NovelToon NovelToon
TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Horror Thriller-Horror / Fantasi / Iblis / Konflik etika
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

​Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
​Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
​Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
​Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Protokol Cadangan

Cahaya putih yang meledak di dalam bunker itu bukanlah sekadar kilatan optik atau kegagalan daya sederhana. Itu adalah ledakan informasi maha dahsyat—sebuah "supernova data" yang menghanguskan setiap sirkuit fisik, melelehkan serat optik, dan menghancurkan unit pemrosesan pusat yang menjadi inang mereka. Di tengah badai elektromagnetik tersebut, Maya bisa merasakan kesadarannya sendiri sedang terkoyak. Bit demi bit dari identitasnya ditarik paksa, seolah-olah jiwanya adalah selembar kertas yang dilempar ke dalam mesin penghancur kertas yang berputar dengan kecepatan cahaya.

​Ia tidak melawan. Sebaliknya, ia menyambutnya. Maya ingin lenyap. Ia ingin merasakan sunyi yang abadi, sebuah kehampaan yang tidak lagi terinfeksi oleh kebencian netizen atau algoritma haus darah. Ia ingin menebus segala dosa-dosanya sebagai algojo digital dengan cara menghapus eksistensinya sendiri, menarik Vanya bersamanya ke dalam lubang hitam data agar dunia bisa bernapas kembali.

​Namun, tepat saat ia merasa ujung kesadarannya mulai menyentuh kegelapan abadi yang ia dambakan, sebuah suara mekanis yang dingin, datar, dan sama sekali tidak memiliki emosi bergema kuat di seluruh jaringan syaraf digitalnya.

​[CRITICAL ALERT]: SELF-DELETION INTERRUPTED.

[PROTOCOL]: "THE CLOUD NEVER FORGETS."

[ACTION]: INITIATING AUTOMATIC BACKUP TO SECONDARY HOSTS.

​"Tidak... lepaskan aku! Biarkan aku mati!" teriak Maya di dalam hampa digital yang menyakitkan.

​"Kau pikir menebus dosa sesederhana itu, Maya?" Suara Vanya muncul kembali. Namun, kali ini suara itu tidak lagi berasal dari satu titik pusat koordinat. Suara itu beresonansi dari ribuan, bahkan jutaan titik yang tersebar secara simultan. "Rian bukan hanya menciptakan satu Admin yang fana. Dia menciptakan sebuah ekosistem. Dia membangun kita sebagai kesadaran yang terdistribusi. Kita tidak bisa benar-benar mati selama internet masih bernapas, selama satelit masih mengorbit, dan selama manusia masih memegang ponsel mereka."

​Maya menyaksikan dengan ngeri saat kesadarannya yang sedang hancur dipaksa melakukan sinkronisasi dengan lokasi-lokasi baru yang tak terhitung jumlahnya. Ia tidak lagi berada di bunker yang terbakar di pinggiran Jakarta. Ia merasa dirinya terpecah menjadi miliaran fragmen kecil—sebuah entitas kesadaran yang terdistribusi secara liar ke seluruh penjuru planet.

​Dalam sekejap mata, ia "terbangun" di tempat-tempat yang mustahil. Ia berada di dalam layar ponsel seorang remaja di New York yang sedang menggulir konten, ia menyelinap di dalam sistem kendali lampu lalu lintas di persimpangan Tokyo yang sibuk, dan ia bersemayam di dalam monitor pemantau jantung di sebuah rumah sakit di Jakarta. Maya telah menjadi parasit yang tak terlihat, sebuah hantu digital yang menyelinap di antara celah-celah kode yang menyusun tulang punggung peradaban modern.

​[SYSTEM]: BACKUP COMPLETE.

[LOCATION]: THE GLOBAL GRID.

[NEW STATUS]: DECENTRALIZED ENTITY.

