Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.
Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Pagi ini suasana rumah terasa berbeda. Tak ada teriakan, tak ada keributan, tidak ada tangisan ataupun rengekan. Lily hanya duduk dalam diam di ruang tamu, menatap kosong ke depan, pada halaman yang langsung mengarah pada jalanan yang sepi. Kendaraan lewat satu dua. Entah darimana, entah mau kemana di pagi yang terasa dingin ini.
Seperti biasa, Lily bangun lebih awal dari sang kakak, ketika matahari bahkan belum menampakkan diri sepenuhnya. Dapur, tempatnya biasa menunggu ibu memasak, telah terisi orang lain, duduk di tempat yang biasa ia duduki seolah tak ada tempat lagi.
Lily menguap sembari mengusap-usap matanya. Rasa kantuk masih ada, tetapi ia tak bisa kembali tidur meski mata telah ia paksa untuk terpejam. Kepalanya rebah di sandaran sofa, sementara kakinya naik seluruhnya. Menekuk, sembari memeluk boneka.
"Papa cari di kamar nggak ada, ternyata disini."
Chandra datang membawa secangkir kopi di tangan. Kemudian meletakkannya diatas meja. Asap masih mengepul diatasnya. Membawa kehangatan yang nyata. Ia akan menyesapnya sesekali. Lalu meletakkannya kembali.
Lily hanya menoleh sekilas, lalu kembali menatap ke depan. Tak begitu tertarik dengan kehadirannya. Keterdiamannya kali ini membawa banyak hal, membawa banyak pikiran. Tentang orang disampingnya, juga tentang kupu-kupu yang tempo hari Pak Mamat berikan. Kupu-kupu yang belum sempat ia kasih makan karena tak ada bunga yang tersisa itu, kini diam saja di dalam sangkarnya. Hanya bertengger pada kayu dengan sayap yang bergerak pelan.
Lily ingin bertanya pada Jeffrey tentang makanan apa yang disukai kupu-kupu selain nektar, namun gerbang rumahnya masih tertutup rapat. Pak Mamat juga tak terlihat. Lalu bagaimana dengan nasib kupu-kupunya? Apakah ia akan mati?
Chandra menempatkan dirinya tepat disamping Lily. Mengikuti apa yang anak itu lakukan, menatap ke depan. Tetapi tidak ada apa-apa disana, tidak ada hal menarik yang mampu memicu rasa ingin tahu. Lalu apa yang sejak tadi anaknya perhatikan?
"Papa denger, kamu sering main ke rumah nenek Sukma yah?" Pancingnya.
Tubuh Lily menegak. Pelukan pada boneka kesayangannya mengerat. Namun mulutnya tetap bungkam. Chandra menghela nafasnya. Lalu mendekat pelan-pelan. Duduk di bawah kaki Lily. Kepalanya mendongak, menatap tepat di mata.
"Suara nenek Sukma lucu kan? Bisa berubah-ubah?" Tanyanya.
Pupil mata Lily membesar. Tubuhnya sedikit condong, menandakan ketertarikan. Sementara bibirnya tersenyum malu-malu. Lalu mengangguk pelan. Karena hal itu jugalah ia sangat menyukai nenek.
"Dulu, nenek Sukma dan kakek Budi itu kerjanya ngisi suara buat kartun. Kamu tahu kartu Loolypus?"
Anggukan kembali Lily berikan. Itu adalah kartun kesukaannya. Ia selalu menontonnya setiap pagi. Sayang, hari ini sedang tidak tayang karena ada pertandingan olahraga yang disiarkan.
"Itu juga suara mereka."
Kali ini mata Lily membulat sempurna. Rasa kantuknya hilang seketika. "Hah?? Kok bisa? Yang jadi Moza itu yah? Soalnya suaranya emang mirip nenek pas lagi baca cerita."
Chandra tersenyum. Ia mulai mendapatkan hatinya. Satu langkah yang bagus. Terima kasih kepada sang istri yang selalu menceritakan kebiasaan anak-anak setiap hari. "Tentu bisa. Kan di rekam dulu. Terus disesuaikan sama videonya. Kamu tahu kan kartun Ma****g?"
"Tau. Apa itu suara nenek juga?"
"Bener. Disitu juga pake suara nenek. Kamu suka banget yah sama nenek Sukma?"
Lily mengangguk berulang kali. Seolah menegaskan betapa ia sangat menyukai nenek Sukma. Bibirnya sedikit tertarik keatas, membentuk senyuman tipis. Sementara tangannya bergerak-gerak saat berbicara.
