NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sekretaris
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Papa... Papa

Setelah menghabiskan buburnya, Abian merasa tenaganya sedikit pulih, meski kepalanya masih terasa seperti ditindih beban berat. Ia bangkit dari sofa dengan gerakan kaku, merapikan jasnya yang sudah kusut.

"Antar saya pulang," perintah Abian singkat. Suaranya masih sengau, namun nada otoriternya sudah kembali.

Nana sempat ragu. "Bapak yakin? Kondisi Bapak belum stabil benar, lho."

"Cepat. Sebelum saya berubah pikiran dan menyuruhmu lembur mengetik ulang laporan audit."

"Iya, iya, Pak Bos. Galaknya kumat lagi, tandanya sudah mau sembuh," gerutu Nana sambil menyambar tas dan kunci mobil Range Rover milik Abian.

Perjalanan menuju apartemen di kawasan Mega Kuningan itu berlangsung sunyi. Nana fokus mengemudikan Range Rover milik Abian, sementara sang CEO menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, sesekali membuang napas berat melalui mulut karena hidungnya yang tersumbat.

Begitu mobil terparkir sempurna di basement apartemen, Nana menoleh. "Pak, saya antar sampai atas ya? Sampai kamar?"

Abian membuka matanya, menatap Nana sejenak sebelum menggeleng. "Tidak perlu. Saya sudah lebih baik. Kamu pulang sekarang."

"Tapi Pak...."

"Pakai ojek online. Saya sudah pesankan lewat aplikasi saya, dia sudah di depan gerbang. Pulang dan istirahat, besok kamu harus bangun pagi," ucap Abian tanpa basa-basi sambil membuka pintu mobil.

Nana hanya bisa pasrah. Sifat keras kepala bosnya ini memang tidak ada obatnya. "Baik, Pak. Bapak istirahat ya, jangan lupa minum air putih yang banyak."

Abian melangkah masuk ke unit apartemennya yang sunyi. Benar kata Dokter Raka, obat tidur dan vitamin tadi bekerja cukup baik. Tubuhnya terasa lebih ringan, hanya saja hidungnya masih sedikit mampet yang membuatnya merasa risih.

Ia berjalan menuju kamar utama, berniat langsung merebahkan diri. Namun, begitu lampu kamar menyala, pandangannya langsung tertumbuk pada gundukan tisu yang masih berserakan di sekitar kasurnya.

Abian berdiri mematung di pinggir ranjang. Ia menatap tumpukan kertas putih itu dengan tatapan getir sekaligus malu pada dirinya sendiri.

Sial, batinnya.

Jika saja tisu-tisu itu bisa berbicara, mungkin mereka sudah berteriak koor, "Papa... Papa... Kenapa Papa sekejam ini pada kami?"

Abian mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tahu persis kenapa tisu-tisu itu ada di sana. Sebagai pria dewasa yang sehat dan mapan, Abian biasanya punya kontrol diri yang sangat kuat. Namun, akhir-akhir ini, entah apa yang salah dengan hormonnya. Gairahnya meningkat drastis ke level yang mengkhawatirkan.

Bayangan Nana yang memakai kemeja slim fit, Nana yang berkacak pinggang menantangnya, bahkan aroma parfum vanila murah milik asistennya itu entah bagaimana terus berputar di kepalanya. Padahal, sebelumnya ia tidak pernah candu melakukan ritual pelepas stres itu sesering ini.

"Sial," umpatnya lagi.

"Ini pasti karena terlalu lama menjomblo."

Meski tubuhnya masih terasa lemas karena demam, rasa malu dan risih akhirnya memaksanya bergerak. Ia mengambil kantong plastik sampah, lalu mulai memunguti satu per satu tisu-tisu itu dengan ekspresi wajah yang sangat masam.

......................

Nana keluar dengan rambut yang dibungkus handuk. Setelah hari yang melelahkan, ritual paling mewah bagi Nana malam ini adalah segelas mie instan cup yang baru saja ia seduh.