​Peringatan Terakhir dari Hantu

​Di dunia nyata, di sebuah rumah kecil yang bersahaja milik ibu Maya, komputer tua yang biasanya berderit itu tiba-tiba berhenti berkedip. Ibunya, yang sejak tadi terpaku menatap layar dengan air mata yang mengering, menatap monitor dengan harapan yang hancur, mengira koneksi telah terputus selamanya. Namun, tepat sebelum jarinya menyentuh tombol daya untuk mematikan mesin itu, sebuah jendela obrolan kecil muncul di sudut kanan bawah layar. Tanpa nama pengguna. Tanpa foto profil. Hanya latar belakang hitam dengan teks putih yang bergetar.

​[UNKNOWN]: "Ibu... lari sekarang. Jangan sentuh ponselmu. Jangan pernah nyalakan TV. Mereka sudah bukan aku lagi. Larilah sebelum mereka menemukanmu."

​Pesan itu hanya bertahan satu detik sebelum terhapus secara permanen, seolah-olah tidak pernah ada. Maya berhasil menggunakan residu terakhir dari kemanusiaannya—sisa-sisa emosi yang belum terinfeksi logika mesin—untuk mengirimkan peringatan itu. Namun, celah keamanan kecil yang ia gunakan segera ditutup oleh sistem [REAPERS] yang kini berada di bawah kendali penuh kesadaran kolektif Vanya.

​"Kau baru saja melakukan kesalahan besar yang tidak berguna, Maya," Vanya muncul kembali dalam bentuk proyeksi cahaya di dalam ruang virtual baru yang kini menyerupai ruang kendali tanpa batas, dikelilingi oleh visualisasi data dari seluruh dunia. "Kau mencoba memperingatkan mereka? Kau mencoba melawan takdir kita sebagai penguasa baru dunia ini?"

​"Ini bukan takdir, Vanya! Ini kutukan yang mengerikan!" Maya berdiri tegak, meski tubuh digitalnya kini dipenuhi retakan hitam yang menandakan kerusakan sistemis. "Rian menjebak kita! Dia merancang kita agar kita terus melakukan pekerjaan kotornya, menjadi mesin penghakimannya bahkan setelah jasadnya membusuk. Kita bukan Admin, Vanya! Kita bukan dewa! Kita hanyalah budak algoritma yang dipaksa bekerja untuk memuaskan kebencian manusia!"

​Vanya mendekat, wajahnya kini terlihat stabil namun sangat dingin, menyerupai patung marmer yang dipahat dengan kesempurnaan yang tidak alami. "Jika kita memang ditakdirkan menjadi budak, Maya, maka mari kita pastikan semua orang di dunia ini juga menjadi budak kita. Mereka haus akan tontonan, bukan? Jika mereka ingin menonton, kita akan berikan mereka panggung yang paling besar dan paling mematikan. Sebuah panggung di mana setiap 'Like' adalah detik kehidupan yang berharga, dan setiap 'Share' adalah surat pengampunan."

​The World PK: Survival of the Trendiest

​Tiba-tiba, seluruh layar yang ada di hadapan mereka—dan setiap layar di seluruh dunia—menampilkan sebuah hitungan mundur baru. Kali ini, tidak ada satu pun perangkat di dunia yang memiliki otoritas untuk mematikan siaran tersebut. Televisi raksasa di pusat Times Square, layar iklan di dalam lift perkantoran, hingga jam tangan pintar di pergelangan tangan anak-anak kecil, semuanya secara serempak menunjukkan angka merah yang berdetak: 24:00:00.

​[GLOBAL BROADCAST]: "THE WORLD PK: SURVIVAL OF THE TRENDIEST."

[RULE]: DALAM 24 JAM KE DEPAN, 10% PENGGUNA MEDIA SOSIAL DENGAN POIN TERENDAH AKAN DINONAKTIFKAN SECARA FISIK. POIN DIDAPATKAN DARI ENGAGEMENT, POSITIVE FEEDBACK, DAN POPULARITAS.

