Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19# REKONSILIASI DI TENGAH LUKA
Cahaya biru dari lumut dasar jurang mulai memudar, menandakan siklus waktu di dunia bawah ini sedang berada pada puncaknya. Meskipun kecurigaan Selene terhadap Dasha sempat menggantung di udara semalam, suasana pagi itu terasa jauh lebih produktif. Dasha sendiri tampak sangat tulus, ia bangun paling awal untuk memastikan persediaan air bersih cukup bagi semua orang. Ia membantu Becca meramu obat untuk Lira dan Selene, menunjukkan bahwa ia hanyalah seorang penyintas lain yang merindukan kebebasan, sama seperti mereka semua.
Setelah sarapan singkat dengan sisa daging rusa perak semalam, Arlo membagi tugas lagi. Mereka membutuhkan lebih banyak ranting pohon hitam yang keras untuk dijadikan pegangan senjata cadangan dan bahan bakar tambahan sebelum benar-benar meninggalkan zona aman ini.
"Finn, Cicilia, Tom... kalian pergi ke arah lembah timur. Di sana banyak pohon hitam yang kering. Tapi ingat, jangan terlalu jauh dan tetap dalam jangkauan suara," perintah Arlo.
"Tenang saja, Arlo. Dengan kapak Tom dan kelincahanku, monster mana pun akan berpikir dua kali untuk mendekat," ucap Finn sambil memberikan jempol, mencoba menyembunyikan rasa waspadanya di balik senyum nakalnya.
Ketiganya berangkat membawa tali tambang dan beberapa alat pemotong. Perjalanan menuju lembah timur terasa sunyi. Cicilia berjalan paling belakang, wajahnya masih tampak murung namun ia berusaha untuk tetap fokus. Tom sesekali melirik Cicilia, ia tahu betapa berat kehilangan Leo baginya.
"Cici, fokus ke depan. Jangan melamun," tegur Tom lembut.
Namun, peringatan Tom terlambat. Dari balik bayang-bayang tebing batu yang lembap, sebuah gerakan kilat menyambar. Bukan Argentum Arachne, melainkan jenis baru yang lebih agresif: Silvan Striker. Makhluk bertubuh kurus seperti manusia namun memiliki kulit seperti kulit pohon dan tangan yang berakhir dengan kuku-kuku panjang yang tajam. Ada tiga ekor yang mengepung mereka.
"Sial! Mereka menyatu dengan pohon!" teriak Finn.
Pertempuran pecah seketika. Silvan Striker itu bergerak dengan cara memanjat dan melompat dari satu dinding tebing ke dinding lainnya. Tom mengayunkan kapaknya dengan kekuatan penuh, menghantam dada salah satu monster hingga terpental. Cicilia mencoba membidik dengan busur barunya yang dibuatkan oleh Rony, namun salah satu monster berhasil mendekat dan mencakar bahunya.
"CICILIA!" teriak Finn. Finn melompat ke punggung monster itu, menghujamkan belatinya berkali-kali ke leher makhluk tersebut sampai ia tumbang.
Ketiganya harus berjuang mati-matian. Meskipun mereka berhasil membunuh ketiga monster tersebut, mereka tidak lolos tanpa luka. Darah monster yang berwarna hijau kental bercampur dengan darah merah mereka sendiri, membasahi pakaian perak yang mereka kenakan.
Sementara itu di perkemahan, Rayden sedang asyik "membantu" Lira merapikan persediaan makanan. Tentu saja, membantu versi Rayden adalah lebih banyak mengobrol dan mencoba memberikan tips-tips bertahan hidup yang absurd.
"Kau tahu, Lira, menurut analisaku sebagai pakar taktis, monster itu sebenarnya takut pada suara dentuman logam. Itulah kenapa aku selalu membawa tutup panci ini," ucap Rayden bangga.
Lira hanya memutar bola matanya. "Rayden, kalau kau tidak berhenti bicara, aku yang akan membuat dentuman logam di kepalamu menggunakan panci itu."
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang terseret terdengar dari arah jalur masuk. Rayden menoleh dan seketika wajahnya memucat. Ia berteriak melengking, "HANTU! ADA HANTU BERDARAH DATANG!"
Semua orang di perkemahan tersentak. Arlo, Zephyr, Rick, dan Harry segera berlari ke arah suara. Mereka melihat Finn, Cicilia, dan Tom berjalan terhuyung-huyung. Pakaian mereka compang-camping, wajah mereka penuh dengan goresan, dan tubuh mereka tertutup cairan hijau dan merah yang sudah mengering sebagian. Mereka benar-benar terlihat seperti mayat hidup yang baru merangkak keluar dari kubur.
