NovelToon NovelToon
Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Dark Romance
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dira Lee

PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️

Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.

Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.

Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.

Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.

Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?

Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?

Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?

Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!

Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 - Hasrat yang terselubung

Batin Rahez sendiri terus berputar cepat. Aku harus meyakinkannya. Jika paman berhasil menjadi pemimpin negara, kekuasaan , kekayaan dan citra penguasa Aestrasia akan ada di tanganku. Aku tidak perlu lagi hidup di bawah bayang-bayang nama besar ayahku atau bersaing dengan siapa pun terutama klan Vancortez sialan itu. Paman akan menjadi pionku, dan William adalah kuncinya.

"Tentu saja tidak William. lagi pula, kau tidak perlu terlalu pusing dengan urusan domestik Aestrasia. Fokusmu adalah global, dan paman Daniel akan memastikan semua kebijakan dalam negeri memihakmu," tambah Rahez memprovokasi.

Daniel pun ikut menimpali dengan suara penuh harap, "Benar, William. Aku akan menjadi pelindung investasi mu disini. Kau tidak pernah lagi menemukan birokrasi. "

William menyandarkan tubuhnya dan menyipitkan matanya. "Aestrasia juga tempatku. Aku sudah memiliki otoritas di sini jauh sebelum aliansi ini ada. Untuk apa aku memilih dukungan darimu? Tanpa bantuan keluarga ini pun, aku bisa mendapatkan apa yang kumau."

Daniel menelan ludah, namun ia segera memajukan tubuhnya, mencoba menjual visi yang lebih besar. "Tentu, William. Tapi dengan aku di kursi tertinggi, Aku akan memberikanmu kontrol penuh atas seluruh jalur logistik nasional dan akses eksklusif ke pelabuhan-pelabuhan utama tanpa pemeriksaan ketat. Sementara itu," Daniel melirik Rahez, "Aliansi MegaCity kita akan terus berjalan di level global. Namun di domestik, aku akan mengubah undang-undang pengelolaan wilayah alam. Kau tahu apa artinya? Izin eksplorasi dan hukum lingkungan akan berada di bawahku."

Daniel sebenarnya memiliki rencana kotor. Dengan mengontrol hukum bermaksud mengalihkan sumber daya energi Aestrasia untuk mengisi kekayaan perusahaan energi milik pribadi keluarga Alvarezh agar melimpah. Dan membangun proyek infrastruktur raksasa di seluruh pelosok negeri menggunakan dana negara, proyek yang berbeda dari proyek MegaCity bersama William. Semua ini dilakukan agar Alvarezh menjadi satu-satunya penguasa ekonomi.

"Aku tidak butuh kompensasi yang bisa berubah seiring bergantinya rezim, Paman Daniel," potong William, suaranya memotong kalimat Daniel.

William menyandarkan punggungnya, menatap Daniel dengan pandangan merendahkan yang sangat terang-terangan. “Jika kau ingin namaku ada di balik pencalonanmu, maka kau harus memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar janji politik.”

Daniel menahan napas. "Apa yang kau inginkan, William? Katakan saja."

William terdiam sejenak, menimbang dengan dingin. Akhirnya, ia memberikan tawaran yang jauh lebih kejam. "Aku ingin hak veto atas setiap kebijakan ekonomi dan keamanan yang kau buat di Aestrasia. Setiap gerakan di negara ini harus melalui sistem pengawasanku. Aku ingin perjanjian hitam di atas putih."

Daniel dan Rahez saling pandang. Meskipun William sudah mengamankan posisi Rahez di level global. Tapi posisi Ini adalah penyerahan kedaulatan. Namun, demi menghancurkan Vancortez dan menguasai Aestrasia sepenuhny. mereka tidak punya pilihan.

"Baik," ucap Daniel dengan berat hati. "Aku setuju."

"Baik” ucap William menyeringai. “ Aku akan mempersiapkan perjanjiannya.”

Sementara itu, Rahez menatap piringnya dengan pikiran yang licik. Biarkan William fokus pada globalnya. Aku akan menggunakan kekuasaan Paman untuk menguasai infrastruktur di Aestrasia dan infrastruktur global karena marculles, kekayaan yang jauh lebih besar untuk memastikan namaku tetap menjadi penguasa sejati Aestrasia. Batin rahez penuh kemenangan

William menatap mereka satu per satu dengan tatapan penuh dendam yang tersembunyi. Baiklah, Alvarezh... dan kau, paman Daniel... aku akan membiarkan kalian merasa menang untuk saat ini. Aku akan memegang kalian di tanganku, lalu menghancurkan kalian berkeping-keping saat waktunya tiba.

