain mendengar. “Ternyata benar kau, Hanum. Wah … aku tidak menyangka kau bisa masuk tempat semewah ini. Apa kau bekerja jadi pelayan di sini?”

Beberapa pengunjung lain melirik penasaran. Wajah Hanum memucat, jemarinya saling meremas. “Aku … aku hanya menemani...”

“Menemani siapa?” potong Lilis cepat. Matanya melirik kalung di etalase. “Oh, jadi kau bermimpi ingin memiliki perhiasan semahal ini, ya? Hanum, Hanum … kau tidak berubah. Dulu saja tak bisa menjaga rumah tangga sendiri, sekarang berani-beraninya kau bermimpi setinggi langit.”

Hanum menggigit bibir, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. Namun, sebelum ia sempat menjawab, Lilis kembali membuka suara, kali ini lebih pelan namun menohok.

“Kau tahu, bukan? Sekalipun kau bersolek dengan perhiasan paling mahal di sini, tetap saja … kau tidak akan pernah bisa menggantikan aku di hati Galih.”

Ucapan itu menusuk Hanum tepat di dada. Jantungnya serasa diremas. Namun, Lilis tidak tahu satu hal, bahwa tempat yang ia injak sekarang, butik perhiasan berkilauan ini, bukan sekadar toko biasa. Toko itu adalah salah satu usaha besar milik keluarga Biantara, suami Hanum sendiri, Abraham. Dan kebetulan, pria itu baru saja rapat bersama dengan manager di lantai atas butik.

Hanum masih berdiri kikuk di depan etalase, mencoba menahan diri agar tidak salah tingkah. Dia tidak menyadari saat Lilis yang sedari tadi berlagak memilih perhiasan, dengan sengaja menyelipkan sebuah kotak kecil berisi satu set kalung dan gelang ke dalam tas belanjaan kertas yang sedang Hanum pegang. Gerakan itu begitu cepat, nyaris tidak terlihat, namun senyum puas sempat mengembang di bibir Lilis.

Beberapa menit kemudian, Lilis berpura-pura menoleh, matanya membelalak dramatis.

“Hanum!” serunya keras. “Astaga … aku barusan lihat jelas kau memasukkan perhiasan itu ke dalam tasmu!”

Hanum kaget, wajahnya pucat. “Apa? Tidak! Aku tidak...”

Lilis cepat-cepat menoleh ke arah pelayan butik. “Hei! Tolong, periksa tas wanita ini! Dia mencuri perhiasan, aku lihat sendiri dengan mata kepalaku!”

Beberapa pelanggan lain mulai memperhatikan, bisik-bisik terdengar. Hanum langsung gelagapan, wajahnya semakin merah karena malu. Dia menggenggam erat tasnya, berusaha menahan.

“Saya tidak mencuri! Saya bahkan belum menyentuh barang apa pun! Tolong jangan memfitnah saya,” suaranya bergetar.

Namun, Lilis justru semakin keras. “Kau kira aku buta? Aku tahu betul wajahmu sejak dulu suka berpura-pura suci! Coba saja periksa, kalian pasti menemukan perhiasan di tasnya!”

Pelayan butik tampak serba salah, namun dorongan dari pelanggan kaya seperti Lilis membuat mereka maju mendekat. “Maaf, Nyonya … kami hanya ingin memastikan.”

Hanum mundur selangkah, air matanya mulai jatuh. “Tidak! Saya tidak pernah … jangan perlakukan saya seperti ini…”

Tapi Lilis sudah bersedekap angkuh, matanya penuh kemenangan. “Kalau kau memang tidak bersalah, biarkan saja mereka periksa. Apa yang kau takutkan?”

Keributan kecil mulai pecah. Beberapa pengunjung berdesakan ingin melihat. Pelayan dengan ragu membuka tas kertas di tangan Hanum, dan tiba tiba,

Deg!

Kotak berisi satu set perhiasan mewah tampak jelas di dalamnya. Suara-suara heboh langsung terdengar.

“Benar kan?” Lilis berseru lantang, nadanya penuh tuduhan. “Wanita ini pencuri! Aku bilang juga apa! Cepat hubungi polisi, sebelum dia kabur!”

