"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Malam pertama Abdi di rumah megah milik Mamanya tidak seindah yang ia bayangkan. Meski tidur di atas kasur empuk yang ia beli sendiri, hatinya tetap terasa kosong. Bayangan wajah Disa yang dingin terus menghantuinya. Namun, bagi Mama Ratna, kembalinya Abdi adalah kemenangan awal. Ia merasa sudah berhasil menjauhkan putranya dari pengaruh "istri durhaka".
Malam hari saat mereka sedang makan malam bersama dengan menu mewah yang lagi-lagi dibeli menggunakan sisa uang kiriman Abdi bulan lalu, pintu depan digedor dengan histeris.
"Mama! Mas Abdi!" teriak Amel dari luar.
Amel masuk dengan wajah pucat pasi, matanya sembab karena menangis sepanjang jalan. Tangannya gemetar hebat saat meletakkan selembar kertas dengan logo kepolisian di atas meja makan.
"Ini apa, Mel?" tanya Mama Ratna, jantungnya mulai berdegup kencang.
"Surat panggilan, Ma! Mbak Disa... dia benar-benar melaporkan aku ke polisi soal pencairan dana asuransi Fikri!" tangis Amel pecah. "Aku dituduh melakukan penggelapan dan pemalsuan tanda tangan. Kalau aku nggak datang dan ganti rugi dalam tiga hari, aku bakal langsung ditahan, Ma!"
Abdi tersedak makanan yang saat ini dia kunyah dan dia menatap surat itu dengan tangan gemetar. "Disa benar-benar melakukan apa yang ia ancamkan. Tidak ada gertakan sambal, semuanya nyata." Jawab Ardi
Di saat yang bersamaan, di lantai 15 sebuah gedung perkantoran megah, Disa sedang menyesap kopi latte-nya dengan tenang. Disa memang memilih untuk lembur dari pada harus di rumah tidak ada Fikri.
Di depannya, Rio memberikan jempol. "Laporan sudah diproses, Dis. Amel sudah dapat panggilannya hari ini. Kamu hebat data yang kamu kasih sangat rapi sampai polisi nggak butuh waktu lama buat verifikasi."
Disa tersenyum tipis, sebuah senyuman yang memancarkan kepuasan sekaligus rasa lega. "Dia harus tahu siapa aku Rio, Uang asuransi anakku bukan uang jajan yang bisa dia pakai seenaknya. Biar dia belajar tanggung jawab di balik jeruji kalau memang nggak bisa bayar."
Kembali ke rumah Mama Ratna, suasana mendadak mencekam. Mama Ratna mulai memaki-maki Disa dengan kata-kata kasar. "Dasar perempuan iblis! Tega-teganya dia mau memenjarakan iparnya sendiri! Abdi, kamu harus lakukan sesuatu! Telepon dia! Paksa dia cabut laporannya!"
"Aku nggak bisa, Ma! Nomor aku diblokir dan Disa punya semua buktinya!" balas Abdi frustrasi.
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan mewah berwarna merah berhenti tepat di depan pagar rumah. Seorang wanita turun dengan anggun. Ia mengenakan gaun sutra bermotif bunga, perhiasan emas melingkar di leher dan lengannya, memancarkan aura kekayaan yang mencolok.
Mama Ratna yang melihat dari jendela langsung berubah drastis ekspresinya. Amarahnya hilang, berganti dengan binar mata penuh harap. "Itu... itu Jeng Rini! Abdi, lihat! Dia benar-benar datang!"
Wanita itu memang Rini janda kaya raya yang sudah lama mengincar Abdi dan berjalan masuk ke halaman dengan senyum manis yang dipaksakan. Ia tampak tidak peduli dengan suasana duka yang sedang menyelimuti keluarga itu.
"Permisi, Jeng Ratna? Mas Abdi ada di dalam?" suara Rini terdengar manja di depan pintu.
Mama Ratna segera berjalan dan membuka pintu lebar-lebar, mengabaikan Amel yang masih menangis memegang surat polisi. "Aduuh, Jeng Rini! Masuk, Jeng, masuk! Kebetulan sekali Abdi memang lagi ada di rumah. Ayo, silakan masuk!"
Mama langsung mengajak jeng Rini Duduk di meja makan karena niatnya mau menawari makan.
Abdi terpaku di kursinya, menatap wanita dari masa lalunya itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, istrinya sedang meluncurkan rudal kehancuran untuk keluarganya, di sisi lain, Mamanya justru mencoba menyodorkan "penyelamat" yang ia anggap sebagai tiket keluar dari kemiskinan.
Rini menatap Abdi dengan tatapan lapar, lalu matanya beralih ke surat polisi yang tergeletak di meja. Senyum misterius terukir di bibirnya yang merah menyala.