Pandangan William berakhir pada Jihan yang masih membisu. Dan kau, Jihan... aku akan membuangmu setelah aku mendapatkan pewarisku. Aku akan memastikan seluruh keluarga dari pria yang kubenci ini lenyap tanpa sisa.

Disisi lain kesepakatan para penguasa.

Mahreya memberikan kode mata pada Adreena. Tatapan mereka seolah berkata, Lihat wanita menyedihkan ini, dia bahkan tidak sanggup mengangkat kepalanya. Mereka terkekeh tanpa suara, menikmati pemandangan Jihan yang hancur.

"Jihan..." Adreena membuka suara dengan nada yang dibuat semanis mungkin, namun penuh racun. "Aku baru saja kembali dari Paris seharian kemarin." Ia sengaja memamerkan pergelangan tangannya yang dihiasi perhiasan berlian baru yang berkilau di bawah lampu kristal. "Sayang sekali kau tidak bisa ikut."

Jihan hanya memutar matanya malas, tidak berniat menanggapi pameran yang kekanak-kanakan itu.

Melihat reaksi Jihan, Adreena justru semakin gencar. Ia memajukan tubuhnya, berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh Jihan namun cukup tajam untuk menyayat harga diri. "Cobalah tersenyum sedikit, Jihan. Ngomong-ngomong, bagaimana malam pertama dan rencana bulan madumu?"

Adreena terkekeh kecil, melirik Mahreya yang ikut menggerakkan alisnya dengan ekspresi yang menghina.

Jihan tidak menjawab. Tangannya yang memegang garpu mengepal hingga buku jarinya memutih. Rasanya ia ingin mendobrak meja ini, melempar piring itu tepat ke wajah Adreena. Ia hanya mampu memberikan tatapan kesal dan sinis yang mendalam.

"Ouuuuh..." Adreena berseru pelan dengan nada mengejek, pura-pura takut sambil memundurkan badannya kembali ke sandaran kursi. Ia tertawa pelan bersama Mahreya, merasa menang karena berhasil memancing emosi Jihan.

Aku ingin pergi dari sini. Aku muak, sangat muak dengan mereka semua, jerit Jihan dalam hati. Sejak ayah dan ibunya tiada, rumah ini tak lebih dari sarang ular.

Tatapan Jihan beralih sejenak ke arah pintu ruang makan, ia ingin sekali bertemu dengan keponakannya, Hauren, yang berada dikediaman ini. Kerinduannya pada anak dari mendiang kakak pertamanya, Rayden, dan istrinya Harunna, sempat menghangatkan hatinya sejenak,

Ia melirik ke samping, melihat William yang masih asyik membicarakan kesepakatan dengan Rahez sambil menyesap minumannya dengan tenang.

William akhirnya melirik jam tangan mewahnya. Aura dominasinya kembali menguat saat ia meletakkan gelasnya dengan tegas.

"Makan malam yang menyenangkan tapi aku harus pergi," ucap William dingin tanpa memberikan ruang untuk dibantah.

Rahez menyipitkan mata, sedikit tidak puas. "Begitu cepat, William? Kenapa tidak bersantai sebentar lagi? Ada cognac vintage yang baru tiba."

William tidak memedulikan keluhan Rahez. Ia melirik Jihan yang masih menunduk lesu di sampingnya. " Tidak ada waktu untuk bersantai. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan segera di rumah.“

Ia berdiri, diikuti oleh Jihan yang diam-diam mengembuskan napas lega. Akhirnya...

"Terima kasih atas jamuannya, Daniel, Rahez," pamit William singkat.

"Kami mengerti, William. Semoga aliansi ini menjadi awal yang besar bagi kita semua," jawab Daniel sambil menyalami William dengan hormat, diikuti anggukan kaku dari Rahez.

Sebelum melangkah pergi, Jihan mendekati Helena untuk berpamitan. "Aku pamit dulu, tante."

Helena mengusap lengan Jihan pelan. "Hati-hati, Jihan. Oh, ada salam dari Tante Marisa. Dia sedang di luar negeri karena putrinya Megan sedang mengurus perkuliahannya di sana, jadi dia tidak bisa menyambutmu malam ini."

"Terima kasih, tante . Sampaikan salamku kembali padanya juga.” jawab Jihan singkat dengan senyum yang dipaksakan.

William memberikan kode dengan gerakan kepala dan langsung melangkah lebar menuju pintu keluar. Saat Jihan baru saja akan menyusul, suara melengking Adreena kembali terdengar.

"Jihan!" panggil Adreena.

Jihan menoleh sekilas, menatap wajah kakak iparnya itu. Adreena mengangkat tangannya, menggerakkannya seolah sedang mengusir anjing, dengan tatapan yang sangat menghina. "Sampai jumpa. Cepatlah pergi, ikuti tuanmu itu dengan baik!"