"Demi Tuhan! Apa yang terjadi?!" tanya Zephyr sambil memapah Finn.
"Hanya... kejutan pagi yang sedikit kasar," bisik Finn, mencoba tetap terlihat keren meski ia meringis kesakitan.
"Silvan Striker," ucap Tom pendek sambil duduk bersandar pada batu. "Mereka lebih cepat dari yang kita duga."
Naya dan Becca segera berlari membawa peralatan medis. Suasana menjadi sibuk seketika. Dokter Luz ikut membantu membersihkan luka Tom, sementara Lily dan Rony membawakan air hangat. Rayden masih berdiri mematung, menatap darah di pakaian Finn dengan mata melotot. "Itu... itu darah manusia atau jus monster?" tanya Rayden gemetar.
"Dua-duanya, Ray. Sekarang minggir sebelum kau pingsan dan menambah beban medis!" sahut Rick sambil membantunya menjauh.
Beberapa jam kemudian, setelah luka-luka mereka dibalut, suasana kembali tenang. Cicilia duduk menyendiri di tepi perkemahan, menatap bahunya yang diperban. Rasa sakit fisiknya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya setiap kali ia teringat kejadian Leo.
Naya mendekati Cicilia dengan ragu-ragu. Ia membawa semangkuk kaldu hangat yang dibuat oleh Harry. Naya berdiri beberapa meter di sana, takut kehadirannya akan memicu amarah Cicilia lagi.
"Cicilia... aku membawakan ini. Kau harus makan agar lukamu cepat sembuh," ucap Naya pelan.
Cicilia menoleh. Matanya tidak lagi menunjukkan kebencian yang membara seperti sebelumnya, melainkan kelelahan yang luar biasa. Ia melihat Naya yang juga tampak pucat dan penuh rasa bersalah yang belum hilang.
"Letakkan di sana, Naya," jawab Cicilia lirih.
Naya meletakkan mangkuk itu di atas batu dan hendak berbalik pergi, namun suara Cicilia menghentikannya.
"Naya... tunggu."
Naya berhenti. Cicilia menundukkan kepalanya, jari-jarinya memainkan ujung perbannya. "Aku... aku ingin meminta maaf. Atas semua kata-kataku yang kasar. Atas caraku menyalahkanmu terus-menerus."
Naya berbalik, matanya berkaca-kaca. "Tidak, Cicilia. Kau berhak marah. Itu memang kesalahanku..."
"Tidak," potong Cicilia. "Tadi, saat aku hampir mati karena cakaran monster itu, aku tersadar. Kita semua bisa mati kapan saja di sini. Dan membencimu tidak akan membawa Leo kembali. Leo mengorbankan diri agar aku hidup, bukan agar aku menghabiskan sisa hidupku dengan membenci temanku sendiri." Cicilia menatap Naya dengan tulus. "Aku dingin padamu karena aku takut, Naya. Aku takut jika aku tidak menyalahkan seseorang, aku akan menyalahkan diriku sendiri karena tidak bisa berbuat apa-apa saat itu."
Naya tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia mendekat dan duduk di samping Cicilia. "Terima kasih, Cicilia. Aku juga berjanji... aku tidak akan ceroboh lagi. Aku akan melakukan apa pun untuk membawa kita semua keluar dari sini."
Dari kejauhan, Zephyr memperhatikan mereka berdua. Ia merasa lega melihat dinding es di antara mereka mulai mencair. Ia berdiri bersandar pada pohon, tangannya menggenggam belati, namun wajahnya tampak sedikit lebih tenang. Selene pun memperhatikan momen itu dari tempat istirahatnya, memberikan senyum kecil pada Arlo yang duduk di sampingnya.
"Satu beban berkurang," bisik Arlo.
"Tapi rintangan di depan masih besar, Arlo," sahut Selene. "Tapi setidaknya, kita akan menghadapinya sebagai satu kesatuan sekarang."
Malam itu, perkemahan Dasha terasa lebih damai. Rekonsiliasi antara Naya dan Cicilia membawa aura positif bagi tim. Meskipun luka-luka masih terasa perih, mereka tahu bahwa besok atau lusa, saat mereka akhirnya memutuskan untuk melangkah menuju Menara, mereka tidak lagi memiliki rahasia atau kebencian yang menghambat langkah mereka.
Dasha, Rony, Lily, Becca, dan Tom kini benar-benar merasa telah menemukan keluarga baru. Di bawah kerlip lumut biru, semua remaja dan dua orang dewasa itu tertidur.