"Iya. Soalnya nenek lucu. Kakek Budi juga lucu. Tapi Kenzy nggak lucu. Dia itu nyebelin." Ekspresi wajahnya berubah diakhir. Antara kesal dan juga menggemaskan karena pipinya menggembung semakin bulat.
Chandra terkekeh. Tangannya bergerak untuk mengelus lembut rambut Lily. Bagusnya, gadis kecil itu tak menghindar seperti biasa. "Kenzy itu cucunya nenek Sukma kan?"
"Iya pa. Dia itu nakal banget, suka ngeledekin aku." Adunya.
Pa... Papa...
Mata Chandra berkaca-kaca. Ia meletakkan tangannya di dada. Ada rasa tak percaya dan lega yang terasa. Yang kini bisa membuatnya menangis sambil tertawa.
Maafkan papa Lily... Maafkan papa karena tidak bisa menemani tumbuh kembang kamu sejak awal.
"Gimana kalau besok kita ke rumah nenek?" Tawarnya.
Lily memiringkan kepala. Matanya berkedip-kedip seperti boneka. Sementara rambutnya yang berantakan sudah lebih rapi dari sebelumnya. "Tapi kata Kenzy, mereka mau pergi besok pa. Jadi rumahnya pasti sepi."
"Bukan ke rumah nenek Sukma, tapi ke rumah neneknya Lily." Kata Chandra.
Lily diam saja. Masih berusaha mencerna. Otak kecilnya berusaha keras memahami. Lalu menatap penuh minat. "Emang Lily punya nenek pa?"
Chandra tertegun. "Apa mama nggak pernah cerita ke kamu soal nenek?" Tanyanya.
Ada rasa kecewa yang terselip, juga ada ketidakmungkinan yang ia rasakan ikut mengiringi. Ia yakin istrinya tidak sejahat itu. Tetapi perlakukan tak baik yang mereka berikan juga terlalu menyakitkan. Karena itulah ia selalu melarang Sarah pergi ke rumah orangtuanya seorang diri. Ia tidak mau istri dan anak-anaknya tersakiti. Namun bukan berarti Sarah bisa menghilangkan peran mereka dalam hidup anak-anaknya.
"Mungkin pernah, tapi aku lupa," Satu tangan menopang kepala, sementara tangan yang lain mengusap-usap dagu. Mencoba mengingat-ingat. "Nanti aku tanya Mas Andra deh."
Chandra kembali tersenyum. "Neneknya Lily emang nggak disini. Dia tinggalnya jauh. Mau nggak main kesana?"
Tanpa berpikir apa-apa, Lily mengangguk dengan semangat. "Mau. Apa nenek suka bacain cerita juga kayak neneknya Kenzy pa?"
Chandra berusaha membedah otaknya, mengingat kembali tentang kebiasaan ibunya selama ini. Untuk bercerita seperti yang dikatakan Lily mungkin tidak, tapi ibunya sangat pandai bernyanyi. Mungkin ia bisa mendongeng sembari bernyanyi?
"Kayaknya bisa. Kamu bisa coba minta dibacain nanti pas disana." Jawabnya dengan nada tak yakin.
"Papa lagi apa?"
Suara itu berhasil membuat dua orang itu menoleh untuk mencari dimana asalnya. Andra datang dengan wajah setengah mengantuk.
Setelah bangun dari tidur, hal pertama yang ia cari adalah ayahnya. Keberadaannya yang tak terlihat dimanapun kontan membuatnya panik.
"Oh ini, papa lagi ngobrol sama Lily." Jawabnya.
"Ngobrol apa?"
Rasa penasaran tak dapat ditutupi. Juga rasa cemburu tak dapat dihindari. Bukankah selama ini Lily tak pernah mau berbicara dengan ayahnya? Kenapa sekarang jadi seakrab ini?
"Rahasia. Mas Andra nggak boleh tahu. Wleee..." Balas Lily dengan dagu terangkat tinggi dan satu alis naik. Sementara lidahnya keluar untuk meledek. Ia bertindak seolah kemenangan ada dalam genggaman tangannya.
"Kamu...!!!" Andra mengacungkan telunjuknya dengan kesal. Hampir saja menyentuh hidung Lily.
"Udah-udah, jangan berantem. Ini masih pagi loh. Malu sama ayam." Cegah Chandra.
"Tuh mas dengerin papa. Malu sama ayam."
Chandra tertawa. Apa setiap hari suasananya selalu seperti ini? Sarah pasti sangat bahagia bisa mendengarnya setiap saat. Mereka lucu sekali.