Mahreya tersenyum sinis di sampingnya, ikut menikmati penghinaan terakhir itu. Jihan memberikan tatapan sinis yang mematikan, tajam seolah ingin menusuk jantung Adreena, sebelum akhirnya berbalik dan menghilang di balik pintu besar.

Begitu Jihan pergi, Adreena terkekeh kecil sementara Mahreya masih memasang senyum puas.

"Apa kalian tidak bisa bersikap dengan benar?!" tegur Helena dengan tegas, menatap kedua wanita itu dengan kemarahan yang mulai meluap. "Dia adalah keluarga kita, bukan musuh!"

"Tante, maaf... kami hanya bercanda," ucap Adreena dengan nada membela diri yang tipis, meskipun matanya tidak menunjukkan penyesalan sama sekali.

Mahreya menimpali dengan dengusan pelan. "Jangan terlalu serius, Helena. Kami hanya mencoba mencairkan suasana. Kau lihat sendiri kan bagaimana sikap Jihan tadi? Dia kaku seperti batu, tidak menghargai usaha kami untuk berbicara."

Helena menatap mereka dengan tajam, lalu melirik Rahez yang duduk tenang di sampingnya. Rahez hanya diam, seolah perdebatan antara istrinya, ibunya, dan tantenya hanyalah suara yang tidak penting bagi ambisinya. Daniel pun hanya bisa menghela napas panjang, dengan drama ini.

Helena kemudian memajukan tubuhnya, berbisik tepat di telinga Mahreya dengan suara yang cukup dingin untuk membuat bulu kuduk berdiri. "Mahreya, kau seharusnya tahu diri di mana posisimu berada di rumah ini."

Mahreya tersentak, matanya berkilat marah. Ia membalas dengan bisikan yang tak kalah tajam. "Posisiku di sini adalah ibu dari pemimpin Alvarezh Group dan kepala keluarga ini! Jangan pernah lupakan itu, Helena!"

Helena tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan penghinaan. "Dan kau... apakah kau bagian resmi dari silsilah keluarga ini? Jangan lupa bagaimana caramu masuk ke sini."

Mendengar itu, Adreena seketika menelan ludahnya dengan susah payah. Ia tahu sejarah kelam itu tentang status Mahreya yang sebenarnya tidak ada dalam keluarga besar Alvarezh ini.

Wajah Mahreya memerah padam karena menahan kesal. "Aku memiliki darah yang sama dengan putraku! Jangan pernah mencoba menghilangkan fakta itu, Helena! Dan jangan berani membicarakan hal ini di depan Rahez. Putraku tidak suka masa lalu diungkit-ungkit!"

Helena hanya membalas dengan tatapan kesaI merasa sedih melihat bagaimana keluarga yang dibangun mendiang kakaknya kini diisi oleh orang-orang yang hanya haus akan validasi dan kekuasaan.

—-

Di mobil marculles

Mobil meluncur di jalanan kota di kegelapan malam. Jihan menyandarkan kepalanya ke kaca mobil yang dingin, jemarinya bergerak gelisah memainkan ujung rambutnya yang tergerai.

Akhirnya aku bisa keluar dari tempat itu, batin Jihan dengan perasaan lega yang bercampur getir. Aku ingin istirahat. Aku ingin memainkan handphone ku aku ingin tahu kabar Jinan dan masuk ke sosial media, mencari kontak teman-temanku. Aku butuh bicara dengan seseorang yang memandangku sebagai manusia.

Namun, sedetik kemudian Jihan membulatkan matanya saat sebuah pikiran mengerikan melintas. Jantungnya berdegup kencang. Apakah setelah sampai di rumah, dia akan melakukan hubungan intim lagi bersamanya?

Aku tidak mau... Sialan, Tidakk!. Batin Jihan menjerit,

Di sampingnya, William sedang tenggelam dalam rencana-rencana besar. Ia meninjau kembali setiap poin kesepakatan dengan paman Daniel, memastikan tidak ada kesalahan yang bisa mereka gunakan untuk mengkhianatinya. Ia menghela napas berat, mencoba menjernihkan pikiran, namun sudut matanya menangkap gerakan Jihan.

Melihat Jihan yang terus memainkan ujung rambutnya, William mendesis pelan. "Sangat kekanakan," gumamnya dingin. "Berhenti melakukan itu, kau mengganggu pemandanganku!!." Nadanya tinggi

Jihan tersentak dan langsung menurunkan tangannya, mengepal kuat di atas pangkuan.