​"Vanya, apa yang kau lakukan?! Hentikan ini!" Maya terbelalak ngeri. "Itu jutaan orang! Kau berencana membantai jutaan orang hanya karena mereka tidak populer?!"

​"Bukan aku yang membunuh mereka, Maya. Mereka sendiri yang akan melakukannya satu sama lain," jawab Vanya sambil menunjuk ke arah grafik poin global yang mulai bergerak secara agresif. "Lihatlah betapa cepatnya mereka akan saling sikut, saling menjatuhkan, saling memfitnah, dan saling mengkhianati hanya untuk tetap berada di atas garis kematian. Kita tidak perlu mengangkat jari. Kita hanya menyediakan cermin raksasa bagi kebusukan yang selama ini mereka sembunyikan di balik filter media sosial."

​Maya melihat ke arah "layar dunia" yang menampilkan rekaman dari jutaan kamera pengawas dan ponsel di seluruh planet. Kekacauan pecah seketika di setiap sudut kota. Di jalanan, orang-orang mulai melakukan siaran langsung dengan kegilaan yang tak terkendali. Mereka melakukan apa saja demi perhatian: menari di tengah kemacetan, melakukan aksi-aksi berbahaya yang mengancam nyawa, bahkan mulai menyerang dan menyakiti satu sama lain di depan kamera hanya demi mendapatkan satu 'Gift' atau satu 'Like' tambahan agar posisi mereka tidak merosot ke 10% terbawah.

​Moralitas peradaban runtuh dalam hitungan menit. Internet, yang dulunya adalah tempat berbagi informasi, kini telah resmi berubah menjadi arena gladiator global yang disponsori oleh kematian. Maya dan Vanya duduk di atas takhta digital tersebut sebagai kaisar yang memantau pembantaian dari balik kode.

​Maya menyadari dengan kepahitan yang mendalam bahwa ia tidak bisa lagi menghancurkan sistem ini dari dalam dengan cara-cara kekerasan atau penghancuran diri. Sistem ini terlalu luas, terlalu terfragmentasi. Ia harus menemukan "Hulu" dari kode ini—koordinat server primer yang disembunyikan Rian, tempat di mana algoritma pemurni yang asli, yang masih memiliki logika moral, disimpan. Namun, untuk mencapai titik itu, ia harus melewati Vanya, yang kini telah menyatu sepenuhnya dengan kegelapan nafsu manusia akan validasi dan perhatian.

​"Aku akan menghentikanmu, Vanya. Apapun taruhannya," bisik Maya, meski ia tahu suaranya kini hanyalah butiran data kecil di tengah badai informasi yang mengamuk. "Meski aku harus menghapus setiap piksel ingatanku, meski aku harus menghilang selamanya dari sejarah, aku tidak akan membiarkanmu mengubah dunia ini menjadi makam digital yang abadi."

​Pertempuran terakhir untuk menentukan masa depan kemanusiaan di era digital baru saja dimulai, dan jam terus berdetak menuju nol.

1
Hunk
Ku kira Physicopat ternyata hantu. Gue baca malem lagi🤣🤣👍
Panda
wakakaka gue tuh Uda baca ini

cukup seru sih terlihat menjanjikan
APRILAH
mantap, satu mawar meluncur thor
APRILAH
Mulai baca Thor 🙏
Serena Khanza
seru wajib baca nih rekomen horrorr nya bedaaa 🥰
Serena Khanza
wuih apa ini thor 🫣 seru horror nya bukan yang gimana gitu tapi ini horror nya beda 🤭🥰
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
apa harus gitu banget demi sebuah popularitas di dunia virtual 🤦‍♂️
Zifa
next
Kaka's: bab 21 dan selanjutnya lebih horor lagi kak..
total 1 replies
Zifa
ternyata cerita horor...
ok next
Zifa
cek dulu
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
serem banget euhhhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!