Pelayan yang ketakutan segera meraih telepon. Hanum tersentak, kedua tangannya bergetar hebat. Dia ingin berteriak, membela diri, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Seluruh tubuhnya terasa lemas, dunia seolah berputar.

“Bukan aku … aku tidak…” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.

Di saat itulah, langkah berat dan tegas memasuki butik, suasana seketika hening. Seseorang dengan aura berwibawa berdiri di pintu, matanya tajam menelusuri keributan yang baru saja terjadi, dia adalah Abraham. Tatapannya dingin namun berbahaya, menusuk semua orang di ruangan itu. Suaranya terdengar jelas, rendah namun penuh ancaman.

“Siapa,” ia berhenti sejenak, menatap tajam ke arah pelayan dan Lilis, “siapa yang berani menuduh istriku pencuri?” lanjut Abraham.

Semua pelayan langsung tersentak, wajah mereka pucat pasi. Lilis pun terdiam, matanya melebar panik, wajahnya mendadak pucat seperti kehilangan darah.

'Sial! Kenapa dia selalu beruntung sih!' geram Lilis dalam hatinya.

1
Ruk Mini
kadang org jahat boleh lh d bales asal setimpal, tpi memaaf kn jauh lbh hebat mmg sulit, aq sgt terkesan thor jon kehidupan yg berliku mmg hrs ttp d jalani inilh hidup ky Rollercoster, akhir yg sgt epik, tq thor d tgg karya" mu lgi🙏👍👍👍
Just_Emma
hanuuuummmm 😍😍😍
Zalmah Adiwi
novel pertama yg sy baca..keren bngt cerita..demen bngt dg tokoh bian..😍😍
Surya Panjaitan
baru bab 2. udh tegang x aku.. 👍👍
TRIDIAH SETIOWATI
bagus ceritanya
Imelda Mell Lele
wah ending yg bagus Thor..aq suka/Smile//Smile//Smile/
ig@__02chani: halo kakak 🙋🏻‍♀️ salam kenal.. jika berkenan & suka novel nuansa korea yg santai & humoris boleh mampir jg di novel "Chef Do", saya up tiap hari kak, terima kasih🙏🏻👍
total 1 replies
Ida Jubaidah
diatas di tulis kotak bekalnya diletakkan abraham duatas meja kerjanya...di bagian ini kenapa jadi dipegang sama hanum ya thor
lia permata
kerennn
Ryan Dynaz
cerita yg bagus..
Kamiem sag
luarbiasa bodoh dan kemahnya Hanum
cerita ini kira-kira direka tahun berapa sih thor???? kok masih ada orang kaya sebodoh dan selemah Hanum??? kan dia bisa bilang ke pelayan etalase " tolong cek cctv biar tau siapa yg memadukkan perhiadan itu kedalam tasnya Hanum???? "
ailehhhhh!!!!! cerita ini mentololkan pembaca
Kamiem sag
Hanum... selemah itu... akutak suka
apa salahnya Hanum membela diri, menunjukkan bahwa Lilis adalah pelakor dan pembunuh biar Lilis terkejut dan malu
tapi dasar!! Hanum lemah!!!
Kamiem sag
untuk menyusui bayi Kevin kan gak harus nikah
bisa kan cukup jadi ibu susu? bisa juga menyusui dgn menerima upah??
Kamiem sag
ikut baca siapa tau tokohnya bijak biar nular bijaknya
Reni Setia
makasih untuk karya novelnya ya
Dea Fitri
hanum lawan dong si Lilis jangan dikit" mata berkaca"
Onah Sukaedah
Galih ga tegas sama c Lilis... masa kalah sama istri
Onah Sukaedah
Gimana tu c galih dan Lilis belum dapat karmanya
Katherina Ajawaila
jadi Gelo Galih, kamu pikir Hanum mainan atau perempuan apa kah, habis di cerai trus di suruh balik hrs mau ngana edan Galih 😡
Katherina Ajawaila
akhir nya semua selamat, bahagia kel Abraham nambah keturunan, gurnang nya tinggal Galih, nyesel bombay 🤭
Katherina Ajawaila
Bego Galih nyesel kan makanya jgn pernah tergiur hanya dgn daging basi yg ngk jelas, jd bodo" kan 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!