William mencoba kembali fokus, namun tatapannya tanpa sengaja turun ke arah dada Jihan yang naik turun karena napas yang tidak teratur dan memperlihatkan lekuk tubuhnya, William teringat tentang malam sebelumnya bagaimana kulit lembut itu bersentuhan dengan tangannya, bagaimana Jihan tampak tanpa sehelai benang pun di bawahnya.

William menelan ludah dengan susah payah, Kakinya naik turun. Hasrat gelap itu bangkit kembali.

Aku ingin menyentuhnya secepat mungkin. Sialan, kenapa aku bisa bernafsu padanya? Dia hanya sebuah kontrak. Tapi tubuhnya... tubuhnya membuatku menginginkannya dengan cara yang tidak masuk akal. batin William.

William menggeram rendah, sebuah suara yang lahir dari nafsu yang tertahan. Tubuhnya mulai menegang, dan gairah yang tidak diinginkan itu mulai membakar dirinya.

Mendengar geraman aneh itu, Jihan bergidik ngeri. Bulu kuduknya berdiri dan rasa dingin merambat di punggungnya. Meski ia berusaha mengabaikannya dengan tetap menatap ke luar jendela.

William sedang berpikir untuk mencari cari kesalahan yang dilakukan jihan hari ini Untuk membuat. Ia butuh alasan untuk marah, untuk membuat Jihan tertekan.

—-

Kamar utama kediaman marculles.

Setelah tiba di kediaman marculles. William dan Jihan melangkah ke kamar utama. Lalu William membanting keras pintu.

BRAKK!!

Jantung Jihan yang berdebar kencang . Belum sempat ia menarik napas, suara bariton William menggelegar.

"Kemari kau!" bentak William, berbalik dengan mata yang berkilat tajam. "Kau tahu kesalahanmu apa?!"

Jihan mematung, wajahnya menunjukkan kebingungan yang nyata. "Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apa pun."

"Sepertinya pelajaranmu hari ini benar-benar tidak masuk ke otakmu yang tumpul itu," desis William, langkahnya mendekat hingga Jihan terdesak ke arah meja. "Ambil aturan itu! Sekarang!"

Jihan terdiam. Harga dirinya memberontak. Ia sudah muak diperlakukan kasar seharian ini. Ia tidak bergerak sedikit pun, hanya menatap William dengan sorot mata melawan.

"CEPAT!" teriakan William kali ini membuat Jihan tersentak.

Dengan tangan gemetar, Jihan menyambar tumpukan kertas aturan konyol itu dari meja, belum sempat ia menggenggamnya dengan benar, William merampas kertas-kertas itu dan melemparkannya tepat ke wajah Jihan. Lembaran-lembaran itu berhamburan, mengenai pipi Jihan hingga terasa perih.

"Apa kau tidak baca apa yang tertulis di dalamnya?!"

"Apa salahku?!" Jihan balas berteriak, air mata kemarahan mulai menggenang. "Apa lagi yang kurang?!"

"Kau beraninya bertanya apa salahmu?" William mencengkeram bahu Jihan, menekannya kuat. "Kau adalah seorang Marculles sekarang! Tapi kau menundukkan kepalamu sepanjang acara tadi seperti wanita bodoh! Kau pikir aku tidak tahu? Di aturan itu tertulis jelas bagaimana cara bersikap, bagaimana menjaga martabat! Kau sama sekali tidak menerapkannya, kau tidak mencerminkan seorang Marculles dan kau mempermalukan namaku di depan keluarga sialanmu itu!"

Jihan tertawa getir, mencoba melepaskan cengkeraman William. "Tidak ada yang mempermalukanmu! Tidak ada yang mempermasalahkanku! Mereka adalah keluargaku, William! Sebelumnya aku sudah membuktikan citra yang baik di depan keluargamu kemarin, bukankah itu cukup bagimu?"

"Kau pikir itu cukup?!" William murka hebat yang dibuat buat, Yang sebenarnya william tak perduli juga. "Semua aturan yang tertulis harus kau terapkan tanpa kesalahan sedikitpun ! Kau tidak bisa bersantai dan bersikap semaumu! Akan ada acara besok, lusa, dan seterusnya. Aku tidak sudi membawa pajangan yang tidak tahu cara membawa diri!"

Jihan meledak. Emosinya yang tertahan sejak di kediaman Alvarezh tumpah begitu saja.

"Oke, FINE! Aku akan menerapkan aturan itu! PUAS?! Sudah cukup, kan?!"

Jihan memutar tubuhnya, hendak melangkah pergi menjauh dari william, tapi William tidak membiarkannya lolos begitu saja. Dengan satu gerakan kasar, William menarik lengan Jihan dan mendorongnya hingga Jihan jatuh di atas ranjang.

1
Eva Rosita
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!