Nana duduk di kursi kayu kecilnya, menunggu mie itu matang. Aroma kaldu yang kuat menusuk hidungnya, mendadak membuatnya merasa sangat lapar. Sambil menunggu, ia meraih ponselnya. Nama "Mama Indira" tertera di layar saat ia menekan tombol panggil.

"Halo, Ma..." sapa Nana lirih.

"Halo, sayang. Mama baru saja mau meneleponmu. Apa kabar, Nana?" suara lembut Indira terdengar dari seberang sana.

"Aku baik, Ma. Mama apa kabar di sana? Sudah makan obatnya?"

"Mama baik saja, Sayang. Jangan khawatirkan Mama terus. Bagaimana pekerjaanmu hari ini? Bosmu masih sering marah-marah?"

Nana menghela napas, mengaduk mienya yang mulai melunak. "Yah... begitulah, Ma. Namanya juga cari uang."

Nana terdiam sejenak, menatap uap mie instan di depannya. Ada satu keinginan yang selalu ia simpan di sudut hatinya.

"Ma," panggil Nana pelan.

"Mama benar-benar tidak mau tinggal sama aku di Jakarta? Aku sudah mulai menabung, Ma. Aku bisa beli apartemen kecil atau rumah kalau Mama mau. Kita tidak usah jauh-jauh lagi."

Terdengar tawa kecil dan tenang dari Indira. "Nana, dengar Mama. Kalau kamu punya uang lebih, beli saja rumah atau apartemen itu untukmu sendiri. Itu hasil kerja kerasmu."

"Tapi Ma, aku ingin mengurus Mama..."

"Mama bahagia kok di panti sini, Sayang," potong Indira dengan nada meyakinkan.

"Mama punya banyak teman di sini. Setiap pagi kami senam bersama, sorenya kami merajut sambil bergosip soal cucu. Kalau Mama ikut kamu ke Jakarta, Mama malah kesepian karena kamu sibuk bekerja dari pagi sampai malam. Di sini Mama tidak pernah merasa sendiri."

Nana menunduk, matanya sedikit berkaca-kaca. Ia tahu ibunya hanya tidak ingin membebaninya, namun di sisi lain, ia juga tahu ibunya memang menemukan kebahagiaan sosial di panti tersebut.

"Mama benar tidak apa-apa di sana?" tanya Nana memastikan.

"Iya, Sayang. Mamamu ini kuat, seperti kamu. Sudah ya, makan mienya sebelum dingin. Jangan cuma makan mie terus, sesekali beli makanan yang bergizi, ya!"

"Iya, Ma. Love you."

"Love you too, Sayang."

1
Mundri Astuti
yeee masa bos besar ga bisa cari tau, anak buahnya kemana
partini
aduh kerja Ampe lupa ibu,,itu ga baik tapi udah ga ada mau gimana lagi so sad ini
Asyatun 1
lanjut
Mundri Astuti
lah si Abi gengsi di gedein, suka bilang aja, digaet yg lain baru tau nanti
Fbian Danish
up LG Thor....💪
Asyatun 1
lanjut
partini
cemburu dah
Asyatun 1
lanjut
partini
wah ternyata gang jobles jomblo ngenes 🤣🤣,,
ig: denaa_127
Covernya ngga sesuai ih🤣
Asyatun 1
lanjut
partini
siapa itu ,,semoga temen nya pak Bian biar ga sengaja ketemu di kantor
Nina Malik
seru banget sih bahasa nya lucu,tidak membosankan dan bikin gereget🥰🥰🥰
Asyatun 1
lanjut
partini
good story
partini
darting Mulu masa,,
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama
Ani
gede gengsi
Fbian Danish
lanjut kak author.. ceritanya bagus,seru... lucu.❤️❤️❤️❤️
partini
KA Bali pakai paspor
𝐈𝐬𝐭𝐲
bos lucnut EMG bian ya, kasihan itu Nana suruh duduk di paling belakang 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!