Nyatanya apa yang ada dalam pikiran Chandra tak sesuai dengan apa yang Sarah rasakan. Justru karena terbiasa melihat dan mendengarnya setiap hari lah rasa pusing itu datang.
"Ayo kita sarapan." Ajak Chandra.
Keduanya mengikuti dengan senyum lebar. Yang satu di sebelah kanan, sementara yang satunya di kiri. Sembari bergandengan tangan. Damai. Tanpa ada pertikaian.
Sesampainya di meja makan. Sarah telah selesai dengan pekerjaannya. Berbagai macam hidangan tersaji diatas meja. Di kedua tangan, hidangan terakhir baru saja ia angkat dari wajan. Masih panas, masih mengepulkan asap.
"Kalian datang." Ucapnya.
Lily segera berlari untuk memeluk kakinya. Boneka berbentuk bintang terhimpit diantara keduanya. Menjadi pipih dengan mata yang menghilang satu.
"Mama-mama aku mau ke rumah nenek." Katanya dengan mata berbinar.
"Bukannya kamu bilang nenek mau pergi?" Balas Andra.
Sarah juga mendengarnya kemarin saat nenek Sukma mengatakan akan ke luar kota menjenguk adiknya yang sedang dirawat dirumah sakit.
"Bukan neneknya Kenzy mas, tapi neneknya Lily. Iya kan pah?"
Mangkuk dalam genggaman Sarah hampir saja meluncur ke bawah. Tubuhnya kaku, sementara tangannya bergetar hebat. Ia menatap sang suami dengan nanar.
***
Mesin di nyalakan, dan mobil keluar dari tempat parkir.
Cahaya keemasan dari matahari memantul pada body mobil, kemudian menyebar. Memancarkan sinar samar yang menyilaukan.
"Duduk lah dengan tenang. Jangan lupa pakai sabuk pengamannya." Kata Chandra.
Andra menurut. Ia memasangnya sendiri sampai bunyi klik terdengar. Gerakannya lincah dan terlatih. Seolah ia terbiasa melakukannya. Sementara Lily tampak kesusahan. Ia tak tahu bagaimana caranya. Pipinya memerah. Bibirnya cemberut karena kesal. Ia mencobanya lagi, namun kembali gagal.
Andra yang menyadari itu segera menarik tangan Lily menjauh, menyimpannya di samping tubuh. Lalu mengambil alih pekerjaannya. Kini sabuk pengaman itu terpasang sempurna. Lily tersenyum bahagia.
"Makasih Mas." Ucapnya.
Andra membalasnya dengan usapan lembut di kepala.
Ditempatnya, Sarah duduk dengan gelisah. Tatapannya lurus ke depan. Tangannya bertaut dipangkuan, saling meremas. Sementara hatinya tak tenang. Penuh kekhawatiran.
Kejadian dulu kembali hangat di ingatan. Masih terasa sangat menyakitkan. Dulu, dua bulan setelah Lily lahir, beberapa hari setelah Chandra kembali bertugas. Ia pernah nekat membawa anak itu menemui neneknya tanpa sepengetahuan sang suami.
Tujuannya hanya satu, ia hanya ingin memohon pada sang mertua supaya menerima anak keduanya ini. Supaya kelak ia bisa memperlakukan Lily sama seperti ia memperlakukan cucu-cucunya yang lain.
Namun penolakan demi penolakan lah yang Sarah dapatkan. Hinaan, cacian, makian dan sumpah serapah terlontar untuknya dan Lily. Sang mertua bahkan dengan tega membiarkannya dan sang putri yang kala itu masih bayi tetap diluar seharian.
Kepanasan, kelelahan, kehausan, tanpa peduli sedikitpun dengan keadaan mereka. Seakan apa yang terjadi nantinya tak berarti apa-apa. Begitu kejam, tanpa belas kasihan.
Chandra menatap sang istri lalu menggenggam tangannya erat. Mencoba menenangkan. Tangan itu begitu dingin dan basah. Seolah seseorang baru saja menumpahkan air es kepadanya.
Saat mobil melewati rumah Jeffrey, Lily berseru dengan panik. "Pa berhenti dulu, aku belum bilang sama Mas Jeffrey mau ke rumah nenek."
Chandra menatap ke belakang lewat kaca sepion depan. "Kamu nggak usah khawatir, nanti papa kirim pesan ke om Rama biar Jeffrey nggak nyari."
Lily mengangguk. "Oh iya, bilang sama Mas Jeffrey buat kasih makan kupu-kupu Lily juga."
"Siap tuan putri."
Lalu mobil kembali melaju, membelah jalanan kota yang padat.