Kalian percaya Transmigrasi? Percaya Jiwa manusia bisa tertukar?
Jessie Cassandra, gadis cantik yang terkenal Queen Bullying di sekolah, tak ada yang berani padanya termasuk guru, dia benci orang miskin. Secara mendadak membuat jiwanya tertukar dengan gadis yang sering ia bully.
Raya Azzahra, Korban Bully. Gadis culun dan miskin yang beruntung mendapatkan beasiswa di sekolah ternama.
=-=-=
"Kembalikan tubuh gue, cupu!" Hardik Jessie.
"B-bagaimana caranya? Aku gak tau apa yang terjadi." Raya masih heran.
"Lo pasti main dukun. Lo mau rebut kehidupan gue yang sempurna ini." Tuduh Jessie.
=-=-=
Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana jiwa mereka bisa tertukar? Bagaimana mereka menjalani hari di tubuh yang berbeda? Lantas apakah jiwa mereka bisa kembali ke tubuh asli?
=-=-=
Penasaran? Ikuti kisahnya. Jangan lupa beri dukungan LIKE, COMMENT, VOTE dan FAVORIT.
LOVE YOU~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gak mungkin
*
Masih di cafe, Raya dan Jessie menghabiskan makanannya.
"Mba." Panggil Raya pada pelayan, Jessie hanya memperhatikan.
"Ada yang bisa saya bantu mba?" Tanya pelayan itu sopan.
"Saya mau Steak with mushroom sauce dua, tapi bungkus." Pesan Raya, Jessie mengernyit.
"Baik, mohon di tunggu." Pelayan itu pergi.
"Pesan buat siapa?" Jessie bertanya.
"Nyokap lo, Bu Indah." Balas Raya santai.
Jessie terpukau, dia tidak sangka jika Raya mengingat ibunya. "Tapi kenapa dua?"
"Satunya buat jaga jaga aja, kalo nanti bokap lo dateng. Entar kalo pesen satu, makanan nyokap lo di embat ama dia." jawab Raya sinis.
Jessie mengangguk paham. Raya meliriknya sekilas, lalu mengeluarkan dompet. Dia melihat empat black card yang berjejer rapi lalu mengambil dua black card itu.
Ia menyerahkan dompet berisikan dua black card pada Jessie.
"Hah?!" Jessie terheran, apa dia salah mengira? "Untuk apa?"
"Gue gak mungkin biarin lo di tubuh gue tapi lo kere. Jadi itu buat pegangan jika nanti lo butuh sesuatu, sekalian lo pake dompet gue. Gue juga udah beli dompet baru." Raya berkata datar, memasukkan dua black card yang di ambilnya ke dalam dompet baru "Pinnya nanti gue kirim chat."
Jessie menatap dua black card di dalam dompetnya, ia menelan ludah. Setahunya black card ini memiliki minimal saldo dua puluh Milyar, itupun minimal jadi kemungkinan satu kartunya lebih dari Dua puluh Milyar.
"Tapi ini--..." Jessie hendak menolak.
"Gue gak terima penolakan." Tegas Raya tidak terbantahkan.
Mau tidak mau, Jessie menerimanya daripada kena amukan. "Aku akan menyimpannya, tapi aku tidak akan menggunakannya."
"Whatever." Raya memutar bola matanya jengah "Gue gak masalah kalo lo pake duit gue, gue cuma mau lo jaga tubuh gue sebaik mungkin."
"Jaga dari apa?" Tanya Jessie, ia merasa perkataan Raya bermaksud lain.
Raya diam sejenak, seakan menimbang apakah akan bicara atau tidak. Lalu ia menatap Jessie "Lo tau kan jika Revan pacar gue?"
Jessie mengangguk.
"Walaupun dia pacar gue, jangan biarkan dia menyentuh bagian penting dalam tubuh gue, termasuk ini." Raya menunjuk bibirnya sendiri "Intinya yang boleh cuma pegangan tangan, sisanya No. Lo jaga itu baik baik."
Raya alias Jessie yang asli sengaja mengatakan itu, dia tahu sifat jiwa yang menempati tubuhnya itu sangat polos dan naif. Jadi wajar dia takut dan merasa was was jika nanti tubuhnya di manfaatkan orang lain akibat kepolosannya.
Jessie dengan Jiwa Raya tahu maksudnya. Meskipun dia polos dan naif tapi dia juga tahu batasan penting dalam hubungan.
"Jadi kamu sama Revan gak pernah--..." Jessie sengaja menggantungkan ucapan.
"Ya enggak lah! Lo pikir gue cewek apaan?!" Sungut Raya tidak terima.
"Tapi Revan--..." Jessie berhenti berucap.
"Why?" Raya mengangkat sebelah alis.
Jessie menggeleng cepat, ia memilih diam. Takut salah bicara.
Raya mendengus, ia di buat penasaran "Apa itu jadi kebiasaan lo? Ngomong gak pernah selesai. Gantung terus di jalan ha?!"
"Aku takut salah bicara, nanti saja ya." Pinta Jessie.
"Gak ada nanti nanti, katakan sekarang!" Paksa Raya, ia tidak suka di buat penasaran sama orang.
Jessie menatapnya ragu "Tapi kamu jangan marah."
"Gak janji." Seru Raya.
Jessie diam, jadi makin takut.
"Cepat katakan, atau lo--..."
"Revan selingkuh." Seru Jessie spontan memotong ucapan Raya. Detik berikutnya, ia menyesal sudah keceplosan.
Mata Raya membola, wajahnya memerah, kelihatan menahan emosi "Lo cari mati Ha?!"
