Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Membakar Wajah
Pagi itu, suasana mansion terasa sangat kontras.
Di ruang makan, Tuan Pratama duduk dengan kening berkerut, menatap cangkir kopinya seolah-olah kafein di dalamnya bisa memberikan jawaban atas misteri semalam.
Tuan Pratama masih terbayang saat Zayden keluar dari area kamar tamu semalam. Pemuda itu terlihat berantakan, bajunya basah kuyup, dan napasnya tidak teratur. Namun, matanya tetap jernih, tidak ada sorot rasa bersalah atau nafsu yang tertinggal. Zayden hanya pamit pulang dengan sopan, meninggalkan Amy yang sudah tertidur pulas setelah istirahat karna merasa sedikit pusing.
"Apa dosisnya kurang?" gumam Tuan Pratama pada dirinya sendiri. "Atau anak itu memang benar-benar terbuat dari batu? Tidak mungkin laki-laki normal bisa menahan diri dalam kondisi seperti itu."
Ia merasa rencananya gagal total.
Alih-alih mendapatkan bukti bahwa Zayden adalah predator, ia justru dihadapkan pada kenyataan bahwa Zayden memiliki kontrol diri yang lebih kuat daripada egonya sendiri.
Sementara itu, di lantai atas, sinar matahari yang menembus celah gorden menyapa wajah Amy. Ia mengerang pelan, kepalanya terasa sedikit berat, efek sisa dari zat kimia semalam.
Namun, saat kesadarannya mulai pulih sepenuhnya, memori semalam menghantamnya seperti ombak raksasa.
Amy tersentak duduk, Matanya membelalak menatap jemarinya yang masih gemetar.
"Oh, Tuhan..." bisiknya.
Kilasan-kilasan memori itu muncul satu per satu. Ia ingat bagaimana ia memohon pada Zayden. Ia ingat bagaimana ia menarik kemeja pemuda itu dengan liar, Dan yang paling membuatnya ingin tenggelam ke dasar bumi adalah memori tentang ciuman panjang itu... dan bagaimana Zayden, dengan segala kegilaan dan kelembutannya, memberikan pelepasan yang membuatnya berteriak sampai lemas.
"Ahhh!" Amy menutup wajahnya dengan bantal, berteriak sekencang mungkin untuk meredam rasa malunya. "Zayden... kenapa kamu lakukan itu? Kenapa aku bisa semurah itu?"
Wajahnya yang biasanya sedingin es kini terasa seperti terbakar.
Ia merasa benar-benar malu, Bagaimana ia bisa menatap wajah Zayden lagi di sekolah?
Bagaimana ia bisa bersikap formal jika ia tahu betapa buasnya ia semalam di bawah sentuhan mulut dan tangan Zayden?
Amy meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Ada satu pesan dari Zayden yang dikirim pada pukul tiga pagi.
Toko Buku (Zayden):
"Sayang, aku harap kamu tidur nyenyak. Maaf kalau semalam aku harus pakai cara ekstrem buat tenangin kamu. Papa kamu beneran kasih racun ke minuman itu. Tapi tenang aja, rahasia ini aman sama aku. Anggap aja semalam itu simulasi kalau nanti kita udah sah. Oh iya, bilangin ke Papa kamu, dosis obatnya kurang tinggi kalau mau bikin aku jadi monster. Soalnya, cintaku ke kamu lebih kuat dari nafsu Si Pitter. Tidur lagi ya, I love you."
"Pitter!?? Siapa pitter?" Gumamnya.
Amy membaca pesan itu berulang kali, Rasa malunya perlahan bercampur dengan rasa haru yang luar biasa.
Zayden tidak memanfaatkannya, kekasihnya justru melindunginya dari kehancuran martabat di depan ayahnya sendiri, meski itu artinya Zayden harus menahan hasratnya yang luar biasa.
"Dasar Panglima gila," gumam Amy sambil memeluk ponselnya. Ia masih malu, benar-benar malu, tapi di balik rasa malu itu, ia menyadari satu hal, ia sudah jatuh cinta sedalam-dalamnya pada pemuda urakan itu.
Saat Amy turun untuk sarapan, ayahnya menatapnya dengan selidik. "Kamu pusing, Amy? Semalam kamu tidur sangat awal."
"Hanya... kelelahan, Pa," jawab Amy pendek, menghindari kontak mata.
Setibanya di sekolah, Zayden sudah berdiri di dekat gerbang seperti biasa. Ia menyandar pada motornya, memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya yang lelah.
Begitu melihat mobil Amy, ia memberikan hormat kecil.
Saat Amy turun dan berjalan melewatinya, Zayden berbisik pelan tepat di telinga Amy, "Pagi, Sayang. Gimana? Masih pusing atau mau... simulasi lagi?"
Amy langsung menginjak kaki Zayden dengan sepatu tingginya.
"Zayden! Diam!"
Zayden hanya tertawa kencang, suaranya memenuhi koridor. "Aduh! Sakitnya nggak seberapa dibanding nahan Pitter semalam, My!"
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading 😍🥰🥰🥰🥰