Jessie menelan ludah, ia tahu jika Raya tidak akan mudah percaya.
"Katakan sekali lagi." Ucap Raya, auranya seperti siap menerkam.
Jessie menghela nafas, ia mencoba memberanikan diri untuk berkata "Jika aku mengatakannya lagi, apa kamu akan percaya?"
Sorot mata Raya semakin tajam.
"Baiklah, aku akan mengatakannya." Pasrah Jessie "Aku melihat Revan berduaan sama orang lain."
"Cuma berduaan, mereka pasti teman ngobrol." Bantah Raya, berpikir positif.
Jessie menggeleng tegas "Bukan ngobrol, mereka--..." Ia ragu lagi mau jujur.
"Apa? Ngomong yang bener, jangan setengah setengah!" Desak Raya.
"Dia berhubungan terlarang sama orang itu." Jelas Jessie, mata Raya membulat sempurna.
"Lo salah lihat." Raya masih tidak percaya.
"Aku melihatnya langsung di gudang sekolah saat pulang, mereka berhubungan dengan sangat intim." Jelas Jessie berkata apa adanya.
"Sama siapa?" Tanya Raya, ia harus memastikannya.
"Sama temanmu, Kiara."
"What?!" Pekik Raya tertahan "Lo yakin?"
"Yakin." Jessie mengangguk.
"Gue gak percaya!" Seru Raya, Jessie terdiam "Kiara itu sahabat gue dari smp. Dia gak mungkin khianatin persahabatan kita dengan rebut cowok gue. Lagian Revan juga gak mungkin selingkuh, dia tau akibatnya fatal jika main main sama gue."
Jessie menghela nafas kasar "Kalau gak percaya ya sudah, yang penting aku sudah mengatakannya." Lirihnya tapi dapat di dengar Raya.
Meski Raya bilang tidak percaya, tapi sejujurnya ucapan Jessie terngiang dalam kepalanya. Ia jadi memikirkan apa mungkin Revan selingkuh? Lalu sama sahabatnya? Apa mereka sekotor itu? Rasanya tidak mungkin. Tapi melihat sifat Jessie yang kini polos juga tidak mungkin berbohong. Entah dia harus percaya atau tidak, sepertinya dia harus menyelidiki kebenarannya.
Pelayan datang memberikan pesanan milik Raya. Raya pun membayar makanan mereka lewat kasir. Lalu mereka berdua jalan keluar cafe dalam mall itu, tak lupa juga barang belanjaan mereka di bawa.
"Kita akan kemana lagi?" Tanya Jessie saat jalan beriringan.
Raya diam, tidak mendengarkan. Ia jalan sambil melamun.
Jessie meliriknya "Jes, kita mau kemana lagi?" Dia menyentuh pundak Raya.
"Hah?!" Lamunan Raya buyar "Lo nanya apa tadi?"
"Kita akan kemana Jessie?" Tanyanya lagi dengan sabar.
"Jessie? Huftt... Lo gak boleh gue dengan nama Jessie lagi." Raya memperingati "Sekarang panggil gue Raya, dan gue panggil lo Jessie. Biar gak ada yang curiga."
Jessie mengangguk paham.
"Kita beli mobil." Seru Raya tanpa pikir panjang.
"Apa? Mobil? Untuk apa?" Pekik Jessie terheran.
"Ya buat gue berangkat sekolah. Lo gak punya kendaraan, gimana gue berangkatnya coba?" Balas Raya mencibir.
Jessie menggeleng tegas "Sebaiknya jangan, takut semua siswa pada curiga. Nanti mereka pasti bertanya tanya Raya dapat beli mobil baru? Uang darimana? Raya kan miskin." Jelasnya pelan agar Raya mengerti.
Raya termenung, yang dikatakannya itu benar. Mana mungkin cewek miskin mampu beli mobil "Terus gue berangkatnya gimana?"
Jessie menyengir, perasaan Raya tak enak "Naik angkot."
"What the f*ck! Are you crazy?" Raya menjatuhkan rahangnya lalu memaki.
"Aku masih waras kok. Emang aku kalo berangkat sekolah naik angkot." Ujar Jessie dengan tampang seriusnya.
"No no no. Gak mau, bau rokok, engap, gak bisa napas, apalagi kalo ketemu ayam gila itu lagi." Raya bergidik mengingatnya perdebatan dengan ayam jago di dalam angkot.
"Ayam gila?" Cengo Jessie tidak paham.
Raya berdecak "Haiishh udahlah, intinya gak enak naik angkot. Mending taxi."
"Bayarnya mahal, mending hemat aja."
"Lo lupa ha?! Gue udah pegang uang, jangankan naik taxi. Taxinya gue beli juga gue mampu." Ujar Raya bernada sombong.
"Sombong amat." Cibir Jessie lirih.
"Gue denger!" Raya melotot.
Jessie menelan ludah. Sampai kapanpun dia tidak akan berani melawannya "Tapi sebaiknya juga jangan naik taxi."
"Terus lo mau gue naik apa ke sekolah Ha? Atau lo mau gue ngesot di jalan?" Raya semakin kesal.
"Mungkin kamu bisa nebeng sama Pipit." Ucap Jessie memberi usul.
"Bestie lo itu?"
"Iya. Kadang Pipit nyamperin aku di rumah terus kita berangkat bareng." Jessie tersenyum, merasa usulnya benar.
"Pake mobil?" Raya menaikkan sebelah alisnya.
"Bukan. Naik motor."
"What?!"
...----------------...